
"Ran kasih berkas ini ke bagian personalia ya!" Titah Mbak Rika seraya meletakkan setumpuk amplop cokelat di atas meja.
"Berkas apa an nih Mbak?"
"Itu lamaran kerja doang kok, biar bisa di sortir sama pihak personalia. Kantor kita lagi butuh staf di bagian editing kayaknya."
"Gak ada lowongan buat kameramen lagi ya Mbak?" Sahut Silvia memiringkan kepala.
"Emang buat siapa Sil? Kayaknya sih belum ada deh, kan kita baru nambah dua anak magang, salah satunya ya si Wening itu."
"Tadinya sih mau buat sepupu gue Mbak. Kalau ada lagi kasih tau gue ya."
Ku tinggalkan Silvia dan Mbak Rika yang masih mengobrol. Aku mengetuk pintu ruangan personalia, tapi tak ada jawaban dari dalam sana. Seorang office boy yang membersihkan ruangan di depan memberitahu jika para staf di bagian personalia baru saja memulai meeting.
"Nanti balik aja Mbak, biasanya kalau meeting suka lama soalnya." Pungkas office boy itu sebelum meninggalkan ku pergi.
Aah aku malas sekali harus bolak balik kesini lagi, mungkin lebih baik aku masuk ke dalam dan meletakkan amplop cokelat ini di atas meja sana. Dan memberinya label lamaran kerja di tumpukkan yang paling atas, supaya pihak personalia dapat langsung memeriksanya. Tak sengaja aku menjatuhkan satu amplop cokelat, sehingga berkas yang ada di dalamnya kocar-kacir keluar. Ku punguti satu persatu lembaran kertas itu, terpampang data diri dan juga kartu keluarga calon pelamar kerja. Dan terlintas di kepala ku, jika data diri semua pegawai kantor pasti ada salinannya di komputer staf personalia. Ku gunakan kesempatan itu untuk mencari data diri Wening. Mungkin aku bisa mendapatkan sedikit informasi mengenai jati dirinya yang sebenarnya. Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, hawatir jika para staf personalia tiba-tiba selesai meeting dan kembali ke ruangan ini. Jika mereka baru saja memulai meeting setidaknya paling sebentar ada satu jam pertemuan. Jadi aku bisa leluasa mencari data diri Wening, yang sudah disalin ke komputer. Banyak sekali file yang harus ku buka satu persatu, sepertinya agak menyulitkan jika aku melakukan semuanya dengan buru-buru.
Cekleek.
Ada seseorang yang membuka pintu iti dari luar. Sontak saja aku terperanjat dengan membulatkan kedua mata. Deru nafasku tak beraturan, karena jantung ku berdetak kencang. Seseorang melangkah masuk ke dalam, seketika aku kalang kabut dan berpura-pura merapikan amplop cokelat yang sudah ku tumpuk di atas meja.
"Lu lama banget sih Ran, naruh berkas doang!" Seru Mbak Rika berkacak pinggang di depan pintu.
Astaga ternyata Mbak Rika yang menyusulku karena aku terlalu lama berada disini. Ku minta Mbak Rika untuk berjaga di depan pintu, dan memberikan kode jika ada seseorang yang akan datang ke ruangan ini.
"Emangnya ada apa sih Ran? Apa yang lu cari disini?" Tanya nya dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Sekarang gue gak ada waktu buat jelasin semuanya. Jadi bantu gue jaga di depan dulu, ntar baru gue jelasin semuanya. Oke?" Jawabku seraya mendorong tubuh Mbak Rika keluar pintu.
Aku bergegas mencari file yang berisi data diri para pegawai di kantor ini. Aku mencarinya sesuai bagian divisi, tapi setelah mencari di bagian jurnalistik. Aku tak menemukan data diri Wening disana. Astaga dia kan anak magang yang baru saja diperpanjang kontraknya. Mungkin saja file itu ada di bagian anak magang ataupun pegawai kontrak. Ku cari file tersebut dan benar saja, aku dapat menemukannya di bagian anak magang. Jadi kontrak Wening belum diperpanjang sesuai janji Pak Bos. Atau mungkin pihak personalia yang belum mengganti datanya. Ku lihat data diri, dan juga kartu keluarganya. Lebih baik aku mengambil data ini dengan foto saja, supaya memudahkan ku untuk mengingatnya. Segera ku matikan komputer itu, dan merapikan nya seperti semula. Dari luar terdengar suara seseorang yang sedang mengobrol, dan beberapa kali ada suara ketukan di pintu. Begitu ku buka pintu itu, nampak Mbak Rika memberikan kode dengan gestur tubuh. Jika para staf personalia sudah mulai meninggalkan ruang meeting. Dan ia sengaja berbicara dari jarak jauh dengan salah satu personalia yang sedang berjalan ke ruangan nya.
"Loh pada disini ada perlu apa nih?" Tanya seorang perempuan yang sebaya Mbak Rika.
"Iya nih, saya nyamperin dia aja. Karena ada berkas penting yang gak ada, takutnya kebawa kesini." Jelas Mbak Rika seraya berpamitan dan meninggalkan ruangan itu.
Aku menghembuskan nafas lega, karena berhasil mendapatkan apa yang ku cari. Ku lihat data diri Wening yang sudah ku abadikan menggunakan kameran ponsel. Tapi tiba-tiba Silvia mengejutkan ku, ia menepuk pundak ku dari belakang. Hampir saja ponsel di genggaman tangan ku terjatuh karena nya.
"Kampret lu Sil! Ngapain ngagetin segala sih hah!" Kataku agak membentak.
"Dih gue becanda doang kali! Ngapain marah segala sih Ran!" Sahut Silvia menghembuskan nafas panjang.
"Udah maklum aja Sil, Rania lagi rada sensi belakangan ini. Kayaknya dia lagi ada masalah yang disembunyiin dari kita!" Mbak Rika menatapku dengan menyipitkan matanya.
"Udahlah kita balik kerja aja, ngapain malah ngobrol disini!" Ucapku seraya kembali ke meja kerja.
Ku lihat data diri Wening yang ada di layar ponselku. Nampak keluarganya beranggotakan empat orang. Sepertinya kepala keluarganya adalah Pakde nya, bersama istri dan satu orang anaknya. Sementara Wening masuk dalam katergori kerabat lain. Tertulis nama sebuah desa yang agak menyeramkan menurutku. Namanya Desa Watu Pocong, yang ternyata lokasinya masih berada di satu kecamatan dengan Desa Rawa Belatung. Tapi kenapa aku baru kali ini mengetahui nama desa ini ya, batinku penuh tanya.
"Ran lu lihat apa sih serius amat? Dan tadi lu nyari apa di ruang personalia?" Tanya Mbak Rika seraya duduk di samping ku.
"Gue nyari data diri si Wening. Ada yang mencurigakan sama dia Mbak! Dan tolong lu jangan cerita ke siapa-siapa ya?" Jawabku seraya menunjukan ponsel yang ada di tanganku.
"Dih serem amat nama desa nya. Lebih serem dari desa Simbah lu ya Ran!"
"Iya gue juga baru aja tau ada nama desa kayak gini."
Karena Mbak Rika terus memaksa, aku menceritakan awal mula kecurigaan ku pada Wening. Dari awal perkenalan kami, dan semua kisah tentang hidupnya yang membuatku penuh tanya. Dan yang terakhir saat dia ataupun kembaran nya yang terlibat dengan penyekapan Petter di ruang bawah tanah.
"Jadi Wening itu punya kembaran?"
"Iya tapi kembaran nya udah meninggal dan gentayangan jadi demit."
"Terus kenapa lu nyari data diri Wening segala Ran? Apa yang akan lu lakuin emangnya?"
Aku diam dengan memikirkan rencana apa yang akan aku lakukan setelah ini. Mungkin aku harus pergi ke Desa Watu Pocong, untuk mencari tau asal usul Wening dan keluarganya. Dengan begitu semua teka-teki tentangnya akan terungkap.