
Berbekal informasi yang diberikan Pak Bos, aku memutuskan untuk pergi langsung ke sebuah Mall yang ia miliki. Sesampainya disana, aku sama sekali tak melihat tanda-tanda aneh atau kemunculan makhluk dengan aura jahat. Meski ada beberapa penampakan hantu di beberapa tempat, tapi sepertinya hantu-hantu tersebut memang sudah lama menempati tempat ini, jauh sebelum tempat ini dibangun menjadi Mall. Rasanya tak ada yang mencurigakan disini, meski memang ada sedikit kejanggalan yang tak nampak di penglihatan ku. Ku lihat ada sesosok perempuan tua sedang berdiri mengambang di depan pintu masuk, setiap berapa menit sekali ia terlihat keluar masuk sehingga membuat sensor gerak pintu membuka dan menutup sendiri. Dan itu yang membuat Security yang berjaga disana agak takut, karena tak ada siapapun yang melewati pintu. Baiklah lebih baik aku menyelesaikan apa yang ku lihat dulu, meski terlihat sepele hal seperti itu tentu akan menggangu pekerja ataupun pengunjung.
"Maaf Nek, sebenarnya apa yang sedang Nenek tunggu disini?" Tanyaku melalui batin.
Nenek tersebut membalikkan tubuhnya dengan sorot mata sendu. Ia menyentuh pundak ku, membuat ku dapat melihat apa yang ingin ia tunjukkan padaku. Di hari pertama Mall ini dibuka, ia bersama anak sulungnya datang untuk bertemu dengan anak-anak nya yang lain. Mereka sedang membicarakan sang Ibu, yang harus secara bergilir dirawat oleh anak-anak nya. Dan saat itu tibalah giliran si anak nomor dua yang harus merawatnya, mereka berkumpul di sebuah restaurant yang ada di lantai tiga Mall ini. Hasil akhirnya, si anak nomor dua mengaku tak bisa menjaga sang ibu. Karena selama tiga bulan ke depan, ia ada bisnis diluar kota. Maka anaknya meminta si bungsu yang menggantikan tugasnya menjaga sang Ibu. Tapi anak bungsu nya juga menolak, karena ia baru saja membuka butik di Mall ini. Dan karena masih baru, ia hanya mempunyai satu pegawai yang membantunya. Sementara di rumahnya, hanya ada anak-anak nya yang masih sekolah. Tak mungkin ia menjaga sang Ibu untuk tiga bulan ke depan. Akhirnya mereka semua terpaksa membuat keputusan untuk membawa Ibunya ke Panti jompo. Tapi sang Ibu menolak, dan anak-anak nya tetap pada keputusan mereka. Akhirnya sang Ibu dibawa ke Panti jompo hari itu juga, dan keesokan harinya. Nenek ini diam-diam pergi meninggalkan Panti jompo, ia menyusup ke dalam mobil box yang membawa bahan makanan pokok ke Panti jompo. Dan di tengah-tengah perjalanan, ia mati lemas di dalam mobil box tanpa sepengetahuan sang sopir. Sampai si sopir curiga, karena terdengar bunyi-bunyi dari mobil box yang ia kemudikan. Padahal mobil tersebut sudah dalam keadaan kosong, akhirnya sopir turun dan melihat ke belakang box. Betapa terkejut nya ia melihat ada seseorang di dalam mobil boxnya. Tubuh seorang perempuan tua yang terbujur kaku. Akhirnya karena ketakutan, si sopir tersebut membuang jenazah Nenek itu di tengah hutan. Dan sampai saat ini belum ada yang mengetahui keadaannya, ataupun menemukan jasadnya. Hanya Mall ini satu-satunya yang berbekas di memori otaknya, ia sengaja menunggu di pintu masuk. Untuk melihat sang anak bungsu, dan berusaha memberitahu nya. Jika saat ini sang Ibu sudah meninggal dunia, dan jasadnya ada di tengah hutan sebelum Panti jompo tempat mereka menitipkan Ibunya.
"Inalillahi wainnailaihi raji'un." Ucapku dengan nafas sesak di dada.
"Ada apa Mbak?" Tanya Security yang berjaga di depan pintu masuk.
"Hmm maaf Pak, di Mall ini ada berapa butik ya?" Jawabku dengan pertanyaan.
"Wah saya kurang tau Mbak, mungkin bisa tanya ke bagian informasi saja."
Sepertinya yang mengganggu para pengunjung hanyalah hantu-hantu biasa seperti hantu Nenek satu ini. Jadi apa yang dicemaskan Pak bos tak pernah terjadi, tak ada persaingan bisnis secara gaib di Mall baru nya. Baru saja aku akan melangkah ke bagian informasi, ku lihat hantu Nenek tadi berjalan mengambang mengikuti sekumpulan orang yang baru saja masuk ke dalam. Jangan-jangan sebagian dari mereka adalah anak dari si Nenek itu. Baiklah lebih baik aku mengikuti mereka juga. Sekumpulan orang tadi masuk ke dalam sebuah restaurant, mereka berbincang-bincang dan membahas sesuatu yang tak dapat ku dengar dengan jelas. Nampak raut wajah si Nenek tadi berubah sendu, dan ia melesat pergi begitu saja dengan berlinang air mata. Sebenarnya apa yang didengar olehnya, kenapa Nenek itu sampai menangis ya. Tak punya pilihan, akhirnya aku memutuskan berpura-pura telepon di dekat ke empat orang perempuan yang sedang mengobrol. Dari yang ku dengar mereka sedang membicarakan Ibu mereka yang tiba-tiba menghilang. Jangan-jangan mereka ini adalah anak-anak si Nenek tadi, karena saat Nenek itu memberikan penglihatan padaku, aku tak dapat melihat dengan jelas wajah anak-anak nya.
"Tapi kan Mbak, Ibu sudah tua kalau ada apa-apa di jalan gimana. Aku hawatir Mbak, lebih baik kita cari tau apakah Ibu benar-benar ada di kampung nya atau tidak."
"Sudahlah diam! Kau ini tau apa, aku sendiri yang akan mencari tau kabar Ibu lewat sepupu kita yang ada di kampung!"
Pantas saja Nenek tadi berlinang air mata, pasti ia baru sadar jika anak-anak yang sudah ia besarkan tak benar-benar perduli padanya. Meski mereka tau jika sang Ibu tak ada di Panti jompo tersebut, tapi mereka masih bisa makan-makan di restaurant seperti sekarang. Memang benar kata pepatah, satu Ibu bisa merawat sepuluh anak tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat satu Ibu. Aku hanya tertunduk seraya melangkahkan kaki mencari keberadaan jiwa sang Nenek tadi. Entah bagaimana caranya aku memberitahu anak-anak nya jika sang Ibu sudah tiada. Ku lihat jiwa Nenek tadi berdiri mengambang di depan sebuah butik. Hanya satu butik itu saja yang terlihat ramai, tal seperti butik lainnya yang hampir tak ada pembeli. Tak berselang lama seorang perempuan masuk ke dalam butik, dan dia adalah salah satu anak dari si Nenek. Entah bagaimana caraku memberitahu jika Nenek ini sudah meninggal dan jasadnya berada di tengah hutan.
"Bagaimana Rania, apakah kau sudah menemukan permasalahan yang ada di Mall ini?" Tanya Pak bos yang ternyata melihatku sedang mengamati sebuah butik.
"Sebenarnya saya tak melihat tanda-tanda aura jahat di tempat ini Pak. Meski ada beberapa arwah penasaran yang gentayangan disini, tapi sebenarnya mereka tak bermaksud mengganggu pengunjung Mall ini. Mungkin waktu Bapak membuka tempat ini belum di adakan acara selamatan, semacam doa-doa yang dibacakan untuk acara syukuran. Semacam Bapak meminta ijin pada semua penunggu yang sudah lama menempati tempat ini. Karena sebagian besar dari mereka ada penghuni lama, yang tak mau pindah meski sudah dilakukan pembangunan gedung."
"Jadi kau yakin tak ada unsur lain semacam persaingan bisnis?"
Aku hanya menggelengkan kepala seraya melihat wajah sendu hantu Nenek yang menembus kaca butik. Ia memberikan aura positif untuk butik sang anak, dan membuat beberapa pengunjung berbelanja di tempat usaha anaknya tersebut.