
Sesampainya di kediaman Pak Bos, kami dipersilahkan masuk ke dalam. Pak bos dan Papa nya sudah menantikan kedatangan kami. Keduanya sudah duduk di sofa ruang tamu. Secara bergantian mereka berterima kasih pada kami. Tapi Pak bos lebih banyak mengucapkan terima kasih padaku, karena aku sudah lama membantunya dan telah membawa kembali Bu Purnama dari alam gaib.
"Sebagai ucapan terima kasih kalian berdua akan mendapatkan bonus selama satu tahun kerja. Dan kau Rania, karena etos kerja dan dedikasi mu di perusahaan. Saya akan menetapkan mu sebagai pegawai tetap, yang akan mendapatkan bonus sama seperti pegawai lama." Pungkas Pak bos seraya menjabat tangan ku dan juga Wening.
Aku hanya bisa berterima kasih pada Pak bos, tak menyangka akan mendapat keberuntungan sebesar ini. Dari ekor mata ku, aku dapat melihat senyum sinis Wening ketika menatapku. Sontak saja aku tercekat melihat reaksinya itu, tai aku memilih pura-pura tak melihatnya.
"Siapa tadi namamu?" Tanya Pak bos menatap Wening.
"Sa saya Wening Pak, anak magang di kantor." Jawabnya gelagapan
"Karena kau baru satu bulan bekerja, jadi saya hanya bisa menambah masa kerjamu. Kau akan di kontrak untuk satu tahun ke depan dulu. Jangan hawatir dengan kontrak kerja, jika kau memiliki kemampuan yang mumpuni. Pasti kami akan mempertimbangkan menaikan status mu jadi pegawai tetap. Jadi jangan berkecil hati, dan tetap semangat kerja. Terima kasih sudah membantu kami."
Wening hanya menganggukkan kepalanya dengan badan agak membungkuk. Pak bos langsung bertanya mengenai kuntilanak merah peliharaan Bu Kartika. Ia hawatir jika demit itu marah karena Tuan nya berada di penjara, dan akan menggangu keluarganya. Aku hanya menjelaskan untuk saat ini kemampuan merah masih melemah. Mungkin ia sedang memulihkan diri, dan tak akan menggangu untuk beberapa saat. Apalagi tanpa perintah dari Tuan nya, lagipula saat ini Bu Kartika sudah mendekam dalam penjara. Sementara Pak Sumitro yang ada di desa, sedang sibuk memikirkan calon tumbal yang akan dipersembahkan pada buto ireng sembahan nya. Aku rasa, ia tak akan mengusik keluarga ini. Tapi tiba-tiba Wening menyela pembicaraan kami, ia mengatakan akan memastikan kuntilanak merah tak akan menggangu keluarga Pak bos. Aku hanya menghembuskan nafas panjang, bukan karena aku merasa tersaingi olehnya. Tapi sikapnya agak kurang sopan, dengan menyela pembicaraan kami. Nampak Pak bos hanya tersenyum simpul seraya menganggukkan kepalanya.
"Pakde saya kebetulan memiliki kesaktian, beliau bisa mengurus beberapa demit seperti dia Pak. Saya akan meminta jimat darinya, supaya keluarga ini tak diganggu kuntilanak merah itu lagi. Tapi saya harus kembali ke desa untuk mendapatkan jimat itu. Masalahnya saya anak baru di perusahaan Bapak, jadi saya gak bisa ambil cuti dalam waktu dekat ini." Imbuhnya berterus terang.
Pak bos berdiskusi dengan Papanya, tapi mereka justru menanyakan pendapat ku. Tentu saja aku tak tau harus menjawab apa, karena sebenarnya aku tak percaya dengan jimat semacam itu. Kecuali adanya bacaan ayat-ayat suci dalam menggunakan nya. Tapi aku mengembalikan keputusan tersebut pada mereka. Dan kini Wening menatapku dengan tajam. Sepertinya ia tak suka dengan jawaban ku, berdasarkan reaksi yang ia tunjukkan. Nampak sekali jika ia tak suka dengan pendapat ku. Aku hanya menggelengkan kepala, tak menyangka jika aku akan secepat ini melihat watak asli seseorang yang baru ku kenal. Jadi sepertinya firasat ku memang benar, Wening tak sebaik yang terlihat. Ia seperti memiliki kepribadian ganda, terkadang ia menjadi seseorang yang pengertian. Tapi di lain sisi, ia memiliki topeng lain yang ia sembunyikan dari orang lain.
"Baiklah. Kami akan mengabari kau jika sudah mendapatkan keputusan. Silahkan kembali ke rumah kalian masing-masing."
Kami undur diri, dan berjalan keluar dari Mansion mewah itu. Perasaan ku campur aduk begitu melihat watak asli Wening. Mungkin sebaiknya aku berjaga jarak saja darinya, karena aku tak mau memiliki masalah dengan seseorang sepertinya. Wening adalah orang yang penuh dengan ambisius, dan selalu ingin terlihat lebih unggul. Hanya itu yang bisa aku tangkap setelah melihat dengan mata kepala ku sendiri.
"Ran gue nebeng sampai halte busway bundaran HI ya?" Celetuk Wening membalikkan badan ke arah ku.
"Oke deh, emang gak mau gue anter sekalian ke kostan lu? Lu ngekost kan disini?" Kataku berbasa-basi.
"Sementara gue tinggal di rumah kerabat, ntar kalau udah gajian bulan depannya. Rencana gue baru mau cari kost an. Btw lu kost dimana?"
"Gue ngekost di dekat kota tua, kebetulan gue satu kost sama Mbak Ayu. Ya udah yuk kita jalan sekarang."
Aku mengemudikan mobil menembus padatnya lalu lintas Ibukota. Wening bertanya sejak kapan aku menggunakan fasilitas mobil kantor. Karena ia hanya melihat aku seorang yang menggunakan fasilitas itu.
"Belum lama kok Wen, baru beberapa minggu aja. Kebetulan Pak bos memperbolehkan gue menggunakannya, karena waktu itu ada beberapa hal yang harus cepat gue urus. Sebenarnya udah mau gue balikin, tapi kita malah pake buat kerja lapangan. Ya udah terpaksa gue pakai lagi kan sekarang."
"Kayaknya itu salah satu privilege yang lu dapat deh karena sering bantu Bos. Mungkin gue harus lebih giat dari lu, supaya gue dapet privilege yang lebih lagi." Ucap Wening seraya menyandarkan kepala di jok.
"Gue bantu Bos bukan karena pengen dapet privilege kok Wen. Kebetulan beliau sendiri yang minta bantuan, mana mungkin gue bisa nolak."
"Iya Wen, gak apa-apa. Selagi gue bisa bantu, InsyaAllah gue bakal bantu siapapun yang membutuhkan. Meski itu demit sekalipun, karena itu yang mendiang Simbah ajarkan ke gue."
Wening hanya tersenyum dari sudut bibirnya seraya menganggukkan kepala. Tak lama ia memintaku menepikan mobil di suatu tempat. Karena ia melupakan sesuatu yang harus ia bawa.
"Gue lupa sesuatu nih ada yang ketinggalan di kantor, turunin gue disini aja deh Ran. Gue bisa pulang sendiri kok!"
"Lu yakin Wen gak mau gue anter aja sampai kantor?"
"Gak usah deh thanks, lu balik aja gak apa-apa!" Katanya seraya menyetop taksi yang baru saja melintas.
Aku hanya menganggukkan kepala seraya melambaikan tangan. Ku hubungi Silvia untuk menanyakan keberadaan nya.
"Hallooo! Raniaaa... Kebetulan banget lu telepon! Li tau gak kayaknya sahabat lu iseng deh. Masak tadi mainan mobil-mobilan yang gue beliin buat adek gue nyala sendiri. Pasti Petter deh yang mainin tuh mobil-mobilan!" Seru Silvia di seberang telepon sana.
Aku hanya tertawa lepas mendengar aduan Silvia, karena itu sudah pasti memang Petter yang memainkannya. Biasanya kalau malam begini dia belum ku berikan susu cokelat, pasti Petter akan iseng memainkan berbagai hal. Apalagi disana ada mainan, sudah pasti ia akan senang memainkannya.
"Udah lu taruh aja susu cokelat di meja. Ntar juga Petter gak mainin tuh mobil-mobilan lagi kok. Percaya deh sama gue!"
"Seriusan Ran? Lu gak bohong kan? Niatnya kan dia disini buat jagain gue, kenapa jadi gue yang ditakutin coba!"
"Tenang aja Sil, namanya juga bocah. Ntar juga dia tidur, ada nyokapnya juga kok disana."
"Dih parah lu Ran! Gue kira cuma satu hantu yang ngawasin gue. Gak tau nya Ibu dan anaknya? Bikin gue parno aja sih lu, gimana gue bisa tidur nyenyak kalau begini!"
"Gak apa-apa Sil, mereka berdua baik kok. Masak iya gue serahin lu ke hantu jahat, lu kan temen baik gue. Ya gak?"
"Ya udah deh gue percaya sama lu. Kalau gitu gue bikin susu cokelat nya dulu ya, tuh lu denger aja suara mobil-mobilan nya masih kedengeran kan?"
"Hahaha iya-iya sono bikinin dulu susu cokelatnya. Gue tutup dulu ya, kalau ada apa-apa telepon gue aja Sil."
Setelah mengakhiri panggilan telepon itu, aku melanjutkan perjalanan kembali ke kost. Nampak bulan bersinar hanya setengah, nampak setengahnya lagi tertutup awan gelap. Aku menghembuskan nafas panjang, karena hari panjang yang ku lalui lumayan melelahkan. Apalagi ketika aku harus beradaptasi dengan rekan baru yang penuh teka-teki. Semoga saja Wening tak seburuk apa yang ku pikirkan, dan itu hanya firasat ku saja yang belum terlalu akrab mengenalnya.