Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 105 AWAL BARU.


Suara sirine bersahutan, petugas Polisi menutup TKP, terlihat korban tertutup koran tergeletak di jalan. Kali ini bertekad tutup mata dan telinga, supaya jiwa korban kecelakaan itu tak mengetahui jika aku bisa melihat wujudnya. Pokoknya aku harus berpura-pura tak melihatnya, tekadku sudah bulat, aku tak bisa terus membantu jiwa-jiwa tanpa raga itu. Setelah rekanku mengambil gambar di lokasi, aku pun melakukan siaran di TKP, dan setelah itu, aku berjalan disekitar lokasi untuk melakukan penelusuran. Tak lama korban dibawa ke Rumah Sakit untuk di autopsi. Sepertinya bagian kepala korban itu remuk, membuatku bergidik hanya dengan membayangkan kondisinya. Kali ini bukan Mas Adit yang menangani kasus kecelakaan itu. Jadi tak banyak yang bisa ku lakukan, untuk mendapatkan informasi.


Whuuss.


Jiwa tanpa raga korban kecelakaan itu melesat melewati ku. Aku sempat terbelalak ketika ia menembus tubuhku, dan ia sempat membalikan tubuhnya, menatapku dengan serius. Ia berbicara padaku, apakah aku bisa melihatnya. Tapi aku hanya diam tanpa berkedip, sebisa mungkin tak ku hiraukan keberadaannya. Dan tak lama ia pergi mengikuti mobil ambulance yang membawa jazadnya.


"Hufft. Akhirnya arwah itu pergi juga, maaf karena aku belum bisa membantu mu. Lagipula kau tiada karena mungkin sudah waktunya. Jadi tak bisa ku lakukan apapun untukmu." Gumamku pada diriku sendiri.


"Ran! Ngapain lu disini? Kita harus pergi meliput ke tempat lain lagi nih. Ada selebgram viral, yang mau syuting penelusuran gaib. Kata Mbak Rika, kita yang harus pergi kesana." Kata Beny seraya menepuk pundakku dari belakang.


"Hah lagi? kenapa harus gue sih Ben? Emang jurnalis yang lain belum kelar liputannya?"


"Gue gak tahu Ran, lu tanya aja langsung ke Mbak Rika deh."


Aku langsung menghubungi Mbak Rika melalui panggilan telepon. Dan dengan sangat menyesal, Mbak Rika terpaksa memintaku pergi bersama Beny.


"Gue tahu Ran, lu udah naik pangkat, tapi kan ini masalah pekerjaan. Kita harus profesional, karena udah gak ada orang lagi yang bisa gue suruh meliput. Apalagi liputan sekarang berhubungan dengan hal gaib, banyak yang takut Ran."


"Ya udah deh Mbak, tapi mungkin gue gak bisa terlalu banyak komunikasi sama makhluk gaib itu. Lokasi detail nya kirim aja ke wassap Beny, setelah ini kita otewe kesana."


Setelah mengakhiri panggilan telepon, aku mendatangi Beny, ia menunjukan lokasi liputan kali ini. Di sebuah Mall terbengkalai, yang berhenti beroperasi akibat krisis moneter pada beberapa tahun yang lalu.


Nampak seorang perempuan sedang syuting di dalam Mall terbengkalai itu. Ia terlihat mengikuti arahan floor director. Ia berjalan menyusuri gedung dengan dua orang lelaki. Aku dan Beny hanya diminta untuk melakukan liputan secara Live. Saat liputan akan dimulai, tiba-tiba aku berkeringat dingin, jantung ku berdetak tak beraturan. Aku merasakan begitu banyak energi jahat yang mendekat, dan hampir semuanya mengeluarkan aura kemarahan. Satu persatu makhluk gaib menunjukan eksistensi nya padaku, membuatku menjerit dan meminta semua orang menghentikan proses syuting disana. Beberapa makhluk gaib itu mulai jahil dan merasuki beberapa kru. Situasi di tempat itu mulai tak terkendali, nampak Beny bergetar memegangi kamera di tangannya. Peluh membasahi keningnya, dan ia berlari mendekat ke arahku.


"Ran. Ki kita udahi liputannya ya, gu gue takut!" Serunya menggigil.


"Gimana lagi Ben, lu harus tetep standby megang kamera. Meski syuting nya selesai, lu harus buat liputan ini buat bukti, kalau makhluk gaib itu memang ada. Dan para manusia gak mengusik keberadaan mereka lagi. Terkadang para manusialah yang mengganggu kehidupan para makhluk gaib." Jelasku pada Beny, dan ia terpaksa menuruti ucapanku untuk tetap memegangi kameranya.


Di tengah kepanikan semua orang, aku merasakan kehadiran makhluk yang sangat jahat dengan aura negatifnya. Terendus aroma kentang bakar yang sangat kuat. Ini sudah tidak bisa ditunda lagi, semua kegiatan di gedung ini harus dihentikan. Nampak sang Selebgram mulai oyong, ia memegangi kepalanya dengan wajah lesu. Yang terlihat hanyalah wajah yang pucat, ia mulai menangis dengan suara rendah. Ia kini mulai menggerakkan sudut matanya yang kosong, terdengar suara menangis dan tertawa secara bergantianbergantian, otot-otot di wajahnya berkedut secara tidak wajar. Melihat ekspresi nya, semua orang jadi ketakutan, dan merasakan suasana yang sangat mencekam.


"Bismillahirrahmanirrahim. Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatow walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa biidznih, ya'lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai'im min 'ilmihii illaa bimaa syaa' wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya'uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal 'aliyyul 'adhiim." Ku bacakan ayat kursi dengan setulus hati dengan memegangi tasbih pemberian Kakek bersorban putih. Dan tak lama perempuan itu memekik kepanasan.


"Aaarggh." Terdengar teriakan panjang, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.


"Alhamdulillah, dengan izin Allah semua akan baik-baik saja. Lebih baik kita semua segera meninggalkan tempat ini." Kataku pada semuanya, dan mereka semua langsung pergi meninggalkan lokasi.


Sang Selebgram itu masih belum sadarkan diri, ku minta pada semua kru untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan jika mereka memang ingin melakukan penelusuran semacam ini, harusnya mereka meminta ijin pada semua makhluk yang tinggal disana. Dan terutama yang paling penting adalah berdoa, supaya semuanya berjalan dengan lancar.


"Untung ada lu yang paham dengan dunia gaib Ran, gak salah Mbak Rika minta lu yang datang kesini." Celetuk Beny dengan peluh yang membasahi keningnya.


Ku perhatikan raut wajah Beny masih sangat ketakutan, bahkan peluh di keningnya mengalir hingga ke leher. Tapi ia tak mengulurkan tangan untuk menyekanya.


"Ben lu masih takut ya? Kan kita udah diluar gedung, tuh keringet lu ngalir banyak banget, emang gak risih ya?"


"Hehehe iya Ran, gue masih agak shock aja. Ini pertama kalinya gue ngalamin kejadian gaib. Duh gak lagi-lagi deh, jadi parno gue!"


Aku hanya menggelengkan kepala melihat ekspresi wajah Beny, meski dia lelaki tapi ia tak malu menunjukan ketakutan nya di hadapanku.


"Maaf kami permisi dulu, lebih baik kalian bawa perempuan itu pulang. Gak baik lama-lama disini, soalnya kondisinya masih lemah. Takutnya malah kerasukan lagi." Ucapku berpamitan pada semua orang.


Setelah itu kami kembali ke Kantor, dan mendapatkan sambutan dari semua rekan di satu divisi kami. Menurut mereka, liputan live yang kami tayangkan mendapatkan rating nomor satu di acara televisi. Mbak Rika pun langsung mentraktir kami semua sepulang kerja. Meski hari ini agak berat, setidaknya usaha ku tidak sia-sia dan membuahkan hasil yang memuaskan banyak orang.


.