
"Terserah lu aja sih Wen, gue cuma kasih saran aja. Buat apa sih nurutin dendam, gak bakal ada habisnya. Toh dengan balas dendam gak akan buat jiwa Kakek lu tenang juga. Gue tau dia udah gak bisa kembali ke alam fana ini kan. Dia udah ada di alam yang seharusnya, jadi lebih baik bebasin Bening dari semua urusan duniawi."
Udahlah Ran, gak usah sok nasehatin gue. Biar aja Bening dengan keinginan nya sendiri, lagipula bukan gue juga yang nahan dia disini." Sahut Wening seraya mengemudikan mobil kembali.
Sepanjang perjalanan ini, Wening hanya diam seribu bahasa. Ia tak mengatakan apapun, nampaknya dia sangat kesal karena ucapan ku tadi. Dan ia bersikap dingin, tak menunjukkan ekspresi apapun. Aku juga makin tak nyaman berada di dekatnya, tapi aku ingat pesan Mbak Ayu untuk tak menunjukkan jika aku sudah mengetahui segalanya tentangnya. Jadi aku berusaha mencairkan suasana dengan membahas masalah pekerjaan.
"Wen udah mau sampai nih, kalau kita gak boleh ngeliput di dalam ruangan gimana dong?"
Wening menghembuskan nafas panjang. "Ya udah kita tunggu diluar aja, pasti bakal banyak jurnalis yang nunggu diluar. Meski gak secara khusus dapat wawancara, seenggaknya kita udah berusaha ngeliput." Katanya fokus menatap jalan depan.
"Hmm lu marah ya sama gue?"
"Biasa aja kok Ran. Gue udah biasa disinggung orang kayak gitu, jadi lu gak usah ngerasa gak enak ke gue!"
"Sebenarnya juga gue gak perduli dengan tanggapan lu tentang gue Wen! Gue cuma gak mau aja lu tau, kalau sebenarnya gue udah tau siapa lu sebenarnya!" Batin ku di dalam hati.
"Gue gak ada maksud nyinggung lu loh Wen. Seriusan deh, gue cuma mau ingetin lu doang. Tapi kalau lu ngerasa gue singgung ya sorry."
"Santai aja Ran, gue gak kesinggung. Ya udah yuk turun, kita parkir disini aja biar deket jalan nya."
Kami sama-sama turun dengan membawa beberapa peralatan. Sesampainya di ruang persidangan, ternyata sidang itu diselenggarakan tertutup. Para jurnalis hanya diperbolehkan menunggu diluar, dan diberikan waktu wawancara selama sepuluh menit secara langsung.
"Ran lu aja deh yang wawancara langsung. Kayaknya seru deh kalau lu sendiri yang ngomong sama Bu Kartika. Pasti dia bakal tersulut emosi, dan itu bisa nguntungin kita loh. Wawancara kita bisa viral di media sosial, dan ngalahin semua pesaing kita."
"Tapi kan Wen, bisa jadi ribut ntar."
Hanya keegoisan saja yang ada di pikiran Wening. Makin kesini aku jadi semakin yakin, jika sebenarnya yang mempunyai ambisi untuk membalas dendam itu memang si Wening. Dan dia hanya memanfaatkan jiwa kembaran nya saja, untuk menjadi tameng supaya aura nya sebagai manusia jahat tersamar dengan aura gaib dari jiwa Bening. Tiba-tiba saja Wening menarik tanganku, karena pintu persidangan sudah terbuka.
"Lu standby aja disini, bentar lagi Bu Kartika keluar. Lu langsung aja kasih dia pertanyaan, kalau bisa yang bikin dia marah aja. Biar gue langsung sorot kameranya ke kalian. Oke?" Pungkas Wening mengambil posisi dengan membawa kamera.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat pola pikir Wening yang sepicik itu. Aku tak mengikuti sarannya, dan hanya menanyakan hal seputar persidangan saja. Tapi sepertinya Bu Kartika memang temperamen, hanya dengan melihatku ada disana. Dia sudah bereaksi diluar kendali, bahkan dalam keadaan tangan terborgol. Ia menerobos kerumunan jurnalis dan mendorong tubuh ku hingga terjungkal.
"Kau tak akan bisa menghentikan ku gadis bodoh! Kau pikir keluarga Sumitro itu lemah hah? Kau akan melihat sendiri, bagaimana besarnya kekuatan keluarga Sumitro. Jangan kau pikir aku sudah kalah, hanya karena berada di dalam tahanan hahaha!" Teriaknya dengan lantang seraya memojokkan ku di tembok.
Polisi datang menyeretnya kembali ke mobil tahanan. Nampak semua jurnalis menyoroti ku, mereka menjadikan ku bahas untuk berita di media mereka masing-masing. Tak lama Wening langsung menarik tanganku pergi dari sana. Kami berlari menghindari jurnalis yang mulai mengejar untuk mewawancarai ku. Pasti mereka semua ingin tau, kenapa Bu Kartika bersikap seperti itu padaku.
"Cepetan lari ke mobil Ran, nih kuncinya! Gue tunggu lu di pagar depan!" Seru Wening seraya melemparkan kunci mobil padaku.
Aku menangkap kunci itu dan segera berlari masuk ke dalam mobil. Nampak semua jurnalis berpencar mencari keberadaan ku. Beruntungnya mobil kantor diparkir di dekat pintu masuk, jadi aku lebih mudah menghindari semua jurnalis yang sedang memburuku untuk mendapatkan berita. Aku mengemudikan mobil menghampiri Wening yang sudah menunggu di pagar depan. Dia meminta ku segera menjalankan mobil, dan mencari tempat tenang.
"Sekarang giliran gue yang wawancarai lu buat redaksi kita sendiri. Jadi hanya kita yang akan terdepan daripada media lainnya. Kita bisa naikin rating dengan mudah loh, lu cuma perlu jelasin apa yang terjadi di antara kalian. Kenapa Bu Kartika bisa semarah itu sama lu."
"Tapi Wen, ini masalah pribadi. Gue gak bisa publish apa yang sebenarnya terjadi, dan itu privacy gue Wen. Gue gak mau hanya demi pekerjaan, gue ceritain masalah pribadi ke publik."
"Ya udah lu ngomong kayak gitu aja juga gak apa-apa. Yang penting kan ada penjelasan dari lu, meski kita gak dapat wawancara dari Bu Kartika."
Terpaksa aku mengikuti saran Wening, karena penjelasannya memang ada benarnya. Dan sekarang kami sudah sampai di taman kota. Kami segera turun dari mobil supaya Wening bisa mendengarkan penjelasan ku, dan merekamnya supaya liputan itu bisa dijadikan satu dengan liputan di depan ruang persidangan tadi. Karena jika dijadikan satu dengan rekaman sewaktu Bu Kartika marah dan mendorong ku, pasti berita kami akan menjadi yang terdepan dari media lainnya. Walau aku terpaksa memberikan keterangan, setidaknya aku tak boleh mengecewakan Mbak Rika yang sudah mempercayakan pekerjaan ini pada kami.