Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 218 HANYA MIMPI ATAU PETUNJUK?


"Ran kenapa sih malah diem aja?" Tanya Mbak Rika seraya mengemudikan mobil.


"Gue kepikiran sama cerita lu tadi Mbak. Soal kasus yang di Bogor tadi loh. Kayaknya ada benang merah yang tersambung deh." Jawabku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Maksud lu gimana Ran? Apanya yang tersambung sih?"


"Masih gue terka-terka aja sih Mbak. Btw siapa yang kemarin meliput ke Bogor Mbak? Gue mau tanya-tanya sama dia juga nih. Kali aja gue dapet informasi penting!"


"Itu loh si Wening, anak magang baru. Mungkin lu jarang lihat dia, karena dia sering kerja lapangan."


"Oke deh, bagi kontaknya aja Mbak ke gue."


Perjalanan sore ini agak terhambat karena kemacetan di sekitaran tempat pemakaman umum. Sepertinya baru saja ada yang dimakamkan disini. Nampak berbagai makhluk tak kasat mata berdatangan seakan menyambut penghuni baru di tempat mereka. Melihat dari keramaian para makhluk itu, mungkin saja yang dimakamkan bukan ahli syurga. Karena yang menyambut jenazahnya adalah berbagai makhluk dengan wujud menyeramkan seperti itu. Pasti yang meninggal dengan cara tak wajar juga. Jadi aku hanya menggelengkan kepala saja, tak mau melihat ke luar jendela. Nampak berbagai karangan bunga berjajar di jalanan. Terdengar Mbak Rika mengatakan jika yang meninggal adalah seorang lelaki korban bullying. Dan ia merupakan seorang anak anggota partai. Ya pantas saja banyak pelayat yang mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Kenapa sih Ran. Lu ngelihat sesuatu ya?"


"Hmm justru gue gak mau lihat apa-apa Mbak. Nyar yang ada mereka ngikutin gue dan minta sesuatu lagi." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Ya udah lu merem aja Ran, ntar kalau udah sampai gue bangunin."


Benar juga kata Mbak Rika. Lebih baik aku memejamkan mata saja, daripada aku terusan melihat makhluk-makhluk itu. Aku melihat kedua sosok makhluk tak kasat mata yang familiar di ingatan ku. Keduanya melesat ke hadapan ku, dan mengatakan jika nyawa kedua temanku sedang terancam. Dan salah satu di antara mereka sudah mengorbankan diri, supaya nyawa salah satu temanku selamat. Tapi makhluk gaib itu tetap menginginkan nyawa temanku itu, karena ia menyukai nya. Bukankah mereka berdua kedua korban pembunuhan yang di cor semen itu. Apakah yang mereka maksud adalah Beny dan Silvia. Benarkah mereka datang ke dalam mimpi ku untuk memberikan informasi ini.


"Kedua temanmu yang pertama kali datang ke rumahku dalam bahaya. Sosok yang disembah suamiku mengincar mereka, salah satunya sudah menyerahkan hidupnya supaya teman perempuan mu itu selamat. Tapi rupanya makhluk itu tak menepati janjinya, ia masih mengincar nyawa gadis itu. Karena makhluk itu menyukai gadis itu, dan ingin menjadikan nya selir di alam gaib. Jika kau terlambat menyelamatkan mereka, mungkin kau akan kehilangan kedua temanmu itu. Dari awal aku sudah ingin mengatakan semuanya padamu, tapi kau bersikap seakan tak memperdulikan kehadiran kami. Jadi ku kira kau tak bisa melihat wujud kami, tapi sekarang kami yakin kau bisa melihat kami. Karena itulah ku katakan yang sebenarnya padamu." Ucap sosok ibu korban pembunuhan itu.


Bodohnya aku mengira mereka hanya ingin meminta bantuan padaku. Kenapa aku berburuk sangka pada kedua sosok itu sebelumnya. Aku terus menyesali kesalahan ku itu, kenapa aku tak berinteraksi dengan mereka waktu itu. Jika aku lebih cepat mengetahui nya, mungkin kekacauan ini tak akan terjadi.


"Ran bangun Ran!" Teriak Mbak Rika seraya menggoncangkan tubuhku.


Astaga aku benar-benar sedang bermimpi tadi. Dan aku yakin itu bukanlah sembarang mimpi, pasti itu adalah sebuah petunjuk untuk ku. Jangan-jangan bayangan putih yang ku lihat waktu itu ada hubungannya dengan makhluk yang disebutkan sosok tadi. Tapi seingat ku, bayangan putih yang ku lihat memiliki energi positif. Batinku di dalam hati penuh tanya.


"Dih lu ngapain bengong sih! Kita udah sampai nih, yuk turun!" Seru Mbak Rika seraya turun dari mobil.


"Gue tadi tidurnya lama ya Mbak? Gue mimpi kayak nyata tau gak!"


"Lumayan sih Ran setengah jam an ada lu tidur. Emangnya lu mimpi apa?"


"Ntar aja deh gue ceritain. Kita ketemu Mbak Ayu dulu aja."


Ku lihat Mbak Ayu sedang terbaring di ranjang. Ia memejamkan kedua matanya, dan ada Ce Edoh yang mengompres kepalanya. Menurut Ce Edoh Mbak Ayu tiba-tiba demam. Dan ia akan cuti di rumah selama beberapa hari.


Ku sentuh tubuh Mbak Ayu, terasa sekujur tubuhnya sangat panas. Sepertinya kompres di kepalanya harus sering diganti.


"Ran... Lu udah pulang?" Ucap Mbak Ayu yang baru saja terbangun.


"Ehm iya Mbak, gue sengaja pulang cepet soalnya lu gak balas pesan gue sih."


Mbak Ayu bangun dari ranjang, ia duduk bersamaku dan juga Mbak Rika. Aku yang penasaran dengan kejadian di alam gain segera memintanya untuk bercerita.


"Lu tenang aja gak usah hawatir Ran. Gue kayak gini bukan karena demit itu kok. Kayaknya gue kelelahan aja, makanya gue demam."


"Gak usah ngeles deh Mbak! Petter aja cerita kalau tadi merah sempat nyerang lu."


"Emang iya sih, tapi gue juga lukain dia lebih parah tauk. Calon Arang bantu gue, karena dia gak mau gue dilukai demit rendahan kayak merah itu. Tapi gue belum ngalahain dia secara telak. Merah hanya terluka, mungkin suatu saat dia bakal balik buat balas dendam sama gue."


"Jadi jiwa Bu Purnama benar-benar udah balik ke raganya?"


"Lah lu lihatnya gimana Ran? Tadi kan gue udah minta Petter nemuin lu di rumah sakit!"


Mbak Rika kebingungan mendengar nama Petter dari tadi. Akhirnya ia bertanya siapa yang dari tadi kami bahas. Mbak Ayu terkekeh, ia justru menakuti Mbak Rika. Dan mengatakan jika Petter adalah sosok hantu Belanda, dan saat ini sedang ada di samping nya. Seketika Mbak Rika melompat dari tempat duduknya, ia mengusap belakang tengkuknya dengan bergidik. Dasar Mbak Ayu, udah sakit masih aja suka godain orang.


"Mbak Ayu nih becanda aja sih! Gak ada kok Petter nya, jangan dengerin Mbak Ayu tauk!" Kataku seraya memegang tangan Mbak Rika.


"Yang bener Ran? Gue udah pernah lihat hantu beberapa kali selama bareng lu. Gue gak mau lihat lagi Ran. Ngeri tauk!" Keluh Mbak Rika dengan mengusap peluh di keningnya.


Akhirnya aku bisa menenangkan Mbak Rika, dan kami membahas mengenai merah. Berdasarkan cerita Mbak Ayu, Calon Arang telah berhasil melumpuhkan titik kelemahan kuntilanak merah itu. Sehingga kondisinya benar-benar parah. Dan Mbak Ayu yakin, jika merah perlu waktu untuk memulihkan kondisinya.


"Lu pantau aja si Kartika itu. Bisa jadi dia gunain ilmu hitam buat nyelakain madu nya. Karena demit peliharaan nya gak akan bisa dia suruh-suruh lagi."


"Gimana ceritanya sih Mbak, sampai lu bisa panggil Calon Arang buat ngelukain merah?"


"Panjang Ran ceritanya. Intinya gue sempet adu kekuatan sama tuh demit, pas gue udah kelelahan dia berusaha ngelumpuhin gue. Tapi tanpa sadar gue justru baca mantra buat manggil Calon Arang. Dan dia lah yang berperang dengan merah, lalu gue bebasin jiwa perempuan malang itu. Pas Calon Arang pergi, dan gue udah lepasin jiwa tuh ibu. Tiba-tiba merah muncul dari belakang dan nyerang gue. Karena kondisi gue yang kurang fit, akhirnya gue tumbang deh. Dan demit itu juga kabur, karena dia udah terluka parah. Jadi intinya gue kayak begini karena kelelahan aja. Lu tau sendiri banyak ritual yang gue lakukan buat proses kremasi Om Dewa. Dan setelah itu gue langsung balik kesini. Gimana gak lelah badan gue. Jadi lu tenang aja gak usah mikir kalau gue kayak gini karena bantuin lu." Jelas Mbak Ayu seraya menyunggingkan senyumnya.


Entahlah aku harus percaya dengan ucapan Mbak Ayu atau tidak. Bisa jadi ia mengatakan itu supaya aku tak mencemaskan nya. Padahal bagaimanapun gue tetap merasa hawatir. Apalagi saat ini aku juga cemas memikirkan Beny dan Silvia. Tapi aku tak mungkin meminta bantuan Mbak Ayu lagi, mengingat kesehatannya yang menurun. Mau tak mau aku harus mencari jalan keluar sendiri.