
Setelah menyelesaikan liputan di pengadilan, kami memutuskan untuk kembali ke kantor. Menyerahkan bahan liputan yang akan segera di release. Dan sesampainya di Kantor, nampak Silvia masih berjibaku dengan layar komputer nya. Tak jauh dari sana ada Petter dan Aunty Ivanna yang sedang berdiri mengambang seraya melambaikan tangan menyapaku. Tiba-tiba Wening mengatakan sesuatu yang samar-samar aku dengar. Aku menghentikan langkaj, berpaling dan menatap wajahnya.
"Lu tadi ada ngomong sesuatu ya Wen? Gue gak gitu jelas dengernya."
"Oh itu, gak apa-apa kok. Gue seneng aja lihat sahabat kecil lu, lucu banget ya dia hantu kok suka susu cokelat!"
"Loh darimana Wening tau mengenai apa yang disukai Petter. Padahal kami baru saja berkenalan, tapi seakan dia tau semua hal tentang apapun yang ada di sekitar ku." Batin ku di dalam hati dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Kok lu bisa tau sih Wen?"
"Gue udah pernah beberapa kali lihat lu ngobrol sama dia sebelum kita liputan ke Bogor. Makanya gue tau dari percakapan kalian, dan waktu itu lu belum kenal gue, jadi mungkin lu gak sadar kalau ada gue di dekat kalian. Btw siapa namanya hantu kecil itu Ran?"
"Dia Petter, dan itu Mamanya. Bentar ya gue mau ngobrol sama Silvia dulu." Kataku seraya berjalan ke meja kerja Silvia.
Ku lihat Silvia sedang menyelesaikan artikel yang harusnya ku kerjakan. Karena itulah dia belum pulang sampai sekarang. Ia menoleh ke arah Wening yang sedang berjalan ke meja kerjanya yang berada di ujung ruangan. Oh mungkin karena dia berada di sudut ruangan, jadi aku tak pernah melihatnya sama sekali. Dan hari ini pertama kali nya aku bekerja sama dengannya.
"Dia anak magang itu ya Ran?"
"Lu kenal dia juga Sil?"
"Gak kenal lah! Gue cuma sering denger dari beberapa staf di kantor. Kalau dia sering bantuin pekerjaan staf lain. Dan yang lebih wah nya, dia juga bisa lihat makhluk tak kasat mata kayak lu. Beberapa kali dia nolongin orang di kantor ini, yang diganggu demit pas lembur sampai malam. Bahkan dia kemarin di panggil Pak Bos besar ke rumahnya. Katanya sih dia bantu ngungkap kasus kematian mendiang nyokap si Bos. Katanya sih yang bunuh istri kedua bokapnya. Hari ini pas lu pergi keluar, kantor sampai heboh gitu karena penangkapan istri kedua CEO kita. Hebat banget gak sih kata lu, dia baru magang disini satu bulan, tapi udah ada banyak bantu orang-orang. Terutama Bis Besar di kantor kita ini, pasti dia bakal langsung di angkat pegawai tetap." Jelas Silvia bersemangat, bahkan ia menghentikan aktivitas nya.
Aku tercekat, bagaimana mungkin Wening bisa ngungkap kejahatan Bu Kartika dengan mudahnya. Apa mungkin semua itu karena si merah sudah tak bisa melindunginya. Terakhir kali, kuntilanak merah peliharaan nya sudah celaka di tangan Calon Arang. Dan pasti ia tak akan bisa membantu Bu Kartika, jadi karena itulah Wening lebih mudah mengungkap kasus kematian Mama kandung Pak Bos. Tapi bagaimana caranya ia melakukan nya. Padahal selama ini aku dan Mbak Ayu yang bersusah payah mengalahkan si merah. Tapi tiba-tiba Wening hadir dan menjadi pahlawan. Aah sudah Rania, jangan berburuk sangka begitu. Kata ku pada diriku sendiri.
"Lu ngomong apa sih Ran?"
Aku turun ke lobby dan menghirup udara segar. Ada pesan masuk dari Mbak Rika, yang meminta ku pergi bersama Wening ke Mansion kediaman keluarga Pak Bos. Ku kirimi pesan pada Wening, jika aku sudah berada di bawah. Dan memintanya turun, supaya kami dapat segera berangkat.
"Eh Ran kira-kira ada apa ya kita dipanggil kesana?"
"Loh bukan nya harusnya lu yang lebih tau. Gue denger-denger lu dipanggil Pak Bos buat ngungkap misteri kematian Mamanya. Gimana lu bisa ngungkap semuanya Wen? Gue aja yang udah lama berusaha selalu gagal. Karena Bu Kartika itu sangat licik, dia selalu dilindungi Kuntilanak merah peliharaan nya. Baru beberapa hari yang lalu Mbak Ayu mengalahkannya, makanya dia gak ada yang melindungi lagi." Kata ku menatapnya dengan serius.
"Justru semuanya berkat lu sama Mbak Ayu kalau gitu. Karena gue dengan mudahnya menjebak perempuan licik itu. Dua hari yang lalu, gue dipanggil Pak Bos. Dia cerita semuanya, dan pas gue cek ke rumahnya. Gak ada tanda-tanda kuntilanak merah di sekitar sana. Karena Bos udah ngingetin kalau ibu tiri nya punya peliharaan makhluk gaib. Dan katanya lu udah ngalahin dia, tapi Bu Kartika tetap masih belum mengakui kejahatannya. Gue terpaksa minta bantuan makhluk gaib buat nyamar jadi mama kandung nya si Bos. Terpaksa gue turutin mau nya dulu, tuh demit minta sesajen dan beberapa ayam cemani sebagai persembahan. Makhluk itu berhasil neror Bu Kartika sampai dia histeris dua malam ini, dia di gentayangin tiap malam sampai dia frustasi. Untungnya si merah gak datang buat lindungi Tuan nya, kalau gak mungkin bisa gagal rencana gue. Dan gue udah taruh kamera tersembunyi buat ngerekam semuanya. Eh gak tau nya, di tengah-tengah ketakutan nya dia malah ngakuin semua kejahatannya. Padahal itu diluar rencana gue Ran, syukurlah kalau sekarang udah di proses secara hukum."
"Tapi kan yang lu lakuin itu musrik Wen, buat apa lu nurutin kemauan demit kayak mereka? Padahal mendiang mama pak bos udah tenang di alamnya. Lu malah minta makhluk gaib buat merubah wujudnya seperti mendiang, kok lu bisa kepikiran hal seperti itu sih?"
"Gue bakal lakuin segala cara buat dapetin apa yang gue mau Ran! Hanya itu satu-satunya cara supaya karir gue mulus di perusahaan ini. Kalau kita berbeda sudut pandang gak masalah kan? Toh setiap orang punya pola pikir yang berbeda, tapi kita masih bisa tetap berteman. Ya gak?" Katanya dengan tersenyum dari sudut bibirnya.
Dengan santainya Wening berkata begitu di depan ku. Entah apa yang ada di dalam pikiran nya sampai ia berpikir hal yang dilakukan nya suatu hal yang lumrah. Padahal jika aku mau melakukan hal musrik macam itu, mungkin aku sudah lama dapat membongkar kejahatan Bu Kartika. Tapi aku memilih melakukan nya dengan caraku sendiri. Tapi malah dia yang mendapat keuntungan dari kesabaran ku. Aku semakin yakin, jika Wening bukanlah orang yang baik. Dia bahkan bisa bersekutu dengan demit, demi bisa mendapatkan apa yang dia mau. Mungkin saja dia bisa melakukan hal yang lebih diluar nalar, daripada ini. Malahan tadi dia udah terang-terangan ngomong bakal lakukan segala cara buat dapetin apa yang dia mau. Mungkin lebih baik aku berhati-hati pada Wening. Bisa saja dia merasa terancam karena keberadaan ku, lalu ia berniat ingin mencelakai ku juga.
"Eh lu ngapain diem aja Ran? Kita mau berangkat kapan nih?" Tanya Wening seraya menepuk lengan ku.
"Gu gue gak apa-apa kok Wen. Ya udah berangkat sekarang aja yuk!" Jawabku seraya melangkahkan kaki.
Tiba-tiba Petter melesat ke hadapan ku, membuat ku menghentikan langkah. Ia menagih janji ku yang akan memberikannya baju baru sebelum ia kembali ke alamnya. Ku jelaskan pada Petter, jika sebelum ia pergi aku akan memastikan baju baru untuknya sudah ada. Nampak Wening tersenyum melihat tingkah polos Petter, tapi ia tak mengatakan apa-apa. Saat itu ia malah mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya, dan memberikan satu bungkus cokelat pada Petter. Seketika Petter tercengang, ia membuka mulutnya lebar. Petter pasti tak menyangka jika ada manusia lain yang bisa melihatnya di kantor ini.