
Pagi ini kami mengunjungi Om Dewa sekalian berpamitan. Kami akan pergi ke Desa dalam lima hari ke depan. Nampak raut wajah Om Dewa ketakutan, karena kami akan meninggalkan nya. Tapi aku dan Mbak Ayu sudah menjelaskan, jika selama kami pergi akan ada polisi yang bertugas untuk menjaga keselamatan nya.
"Tapi kalian tahu sendiri, kalau Ajeng dan kelompoknya itu bukan orang sembarangan. Mereka memiliki kesaktian, dan dapat memperdaya para polisi itu." Kata Om Dewa dengan raut wajah ketakutan.
Aku dan Mbak Ayu saling menatap, kami sedang memikirkan ucapan Om Dewa. Menurut ku kekhawatiran nya sangat wajar, karena yang kami hadapi saat ini memang bukanlah manusia biasa.
"Om Dewa harus berusaha melindungi diri sendiri selama kami gak ada disini. Atau Om mau langsung pulang ke Bali aja? Biasanya ilmu hitam gak akan bisa menyeberangi lautan. Dan itu akan menguntungkan buat keselamatan Om Dewa."
Mbak Ayu dan Om Dewa sama-sama menatapku dengan heran. Sepertinya mereka tak percaya dengan ucapan ku, mengenai ilmu hitam yang gak bisa menyeberangi lautan.
"Lu tahu darimana Ran? Gak asal ngomong kan buat nenangin Om Dewa doang?" Tanya Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Om Dewa hanya mengacak rambutnya kasar. Sepertinya ia sama ragu nya seperti Mbak Ayu. Mereka tak percaya dengan penjelasan ku.
"Rania gak bohong Om! Rania pernah denger Mbah Karto ngomong ini, bahkan demit aja gak bisa menyeberangi lautan. Apalagi ilmu hitam nya. Yang Rania dengar adalah, setiap makhluk gaib itu memiliki wilayah kekuasaan nya masing-masing. Makhluk gaib yang berkuasa di wilayah laut adalah makhluk gaib yang lebih kuat dari yang berkuasa di daratan. Mungkin karena secara usia lebih tua juga. Dan dalam sejarahnya, singgasana raja makhluk gaib yang paling kuat memang ada di atas permukaan laut. Dan ilmu hitam juga tidak bisa dikirim melewati laut. Atau menjadi tidak berfungsi jika seseorang yang dikirimi ilmu hitam menyeberangi laut. Karena kekuatan gaib yang dipakai dalam ilmu hitam tersebut kalah dengan kekuatan gaib yang berada di lautan. Jadi misalnya gini nih, jika seseorang tinggal di pulau Jawa dan mendapat ancaman santet, lalu dia pindah ke pulau Bali, maka bisa dipastikan kalau santet tidak dapat dikirimkan. Alasannya, karena beda pulau akan beda "Penguasa" dan "Penunggu". Hukum gaib atau hukum sihir yang berlaku juga berbeda. Ilmu hitam yang ada di pulau Jawa tidak bisa dikirim ke pulau Bali, begitu juga sebaliknya. Hanya ada beberapa praktisi-praktisi yang mampu mengirimkan ilmu hitam menyeberangi lautan. Dan itu pun gak sembarangan orang bisa Om. Mengingat belum lama Tante Ajeng mempelajari ilmu hitam, ia tak akan mampu mengirimkan sihir nya jika Om Dewa kembali ke Bali." Ucapku sedetail mungkin pada keduanya.
Kali ini wajah Om Dewa berubah lebih cerah, ia menghembuskan nafas panjang. Sepertinya ia baru lega setelah mendengar penjelasan ku yang mendetail.
"Keren lu Ran. Bisa tahu sedetail itu, kenapa lu gak buka praktek perdukunan aja sekalian!" Seru Mbak Ayu dengan menggelengkan kepalanya.
"Kurang asem lu Mbak! Gue bukan dukun tauk! Kebetulan gue sering dikasih pemahaman sama almarhum Mbah Karto. Makanya gue agak paham dengan hal-hal gaib begitu. Jadi gimana nih, Om Dewa mau pulang ke Bali gak? Biar kami juga tenang pergi ke Desa, kalau Om Dewa udah gak ada di Jakarta."
"Iya Om, sepertinya kondisi Om juga udah lebih baik dari kemarin. Kalau Om udah mampu berdiri, biar Dahayu belikan tiket pesawat sekarang. Dan ada sedikit tabungan Dahayu, yang bisa Om Dewa gunakan untuk menyambung hidup di Bali." Mbak Ayu memberikan tabungan dan atm nya pada Om Dewa.
"Baiklah, jika menurut kalian itu akan lebih baik. Terima kasih, dan maaf Om sudah merepotkan kalian."
Mbak Ayu memutuskan untuk pergi menemui Dokter, ia meminta ijin supaya Om Dewa bisa keluar dari Rumah Sakit hari itu juga. Meski Dokter sempat melarang, tapi Mbak Ayu berhasil meyakinkannya. Dan jam satu siang ini, kami akan mengantar Om Dewa sampai ke Bandara. Kami hanya ingin memastikan jika Om Dewa benar-benar pergi dengan selamat.
"Loh kalian mau bawa Om Dewa kemana? Katanya minta penjagaan dari petugas?" Tanya Mas Adit yang baru saja datang.
"Eh kalian mau ke Desa emang bisa naik pesawat?" Celetuk Mas Adit dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Dodol lu Dit! Kita ke Bandara buat nganter Om Dewa. Habis itu baru lu antar kita ke travel agent, oke?" Sahut Mbak Ayu seraya mengacungkan ibu jarinya.
Tanpa banyak bicara, Mas Adit membantu kami membawa barang dan memapah Om Dewa. Meski ia masih sedikit lemah, tapi Om Dewa mengambil keputusan yang tepat untuk segera pergi meninggalkan Jakarta. Terdengar suara burung gagak di atas langit, sontak saja Om Dewa menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik dinding. Ia terlihat sangat frustasi, matanya melotot ke atas dengan tubuh yang gemeteran.
"Itu pasti Ajeng, dia tahu kalau aku akan meninggalkan kota ini. Jadi dia akan mencelakai ku di perjalanan!" Pungkas Om Dewa ketakutan.
Mbak Ayu memejamkan kedua matanya, mulutnya seakan membaca rapalan mantra. Tak lama ia membuka kedua matanya dengan nafas yang berderu kencang.
"Kalian pergi saja duluan, aku akan menghadapinya!" Ucap Mbak Ayu dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Gak! Gue gak akan biarin lu ngelawan Tante Ajeng seorang diri Mbak!" Kataku menatap nya dengan wajah serius.
Akhirnya kami meminta Mas Adit mengantarkan Om Dewa ke Bandara. Sementara kami harus menghadapi Tante Ajeng untuk pertama kalinya. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Mbak Ayu berhasil mengecoh burung gagak itu. Begitu gagak itu melesat turun dari udara, ia merubah wujudnya. Nampak Tante Ajeng berdiri lalu menyeringai di hadapan kami.
"Kemana kalian akan menyembunyikan Om tersayang kalian itu hah? Aku akan menemukan nya dengan mudah. Saat ini aku tak bisa mencelakai kalian berdua, karena aku sedang berpuasa, dan pantang bagiku melenyapkan nyawa seseorang dengan sia-sia. Bukankah lebih baik ku tumbalkan nyawa kalian untuk boneka jenglot jelmaan Nek Dijah. Tapi aku tak bisa melakukannya sekarang, harus ada ritual khusus yang ku lakukan untuk menumbalkan kalian berdua. Tunggu saja waktu yang tepat hahahaha." Pungkas Tante Ajeng dengan angkuhnya.
"Tante gak perlu banyak bicara, kalau kau mampu lawan saja aku!" Sahut Mbak Ayu dengan berkacak pinggang.
"Meski kau memiliki kekuatan, jika kau tak tahu cara menggunakannya, itu sama saja tak ada gunanya Dahayu! Kau seperti tong kosong yang berbunyi nyaring, omong kosong belaka!"
Aku melihat Tante Ajeng sengaja memancing emosi Mbak Ayu. Karena jika Mbak Ayu sampai tak bisa mengendalikan amarahnya, wujudnya bisa berubah kapan saja. Dan itu akan merugikan nya sendiri.
"Mbak jangan dengerin omongannya. Dia sengaja mancing amarah lu, karena saat ini dia sendiri juga tak bisa mencelakai kita. Dia hanya ingin mengetahui seberapa besar kekuatan lu, dan itu justru akan menguntungkan nya. Karena dia bisa mempelajari kemampuan lu, apa saja yang sudah ataupun belum kau kuasai!" Aku berusaha memahami karakter Tante Ajeng, dan ia tersenyum melalui sudut bibirnya setelah mendengar perkataan ku.
Semoga Mbak Ayu mau mendengarkan ku, karena jika ia berbuat gegabah, kelak itu akan merugikan bagi dirinya sendiri. Karena bagaimana pun, ia masih harus mendalami ilmu untuk mengendalikan kesaktiannya.