Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 157 PENUH MISTERI?


Mbok Genuk banyak bercerita mengenai Pramono, jika sebelumnya ia sehat dan normal seperti lelaki pada umumnya. Ketika usianya menginjak tujuh belas tahun, ada tragedi yang menimpa nya. Dan saat itu nyawa Pram hampir tak tertolong.


"Ayah dan Ibunya mengalami kecelakaan mobil bersamanya. Waktu itu, ia hampir kehilangan nyawanya, bahkan ia sempat mati suri. Dan berhasil kembali dari kematian, entah apa yang ibunya lakukan. Ibu Mas Pram terus berdoa sepanjang malam, supaya nyawa anaknya dapat tertolong. Dan begitu ia kembali hidup, ia menjadi cacat mental seperti ini. Dan beberapa hari kemudian, Ibunya pergi menyusul suaminya. Mas Pram menjadi anak yatim piatu di usia tujuh belas tahun. Karena itulah, saya dipanggil kembali untuk mengurusnya. Mas Pram terus menangis memanggil Ibunya, dia hanya anak polos yang tak tahu apa-apa. Tolong ya Mbak Wati, jaga dan sayangi Mas Pram ini setulus hati mu. Jika kau tak bisa menganggap nya sebagai suamimu, anggap saja dia seperti temanmu. Dia ini tak mengerti apa-apa Mbak." Jelas Mbok Genuk seraya mengusap pipi Pramono.


Kami semua terdiam mendengar penjelasan Mbok Genuk. Dan aku juga semakin yakin, jika kecelakaan yang di alami Pramono dan kedua orang tuanya bukanlah kecelakaan biasa. Pasti itu sudah di atur untuk menjadi tumbal pesugihan Pak Mitro. Nampak Wati menatap sendu wajah suaminya, mata nya berkaca-kaca setelah mendengar cerita Mbok Genuk.


"InsyaAllah ya Mbok, Wati akan memperlakukan Mas Pram dengan baik." Ucap Wati seraya menyeka air matanya.


Mbak Ayu hanya diam mendengar penjelasan Mbok Genuk. Sepertinya ia memiliki firasat lain tentang Mbok Genuk. Tiba-tiba Mbak Ayu bertanya blak-blakan mengenai keluarga Pak Mitro yang diduga memiliki pesugihan dan peliharaan makhluk gaib.


"Saya bicara disini hanya antara kita saja Mbok. Lebih baik Mbok Genuk jujur saja, ceritakan semuanya pada kami. Supaya kami dapat mempercayai Mbok Genuk!" Pungkas Mbak Ayu dengan tegas.


Mbok Genuk tak langsung menjawan. Matanya celingukan melihat ke berbagai arah, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu tapi urung. Kemudian ia berbicara dengan nada suara pelan, jika ia tak bisa mengatakan apapun.


"Jadi begini Mbak Wati, ini adalah malam pertama kalian. Jadi keluarga besar sudah memutuskan kalau Mas Pram dan Mbak Wati akan menginap disini selama sepekan. Dan saya akan tetap tinggal disini untuk membantu Mbak Wati mengurus semua kebutuhan Mas Pram. Karena setelah sepekan, kalian harus tinggal di rumah besar juragan. Semua anak menantu keluarga Sumitro tinggal disana. Jadi gunakanlah waktu sepekan ini untuk menghabiskan waktu bersama keluarga disini." Ucap Mbok Genuk dengan gelagat aneh.


Ternyata tak jauh dari Mbok Genuk ada Bu Kartika dan seorang lelaki tua yang duduk di kursi roda. Sepertinya itu yang namanya Pak Mitro, berarti Bu Kartika adalah keturunan langsung keluarga itu. Bu Kartika mendorong kursi roda mendekati ke arah kami. Terdengar suara berat seorang lelaki, Pak Mitro sedang memanggil Mbok Genuk untuk mengajak Pramono istirahat.


"Kedua pengantin baru ini pasti sangat kelelahan, lebih baik kau ajak suamimu istirahat di kamar mu Nduk." Ucap Pak Mitro menyunggingkan senyumnya pada Wati.


Mata Mbok Genuk melirik ke arah ku, sepertinya ia ingin memberikan kode dengan gerakan mata. Tapi aku tak dapat memahami apa yang sedang ia ingin sampaikan. Lalu Mbak Ayu menyikut lengan ku dan mengedipkan matanya. Aku menjawab nya dengan anggukan kepala saja. Dan setelah itu Mbok Genuk mengajak Pramono pergi, disusul dengan Wati yang menunjukan dimana letak kamarnya.


Pak Mitro tertawa nyaring dengan menatap kami satu persatu. Mbak Ayu dan Lala bahkan tak berkedip melihat wajah Pak Mitro dan juga Bu Kartika.


"Jadi yang mana gadis yang bekerja di Perusahaan suamimu Nduk? Siapa di antara kalian yang bernama Rania?" Tanya Pak Mitro mengaitkan kedua alis mata.


Aku maju paling depan, lalu memperkenalkan diri. Pak Mitro pun berjabatan tangan denganku, lalu bergantian dengan Mbak Ayu dan juga Lala.


"Sepertinya kalian bertiga bukan gadis biasa. Kalian sama-sama memiliki kemampuan yang tersembunyi dari mata orang awam!" Pak Mitro tersenyum menatap kami satu persatu.


Mbak Ayu nampak kesal, ia menghembuskan nafasnya panjang lalu berkata pada keduanya, jika mereka tak perlu berbasa-basi di hadapan kami.


"Kami sudah tahu siapa kalian berdua. Jadi tak perlu sungkan untuk mengungkap jati diri kalian yang sebenarnya. Jujur saja, apa Pramono menjadi cacat karena tumbal untuk pesugihan kalian?" Tanya Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.


Bu Kartika menyeringai seraya berjalan memutari kami bertiga. Ia berhenti tepat di hadapan Mbak Ayu menatapnya tanpa berkedip.


"Kau terlalu lancang untuk ukuran gadis semuda ini. Apa karena kau juga memiliki peliharaan makhluk gaib?" Pungkas Bu Kartika dengan berkacak pinggang.


"Cih. Dasar perempuan tua keriput, bertaubat lah sebelum kau menjadi seperti romo mu itu!" Seru Mbak Ayu dengan senyum mengejek.


Nampaknya Bu Kartika tersulut amarah, ia tak terima dengan perkataan Mbak Ayu. Ia hampir saja murka, dan ingin menampar wajah Mbak Ayu. Tapi Pak Mitro menghentikan nya, ia menarik tangan Bu Kartika supaya menjauh dari Mbak Ayu.


"Sudahlah Kartika, jangan terlalu mudah emosi! Gadis itu benar, kau akan cepat keriput seperti romo. Jika kau terlalu mudah marah begini. Contohlah ketiga gadis itu, mereka bersikap tenang seakan tak ada apa-apa. Kau harus menjadi seperti mereka, untuk bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan." Pak Mitro tersenyum melalui sudut bibirnya, lalu ia memuji keberanian Mbak Ayu.


Menurutnya Mbak Ayu memang sedikit berbeda dari aku ataupun Lala. Tapi ia tak mengatakan dengan detail apa maksud ucapannya. Tak berselang lama, Pak Mitro meminta Bu Kartika untuk membawanya pergi dari rumah ku. Tapi Mbak Ayu kembali menghentikan keduanya.


"Kalian belum menjawab pertanyaan ku. Dengan perginya kalian begitu saja, kalian sudah membuktikan jika pesugihan dan peliharaan gaib kalian itu memang nyata!"


"Udah Mbak, biarkan mereka pergi. Kau tak seharusnya membuang waktu dengan berbicara seperti itu!"


Lala pun membujuk Mbak Ayu untuk tak melanjutkan lagi pembicaraan nya. Tiba-tiba saja Bude Walimah datang dan menengahi pembicaraan sengit yang terjadi antara Mbak Ayu dan juga Pak Mitro.


"Maaf ya Pak, mereka masih sangat muda dan belum mengerti apa yang mereka bicarakan. Jenengan tahu sendiri to, di wilayah pedesaan seperti ini banyak desas-desus yang mudah beredar. Mereka hanya menghawatirkan Wati saja, karena itulah mereka bersikap seperti itu. Ngapunten nggih Pak!" Ucap Bude Walimah dengan membungkukan sedikit badannya.


"Sudah tidak apa-apa. Aku paham dengan semuanya Wal. Kau tak usah merasa tak enak padaku. Kami permisi dulu, tolong titip cucuku Pram. Seminggu lagi kami akan datang untuk menjemput mereka." Pungkas Pak Mitro menyunggingkan senyumnya.


Bude Walimah mengantarkan mereka sampai ke depan. Sementara aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat keberanian Mbak Ayu yang terlalu blak-blakan pada Pak Mitro. Aku hanya takut jika perbuatan Mbak Ayu tadi sampai berimbas pada Wati. Aku tak ingin keselamatan Wati terancam karena Mbak Ayu terang-terangan menyinggung Pak Mitro ataupun Bu Kartika.