
Di sepanjang perjalanan, Wening banyak menceritakan kisah hidupnya. Ia yang dari kecil sudah menjadi yatim piatu, dan sang Kakek lah yang mengasuhnya. Tapi sewaktu ia SMP, ia terpaksa hidup terpisah dari Kakeknya. Karena ada masalah di lingkungan tempat mereka tinggal, sejak saat itu ia terpaksa tinggal bersama Paman dan Bibinya. Anak Kakeknya yang masih tersisa.
"Kakek gue di usir dari Desa, dan diperlakukan kayak penjahat. Padahal dulu dia sering membantu warga yang susah. Terpaksa gue jauh dari beliau, dan kita bisa ketemu lagi pas gue udah SMA. Itu juga gak lama, karena beberapa bulan setelahnya Kakek meninggal dunia." Ucapnya dengan suara bergetar menahan pedih.
"Kakek lu sakit apa Wen? Gue juga dari SMP tinggal sama Simbah dan Bude di Desa. Simbah gue udah gak ada juga pas gue mau lulus SMA. Sedih ya Wen, kalau inget mendiang orang yang kita sayang."
"Kakek gue gak sakit Ran. Beliau tewas di tangan saudaranya sendiri. Tragis kan kisah hidupnya? Gue gak hanya sedih Ran, tapi gue benar-benar hancur kalau inget semuanya. Rasanya gue pengen balas dendam sama semua orang yang udah menyebabkan kematian Kakek gue. Tapi sayangnya saudara Kakek gue udah keburu meninggal dunia sebelum gue temuin dia. Tapi gak apa-apa, gue masih bisa membalas orang-orang yang dulu menentang almarhum Kakek." Jelasnya tersenyum melalui sudut bibir.
Entah kenapa aku merasa jika Wening sengaja menceritakan dengan detail kisah mendiang Kakeknya. Tatapan matanya dingin ketika ia menceritakan semuanya. Dan aku sendiri merasa familiar dengan kisah yang ia ceritakan.
"Lu gak boleh punya dendam seperti itu Wen. Gak baik buat hidup lu sendiri. Lebih baik lu doakan saja mendiang Kakek lu tenang di alamnya."
"Justru gue menaruh dendam supaya jiwa Kakek gue bisa tenang di alamnya Ran. Gue gak bisa biarkan hidup orang-orang itu tenang begitu aja. Mereka udah usik kehidupan keluarga gue. Dulu mungkin gue masih kecil dan gak tau apa-apa. Makanya gue diem aja, tapi mulai sekarang gue gak akan diem aja!"
"Emang apa yang akan lu lakuin Wen?"
Hening. Tak ada jawaban dari Wening, ia hanya tersenyum melalui sudut bibir seraya mengemudikan mobil. Dan ketika ia membuka mulutnya, ia mengatakan akan melakukan segala cara supaya ia bisa membalas dendam. Menurutnya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas jasa Kakeknya yang telah membesarkannya.
"Gue gak bisa maksa lu buat ngerubah pola pikir lu sih Wen. Saran gue cuma satu, pikirkan matang-matang dulu sebelum melakukan hal besar macam itu. Dampaknya gak cuma ngerugiin orang lain, tapi diri lu sendiri juga Wen."
"Gue hargain saran lu, gue anggap omongan lu sebagai motivasi Ran." Cetusnya sebelum ia menepikan mobil di depan sebuah gang.
Kami sampai di sebuah perkampungan yang ada bendera kuning di depannya. Aku langsung turun dari mobil dan meminta Mbak Ayu menjemput ku di depan gang.
"Wen kalau lu gak nyaman berurusan dengan makhluk tak kasat mata itu, lu bisa tinggal disini aja kok. Kalau udah kelar gue balik kesini lagi, gimana?"
"Hmm lihat nanti deh Ran. Kalau gue bosen, gue nyusul ke dalam ya?"
Tak lama setelah itu Mbak Ayu datang. Ku perkenalkan ia dengan Wening. Mereka saling menjabat tangan seraya memperkenalkan diri. Tapi tiba-tiba Mbak Ayu mengibaskan tangan Wening, ketika mereka masih berjabat tangan. Sontak saja aku tercengang, kenapa Mbak Ayu bersikap demikian. Seketika keadaan jadi kikuk, semuanya diam tak mengatakan apa-apa. Aku pun mendorong lengan Mbak Ayu, menanyakan dengan gestur tubuh kenala ia menghempaskan tangan Wening.
"Eh so sorry ya. Tangan gue tiba-tiba kesemutan nih, reflek aja gue lepasin tangan lu agak kasar tadi." Jelas Mbak Ayu agak menundukkan kepala.
"Lu ngerasain getaran juga?" Tanya Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata.
"Iya kayaknya tangan lu kedutan parah Mbak. Kayak lagi ada masalah berat aja." Jawab Wening seraya melihat telapak tangannya sendiri.
Akhirnya keduanya diam tak mengatakan apa-apa lagi. Aku bergegas mengajak Mbak Ayu kembali ke rumah duka, dan meninggalkan Wening di depan mobil. Disaat kami berjalan menuju rumah duka, Mbak Ayu mengatakan jika ia merasakan energi lain di tubuh Wening. Karena itulah tadi ia menghempaskan tangan nya ketika mereka masih berjabat tangan.
"Gue baru kali ini jabatan tangan sama orang yang mengeluarkan energi dari dalam tubuhnya. Kayaknya dia bukan orang biasa deh Ran, ada sesuatu di dalam dirinya."
"Perasaan lu aja kali Mbak! Tadi gue juga baru aja jabatan tangan sama Wening. Tapi gue gak ngerasain apapun tuh. Dia itu partner baru gue, harusnya kami meliput tempat buat bahan berita minggu ini. Baru setelah itu kita mau ke pengadilan. Emang sih dia tadi sempat cerita mengenai pembalasan dendam ke orang. Dia gak terima Kakeknya meninggal di tangan saudaranya sendiri. Mungkin energi kemarahan yang lu rasain sewaktu nyentuh tangan Wening tadi."
"Mungkin aja sih Ran, tapi gue punya feeling lain sama tuh anak. Tapi apa ya, susah juga buat gue jabarkan." Kata Mbak Ayu dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Sebenarnya gue juga punya firasat yang sama kayak lu Mbak. Tapi setelah gue denger cerita dari Wening, gue jadi menduga kalau firasat jelek itu ya tentang dia yang mempunyai dendam besar ke orang lain. Tapi gue merasa familiar dengan kisah mendiang Kakeknya. Tapi ya gimana, gue cuma bisa menerka-nerka. Mau banyak tanya juga gak enak, karena ini hari pertama gue kenalan sama dia."
Mbak Ayu menghentikan langkahnya, tangannya menopang dagu dengan kening berkerut. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu, tapi aku segera menarik tangannya supaya kami cepat sampai di rumah duka.
"Udah bahas Wening ntar lagi aja. Kita harus segera mendapatkan informasi dari arwah Arfi, sebelum ia dikuburkan dan bakal jadi hantu gentayangan!" Seru ku seraya melangkahkan kaki.
Kami sampai di rumah dula yang masih dipenuhi para pelayat. Aku melihat ke segala arah mencari keberadaan arwah Arfi. Tapi tak ku lihat ia dimanapun. Sampai pandangan mataku tertuju ke seorang lelaki yang sebaya dengan Mbak Ayu. Arwah Arfi sedang berdirk di belakang punggung nya.
"Mbak lelaki yang pakai kemeja hitam di bawah pohon itu kira-kira lu kenal gak dia siapa?"
"Oh itu guru baru di sekolah Ran. Dia yang ngasih pelajaran tambahan ke anak-anak. Kebetulan Arfi dan teman-temannya sangat dekat dengan Pak Roni itu. Emangnya kenapa sih Ran?"
"Tuh lu lihat aja arwahnya si Arfi berdiri di dekatnya. Lihat aja sorot matanya kayak sedih bercampur dengan marah. Mungkin aja kita bisa cari tau melalui Pak Roni itu. Kali aja si Arfi ada masalah dengan teman-temanya, dan hanya Pak Roni itu yang tau. Pokoknya kita ngobrol aja dulu sama dia, siapa tau dapet informasi." Kataku seraya melangkahkan kaki.
Sesaat sebelum kami sampai di depan Pak Roni, arwah Arfi langsung melesat pergi entah kemana. Sontak saja aku dan Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang, kecewa karena kami tak bisa berkomunikasi dengan nya juga. Hanya Pak Roni tiba-tiba terkejut melihat kedatangan kami. Raut wajahnya nampak panik dengan peluh yang membasahi keningnya. Kok aku jadi janggal dengan respon yang lelaki ini tunjukkan ketika melihat kami mendatangi nya. Sebenarnya ada misteri apa lagi ya, yang belum terungkap saat ini.