
Sesampainya di tempat travel, terlihat Papa sudah menunggu kedatangan ku. Wajahnya masih sama seperti dulu, penuh dengan cinta dan kasih sayang. Hanya keriput di wajahnya saja yang bertambah. Segera ku kecup punggung tangan nya lalu memeluk Papa dengan penuh kerinduan. Aku kembali menjadi anak kecil ketika bertemu dengan Papa. Papa mengusap lembut rambutku dan menanyakan kabar ku.
"Udah ah Pa pelukan nya. Rania malu dilihatin Mas Adit sama Mbak Ayu." Gerutu ku dengan menundukkan kepala malu.
"Kau itu kan emang anak Papa yang masih kecil, wajar saja kau bertingkah seperti ini." Ucap Papa dengan mencubit hidung ku.
Terlihat Mbak Ayu menyunggingkan senyum nya, ada sedikit bulir-bulir bening yang tertahan di kelopak matanya. Astaga! Aku baru ingat, jika selama ini Mbak Ayu tak pernah bertemu dengan Ayahnya. Ia pasti merasa sedih melihat adegan kerinduan ku dengan Papa.
"Hmm Papa kan udah kenal sama Mas Adit. Jadi gak usah Rania kenalin lagi. Kalau ini Mbak Ayu Pah, dia keponakan Om Dewa yang pernah Rania ceritain dulu itu loh!"
Mbak Ayu berjabat tangan dengan Papa, ia memperkenalkan dirinya. Lalu ia menyeka air matanya.
"Maaf Om, Dahayu jadi terharu lihat kedekatan Om sama Rania. Karena dari kecil, Dahayu gak pernah ngerasain kasih sayang Ibu dan Ayah." Pungkasnya dengan wajah sendu.
Kami semua terlarut dalam suasana haru mendengar kisah pilu Mbak Ayu. Lalu Papa menepuk pundak Mbak Ayu dan mengatakan, jika ia bisa menganggap kedua orang tua ku seperti orang tuanya sendiri.
"Kami hanya punya satu anak, Rania yang masih terkadang manja ini. Mungkin dia akan senang memiliki seorang Kakak seperti mu. Om dan Mama nya Rania, pasti tak akan keberatan jika kau menganggap kami seperti orang tuamu sendiri." Ucap Papa menyunggingkan senyum nya.
Terlihat Mbak Ayu menganggukan kepalanya, lalu menyeka air matanya.
"Oh iya Om. Mau nambah satu anak laki-laki gak? Tuh si Adit juga mau manggil Om dengan sebutan Papa." Celetuk Mbak Ayu seraya menyikut tangan Mas Adit.
Mas Adit gelagapan menanggapi ucapan Mbak Ayu. Sementara Papa malah menggoda Mas Adit dengan menyebutkan, jika Papa akan menganggapnya seperti anak sendiri, kalau Mas Adit sudah resmi menikahi ku.
"Ish Papa apa an sih. Jangan becanda gitu dong, ntar Mas Adit jadi malu tauk! Udah yuk, kita masuk aja ke dalam. Udah mau jalan tuh mobil travelnya!" Ucap ku dengan wajah yang memerah.
"Hmm iya Om, InsyaAllah kalau Tuhan menyatukan kami." Jawaban Mas Adit membuatku tercengang. Bahkan aku sampai salah tingkah, tak tahu harus mengatakan apa.
Hanya tawa Papa yang terdengar nyaringvdi telinga. Ia merangkul Mas Adit, dan mengatakan jika Papa sangat bangga dengan keberanian Mas Adit.
"Lain kali kita ngobrol lagi ya Dit. Om pergi dulu, udah ada yang malu-malu kucing tuh sampai gak kedengeran lagi suaranya."
"Apa an sih Pah, Rania gak malu kok. Ya udah yuk ke dalam, ntar ketinggalan mobilnya loh!"
Tak berbasa-basi lagi, akhirnya kami semua berpamitan dengan Mas Adit. Dan aku juga menyampaikan ucapan terima kasih padanya, karena sudah mengantarku kesini.
"Iya sama-sama, cepet balik lagi ya. Jangan lama-lama ntar aku kangen loh."
"Apa sih Mas! Gak usah becanda terus! Udah ya, aku pergi dulu. Bye!" Kataku seraya melangkah pergi.
"Mbak lu makan duluan aja, aku sama Papa mau shalat sebentar."
Aku dan Papa sama-sama menunaikan shalat magrib. Tak lama aku melihat sekelebatan sosok yang tak asing di mataku. Ia mengenakan gaun merah, melesat pergi melewati pohon bambu yang tak jauh dari mushola tempat kami shalat tadi.
"Ada apa Nak? Apa kau melihat makhluk tak kasat mata di dekat sini?" Tanya Papa mengaitkan kedua alis matanya.
"Hmm gak ada kok Pa, Rania cuma kaget aja ada daun yang gerak kena angin." Jawabku tak mengatakan yang sebenarnya.
Setelah itu aku dan Papa kembali ke rumah makan. Semua penumpang travel sedang ishoma disana. Nampak Mbak Ayu melambaikan tangannya, ia sudah menyiapkan makanan untuk ku dan Papa.
"Loh kok Mbak Ayu belum makan sih?"
"Iya Ran, gue gak suka makan sendiri. Yuk kita makan sama-sama, sebelum mobilnya jalan lagi."
Setelah selesai menyantap hidangan ayam goreng kampung, dengan sambal terasi dan lalapan. Aku berpamitan pada Papa untuk ke toilet bersama Mbak Ayu. Aku menceritakan pada Mbak Ayu, jika setelah shalat tadi aku seperti melihat sosok si merah.
"Lu salah lihat kali Ran. Mana mungkin dia ikutin lu sampai kesini. Merah itu kan demit peliharaan Ibu tiri nya Bos lu kan? Udah pasti dia akan terus ngikutin pemiliknya dong. Gak mungkin dia disuruh ngikutin lu sampai sejauh ini. Kecuali si pemiliknya juga bepergian jauh sampai ke tempat ini. Mungkin itu sosok merah yang lainnya kali. Kuntilanak merah kan gak cuma satu Ran, pasti ada banyak kelompoknya!" Kata Mbak Ayu seraya bercermin.
Aku terdiam setelah mendengar perkataan Mbak Ayu. Memang benar sih kuntilanak merah ada banyak jumlahnya. Mungkin saja tadi demit lain, karena mereka serupa aku jadi salah paham.
Plaaak.
Mbak Ayu menepuk pundak ku dan menunjuk ke belakang halaman rumah makan ini. Disana banyak sekali sosok kuntilanak yang duduk menggantung di atas pohon.
"Tuh banyak kan jumlahnya, tapi mereka gaun nya putih semua. Mungkin yang merah tempat nya bukan disini, tadi dia hanya kebetulan lewat."
"Dih ngapain lu nunjuk-nunjuk Mbak! Ntar kalau salah satu demit itu tahu lu bisa ngelihat mereka. Bakal ada yang ngikutin lu terus minta tolong tahu gak!"
"Santuy aja Ran! Gue kan ada Calon Arang yang lebih menyeramkan dari mereka. Jadi mereka gak bakalan recokin gue kok!" Ucap Mbak Ayu seraya melangkahkan kakinya.
Dasar Mbak Ayu kadang suka seenaknya sendiri. Gak mikir apa, kalau demit itu bisa aja gamgguin aku. Tapi untungnya kuntilanak-kuntilanak itu tak ada yang menyadari jika kami bisa melihat mereka. Tapi tiba-tiba ada sosok demit perempuan yang berjalan membawa nampan. Ia melesat menembus tubuhku. Sontak saja aku menjerit karena kaget.
"Astaghfirullahalazim!" Seruku dengan memegangi dada.
Mbak Ayu terkekeh melihat reaksi ku. Terkadang aku memang sering terkejut, kalau ada sosok tak kasat mata yang menembus tubuhku. Bahkan Papa sampai mendatangi ku, dan bertanya kenapa aku tiba-tiba menjerit. Mbak Ayu langsung menjelaskan, jika aku hanya kaget, karena ada demit yang lewat dan menembus tubuhku. Melihat reaksi Papa yang tercengang, aku yakin jika Papa lebih terkejut mendengar penjelasan Mbak Ayu. Ia pasti tak menyangka, jika Mbak Ayu memiliki kemampuan untuk melihat mereka yang tak kasat mata.