Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 268 KECEWA PADA WARGA.


"Lantas jika Wening sampai marah dan benar-benar mengakhiri hidupnya bagaimana Mbok?" Tanyaku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Aku tau betul seperti apa watak cucuku Wening Nduk. Dia penuh ambisi untuk membalas dendam pada kalian semua, dia tak akan mungkin mengakhiri hidupnya hanya karena aku tinggalkan. Aku percaya dia akan baik-baik saja, karena itulah aku kembali ke Desa ini untuk membantu kalian semua. Apalagi kalian juga bertujuan untuk menyempurnakan jasad cucuku Bening. Aku tak mau hanya berpangku tangan melihat semua kejahatan Warto dan Wening. Lebih baik aku menyesal karena tak mengikuti permintaan Wening untuk berpihak padanya, daripada aku harus mendukung Wening untuk melakukan kejahatan. Aku bisa menyesal sampai akhir hidupku Nduk." Pungkas Mbok Genuk dengan mata berkaca-kaca.


"InsyaAllah keputusan yang Mbok Genuk ambil sudah betul. Nanti kita bisa berusaha menyadarkan Wening pelan-pelan."


Tak ada jawaban dari Mbok Genuk, ia benar-benar terluka batinnya. Tak ada kata apapun yang dapat menghiburnya saat ini, jadi ku biarkan ia menumpahkan kesedihan. Pak Jarwo pun berusaha menenangkan Mbok Genuk, supaya ia tak berlarut dalam duka. Tanpa sadar kini semua warga sudah bersiap mengantarkan jenazah bayi Pak Wandi ke pemakaman. Nampak Pal Wandi sedang membopong jenazah bayi nya, ia terlihat menahan air mata dan menegakkan tubuhnya. Tak ku lihat keberadaan istrinya, mungkin ia masih dalam penanganan Dokter. Entah bagaimana kondisi perempuan itu saat ini, ia pasti akan sangat terluka begitu tau bayinya sudah tak ada lagi di dunia ini. Semua warga beriringan mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir yang tak jauh dari rumah duka. Suasana berlangsung sangat haru dan terasa begitu cepat. Tukang gali kubur pun sudah menutup tanah galian nya. Dan kini barulah Pak Wandi terlihat benar-benar kepayahan. Ia tak kuat lagi menopang tubuhnya, karena seluruh tubuhnya bergetar. Nampak Mbok Genuk pun ikut dalam rasa penyesalan. Karena bagaimanapun cucunya juga ikut terlibat dalam kejadian ini. Setelah selesai membacakan doa-doa, semua warga bersiap kembali ke rumah mereka masing-masing. Sontak saja aku dan Pak Jarwo sangat terkejut, karena mereka tiba-tiba berubah pikiran dan tak mau membantu menyempurnakan jasad Bening. Pak Haji Faruk berusaha memberi pengertian pada semua orang, tapi mereka malah berteriak kencang dan mengatakan tak mau membantu kami. Mereka semua mengaku takut, dan tak mau berurusan dengan siapapun keturunan Mbah Wongso. Semua warga takut, dan tak mau jika keluarganya mengalami nasib yang sama seperti Pak Wandi. Karena itulah mereka tak mau membantu, dan memilih kembali ke rumah mereka masing-masing. Seketika emosi tak tertahankan menggunung di kepalaku. Bagaimana mungkin mereka bersikap seenaknya seperti itu. Disini aku dan Pak Jarwo mati-matian berusaha melindungi mereka semua. Tapi hanya untuk membantu kami mengurus satu jasad saja mereka tak mau. Apakah ini yang dinamakan kekeluargaan. Tidak! Aku tak bisa tinggal diam lagi dengan menutupi fakta sebenarnya dari mereka semua. Toh semua orang hanya memperdulikan nasib mereka masing-masing. Jadi ku katakan segala fakta yang sebenarnya pada mereka.


"Baiklah jika kalian semua tak akan membantu kami mengurus satu jasad itu. Kalian lebih memikirkan hidup kalian sendiri. Kalau begitu kami tak perlu lagi mengurus kalian semua. Kalian bahkan tak tau jika yang kalian pikir adalah wabah penyakit adalah kiriman sihir dan santet dari Pak Warto. Mulai sekarang berdamailah dengan hidup kalian masing-masing, silahkan berpangku tangan dan acuh satu sama lain. Karena setelah ini kami disini juga akan bersikap yang sama seperti kalian. Kami akan tutup mata, dan tak perduli dengan apa yang kalian alami. Terimalah nasib dan takdir kalian dengan setiap santet yang Pak Warto kirimkan. Satu persatu dari kalian semua juga akan tewas. Jadi kalian tak perlu membantu kami menyempurnakan jasad Bening!" Tegas ku dengan mengepalkan kedua tangan.


Aku benar-benar tak bisa mengontrol emosi lagi. Dan ku ancam mereka dengan fakta yang belum mereka ketahui. Pak Jarwo dan Pak Haji Faruk memang sudah berusaha menghentikan ku mengatakan kebenarannya. Tapi dengan terus diam dan menyembunyikan kenyataan, hanya membuat semua warga menjadi egois dan mementingkan diri mereka masing-masing. Padahal dulu sewaktu masih ada almarhum Mbah Karto, semua orang saling bersatu dan menghadapi masalah bersama. Entah kenapa semua orang jadi egois dan penakut seperti ini. Padahal sudah ada beberapa orang yang bersedia membantu dan melindungi mereka semua. Tentu saja aku kecewa dan batin ku terluka. Pak Sapri pun berusaha membujuk satu persatu warga supaya mempertimbangkan keputusan nya. Kami masih berdebat di area pemakaman, dan keadaan menjadi tak terkendali. Sampai akhirnya Pak Wandi melangkahkan kaki ke depan dan mengatakan siap membantu kami menyempurnakan jasad Bening.


Pak Jarwo menatapku dan menganggukkan kepala. Mbok Genuk pun langsung merangkulku meminta ku tenang. Sementara Wati dari tadi terus menggenggam tangan ku, ia menggelengkan kepala seraya berkata jika aku tak boleh larut dalam amarah.


"Wajar saja Nduk jika kau kecewa dengan sikap semua warga ini. Aku memahami perasaan mu, tapi pertimbangkan ucapanmu tadi. Tanpa kita yang melindungi mereka, semua warga akan tewas di tangan Warto." Ucap Pak Haji Faruk dengan mengaitkan kedua alis mata.


Aku menghembuskan nafas panjang, ku ucapkan istighfar berkali-kali supaya emosi ku mereda. Ku tatap wajah semua warga satu persatu, mereka hanya tertunduk dengan wajah ketakutan.


"Baiklah. Apapun keputusan kalian, aku tetap pada tanggung jawab ku melindungi kalian. Aku akan berusaha semampuku, dan jangan salahkan kami jika kami tak seperti apa yang kalian harapkan." Kataku seraya berpaling lalu melangkahkan kaki pergi.


Tanpa ku duga, semua warga mengikuti langkahku. Dan Pak Jarwo memanggilku kembali untuk tak marah lagi pada semua orang. Mereka mengambil keputusan tanpa tau keadaan yang sebenarnya. Mungkin aku salah berniat menyembunyikan fakta kebenaran jika ternyata nyawa mereka sudah terancam karena santet yang dikirimkan Pak Warto. Mungkin memang lebih baik semua warga mengetahui, jika nyawa mereka memang dalam bahaya. Jadi mereka bisa berpikir lebih jernih untuk tak memikirkan keselamatan masing-masing. Karena dengan bersatu kekuatan kita akan semakin banyak dan tak mudah di kalahkan. Tanpa sadar bulir-bulir bening membasahi seluruh wajahku. Aku pun menyesal sudah mengatakan kata-kata yang menyakitkan pada mereka semua. Tapi apalah daya, aku hanya manusia biasa yang tak lepas dari rasa kecewa dan juga amarah. Akhirnya semua warga langsung mengerti keadaan, setelah ku luapkan semua perasaan yang mengganjal di dalam hatiku. Mereka tak bisa egois memikirkan keselamatannya sendiri, sementara kami semua mati-matian melindungi dan menjaga keselamatan semua warga. Aku harap ini adalah kejadian pertama dan terakhir yang membuat semua warga Desa terpecah belah. Dengan egois memikirkan diri sendiri, tak akan membuat mereka selamat dari rencana balas dendam Pak Warto dan juga Wening.