Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 208 KEADAAN JADI MENCEKAM!


Setelah menunggu hampir empat puluh menit lamanya. Ada tanda-tanda kedatangan kereta hantu yang kami tunggu. Nampak cahaya putih di ujung peron, dan terdengar suara mesin kereta yang mendekat. Sekali lagi Pak Imron menekankan pada kami, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya. Misalnya orang yang mempunyai niat menunggu untuk menaiki kereta. Tapi sepertinya Beny tak terlihat seperti orang yang berniat menumpang kereta itu. Mungkin karena ia takut, dan tak memikirkan untuk naik ke dalam kereta hantu itu.


"Pak kalau teman saya gak bisa lihat kereta itu gimana?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata


"Semua ada solusinya dek, kau gandeng saja tangannya langsung sebelum memasuki kereta itu. Dengan sendirinya, dia akan ikut melihat apa yang kau lihat." Jawab Pak Imron tersenyum melalui sudut bibirnya.


Tak pakai lama, sebelum kereta berhenti tepat di depan kami. Aku langsung menggandeng tangan Beny, nampak ia bereaksi keheranan karena aku langsung menggandeng tangan nya.


"Ada apa sih Ran, main gandeng aja!"


Petter menolehkan kepala ke arah Beny, sontak saja Beny terbelalak dengan membulatkan kedua matanya. Ia bergetar ketakutan melihat wajah pucat Petter. Apalagi begitu kereta berhenti tepat di depan peron. Karena kami sama-sama melihat kondisi kereta yang gelap, dan tak ada penumpang dari luar gerbong.


"Cepatlah naik ke dalam, kalian tak memiliki waktu lama. Karena kereta ini hanya berhenti selama beberapa menit saja. Dan jika kalian sudah menemukan Silvia, kalian bisa keluar dari kereta itu hanya melalui gerbong pintu yang paling belakang." Ucap Pak Imron dengan wajah serius.


"Ja jadi gerbong ke 4 ya Pak? Tapi apa kita harus mencari sampai ke lokomotif masinis juga?" Tanya Beny menundukkan kepala tak berani mendongakkan kepala nya.


"Tidak perlu, kalian hanya perlu mencari ke semua gerbong penumpang. Dan setelah menemuka Silvia, segeralah keluar melalui pintu di gerbong paling belakang. Maka kalian akan kembali lagi ke alam manusia. Saya akan membimbing dan memantau kalian dari sini. Cepatlah masuk ke dalam, kereta itu akan segera berangkat!" Tegas Pak Imron seraya memberikan sekantung garam pada Beny.


"Kami pergi dulu Pak, doakan kami supaya berhasil." Ucapku seraya melangkahkan kaki menuju gerbong kereta itu.


Petter melesat lebih dulu, dan aku lalu langsung menyusul dengan menggandeng tangan hampa nya. Karena hanya aku yang dapat menyentuh nya, jadi Beny tak boleh melepaskan tangannya dari ku. Kami sudah masuk ke dalam gerbong kedua, karena gerbong pertama hanya untuk masinis saja. Kami bertiga hanya berdiri mematung di dalam gerbong. Nampak Beny bergetar ketakutan, peluh membasahi wajahnya. Ia sangat ketakutan berada di dalam kereta hantu ini. Sampai saat ini kami belum melihat apa-apa, tapi begitu pintu otomatis tertutup dan kereta mulai berjalan. Kami dapat melihat semua isi penumpang yang ada di dalam gerbong ini. Mereka layaknya penumpang kereta pada umumnya, tak menunjukan wujud-wujud yang menyeramkan. Hanya saja semua penumpang diam membisu dan tak saling berinteraksi. Beny menyenggol lengan ku dengan pundaknya. Ia memberikan kode dengan gestur tubuh, apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Tentu saja kami harus menyusuri semua gerbong untuk menemukan keberadaan Silvia. Kini Petter mengajak ku melewati beberapa makhluk tak kasat mata yang berdiri di lorong gerbong. Aku hanya menganggukkan kepala mengikuti ajakan Petter.


Kami melewati beberapa penumpang gaib yang menghalangi pintu menuju gerbong ke dua. Petter nampak kesal dan berusaha mendorong mereka. Tapi Beny malah menarik tanganku, supaya aku menghentikan Petter. Beny menggelengkan kepala, supaya Petter tak mendorong penumpang gaib itu. Tapi Petter mengacuhkan kode yang diberikan Beny, karena Petter benar-benar mendorong tubuh hampa penumpang gaib itu. Beruntung nya mereka hanya menyingkir tanpa membuat ekspresi marah sama sekali. Sementara raut wajah Beny sudah tak karuan, ia berpeluh hebat bahkan sampai seluruh baju nya kelihatan basah. Hening, sama sekali tak ada suara apapun disini. Kami hanya terus berjalan ke depan dengan melihat ke sekeliling. Satu persatu penumpang yang duduk ataupun berdiri kami perhatikan baik-baik. Dan ada salah satu penumpang yang tertutup dengan penumpang lainnya. Ia hanya duduk diam dengan tatapan mata yang kosong. Wajahnya terlihat berbeda dari penumpang lainnya, karena ia memiliki aura hangat. Aura khas manusia yang masih kuat. Beny membuka mulut nya tanpa mengeluarkan suara. Ia berkata jika penumpang itu adalah Silvia. Seketika aku menghentikan langkah, dan memberi kode pada Petter untuk tak melanjutkan langkahnya. Perlahan kami menerobos penumpang gaib yang berdiri menutupi Silvia. Aku menggoncangkan tubuhnya, supaya ia segera mendapatkan kesadarannya. Tapi ia tak bereaksi sama sekali, karena Silvia hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.


"Apa lebih baik aku langsung bawa Silvia pergi dari sini saja ya." Batinku di dalam hati.


Nampaknya Petter setuju dengan ku, ia berkomunikasi melalui batin dan meminta ku membawa Silvia langsung. Kami tak bisa menunggu lebih lama lagi, sampai Silvia mendapatkan kesadarannya. Aku memberi kode pada Beny supaya ia menggandeng Silvia, supaya kami dapat langsung meninggalkan kereta hantu ini. Dan begitu Beny menyentuh tangan Silvia, ia seperti kembali ke alam bawah sadarnya. Dan ia menatap ke sekeliling dengan wajah kebingungan. Ia membuka mulutnya dan sudah siap menjerit, sontak saja Beny melepaskan tangannya dan menutup mulut Silvia dengan kencang. Karena situasi sudah mulai tak terkendali, aku memutuskan untuk langsung meninggalkan gerbong ke 3 supaya kami bisa lebih cepat sampai di gerbong terakhir. Dan dapat keluar dari kereta hantu ini, tapi Silvia malah berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Karena itulah aku tak bisa berjalan, karena Beny masih menggandeng tanganku kencang. Ia menggelengkan kepala, dan menggerakan bibirnya. Beny menjelaskan jika Silvia masih sangat shock, dan kami tak bisa pergi begitu saja tanpa memberitahu kondisi yang sedang kami hadapi. Aku menganggukan kepala, lalu berjalan mendekati Silvia dan berbisik di telinga nya. Ku jelaskan padanya, jika saat ini situasi kami sedang tidak baik-baik saja. Dan aku meminta nya untuk tak bersuara dan menutup mulutnya rapat-rapat meski apapun yang ia lihat dan dengar nantinya.


"Janji ya jangan bersuara kalau Beny buka mulut lu. Karena kita bisa dalam bahaya kalau para makhluk gaib disini mendengar suara kita. Dan satu lagi, jangan pernah melepaskan tangan lu dari Beny." Bisikku pelan di telinga nya.


Silvia perlahan menganggukkan kepalanya, lalu Beny melepaskan tangannya. Kini Silvia bernafas terengah-engah, dengan menelan ludahnya kasar. Bahkan ia terbelalak kaget melihat Petter sedang bergandengan tangan denganku. Nampaknya Silvia panik dan berusaha melepaskan tanganku dari Petter. Sontak saja aku dan Beny menggelengkan kepala bersamaan. Kami berusaha menghentikan Silvia yang sedang menarik paksa tanganku supaya terlepas dari genggaman Petter. Astaga, bagaimana aku menjelaskan pada Silvia jika Petter adalah satu-satunya media supaya kami tetap aman berada di dalam kereta hantu ini. Tapi sepertinya Silvia salah paham, dan mengira jika Petter adalah bagian dari para makhluk gaib yang tinggal di kereta hantu yang kami tumpangi.