
Aku meminta keikhlasan hati Dinar, supaya mengakhiri dendam nya pada manusia-manusia jahat itu. Karena urusanya di alam fana ini sudah selesai. Dan masalah kematiannya akan menjadi tanggung jawab pihak kepolisian.
"Kau tiada karena ulah manusia-manusia sesat itu. Tapi tak seharusnya kau masih ada di alam fana ini. Aku dapat memahami, jika jiwamu tak tenang karena jasadmu belum ditemukan. Dan kau dikubur secara tidak layak. Karena itulah, aku memintamu menunjukkan dimana letak jasadmu, supaya kami dapat menyempurnakan jasadmu. Dan kami akan mengembalikan jasadmu ke orang tua mu. Apa kau tak merindukan mereka, dan tetap ingin melanjutkan dendammu?" Tanya ku pada pocong Dinar, kali ini aku benar-benar menatap wujud menyeramkan nya dengan kedua mata ku.
Wujudnya sangat memprihatinkan, seluruh bungkusan yang menutupi tubuh hampanya hampir seluruhnya bernoda darah. Wajahnya juga menjijikkan dengan wajah yang setengah rusak, terdapat banyak belatung yang menempel.
"Apa kau tak ingin damai di alam keabadian? Jika jiwamu terus berada di alam fana ini, jiwamu akan semakin dikuasai dendam dan semua kekuatan gelap yang jahat akan mengendalikan mu. Lalu yang lebih bahaya lagi, ketika jiwa mu dimanfaatkan oleh dukun-dukun aliran hitam, untuk berbagai tujuan yang menyimpang dan sesat. Apa kau mau selamanya terpuruk seperti itu? Jika kau kembali ke alam mu, kedua orang tua mu pasti tak akan terlalu bersedih setelah kepergian mu." Ucap Mbak Ayu sedikit membuat pocong Dinar goyah.
Pocong itu melesat pergi entah kemana. Aku dan Mbak Ayu hanya bisa diam di tempat. Padahal niat kami baik untuknya, karena jiwa seperti Dinar tak perlu terbelenggu dengan dendam. Meski sangat wajar jika ia memendam amarah. Tapi yang terjadi justru ia akan semakin menjadi demit yang jahat. Bukankah lebih baik jiwa tanpa raga sepertinya kembali ke alam keabadian. Karena ia akan lebih tenang disana, dan masalah kematiannya biar menjadi tugas mereka yang hidup.
"Kita gak bisa laporin tuh orang ke polisi gitu aja. Kita harus ada bukti meski tanpa saksi sekalipun!" Seru Mbak Ayu seraya mengacak rambutnya kasar.
Triing.
Pesan masuk dari Mas Adit, ia memberi kabar jika beberapa anggota panganut ilmu hitam itu berhasil ditangkap. Dan kini polisi masih menginterogasi mereka.
"Gimana nih Mbak?"
"Ya gimana lagi, mendingan lu cerita ke Adit. Dia kan Polisi, meski cerita lu gak masuk akal secara logika. Tapi kan Adit tahu, kalau lu emang selalu dapat petunjuk dari sosok tak kasat mata. Jadi lu bisa minta Adit buka kasus Dinar lagi, terus paksa tuh orang sampai ngaku. Duh gue lupa lagi namanya siapa dia?" Tanya Mbak Ayu menunjuk ke arah Ari.
"Itu Ari Wibowo Mbak!"
"Nah ia itu orang, yang namanya kayak artis senior jaman dulu. Sama satu lagi yang makai kaos hitam, biar Adit yang interogasi pasti mereka takut. Siapa tahu langsung ngakuin semuanya."
Kami sedang menunggu taksi online datang, tiba-tiba Ayah Vita menghubungi ku, dan mengajak bertemu di kantor nya. Ia ingin mempertemukan aku dengan orang yang lebih tahu mengenai persembahan yang aku tanyakan tempo hari.
"Mbak kita bagi tugas aja gimana? Soalnya gue juga mau nyelidikin sesuatu. Ayahnya Vita mau kasih gue informasi nih. Semoga ada petunjuk supaya gue bisa membongkar semua kejahatan orang-orang kejam itu."
Akhirnya kami sepakat, untuk berpencar. Mbak Ayu pergi menemui Mas Adit, sementara aku ke kantor Ayah Vita. Sesampainya disana, Ayah Vita memperkenalkan ku dengan seorang lelaki yang tak asing di mata ku. Namanya Harto, ia adalah mandor di komplek perumahan itu.
"To, coba kau jelaskan pada Mbak Rania. Apa yang sebenarnya terjadi dengan perumahan ini. Karena beredar desas-desus kalau komplek ini melakukan persembahan dengan menumbalkan nyawa seseorang. Dan kemarin anak saya sempat kemasukan demit juga. Saya juga gak tahu apa-apa karena tidak bekerja di lapangan. Karena itulah saya temukan kamu dengan Mbak Rania. Jelaskan apa saja yang kamu tahu." Pungkas Ayah Vita dengan wajah serius.
Harto hanya menghembuskan nafas panjang, ia mengusap wajahnya yang berpeluh. Lalu ia menceritakan sesuatu yang terjadi, sebelum berita mengenai persembahan itu menyebar.
"Saya mempunyai teman dekat, namanya Ari. Ia yang bertugas menyuplai bahan bangunan di komplek perumahan ini. Suatu hari ia datang bersama seorang perempuan, dan ia mengajakku pergi ke sebuah perkumpulan untuk mempersembahkan tumbal supaya apa yang kami minta terwujud. Pas saya tanya apa tumbalnya, sapi atau kerbau. Ari justru menolehkan pandangan nya ke dalam truck, dimana perempuan yang datang bersamanya duduk. Saya langsung marah-marah sama Ari, gak mungkin dong buat dapatin apa yang kita mau harus menyerahkan hidup orang lain. Saya gak tega Mbak, lebih baik saya kerja keras seperti sekarang ini. Karena gak terima saya marahi, Ari pergi begitu saja dan gak pernah mendatangi saya lagi. Dan yang datang mengantarkan bahan bangunan orang lain. Menurutnya Ari sudah keluar dari tempat kerja nya. Sejak saat itu, saya gak pernah ketemu lagi sama Ari. Tapi semenjak itu juga, komplek perumahan ini jadi angker. Ada saja kejadian janggal yang terjadi, saya juga gak ngerti kenapa itu terjadi. Tapi saya jadi curiga, kalau Ari yang berbuat sesat itu mungkin sengaja mengirimkan hal-hal buruk ke tempat kerja saya ini. Karena Ari sempat mengancam saya langsung, tapi saya udah berusaha mencarinya kemana-mana, untuk mengakhiri apa yang ia perbuat buat ngejatuhin pekerjaan saya. Tapi saya gak tahu dia ada dimana." Keluh Harto terlihat frustasi.
Aku jadi ingat penglihatan yang diberikan pocong Dinar. Ia memang sempat di ajak bertemu seseorang di perumahan ini, pantas saja wajah Harto nampak tak asing buatku. Jadi Ari menumbalkan Dinar hanya untuk kepentingan nya sendiri. Ternyata aku sudah salah paham dengan Harto. Pantas saja tak ku lihat dia di antara para pemuja sesat itu. Aku pun memberitahu fakta mengenai perempuan yang di ajak Ari bertemu dengan Harto. Ku katakan jika perempuan itu sudah tiada karena ditumbalkan oleh Ari. Terlihat kedua lelaki yang ada di hadapanku sama-sama terkejut. Mereka tak menyangka, jika ada seseorang yang bisa melakukan tindakan keji seperti itu.
"Bapak ingat kejadian Vita sakit kemarin kan, demit itu adalah korban persembahan sekte sesat. Sepertinya ia memasuki raga Vita untuk meminta pertolongan. Karena jazadnya dikuburkan secara tidak layak."
"Astaghfirullahalazim. Kita harus melaporkan kejadian itu ke polisi Mbak!" Seru Ayah Vita dengan menghembuskan nafas panjang.
Aku pun meminta bantuan Harto untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya. Aku memberitahu Harto untuk melakukan sedikit sandiwara di depan Ari, supaya ia mengakui perbuatan nya. Semoga rencana ku berhasil, dan pocong Dinar belum melakukan niatnya untuk membalaskan dendam, pada orang-orang jahat yang telah menyiksa nya hingga tiada.