
Keesokan harinya, Mbak Ayu bersama Petter tetap berada di rumah. Mereka akan melakukan perjalanan ke dimensi gaib. Sementara aku akan pergi menemui Pak Bos dan juga Papa nya di rumah sakit. Karena menurut Pak Bos Bu Kartika akan datang ke rumah yang sama untuk melakukan pemeriksaan. Sesuai rencananya, ia menginginkan seorang keturunan dari suaminya. Tentu saja itu tak akan mudah, mengingat usia dari sang suami yang sudah lanjut. Tapi Bu Kartika memaksakan kehendaknya, dan membuat suaminya melakukan serangkaian pemeriksaan supaya mereka cepat memiliki keturunan. Pak Bos menyapa ku, ia menjelaskan kondisi medis ibu tirinya itu. Karena tak ada perkembangan sama sekali, bahkan Dokter mengatakan. Jika bukan karena peralatan medis, mungkin nyawa Bu Purnama tak akan bisa bertahan lama.
"Saya sangat hawatir dengan kondisi kesehatan Papa saya. Tapi jika saya mengingatkan nya supaya tak melakukan program kehamilan itu, Kartika pasti mengatakan jika saya takut padanya. Padahal saya hanya mencemaskan kondisi Pala saya. Belum lagi Bu Purnama yang belum sadar juga."
"Saya mengerti kecemasan Bapak, tapi Bu Kartika itu orang licik Pak. Dia ingin punya keturunan bukan hanya untuk mendapatkan bagian warisan yang lebih besar. Melainkan ada tujuan lain juga."
Tanpa diduga, Bu Kartika datang bersama suaminya. Mereka baru saja melakukan pemeriksaan. Nampak perempuan licik itu menyeringai di hadapan ku. Ia berkata setengah berbisik, jika ia melakukan semua ini bukan untuk membebaskan Wati dan Pramono.
"Ternyata kau sudah cukup tangguh untuk melawan merah ya. Tapi semua belum berakhir, aku baru saja memulainya. Kali ini kau tak akan menyangka, apa yang ku lakukan pada madu ku itu."
Aku berdecih mendengar ucapannya, perempuan jahat ini terlalu percaya diri dan menganggap ku terlalu remeh. Terserah saja dia mai mengatakan apa, aku tak mau terpancing olehnya. Jadi aku hanya tersenyum melalui sudut bibir saja.
"Lebih baik kau pergi dari sini, karena tak ada gunanya kau ada disini. Lagipula aku tau kau senang kan melihat istri muda papa terbaring di rumah sakit ini?"
"Apa maksdumu Nak?" Ucap Bu Kartika pada Pak Bos.
Pak Bos terkekeh seraya mengancam Bu Kartika supaya tak menampakkan batang hidungnya di hadapannya. Tapi ia bersandiwara di depan suaminya, mengatakan jika anaknya masih membenci nya karena mengira jika dirinya yang telah menghabisi nyawa ibu kandungnya. Namun Papa Pak Bos tak bereaksi apapun, ia justru meminta istrinya itu untuk tak berdebat dengan anaknya lagi, dan memintanya untuk pulang ke rumah.
"Baiklah, aku akan pergi saja dari sini. Daripada kalian merasa terancam dengan kehadiran ku di tempat ini." Pungkasnya seraya melangkahkan kaki pergi.
Astaga, kalau Bu Kartika pergi dari sini. Dia akan tau jika saat ini ada seseorang yang ku utus untuk pergi ke alam gaib, untuk menggagalkan rencananya. Lebih baik aku mengulur waktu nya, dan berbicara dengan nya. Ku pancing dia untuk mengatakan apa saja rencananya, supaya aku dapat mengambil langkah selanjutnya.
"Kenapa kau mengikuti ku? Apa kau juga berpikir jika aku melakukan sesuatu pada perempuan tak waras itu?"
"Bukankah kita kerabat Bu, kenapa saya harus mengikuti mu untuk membahas masalah orang lain. Tapi sebenarnya saya memang curiga, tapi saya tak punya bukti apapun!" Ucap ku dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Jadi apa yang akan kau lakukan untuk menghentikan ku kali ini?"
"InsyaAllah semua akan baik-baik saja dengan bantuan Allah. Meski saya tak melakukan apapun, jika takdir berpihak pada saya, pasti semua rencana jahat mu tak akan berhasil."
Degh.
"Apa maksudnya banyak musuh? Apa yang dia tau tentangku? Kenapa ia begitu yakin jika aku memiliki musuh selain dirinya?" Batin ku di dalam hati penuh tanya.
Entah sampai kapan aku harus menahan Bu Kartika disini, karena sampai saat ini baik Petter ataupun Mbak Ayu belum menunjukkan tanda-tanda jika mereka berhasil menemukan jiwa Bu Purnama. Sampai akhirnya aku melihat beberapa perawat dan juga Dokter berlarian ke ruang perawatan Bu Purnama. Seketika aku panik, dan ingin melihat kondisinya. Tapi Bu Kartika menarik tanganku, ia menghentikan ku dan berkata jika merah telah melenyapkan nyawa perempuan malang itu. Sontak saja aku berontak dan mendorong tubuhnya, apa mungkin yang ia katakan itu benar. Aku meninggalkan nya dan kembali menemui Pak Bos, ia juga belum tau apapun, karena Dokter langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa.
"Perempuan itu benar-benar jahat Pak, padahal saya sudah meminta bantuan dari sahabat-sahabat saya untuk membawa jiwa Bu Purnama kembali. Tapi baru saja perempuan itu mengatakan, jika ia memerintah kuntilanak merah untuk melenyapkan jiwa Bu Purnama. Saya benar-benar takut Pak, saya gak mungkin rela jika kejahatan lebih berkuasa."
"Saya paham, setidaknya kau sudah berusaha. Untuk hasilnya kita pasrahkan saja pada Tuhan, semoga saja para sahabatmu berhasil membawa kembali jiwa ibu tiriku yang malang itu." Pungkas Pak Bos dengan memijat pangkal hidungnya.
Dan tak berselang lama sosok Petter melesat mendatangi ku, ia memberikan kabar keberhasilan. Karena menurutnya Mbak Ayu berhasil melumpuhkan si merah. Tapi saat ini Mbak Ayu juga terluka, karena di detik-detik terakhir merah melakukan penyerangan dari belakang.
"Perempuan jahat itu sudah kalah telak Rania. Tapi dia sangat licik sama seperti perempuan yang bicara denganmu tadi." Ucap Petter di samping ku.
Aku menghembuskan nafas panjang, benarkah yang Petter ucapkan jika mereka berhasil membawa kembali jiwa Bu Purnama. Lantas apa yang terjadi pada Mbak Ayu. Apa yang merah lakukan padanya. Belum sempat aku berkomunikasi dengan Petter, seorang Dokter sudah keluar menemui Pak Bos dan Papa nya. Sepertinya ia memberikan kabar baik, karena aku dapat melihat senyuman Dokter itu.
"Terima kasih ya Rania. Sepertinya para sahabat mu telah berhasil menyelamatkan nyawa perempuan malang itu." Kata Pak Bos menyunggingkan senyumnya seraya menjabat tanganku.
Setengah hatiku memang lega mendapatkan kabar itu, tapi aku juga mencemaskan Mbak Ayu. Karena menurut Petter, di detik-detik terakhir merah juga berhasil melakukan perlawanan. Lalu bagaimana kondisinya sekarang, kenapa ia tak datang menemui ku bersama Petter.
"Hmm maaf Pak, kalau begitu bolehkan saya melihat kondisi Bu Purnama dulu. Saya hanya ingin memastikan jika ia baik-baik saja. Karena saya mendapat kabar, jika salah satu sahabat saya terluka. Karena hantu peliharaan Bu Kartika melakukan perlawanan dari belakang." Ucapku dengan nafas yang berderu kencang.
"Maafkan saya Rania. Jika untuk menyelamatkan nyawa ibu tiri saya, sahabat mu sampai terluka." Kata Pak Bos tertunduk.
Sebenarnya Pak Bos tak perlu merasa bersalah seperti itu. Karena apapun yang aku dan Mbak Ayu lakukan memang memiliki resiko semacam itu. Dan kami tak pernah ragh untuk melakukan kebaikan, meski harus membahayakan kehidupan kami sendiri. Mungkin itulah gunanya bakat yang kami miliki, untuk melakukan kebaikan pada siapapun. Kemudian aku melangkahkan kaki ke dalam ruang perawatan bersama Petter. Nampak Bu Purnama masih terbaring lemah di atas ranjang. Aku datang hanya untuk memastikan jika jiwa yang ada di dalam raga itu memang lah jiwa pemilik yang sebenarnya. Karena kelicikan merah dan juga Bu Kartika, aku jadi cemas jika merah lah yang mengambil alih raga itu setelah ia berhasil melukai Mbak Ayu dari belakang.