Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 165 BERTEMU KEMBALI?


Kami sampai di Pasar Tiban, Lala memintaku menunggu di motor karena ia ingin membeli bunga tujuh rupa. Samar-samar aku melihat sosok merah sedang mengawasi ku. Terserah dia saja lah, paling merah datang karena suruhan Bu Kartika. Selama aku di Desa, merah tak akan bisa mencelakai ku, apalagi ada Lala di samping ku. Bisa-bisa Senopati langsung datang untuk membinasakan nya.


"Tolong dong bawain ayamnya." Ucap Lala seraya menyerahkan seekor ayam cemani.


"Emang harus bawa ayam segala La?"


"Ayamnya buat hadiah Kangmas Elang. Sebelum menanjak pucak, aku akan memanggil Senopati dan romo nya. Itu hadiah ulang tahun buat Kangmas Elang. Setelah itu barulah kita melakukan ritual minta ijin dari penghuni setempat. Supaya perjalanan kita gak ada kendala."


"Eh La, tadi aku lihat merah di sekitar sini loh!"


"Biarin aja Ran, dia gak akan berani deketin kita. Merah itu hanya demit kasta rendah, jadi dia gak akan berani deketin kita."


"Haha udah kayak ningrat aja punya kasta."


Sepanjang perjalanan ini, Lala banyak bercerita mengenai masa lalu nya selama hidup di alam gaib. Menurutnya kehidupan disana tak jauh beda dari alam manusia. Bahkan ia menceritakan cinta segitiga nya juga. Sampai tak terasa motor yang kami kendarai tiba di sekitar Curug banyu dowo. Lala menitipkan motor di sekitar rumah warga, karena tempat itu bukanlah tempat wisata. Jadi tak ada tempat parkir di sekitar lokasinya. Kami bertemu dengan orang yang di tuakan disana. Beliau memberi wejangan agar kami tak berkata kotor ataupun membuang sampah sembarangan.


"Terkadang penghuni disana ada yang suka jahil dan menyesatkan para pendatang yang berasal dari luar desa. Oleskan abu gosok ini di kening kalian, supaya penghuni gaib disana tak menyesatkan kalian. Aku tahu tujuan kalian datang dengan maksud yang baik dan mulia. Karena itulah aku datang menemui kalian secara langsung."


Mbah Ngadimin sesepuh Desa yang sudah kesulitan berjalan, dengan susah payah menemui kami di Balai Desa. Beliau ingin aku dan Wati lekas pulang dan mendapatkan apa yang kami inginkan.


"Sampaikan salam ku untuk Ki Ageng Gede yo Nduk!" Ucap Mbah Ngadimin seraya menyunggingkan senyum padaku.


Aku mengaitkan kedua alis mata, kebingungan harus menjawab apa pada Mbah Ngadimin. Karena aku sendiri tak mengenal siapa Ki Ageng Gede itu. Jadi bagaimana aku bisa menyampaikan salam beliau. Bahkan Lala bertanya-tanya, siapa orang yang dimaksud Mbah Ngadimin. Aku hanya menggelengkan kepala tak tahu apa-apa.


Terdengar suara tawa lelaki tua itu, Mbah Ngadimin terkekeh melihat gelagat ku dan Lala. Beliau mengatakan jika seseorang di atas puncak Curug itulah yang sedang ia bicarakan.


"Kenapa semua orang membicarakan orang itu sih. Memang nya dia siapa ya, apa sesakti itu sehingga banyak orang yang seakan kagum padanya." Batin ku di dalam hati.


Aku hanya menganggukkan kepala menanggapi ucapan Mbah Ngadimin. Dan beristirahat sejenak di Balai Desa, sekalian menunaikan shalat dzuhur. Baru setelah itu aku dan Lala memulai perjalanan. Sebelum kami sampai di depan dua pohon kembar yang menjadi pertanda gapura selamat datang. Lala melakukan ritual terlebih dulu untuk memanggil Senopati beserta romo nya. Dengan menggores bagian tubuhnya sendiri, Lala akan memanggil Senopati datang beserta romo nya. Meskipun aku tak tahu, apakah Elang akan datang memenuhi panggilan Lala atau tidak. Karena di Kerajaan nya sedang ada acara perayaan nya. Hembusan angin kencang datang, tetesan darah Lala membentuk tubuh tinggi besar. Nampak Senopati datang tepat di hadapan Ibunda nya, dan tak lama sosok yang lebih besar datang bersama dengan angin yang berhembus lebih kencang. Sosok nya sangat tinggi menjulangmenjulang lebih tinggi dari pohon-pohon besar yang ada disana. Aku membulatkan kedua mata tercengang, melihat wujud buto ireng tepat di depan mata ku. Apa dia yang bernama Elang, bagaimana Lala bisa menyukai sosok dengan bentuk menyeramkan seperti itu ya. Bahkan aku sampai bergidik melihat bulu-bulu hitam yang memenuhi seluruh tubuhnya. Seakan Lala tahu jika aku miris melihat wujud raja buto itu. Ia mendatangi ku, dan meminta Elang untuk merubah wujud nya. Tak lama setelah itu, raja buto merubah wujudnya menjadi sosok lelaki tampan. Dengan lesung pipi di wajahnya, Elang memang terlihat lebih matang dari usianya jika di alam manusia. Pantas saja Lala pernah jatuh hati padanya. Aku dan Senopati hanya diam melihat pertemuan keduanya. Lala masih diam memandang Elang tanpa berkedip. Sementara Elang mulai melangkahkan kakinya mendekati Lala. Bagaikan pertemuan sepasang kekasih, keduanya terlihat canggung dan tak saling berbicara. Lala memberikan ayam cemani pada Elang, ia mengatakan jika hanya itu saja yang bisa ia berikan.


"Sudah lama sekali kita tak bertatap muka. Bagaiamana kabarmu sekarang?" Tanya Elang seraya menerima pemberian Lala.


"Sesuai janjiku padamu, jika aku akan baik-baik saja disini. Terima kasih sudah menepati janjimu Kangmas, kau tak pernah sekalipun menemui ku, dan telah menjaga anak kita dengan baik. Aku terpaksa meminta bantuan mu, untuk menyelamatkan Wati dan juga suaminya. Keluarga Sumitro bersekutu dengan buto ireng untuk mendapatkan kekayaan. Aku ingin mau membantu ku membujuk buto itu untuk menyudahi perjanjian nya dengan Sumitro. Aku tak ingin ada korban lagi, biar saja Sumitro yang dimangsa sesembahan nya sendiri. Dengan begitu pesugihan mereka berakhir, kehidupan Wati dan suaminya akan baik-baik saja." Pungkas Lala menjelaskan semuanya pada Elang, ia bahkan tak menatap wajahnya ketika berbicara.


Nampak Elang hanya menyunggingkan senyum, ia mengucapkan terima kasih karena telah mengingat hari ulang tahun nya. Karena Elang pikir, Lala sudah benar-benar melupakan apapun tentang nya.


"Aku akan mencari tahu terlebih dulu, barulah aku akan mengatur semuanya. Jadi hanya itu permintaan mu padaku?" Tanya Elang tak berkedip menatap Lala.


Lala hanya menganggukkan kepala tak mengatakan apa-apa. Senopati mendatangi kedua orang tuanya, dan menggenggam tangan Ibunda nya. Aku hanya menyaksikan pertemuan mereka dengan haru. Sebenarnya aku masih bisa melihat dan merasakan, ada kasih sayang di antara Elang dan Lala. Tapi mereka menyembunyikan perasaan mereka masing-masing. Sampai akhirnya Elang meminta waktu untuk berbicara empat mata. Tapi Lala menolaknya, karena kami harus segera sampai ke puncak sebelum petang.


"Setelah kau menyelesaikan perjalanan ini, aku akan datang kembali. Selain ada yang harus kita bicarakan, aku harus memberikan sesuatu padamu untuk diserahkan pada Wati. Supaya ia bisa terlindungi dari demit rendahan peliharaan Sumitro." Ucap Elang dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah Kangmas. Kita akan bertemu sekali lagi, dan itu akan menjadi akhir pertemuan kita."


Kini Lala memeluk Senopati dan meminta nya kembali ke alam nya bersama romo nya. Karena mereka tak bisa meninggalkan Kerajaan terlalu lama. Nampak raut wajah Elang semakin sendu, seakan ia tak rela berpisah dari Lala. Tapi kali ini Lala benar-benar tak membalikkan tubuhnya. Ia berbicara dengan membalikkan punggung nya, meminta Elang untuk kembali ke alam nya. Pertemuan mereka berlangsung singkat, menurutku Elang bisa saja membantu kami tanpa bertemu dulu dengan Lala. Sepertinya itu hanya alasannya saja, supaya dapat bertatap muka langsung dengan Lala.


"Akhirnya mereka pergi juga La. Apa kau tak apa-apa?"


"Aku gak kenapa-napa kok Ran, yuk berangkat sekarang!"


"Gimana mau berangkat La, katanya harus naruh bunga tujuh rupa dulu di bawah pohon itu!"


Lala tak banyak bicara, setelah meminta ijin pada para penunggu tempat itu. Kami segera melakukan perjalanan. Terdengar suara-suara binatang liar. Kabut mulai membatasi pandangan. Padahal langit di atas sana masih terang. Tapi suasana di Curug ini seakan mencekam. Banyak sosok makhluk tak kasat mata yang bersliweran, beberapa dari mereka sedang membicarakan kami. Mereka merasa terganggu dengan kedatangan ku dan Lala, tapi mereka sama sekali tak mengganggu. Hanya saja aku merasakan ada sesuatu yang menunggu ku di tempat ini. Sesuatu dengan energi kuat tapi tak membahayakan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.