
Hampir semua penumpang sudah di antarkan sampai tujuan. Hanya tinggal empat penumpang termasuk aku dan juga Wening. Aku memperhatikan gerak-geriknya, sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Aku hanya dapat mendengar jika ia meminta dijemput disuatu tempat.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja, aku masih bisa mengatasinya. Tunggu telepon dariku, kau standby aja di dekat tempat yang ku beritahu tadi." Ucap Wening dengan seseorang yang tak ku tau siapa.
Aku hanya diam menatap ke jendela, ku lihat dari pantulan kaca nampaknya Wening mendongakkan kepalanya ke arah ku. Ia pasti penasaran, apakah aku mendengarkan pembicaraan nya atau tidak. Aku berpura-pura seakan bangun tidur dan meregangkan otot-otot di tubuh.
"Lu tidur lagi ya Ran?"
"Duh gue ketiduran ternyata. Emangnya udah sampai mana sih?"
"Masih di jalan lingkar kok, belum masuk ke perkampungan." Jelas Wening.
"Oh iya bentar lagi gue turun nih, kayaknya giliran gue yang di antar sampai rumah. Lu gak mau mampir dulu ke rumah gue?" Kata ku berbasa-basi.
"Hmm gak usah Ran, gue udah nyuruh orang buat jemput kok."
"Oh Desa lu deket ya sama Desa gue? Katanya tadi lu mau lanjut naik travel biar bisa pulang, kok jadi minta dijemput orang?"
"Maksudnya nanti Ran, kalau gue udah sampai deket Desa. Gue mau turun di tengah jalan, biar bisa cepet sampai rumah. Capek gue seharian di dalam mobil terus."
Aku terkekeh melihat tingkah Wening. Entah kenapa dia sangat licik dan munafik seperti itu. Apa sebesar itu dendamnya padaku dan semua warga Desa. Sampai-sampai ia bertingkah konyol dan penuh tipu muslihat. Makin kesini aku jadi semakin yakin, jika aku memang pantas mencurigai dan waspada dengannya. Tapi lebih kasihan lagi jiwa si Bening, ia jadi terlunta-lunta karena keluarga nya sendiri.
"Yoo yang turun di Desa Rawa Belatung siap-siap turun." Teriak Pak Supir mengejutkan ku.
Perlahan mobil travel ini memasuki gapura selamat datang. Nampak perempuan berkonde memakai kain jarit menyambut kedatangan ku di pinggiran jalan. Ia menyunggingkan senyum seraya menganggukkan kepala. Wening heran melihat perempuan gaib itu menyapa ku seperti itu.
"Jadi ini Desa lu ya?" Ucap Wening yang masih memandang perempuan berkonde tadi.
"Emang lu baru tau ini Desa gue?"
"Gue kan nanya Ran, ya jelas aja gue baru tau dong. Secara makhluk tadi ramah banget sama lu, sampai-sampai nungguin lu di pinggir jalan. Bukannya tempat dia emang di depan gapura itu ya?"
"Iya emang disitu tempat tinggalnya, entah kenapa dia tumben sampai mendekat ke tepi jalan. Mungkin dia mau menyambut lu juga kali Wen!"
"Ya mungkin aja kalian punya hubungan di masa lalu, makanya tuh makhluk sampai nunggu di pinggiran jalan buat nyapa."
"Hahaha ngadi-ngadi lu Ran. Hubungan di masa lalu, emangnya gue pernah gaul sama perempuan berkonde itu!" Sahutnya terbahak.
Aku sengaja meminta Pak Supir menghentikan mobil di depan Pos Hansip. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Wening, jika ternyata aku tak turun di depan rumah ku sendiri.
"Pak Pos di depan berhenti disana ya!" Teriak ku pada Pak Supir.
Pak Supir menepikan mobil, dan membantu ku mengambil barang-barang di dalam bagasi. Tak lama Wening ikut turun, dan mengucapkan perpisahan padaku. Kebetulan di depan Pos Hansip banyak warga yang sedang meronda, mereka menyapaku dan ikut membantu membawakan barang-barang ku. Tapi semua orang nampak memperhatikan Wening dengan serius. Mereka saling sikut dan bergumam satu sama lain. Tak lama setelah itu Wening buru-buru masuk ke dalam mobil. Dan berbicara dengan ku dari balik pintu.
"Gue jalan duluan ya Ran, sampai jumpa lagi!" Katanya seraya menutup kaca mobil.
Aku hanya menganggukkan kepala tak mengatakan apa-apa. Terdengar beberapa bapak-bapak itu saling bergumam membahas sesuatu. Karena penasaran aku pun bertanya kenapa mereka tiba-tiba tampak cemas. Tak ada yang menjawab pertanyaan ku, hanya Pak Sapri saja yang mengatakan sesuatu. Menurutnya semua warga ini merasa tak asing dengan wajah perempuan yang satu mobil dengan ku tadi. Tapi mereka juga tak ingat siapa perempuan itu.
"Sudahlah Nduk, tak usah dihiraukan. Namanya juga orang sudah makin tua, ingatan nya bisa saja salah." Jelas Pak Sapri seraya membantu membawa barang-barang ku.
Mungkinkah semua warga tadi mengingat wajah Wening sewaktu ia kecil dulu. Dan mereka masih mengenalinya, tapi tak tau harus berkata apa.
"Nduk kok diam saja to, ada acara apa kau tiba-tiba pulang kampung? Terus kenapa gak turun di depan rumah sekalian?"
"Eh iya Pak Sapri maaf Rania gak denger tadi. Gak ada acara apa-apa kok Pak, Rania cuma hawatir sama warga. Katanya lagi ada wabah penyakit aneh yang membuat orang tiba-tiba meninggal dunia. Makanya Rania pulang mau cari tau ada apa sebenarnya. Kasihan Wati hawatir banget sama Bude yang sendirian di rumah. Dan Rania emang sengaja gak turun di depan rumah, mau kasih kejutan buat Bude."
Pak Sapri menghela nafas panjang, wajahnya nampak cemas dan menggelengkan kepala. Ia menjelaskan jika sudah ada empat orang warga yang meninggal dalam waktu dua minggu. Entah itu benar-benar wabah penyakit atau semacam kiriman santet. Karena sudah dua hari ini Pak Jarwo datang dan melakukan ritual di Desa ini, seketika semua warga menjadi semakin cemas dan berpikiran yang tidak-tidak.
"Pak Sapri tidak usah hawatir, InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Sampaikan pada semua warga jika masalah ini akan segera diselesaikan. Baik itu wabah penyakit ataupun santet yang sengaja dikirimkan." Ucap ku dengan menyunggingkan senyum.
"Terima kasih Nduk, kau masih sempatkan pulang ke Desa memperdulikan keadaan kami semua. Kalau begitu aku tak langsung kembali ke Pos Hansip saja ya, sampaikan pada Pak Jarwo cepat sembuh. Supaya semua warga tak semakin cemas." Pungkas Pak Sapri sebelum berpamitan pergi.
Aku hanya menganggukkan kepala seraya berterima kasih, karena telah membantu membawa barang-barang ku sampai di depan rumah. Baru saja aku membuka pintu pagar, tapi seseorang dari dalam lebih dulu membuka pintu rumah. Wati berlari menghampiri ku lalu memelukku dengan berderai air mata. Aku sangat paham dengan kegelisahan nya kali ini. Ia pasti sangat mencemaskan kondisi Bude dan semua warga yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Dari belakang Wati nampak Pramono sedang berjalan dengan memegangi botol minuman soda. Ia berjingkrak kegirangan melihat ku, seakan aku adalah teman kecilnya yang sudah lama tak dilihatnya.