
"Mbok Genuk sedang memikirkan apa?" Tanya ku menatap wajahnya.
Mbok Genuk tak langsung menjawab pertanyaan ku, ia masih menundukkan kepala sebelum akhirnya ia mengatakan sesuatu.
"Kita bisa meminta tolong pada sosok buto ireng yang dikenal Lala. Karena sepertinya, dengan bantuan Buto ireng yang dikenal Lala. Kita bisa menggagalkan rencana Sumitro untuk menumbalkan keturunan Pramono dan Wati. Meski belum tentu keduanya akan memiliki keturunan di tahun ini. Alangkah lebih baik, jika kita membuat Sumitro membayar semua kejahatannya. Biar saja ia dimangsa oleh Buto ireng yang dipujanya."
"Apa Mbok Genuk yakin kalau Buto ireng yang dikenal Lala bukan yang dipuja Pak Mitro juga?"
Mbak Ayu nampak diam mendengarkan obrolan kami. Sepertinya ia penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku yakin Nduk. Buto ireng memang tak semuanya memangsa nyawa manusia. Tergantung dari keyakinan raja buto itu sendiri. Sementara buto ireng yang dikenal Lala, adalah bagian dari masa lalu nya. Aku tahu ia pernah memberikan keturunan pada buto ireng itu. Karena itulah aku yakin, jika buto yang dikenal Lala tak bersekutu dengan Sumitro. Buto ireng yang memiliki hubungan baik dengan manusia, tak akan memangsa nyawa manusia lainnya. Pasti mereka dari Kerajaan yang berbeda. Tapi jika Lala mau, dia bisa meminta bantuan supaya buto ireng memangsa Sumitro ataupun Kartika."
"Hmm aku mengerti sekarang. Jadi kita minta tolong Lala, supaya buto ireng yang dulu adalah suami gaibnya meminta buto ireng yang bersekutu dengan Pak Mitro untuk mengambil nyawa Pak Mitro ataupun Kartika, supaya Pramono juga dapat sembuh dari cacat mentalnya. Dengan begitu kehidupan pernikahan Pramono dengan Wati dapat berjalan sebagaimana mestinya. Begitu kan Mbok?" Sahut Mbak Ayu seraya menjentikkan jarinya.
"Benar, kau memang cepat tanggap. Mungkin karena di dalam ragamu terdapat sosok lain yang terkadang merasukimu!"
Aku dan Mbak Ayu sama-sama terkejut, darimana Mbok Genuk tahu tentang itu. Tapi ia hanya menyunggingkan senyumnya, dan mengatakan jika sebenarnya sosok yang merasuki Mbak Ayu bisa berubah perangai nya, sesuai pembawaan diri yang menguasainya.
"Kalau kau mudah marah dan menyimpan dendam pada seseorang. Sosok yang menguasai jiwa dan ragamu itu, akan memiliki hasrat yang sama denganmu. Harusnya kau mengontrol nya untuk perbuatan yang baik, karena ia akan mengikuti perangai mu dengan berbuat baik. Hanya itu saja yang bisa ku jelaskan, selebihnya belajarlah dari Jarwo. Ia lebih tahu banyak hal daripada aku!"
"Loh Mbok Genuk mengenal Pak Jarwo juga?" Tanyaku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Mbok Genuk hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia menjelaskan jika ia juga mengenal mendiang Mbah Karto.
"Kami pernah saling bertemu dan membantu di alam gaib. Hanya itu saja yang bisa ku jelaskan, lebih baik sekarang kalian istirahat saja. Aku harus melakukan sesuatu untuk memagari rumah ini. Supaya si merah tak bisa leluasa masuk ke dalam!" Pungkas Mbok Genuk seraya bangkit berdiri.
Aku dan Mbak Ayu kembali ke kamar, nampak Lala masih terjaga dengan merebahkan tubuhnya.
"Kenapa lu belum tidur La? Besok anterin gue ke rumah lu ya, gue mau ketemu Pak Jarwo!" Kata Mbak Ayu seraya berbaring di samping Lala.
"Aku sedang memikirkan ucapan Mbok Genuk. Sepertinya aku harus memanggil Senopati, aku tak mungkin bertemu dan berbicara lagi dengan romo nya. Aku sudah susah payah mengubur semua perasaan ku, tak mungkin aku menemuinya lagi. Aku hanya bisa berkomunikasi dengan anakku saja. Dan sorry Mbak, aku gak bisa anterin kau ke rumah. Minta saja Mas Jarwo datang, karena besok ia juga akan ke desa ini!"
"Memangnya Pak Jarwo mau ngapain kesini La?"
"Entah Ran, mungkin ada yang ingin ia kerjakan. Kalian tidur saja duluanduluan, aku mau ke depan buat komunikasi sama Senopati."
Lala melangkah keluar, sementara aku dan Mbak Ayu hanya berbaring di ranjang. Karena rasa kantuk yang luar biasa, akhirnya kami sama-sama terlelap. Dan di pagi hari saat kami terbangun, nampak Lala sudah rapi dan melipat selimut.
"Kau sudah mandi La? Buru-buru banget mandi nya!"
"Udah dari tadi Ran, aku biasa bangun pagi. Tadi udah bantuin bikin sarapan juga. Buruan sana mandi habis ini kita makan pagi sama-sama."
Aku berjalan ke kamar mandi, nampak Wati sedang bersama Mbok Genuk menyiapkan makanan untuk Pramono. Lelaki itu masih bertingkah layaknya bocak berumur lima sepuluh tahun. Dia sibuk memainkan game di ponsel nya, sementara Mbok Genuk sedang menyuapinya makan.
"Lucu ya Ran, tiba-tiba aku seperti menjadi pengasuh lelaki dewasa yang masih kekanak-kanakan." Celetuk Wati mengejutkan ku.
"Sabar ya Wat, semoga dia bisa pulih seperti semula."
"Apa menurutmu dulu dia tak seperti itu?"
"Tanya saja ke Mbok Genuk. Ia akan menceritakan semuanya mengenai suami mu itu. Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja. Kami semua ada disini untuk membantu mu." Kataku seraya merangkul Wati.
"Dih bauk ketek ish, mandi sana!" Gerutu Wati seraya menutupi hidungnya.
Aku hanya tertawa mendengar ucapan Wati, lalu beranjak ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, aku menjemur handuk di belakang rumah. Aku melihat Mbok Genuk sedang berbicara dengan Pak Jarwo. Nampaknya pembicaraan keduanya sangat serius. Karena tak ingin mengganggu, aku pun kembali ke dalam rumah. Nampak Lala sedang duduk bersama Mama dan Papa, mereka menunggu ku untuk sarapan.
"Kita tunggu Mbak Ayu sebentar ya, dia lagi mau mandi tuh!"
"Udah duluan aja Ran, gue mandinya lama. Ntar gue bisa makan sendiri!" Sahut Mbak Ayu seraya berjalan ke kamar mandi.
Kini Mama dan Papa mulai membahas masa depan ku kelak. Melihat Wati sudah menikah, Mama dan Papa mulai membahas tentang pernikahan padaku. Bahkan Lala berkelakar, jika ia juga ingin cepat menyusul Wati.
"Tuh Nak, Lala juga udah punya calon kayaknya!" Kata Mama menatapku penuh makna.
"Mama gak tahu aja, Rania kan udah ada calon di Jakarta. Papa kemarin udah ketemu juga kok sama calonnya!" Sahut Papa membuat Mama penasaran.
"Wah benarkah Om? Lala jadi penasaran, siapa lelaki beruntung itu!"
Tak berselang lama Wati datang bersama Pramono. Mereka duduk di samping kami, dan ia mulai membahas Mas Adit.
"Benar kan Mas Adit yang Om maksud?" ucap Wati dengan menyunggingkan senyumnya.
Mereka semua terus menggoda ku dengan membahas Mas Adit terus menerus. Sampai akhirnya Pak Jarwo dan Mbok Genuk datang bersama. Pak Jarwo memintaku dan Lala ke teras depan, karena ada yang ingin ia bicarakan. Mbok Genuk menganggukkan kepalanya padaku, lalu bergabung bersama Mama dan Papa.
"Kalian pasti sudah mendengar penjelasan dari Mbok Genuk to? Beliau bukanlah bagian dari keluarga Sumitro. Meski ia juga bersekutu dengan sosok gaib, setidaknya ia tak memiliki tujuan buruk untuk mencelakai orang lain. Kalian tak perlu cemas dengan nya, karena menurut ku penjelasan nya ada benar nya. Apa kau sudah meminta tolong pada Senopati La?" Tanya Pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Semalam aku sudah memanggilnya, tapi Senopati tak tahu, siapa buto ireng yang bersekutu dengan Pak Mitro. Ia akan mencari tahu terlebih dulu. Dan Senopati tak yakin bisa membujuk buto ireng itu untuk berpihak padanya. Karena kuasa itu hanya dipegang oleh raja buto, yaitu romo nya sendiri. Tapi aku melarang nya menceritakan masalah ini pada romo nya." Ucap Lala seraya menundukkan kepala.
"Kenapa La? Tak perlu sungkan untuk meminta bantuannya, bukankah dulu kalian berpisah secara baik-baik. Meski alam kalian berbeda, anggap saja kalian hanya kerabat jauh. Untuk menghentikan Pak Mitro, kau memerlukan bantuan dari raja buto, yaitu romo dari anakmu Senopati."
Nampak Lala hanya diam dengan menundukkan kepalanya, aku pun tak dapat berkata apa-apa. Aku tak mungkin memaksa Lala untuk melakukan sesuatu yang tak ingin ia lakukan. Sekarang semua keputusan bergantung pada Lala, apakah ia mau berkomunikasi dengan mantan suami gaibnya atau tidak.