Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 110 KISAH ENDANG.


Aku berjibaku dengan waktu, menyelesaikan setumpuk berkas laporan yang harus segera ku sereahkan pada leader. Mbak Rika menghampiri ku dan mengajakku berbicara membahas tetangganya yang kehilangan bayi mereka. Tapi pekerjaan ku belum selesai, jadi ku minta Mbak Rika kembali lagi nanti. Seharian ini aku menghabiskan waktu di depan layar monitor. Bahkan aku hanya sempat memakan sebungkus roti saja. Meskipun melelahkan, akhirnya aku berhasil menyelesaikan pekerjaan ku tepat waktu. Sehingga besok aku bisa mengerjakan tugas yang lain. Ku lirik jam di pergelangan tangan, sudah menunjukan pukul lima lebih dua puluh menit. Langit sudah hampir gelap, dan aku baru selesai dengan semua berkas yang menumpuk ini.


"Yuk Ran, ke kontrakan gue. Katanya lu mau bantuin tetangga gue!" Seru Mbak Rika seraya berjalan menghampiri ku.


"Yakin nih Mbak, gak masalah kalau gue kesana? Takutnya gue dikira sok ikut campur lagi?"


"Tenang aja, gue kenal deket sama Ibunya. Tadi gue sempat cerita, kalau punya temen yang bisa ngelihat makhluk gaib. Makanya gue minta tolong lu, buat melakukan penelusuran!"


Karena tak tega mendengar cerita Mbak Rika, akhirnya aku menurutinya untuk pergi ke rumah tetangga nya. Sesampainya disana, aku diperkenalkan dengan sepasang suami istri, orang tua dari si bayi yang menghilang itu. Mereka menceritakan kronologi ketika bayi mereka hilang.


"Semalam Abang istri saya datang bawa makanan, terus nginep disini sampai pagi. Saya dan Abang ipar sempat begadang nonton tinju. Dan kami sama-sama tidur di ruang tamu, tapi semalam kami mengendus aroma yang sangat amis kayak anyir darah gitu. Saya sama Abang ipar sempat berkelakar, kalau aroma itu kayak pertanda kuntilanak ada di sekitar sini. Dan sebelum subuh berkumandang, kami semua mendengar suara cekikikan kuntilanak itu. Dan tiba-tiba istri saya menjerit mencari bayinya. Saya sama Abang ipar kebingungan,kami langsung mencari bayi itu, tapi tak ada dimanapun. Kalau memang penculik yang mengambilnya, harusnya terekam cctv di depan rumah ini. Tapi gak ada jejak orang masuk ke dalam rumah, kecuali Abang ipar saya malam itu."


Penjelasan Ayah dari bayi itu membuatku bingung, apa iya kuntilanak yang mengambil bayi mereka. Tak lama Abang iparnya datang, ia menanyakan keberadaan keponakannya pada Adik perempuan nya. Tapi hanya terdengar isak tangis dari sang Ibu bayi itu.


"Loh Bapak kok ada disini?" Tanyaku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Ini Abang ipar saya Mbak, perkenalkan Bang Darman namanya."


Pak Darman menyunggingkan senyum lalu menjelaskan, jika aku adalah customer ojol nya. Mungkin ini suatu kebetulan yang tak di sangka-sangka.


Pak Darman mengajakku berbicara di teras rumah, sementara Mbak Rika menemani si Ibu bayi untuk menghiburnya.


"Jadi semalam itu saya dan adik ipar mengendus aroma anyir, dan saya sempat melihat sosok perempuan berambut panjang di pojokan rumah ini. Keponakan saya yang bayi itu sempat nangis, dan saya bangun untuk menggendongnya sebentar. Setelah dia diam memejamkan matanya, saya kembalikan ke kamar adik saya. Lalu saya lanjut tidur, pas subuhnya saya denger adik jerit-jerit manggil bayinya. Kami semua panik dan masuk ke dalam kamarnya, benar saja bayi itu gak ada disana. Kami semua gak ada yang tahu kemana perginya bayi itu."


Aku diam sesaat, memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi. Mereka mengendus aroma anyir darah, bukankah itu seperti pertanda datangnya sosok Endang. Karena kuntilanak yang lain memiliki aroma bunga melati yang pekat. Berbeda dengan sosok Endang, yang meninggal karena kehabisan darah. Makanya kedatangan nya selalu ditandai dengan aroma anyir darah.


Deegh.


"Jangan-jangan Endang yang mengambil bayi itu?" Batinku terlintas sosok Endang.


Karena rasa penasaran, aku memaksa Pak Darman untuk menceritakan masa lalunya. Apakah ia benar-benar mengenal Endang, karena ada kemungkinan jika sosok Endang yang telah mengambil keponakan nya.


"Memang betul, saya pernah mengenal seseorang yang bernama Endang. Tapi itu sudah lama sekali, sewaktu saya masih melajang. Dulu kami memang sempat dekat, dan menjalin hubungan. Saya terpesona melihat wajah Endang yang manis, dan sikapnya yang terlihat lugu dan pemalu. Saya berniat mendekati Endang, namun saya baru tahu kalau Endang itu tak selugu yang saya tahu. Endang gak mau menunjukan kedekatan kami di depan orang-orang, alasannya ia malu kalau dilihat warga desa. Saya nurut saja apa maunya, karena memang saya hanya iseng ingin dekat dengan Endang. Tak ada maksud ke jenjang lebih serius, karena saya tahu dari para pemuda desa, kalau Endang itu suka merayu pemuda tampan yang ada di desanya. Awalnya saya gak percaya, tapi malam itu saya melihat dengan mata kepala sendiri, kalau Endang bermesraan dengan anak Tuan tanah di desanya. Karena saya agak cemburu melihat kedekatan nya dengan lelaki lain, akhirnya saya minum-minum sama pemuda desa. Saya gak sadar kalau mabuk, dan gak sengaja ketemu Endang di pinggir jalan. Karena terbawa rasa kecewa dan marah tanpa sadar saya melakukan hubungan terlarang itu dengan Endang. Kami melakukannya di pondok tengah sawah. Mungkin karena pengaruh minuman keras, saya gak mengendalikan diri saat berhubungan dengannya. Lagipula, kalaupun Endang hamil, saya gak yakin kalau itu memanglah darah daging saya. Karena selain saya melihat sendiri kelakuan Endang dengan pemuda desanya, para lelaki di Desa mengaku pernah menghabiskan malam dengan Endang. Sempat saya mikir, kalau para lelaki itu hanya bergurau saja, karena dalam keadaan mabuk. Tapi setelah kepulangan saya dari kota, saya membawa Narti calon istri yang dijodohkan oleh kedua orang tua saya. Endang tidak terima, dan minta untuk dinikahi. Bagaimana mungkin saya menikahi perempuan yang sudah berhubungan dengan banyak lelaki? Waktu itu saya sempat bingung, takutnya Endang memang hamil anak saya. Tapi saya tetap mengambil keputusan untuk menikah dengan Narti. Tak lama Endang kembali mendatangi saya dan mengancam. Kalau dia akan menggunakan ilmu santet untuk mencelakai Narti, lalu akan membuat saya kembali lagi padanya. Karena takut jika Endang akan benar-benar melakukan niat jahatnya. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan perkebunan. Lalu kembali ke Kota, dan semenjak saat itu saya gak pernah ketemu lagi dengan Endang. Ada yang mengatakan kalau dia pergi meninggalkan desanya, dan menelantarkan Neneknya seorang diri." Cerita Pak Darman dengan raut wajah sendu.


Kisah yang Pak Darman ucapkan berbeda dengan versi Endang. Sosok Endang yang yang aku tahu ternyata berbeda dengan apa yang Pak Darman ceritakan. Entah siapa yang harus aku percaya di antara keduanya. Aku terdiam dengan menundukan kepala, ku pijat pangkal hidung karena rasa penat yang luar biasa. Terkadang sosok seperti Endang memang susah dipercaya omongannya, tapi mendengar cerita dari Pak Darman membuatku makin gelisah. Tak tahu siapa yang benar ataupun salah, yang terpenting untukku saat ini adalah cepat menemukan keberadaan bayi itu. Jika memang Endang yang mengambilnya, entah untuk apa tujuannya. Semoga bayi itu baik-baik saja, dan tidak terjadi apapun padanya. Karena saat ini aku jadi meragukan sosok Endang.