Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 72 KEJANGGALAN?


"Wah pantas saja adek merasa kenal, silahkan kalau mau ngobrol saya permisi dulu mau pulang ke rumah."


Si Ibu pergi meninggalkan ku dan istri Pak Markum, ia bertanya padaku tujuanku datang ke tempat itu. Aku hanya mengatakan mengantarkan seorang teman saja, dan ketika aku balik bertanya istri Pak Markum terlihat gelagapan. Ia kebingungan mau menjawab apa, dan ia mengatakan ingin mencari obat buat Aya.


"Loh katanya ibu dan bapak, setiap bulannya Purnama selalu dapat obat dari Rumah Sakit Jiwa? lantas untuk apa lagi ibu mencari pengobatan ke tempat ini?"


"Ehm itu anu dek Rania, saya juga ingin mencoba cara alternatif supaya Aya cepat sembuh. Kan kemarin katanya si Aya mau dipertemukan sama ayah dari bayinya?"


"Oh iya juga sih bu, emangnya ibu baru pertama kali datang kesini? kenapa gak coba dari dulu aja bu, kalau pakai cara alternatif emang bisa menyembuhkan Purnama."


Aku sengaja menjebak istri Pak Markum dengan pertanyaan ini, aku ingin tahu jawaban kejujuran nya seperti apa. Dan ternyata taktik ku berhasil memperdaya istri Pak Markum.


"Saya baru sekali ini datang kesini dek, kalau saya udah tahu dari dulu pasti saya udah nyoba pengobatan alternatif ini." jawabnya dengan santai.


"Kalau emang mau ngobatin Purnama kan harusnya dibawa kesini sekalian bu, biar lebih memudahkan prosesnya."


"Mungkin besok dek, ini saya mau konsultasi dulu gimana baiknya. Tapi kok nunggu nya lama banget ya, padahal saya udah datang dari pagi sekali loh."


Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban istri Pak Markum, mungkin ia pikir aku tak tahu apa-apa makanya dia menjawab pertanyaan ku dengan kebohongan.


Dret dret dret.


Aku mengaitkan kedua alis mata, ku lihat di layar ponsel panggilan telepon dari Tante Ajeng. Ia memberikan kabar jika Umi ditemukan gantung diri di lantai atas rumah utama. Aku sangat terkejut mendengar perkataan Tante Ajeng, lantas untuk apa kami datang ke tempat ini.


"Sepertinya Calon Arang menyukai persembahan nya, jadi ia tak mau melakukan penukaran huhuhu."


Kaki ku lemas tak dapat menopang tubuhku lagi, kini aku hanya bisa duduk di lantai dengan berlinang air mata. Tak lama setelah itu ku lihat Mbak Ayu keluar dari sebuah ruangan, wajahnya nampak sendu seraya berjalan menghampiri ku.


"Rania gue gagal melakukan penukaran, karena ternyata apa yang ada dipikiran gue adalah Umi."


Aku berusaha mengumpulkan sisa kekuatan ku lalu bangkit berdiri menarik tangan Mbak Ayu pergi dari tempat itu. Entah kenapa Mbak Ayu tetap memikirkan Umi sebagai tumbalnya, padahal ia sama sekali tak tahu apa-apa.


"Lu salah Ran kalau nilai seperti itu, Umi itu adalah anak dari salah satu pengikut Leak yang berhianat. Lu ingat bapak sopir taksi semalam? ternyata mereka adalah bapak dan anak, pantas saja bukannya Janni yang di ambil oleh Calon Arang melainkan Umi!" kata Mbak Ayu dengan suara lantang.


"Jadi sebenarnya siapa yang ada di dalam pikiran lu Mbak? Umi atau Janni?"


"Gue cuma kesal dengan si sopr taksi itu, pas gue tanya sama Pak Tubagus siapa bapak itu, barulah Pak Tubagus menjelaskan jika ia adalah salah satu dari penghianat itu. Makanya gue sengaja serahkan anak si bapak itu buat jadi persembahan, tapi ternyata kita salah menilai. Bukannya si Janni anak dari bapak itu melainkan Umi, pantas saja semalam yang di ambil Calon Arang emang si Umi." jelas Mbak Ayu mendengus kesal.


Aku langsung menjelaskan pada Mbak Ayu, jika saat ini Umi sudah ditemukan tewas di rumah utama dengan posisi gantung diri. Tapi raut wajah Mbak Ayu terlihat biasa saja, ia tak menunjukan ekspresi apapun.


"Biar penghianat itu tahu rasa, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya!"


Aku tak dapat berkata apa-apa, karena aku juga tak tahu keterlibatan Umi dalam kasus tewasnya Bu Wayan.


"Lebih baik kita pulang Mbak, barusan Mas Adit udah chat gue kalau dia yang nanganin kasus kematian Umi. Bagaimanapun kasus ini akan di proses oleh pihak yang berwajib, meski kita tahu semua itu gak akan ada hasilnya."


Kami memutuskan untuk berpamitan dengan Pak Tubagus, ia memberikan pesan pada Mbak Ayu. Jika dia bisa membantu Mbak Ayu terlepas dari perjanjian nya dengan Calon Arang, asal dia mau menganut ajaran yang sama sepertinya. Ku lihat istri Pak Markum masih duduk di ruang samping rumah menatapku dengan wajah serius. Ku tinggalkan Mbak Ayu bersama Pak Tubagus, lalu menghampiri istri Pak Markum untuk berpamitan.


"Bu saya pamit pulang dulu karena urusan teman saya sudah selesai. Kalau bisa secepatnya kabari saya ya Bu kapan Purnama bisa saya ajak untuk bertemu bos besar."


"Surat penting? jangan-jangan dia mau membalik nama aset-aset peninggalan orang tua Purnama." batinku didalam hati curiga.


Mbak Ayu melambaikan tangannya memanggilku, aku berjalan dengan berbagai kecurigaan. Dugaanku sudah pasti benar, kalau istri Pak Markum adalah pelaku pembunuhan Bulan dan Ibunya.


"Lu kenapa diem aja Ran? lu marah ya sama gue, karena gak sengaja nyerahin Umi ke Calon Arang?" tanya Mbak Ayu seraya berjalan ke tempat dimana kami memarkirkan motor.


"Hmm marah sih enggak Mbak, lebih ke kecewa aja sama keputusan lu. Hanya demi mendapatkan jawaban atas rasa penasaran lu, lu sampai ngorbanin nyawa seseorang."


"Lu bisa ngomong hanya Ran, karena lu ga ngalamin apa yang terjadi sama gue. Kalau orang tua lu yang jadi korban pasti lu juga bakal marah dan ngelakuin apa yang gue lakukan sekarang!" seru Mbak Ayu menghentikan langkahnya.


"Sorry ya Mbak, bukan maksud gue menggurui lu. Hanya aja gue gak nyangka dengan kejadian ini, takutnya ini akan jadi boomerang buat diri lu sendiri. Kalau sampai orang tua Umi gak terima dengan apa yang terjadi, bakal ada pembalasan dari pihak mereka. Dan masalah ini gak akan pernah selesai."


Aku mencoba menenangkan Mbak Ayu, dan memintanya untuk tak melakukan kesalahan yang sama lagi. Seandainya Umi tak terlibat dengan masalah ini, tentu akan membuat penyesalan di kemudian hari.


"Tapi kalau ternyata dia terlibat, gue gak salah mengambil keputusan. Karena yang gue persembahkan untuk Calon Arang adalah anak dari sopir taksi itu. Dan gue gak ada nyebut nama Umi sama sekali, kalau ternyata emang dia anak dari penghianat itu kan bukan salah gue juga Ran!"


"Iya Mbak iya, gue paham kok maksud lu. Lebih baik sekarang kita kembali ke kostan, mayat Umi sedang di evakuasi dan akan di autopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya."


"Udah pasti secara nalar dia gantung diri, tapi yang sebenarnya jiwanya terbelenggu di alam Mangrahi bersama semua abdi setia Calon Arang." kata Mbak Ayu dengan lantang.


"Ssst. Jangan kenceng-kenceng Mbak ngomongnya."


Aku merasa seperti sedang di awasi oleh sosok yang tak dapat ku lihat keberadaan nya. Aku segera meninggalkan rumah itu, dan mengendarai motor untuk kembali ke rumah kuno.


...Bersambung. ...


Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.


Dear, Pak Boss


Author: Ika Oktafiana


Stella tidak pernah menduga bahwa dirinya akan jatuh cinta dengan seorang Arshaka Virendra, sang Direktur Utama di perusahaan tempat Stella bekerja.


Kejadian itu bermula ketika Stella merasa tertantang dengan sikap Shaka yang dingin dan kaku. Bahkan, untuk sekedar mengulas senyum saja tidak pernah.


Berbagai cara Stella lakukan untuk membuat Shaka mau tersenyum. "Senyum dong, Pak. Biar semakin tampan," goda Stella tempo hari saat keduanya tidak sengaja bertemu di saat hujan sore hari.


Dikala itulah, awal mula hidup Shaka berubah menjadi lebih berwarna, Stella berhasil menjungkir-balikkan hidup Shaka dan mulai mengenal rasa bernama 'cinta'.


Perlahan, penyebab dari sikap dingin Shaka terkuak, hidup yang keras dan masalalu yang kelam. Hal itu justru semakin membuat Stella begitu kagum dengan sosok Shaka. Seketika timbul rasa ingin selalu ada dan memeluk dikala pelik kehidupan menderanya.


Bagaimana kelanjutan kisahnya?


Baca terus yuk^_^