
Seorang lelaki mengenakan blangkon di kepala berjalan menyusuri pemakaman. Ia membawa senter untuk menyoroti jalan setapak yang dilewati nya. Melihat dari penampilan nya, sepertinya ia adalah juru kunci makam ini Jika ia melihat kami, pasti akan menimbulkan salah paham. Aku dan Mbak Rika sedang berjongkok di bawah pohon besar. Kami sama-sama terbelalak saat ada seseorang yang menepuk pundak kami dari belakang.
"Ayo cepat selesaikan tugas kalian, sebelum lelaki itu mengorbankan dirinya!" Seru lelaki berblangkon itu.
Aku dan Mbak Ayu saling menatap, tak mengerti dengan maksud ucapan lelaki itu. Ia berdiri dan menyorotkan senter nya ke arah Solehamid berdiri mengambang. Meminta demit kemayu itu pergi dari sana.
"Kalian tak usah takut padaku, aku tahu tujuan kalian datang kesini itu baik. Karena itulah, aku mendatangi kalian, dan memberitahu supaya cepat menyelesaikan tugas. Darman akan mengorbankan dirinya, supaya tak ada dendam lagi di antara Endang dan Narti. Jika kalian beruntung kalian bisa menyelamatkan nya. Karena saat ini raganya sudah tersiksa, menahan sakit dari siksaan para penganut ilmu hitam itu. Meski terlambat, Darman telah bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Semoga Allah mengampuni semua dosa nya." Pungkas Bapak itu dengan menundukan kepalanya.
Tak lagi banyak bicara, aku segera menggali sedikit tanah kuburan itu. Lalu memasukan sobekan kain kafan beserta tanahnya ke dalam. Mbak Ayu membantuku untuk menutup kembali bekas galian tanahnya. Bapak itu kembali berpesan, jika apapun yang terjadi di gedung tua itu. Jangan sampai keberadaan kami diketahui oleh para penganut ilmu hitam itu. Dan meninggalkan tempat itu setelah mengetahui rahasia besar yang tak kami ketahui.
"Jika Darman selamat, kalian bisa membawanya saat fajar tiba. Tapi jika nyawanya tak tertolong, berarti itu sudah takdirnya. Kehendak Allah tak ada yang tahu, jangan terlalu terkejut melihat apa yang kalian ketahui disana. Dan Berhati-hatilah, jangan sampai membuat kegaduhan disana!"
"Terima kasih Pak, kami permisi dulu." Ucap kami seraya bersalaman pada nya.
Kami kembali mengendarai motor. Jalanan di Ibukota pada malam hari memang tak terlalu padat. Sehingga kami bisa cepat sampai ke lokasi. Aku dan Mbak Ayu berjalan mengendap masuk ke dalam gedung terbengkalai. Dari luar kesan menyeramkan sangat terasa, begitu masuk ke dalamnya. Hanya terasa kesan hampa dan aroma lembab yang mengganggu pernafasan. Mbak Ayu bertanya kemana kami harus melangkah, sementara di dalam gedung tak terlalu terang. Hanya ada setitik cahaya yang masuk melalui lubang fentilasi, dan kami hanya mengandalkan itu sebagai sumber penerangan.
Bruug.
Suara benda terjatuh mengejutkan kami, tak lama terdengar suara tawa banyak orang. Kami melangkahkan kaki dengan hati-hati, supaya tak menimbulkan suara yang memancing kecurigaan mereka. Kami mengintip melalui lubang kecil yang ada di tembok kayu. Nampak banyak orang mengenakan jubah hitam sedang mengerumuni seseorang. Mereka bergantian menyiksa orang itu dengan berbagai benda. Memukulinya, bahkan menyayat-nyayat tubuhnya. Darah segar mengalir, membasahi lantai tempat itu. Tak lama terdengar perempuan yang menangis dengan suara mengiba.
"Jika kau ingin Darman selamat, kau harus tetap menjadi budak kami. Peliharaan kami selamanya, meskipun Darman sudah membebaskan jiwamu!" Pekik seseorang yang duduk di atas kursi tinggi.
"Tidak! Kembalilah ke alam mu Narti. Aku sudah ikhlas jika kau tiada, aku tak ingin jiwamu terjebak dengan para manusia sesat berhati setan ini. Aku akan menyusul mu, setelah ini kita bisa bersama di alam lain. Ku mohon pergilah Narti. CEPAT!" Pekik Pak Darman dengan memuntahkan seteguk darah.
Kami kira, begitu menjalankan perintah dari Pak Darman. Jiwa Sundel bolong itu akan langsung kembali ke alamnya. Ternyata dugaan kami salah. Saking besarnya cinta Narti pada Pak Darman, ia tak tenang meninggalkan lelaki itu dalam tekanan para manusia sesat. Ia berusaha menolongnya, tapi semakin ia berusaha. Raga Pak Darman akan semakin tersiksa.
Sundel bolong itu menangis pilu, ia memejamkan kedua matanya dan melesat ke arah Pak Darman. Ia berpamitan, dan membuat janji akan menunggu nya di alam berikutnya. Tak lama wujud menyeramkan nya berubah. Ia menjadi perempuan muda cantik dengan dress panjang bersih. Cahaya menyilaukan datang dari atas, menyoroti nya lalu ia terbang ke atas. Dan perlahan menghilang begitu saja, setelah asap tebal memenuhi ruangan itu. Semua orang terbatuk dan berusaha mencari keberadaan Pak Darman. Tapi sepertinya, ia berhasil melarikan diri, sesaat setelah kepergian arwah Narti. Aku dan Mbak Ayu kebingungan mencari keberadaan nya. Begitu pula para penganut ilmu hitam itu. Tak lama seorang yang paling berpengaruh di antara mereka, bangkit berdiri. Dan jubah yang menutupi wajahnya terbuka. Aku tercengang begitu melihat wajah orang tersebut. Mataku melirik ke arah Mbak Ayu, dan ia juga sama terkejutnya seperti ku.
"Raniaaaa. I itu..." Ucap Mbak Ayu terbata-bata.
Aku hanya menganggukkan kepala, seraya meletakan jari telunjuk di depan bibir. Meminta Mbak Ayu untuk diam, tak mengatakan apa-apa lagi.
Semua orang berlarian ke berbagai arah mencari keberadaan Pak Darman. Ia menghilang begitu saja, bahkan kami juga tak tahu kemana ia pergi. Karena tak ingin keberadaan kami diketahui mereka. Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
"Ran. Tadi gue gak salah lihat kan?" Tanya Mbak Ayu dengan nafas tersengal-sengal.
"Kita bahas nanti aja Mbak, yuk kita tinggalkan tempat ini dulu!" Jawabku seraya menarik tangan Mbak Ayu pergi dari sana.
Aku mengendarai motor kembali ke kontrakan Pak Darman. Disana masih ada adik iparnya, yang terjaga di depan pintu rumah.
"Mbak kalian darimana saja toh, saya sampai bingung nyari nya. Tadi saya dapat pesan dari Abang ipar saya. Ia mengirimkan pesan yang membuat saya takut. Saya jadi gak bisa tidur tenang, karena sampai sekarang Bang Darman belum kembali juga!" Ucapnya dengan menunjukan pesan dari Pak Darman. Ia menulis pesan, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ia meminta keikhlasan hati mereka, dan menguburkan nya di samping makam mendiang istrinya Narti. Dan menyampaikan pesan terakhir nya pada istri dan anaknya yang ada di kampung. Jika selama ini, ia telah melakukan kesalahan besar. Dan memohon maaf atas semua perbuatan nya semasa hidup.
"Jangan-jangan Pak Darman mengorbankan nyawa nya lagi!" Seru Mbak Ayu membulatkan kedua matanya.
"Sebenarnya gue udah menduga dari awal. Mungkin ini yang terbaik buat semuanya. Dengan begitu dendam di antara mereka selesai. Endang pun tak dapat menaruh dendam pada mendiang Bu Narti ataupun Pak Darman. Tapi yang gue takutkan, adalah apa yang kita lihat disana tadi Mbak!"
Kami bertiga terjaga di teras kontrakan. Samar-samar terdengar suara adzan subuh berkumandang. Aku dan adik ipar Pak Darman berniat shalat di masjid terdekat. Sementara Mbak Ayu, menunggu kami di teras itu. Aku berdoa dengan memegang tasbih di tangan. Seakan ada penglihatan gaib yang masuk ke dalam kepalaku. Aku melihat Bapak bersorban putih itu, ia memberikan nasehat padaku. Supaya tak ikut campur lagi perihal apa yang baru saja ku lihat di gedung terbengkalai tadi. Menurutnya, orang tersebut akan mendapatkan hasil dari apa yang perbuat. Bersekutu dengan setan, akan membawanya terjerumus ke dalam dosa yang besar. Dan tak lama, ia akan menjadi budak setan itu sendiri.