
Kami bertiga berniat mencari Pak Darman kembali ke gedung terbengkalai tadi. Tapi kami kebingungan pergi kesana, karena hanya ada satu kendaraan saja. Akhirnya kami memesan satu ojek online untuk adik ipar Pak Darman.
Sesampainya disana, suasana sudah agak ramai. Karena terletak di depan jalan utama, gedung terbengkalai itu sering dilewati banyak pengguna jalan. Kami berpencar mencari ke berbagai arah. Sudah hampir satu jam kami berada di dalam gedung itu. Tapi tak ada satupun dari kami yang menemukan nya.
"Kok bisa ilang ya Ran. Perasaan tadi Pak Darman udah gak sadarkan diri loh!"
"Abang saya kenapa gak sadarkan diri Mbak?" Sahut adik iparnya dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Begini Pak. Ada hal-hal yang susah kami jelaskan. Kami tahu keberadaan Pak Darman disini, karena sebelumnya ia sendiri yang memberitahu ke saya. Makanya kami ikuti kesini, dan ada beberapa orang yang mencelakai nya. Kami gak berani nolong, tapi kami punya buktinya kok!"
Mbak Ayu langsung menepuk pundak ku, karena ia merasa tak mempunyai bukti apapun. Aku hanya tersenyum melalui sudut bibirku, lalu berjalan ke pojok ruangan itu. Waktu aku bersama Beny dan Silvia datang meliput di gedung ini, aku sudah mencurigai sesuatu. Karena itulah aku memasang kamera tersembunyi di sekitar tempat ini. Jadi bukti inilah yang akan ku gunakan untuk melaporkan ke Polisi. Mungkin aku tak bisa membuat semua penganut ilmu hitam ini bertaubat, setidaknya aku bisa menjebak mereka. Dan setelah itu polisi bisa menangkap mereka semua. Termasuk ketua sekte sesat itu, seseorang yang kami kenal cukup dekat.
"Daebak! Darimana datangnya kamera itu Rania?" Tanya Mbak Ayu dengan mulut menganga.
"Dih sok kpop lu Mbak! Tutup mulut lu. Bauk tau!" Jawabku seraya menutup hidung. Lagian belum gosok gigi udah mangap lebar hedeh.
Karena tak dapat menemukan keberadaan Pak Darman, akhirnya kami memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib. Aku menghubungi Mas Adit dan menceritakan segalanya. Aku sudah menyiapkan bukti rekaman video di kamera yang sudah ku bawa. Aku sendiri juga penasaran kemana perginya Pak Darman. Ia menghilang bagaikan di telan bumi. Tak ada yang mengetahui keberadaan nya.
"Ssst ssst."
Aku dan Mbak Ayu memandang ke segala arah, mencari asal suara panggilan itu. Adik ipar Pak Darman bertanya-tanya kenapa kami seperti orang yang kebingungan.
"Bapak bisa tunggu di depan. Sebentar lagi polisi datang. Saya ada yang mau dicari dulu!" Pungkas ku dengan mengerutkan kening.
Tak lama ia langsung pergi ke depan. Sementara aku dan Mbak Ayu masih ada di dalam gedung itu.
"Cari apa Cu? Lelaki itu sudah pergi dibawa kuntilanak dari luar gedung ini." Ucap demit Kakek bungkuk dengan satu tangan yang tak utuh.
"Maaf Mbah, apa saya boleh tahu demit siapa yang membawa lelaki itu pergi? Bukankah tempat ini sudah dikuasai para penganut ilmu hitam? Apakah mereka tak bisa menghentikan nya?" Tanyaku penasaran.
Kakek tua itu menjelaskan, jika demit yang berasal dari luar gedung ini tak terikat dengan para anggota penganut ilmu hitam itu. Karena itulah, sosok kuntilanak dari luar itu bebas membawa Pak Darman pergi.
"Sepertinya, ia ingin menyelamatkan lelaki itu Cu. Tuan ku sangat marah, dan meminta kami mengalahkan satu kuntilanak itu saja hihihihi."
Mbak Ayu langsung menarik tanganku pergi dari sana. Menurutnya Endang lah kuntilanak yang dimaksud demit Kakek itu. Ternyata dendam yang bersemayam dalam jiwa Endang tak sebesar cintanya pada Mas Darman nya itu.
"Raniaaa!" Teriakan Mas Adit menghentikan langkah kami.
"Mas, ini bukti yang aku maksud tadi. Di dalamnya ada rekaman video, semua pelaku kekerasan pada Pak Darman. Mereka semua menyiksa nya, kau bisa lihat sendiri rekamannya." Kataku seraya menyerahkan kamera di tanganku.
Berdasarkan bukti yang ku berikan, petugas diperintahkan untuk mencari semua orang yang ada di dalam rekaman video tersebut. Nampak Mas Adit membulatkan kedua matanya. Ia sangat terkejut melihat sosok dibalik jubah hitam itu.
Aku dan Mbak Ayu sama-sama menganggukkan kepala. Kini raut wajah Mas Adit berubah cemas.
"Kalian harus pergi dari rumah kuno itu! Ini udah gak beres. Nyawa kalian bisa terancam!" Seru Mas Adit panik, bahkan keringat yang mengalir sampai ke leher begitu banyak.
"Tenang aja Dit, kita aman kok. Dia udah pergi dari rumah itu. Gue bakal jaga Rania kok buat lu." Celetuk Mbak Ayu menaikan alis matanya.
Dasar Mbak Ayu. Selalu membuat suasana jadi canggung saja, kayak gak tahu tempat buat bercanda emang.
"Gak usah dengerin Mbak Ayu Mas, dia emang radak somplak. Tentang orang itu kita bicarain nanti aja, kita harus nyari korban lebih dulu."
"Serahkan tugas itu pada polisi Ran! Kalian udah capek, lebih baik pulang aja!"
"Gak bisa Mas! Kalian gak akan bisa nemuin korbannya. Karena ia dibawa makhluk tak kasat mata. Takutnya terjadi apa-apa, karena sebelum menghilang kondisi korban udah parah. Kau bisa lihat sendiri di video itu."
Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya Mas Adit mengijinkan kami meninggalkan lokasi. Kami masih meminjam motor adik ipar Pak Darman.
"Kita mau cari kemana Ran? Si Mbak Endang kan suka pindah-pindah tempat!"
"Iya juga sih Mbak. Gue juga bingung sih, kita nyari tanpa tahu tujuan." Ucapku seraya menghentikan laju motor.
"Lah kok berhenti?"
Aku turun dari motor, dan berdiri di bawah pohon besar. Ku fokuskan pikirkan lalu memejamkan kedua mata. Dan berdoa memohon pada Yang Maha Kuasa, supaya diberikan petunjuk. Tiba-tiba terlintas bangunan tua yang tak asing di ingatanku. Astaga. Itu adalah tempat penemuan jenazah Bu Wayan. Jadi Endang membawa Pak Darman kesana. Tak lama aku membuka mata dengan nafas yang berderu kencang.
"Kenapa Ran? Lu lihat apa? Ngomong ke gue, biar gue yang hadapi tuh demit sialan!"
"Gedung tua itu Mbak. Ayo kita pergi kesana!" Pungkas ku menarik tangan Mbak Ayu kembali ke motor.
"Kita kan dari sana, dan Pak Darman gak ada disana Rania!"
"Bukan gedung itu Mbak! Tapi gedung tempat mendiang Ibu lu ditemukan!"
Sesampainya disana, kami langsung berlari ke dalam. Beruntung nya penjaga gedung ada disana, ia sedang membersihkan halaman. Dan kami memintanya menemani kami ke dalam.
"Bapak percaya dengan hal-hal gaib kan? Tolong bantu kami mencari seseorang yang dibawa demit penunggu gedung ini." Kataku dengan nafas terengah-engah.
"Oh jadi saya gak salah denger! Tadi saya dengar suara rintihan seseorang di dalam gedung. Saya pikir demit yang biasa iseng disini, tapi saya pikir lagi buat apa mereka nakutin saya. Toh setiap hari mereka sudah biasa melihat saya. Mari saya antar ke dalam, sepertinya saya tahu siapa yang melakukannya!" Jelas penjaga gedung itu, berjalan dengan membawa sapu di tangannya.