Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 164 HARAPAN TERBAIK.


Aku terpaksa meninggalkan Mbak Ayu dengan perasaan gelisah. Karena aku harus segera makan sahur lalu shalat subuh bersama Lala. Setelah semuanya selesai, barulah aku menemui Mbak Ayu kembali. Ia sedang mengemasi barang-barang nya. Aku menggaruk kepala yang tak gatal, merasa aneh melihat Mbak Ayu memasukkan pakaian nya ke dalam koper.


"Loh Mbak lu mau ngapain sih?"


Pertanyaan yang sama di ajukan Lala. Kami sama-sama penasaran kenapa Mbak Ayu mengemasi semua pakaiannya.


"Gue harus balik ke Jakarta, terus terbang ke Bali. Gue sama sekali gak bisa mendapatkan kabar tentang Om Dewa. Mungkin kalau gue nyusul ke Bali, gue bisa tahu keadaan nya. Kalian tenang aja, gak usah hawatirin gue. Kalian harus bisa bantuin Wati, supaya kehidupan pernikahan nya tak menyedihkan. Kalau gue udah sampai Bali, pasti gue hubungi kalian. Oke?"


"Mbak, lu pergi karena mimpi gue ya? Tapi kan semua belum pasti kebenarannya Mbak. Lebih baik lu tanya orang-orang terdekat lu yang tinggal di Bali."


"Iya Mbak, bener kata Rania. Jangan gegabah buat ambil keputusan."


"Sorry ya kalau gue bikin kalian hawatir. Tapi jujur, sejak bicara dengan Pak Jarwo gue emang udah gak tenang mikirin Om Dewa. Dia satu-satunya keluarga deket gue. Kalau sampai terjadi sesuatu sama dia, gue gak tahu harus gimana lagi." Mbak Ayu menundukkan kepala dengan berlinang air mata.


Aku dan Lala memeluk Mbak Ayu bersamaan. Kami mengerti dengan kegelisahan nya, apalagi ia sama sekali tak mendapatkan kabar dari Om Dewa.


"Gue pagi ini juga pergi ya, kabarin gue kalau ada apa-apa disini. Setelah urusan gue di Bali selesai, gue bakal balik kesini lagi."


"Gak usah Mbak, ntar lu capek. Lagipula lu cuma ambil cuti satu minggu, tunggu aja di Jakarta. Tapi lu harus waspada sama Heni, kita belum tahu dia di pihak Tante Ajeng atau bukan!"


"Iya Ran. Gue paham kok! Tapi lu cepetan balik ya kalau urusan disini udah kelar. Gue gak bisa di Jakarta sendiri lama-lama. Takutnya gue lepas kontrol kalau tiba-tiba berhadapan dengan Tante Ajeng!"


Aku mengacungkan ibu jari menyetujui permintaan Mbak Ayu. Aku memeluknya dengan erat. Sebenarnya aku berat membiarkan Mbak Ayu pergi seorang diri. Tapi aku juga tak mungkin meninggalkan desa sebelum menyelesaikan misi.


"Mbak mau berangkat naik travel jam berapa?Biar aku yang mesenin tiketnya." Tanya Lala seraya memegang ponselnya.


"Yang paling pagi aja La, biar sampai Jakarta gue langsung ke Bandara."


"Oke jam sembilan pagi ya, tapi nanti aku dan Rania perginya jam tujuh. Gak apa-apa kan kalau kita tinggal duluan?" Jelas Lala dengan wajah sendu.


"Santai aja La, gue gak apa-apa kok. Lu gak usah sedih gitu deh, lain kali kita masih bisa ketemu lagi."


Pagi itu kami gunakan waktu untuk saling menghibur diri. Kami sama-sama menonton drama korea untuk mencairkan suasana. Wati yang baru saja bangun terkejut melihat kami bertiga duduk di depan laptop.


"Kalian bertiga begadang ya? Katanya hari ini mau pergi tracking?" Tanya Wati seraya meregangkan otot-otot di tubuhnya.


Kami semua hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Wati. Lalu Mbak Ayu berjalan menghampiri Wati, dan berpamitan padanya. Nampak Wati sangat terkejut mendengar Mbak Ayu akan kembali ke Jakarta pagi ini juga.


"Gue mau nyari tahu kabar Om Dewa Wat."


Tepat pukul tujuh pagi, aku dan Lala sudah bersiap untuk pergi ke Curug banyu dowo. Kami berpamitan dengan semua orang, bahkan Mbok Genuk mewanti-wanti kami supaya tak berbicara dengan orang lain selama di perjalanan menuju puncak Curug itu.


"Akan ada banyak gangguan dari para penunggu yang ada disana. Mereka akan melakukan segala cara untuk menyesatkan kalian berdua. Jangan terima bantuan apapun dari orang yang menawarkan bantuan. Kecuali kalian sudah mencapai puncaknya. Kalian akan bertemu dengan seseorang yang memiliki kesaktian tinggi. Dia adalah orang kepercayaan Jin muslim yang tinggal di Curug itu. Semoga kalian berhasil mendapatkan apa yang kalian inginkan." Pungkas Mbok Genuk seraya memberikan sekantong garam padaku.


Melihat garam pemberian Mbok Genuk. Aku jadi teringat mendiang Simbah ku, ia juga pernah mengusir demit menggunakan garam yang sudah dibacakan doa.


"Ngapain lu senyum-senyum Ran? Garam itu buat masak apa disana?" Pertanyaan Mbak Ayu membuat semua orang terkekeh. Mungkin ia tak pernah melihat salah satu kesaktian garam dalam hal pergaiban. Karena itulah ia merasa aneh, kenapa Mbok Genuk memberikan ku garam.


"Ada deh Mbak. Udah ah, gue jalan dulu ya. Ntar kalau berangkat kirim pesen ke gue, kalau sempet pasti gue bales."


Aku dan Lala sudah siap di atas sepeda motor. Kami berdua melambaikan tangan perpisahan pada semua orang. Nampak wajah Mama yang paling terlihat sedih, aku tahu ia berat memberiku ijin untuk pergi. Tapi ia terpaksa membiarkan ku pergi ke Curug itu, karena aku terus memaksa. Perjalanan kami masih jauh, karena kami baru saja meninggalkan perbatasan Desa. Kali ini aku duduk di jok belakang, karena buta arah. Setelah melewati gapura besar, aku melihat penampakan perempuan berkonde yang pernah ku lihat pertama kali aku pindah ke Desa ini. Ia masih berada di tempat yang sama dengan senyum mengerikan.


"Kau lihat perempuan itu juga Ran? Dia itu yang jaga Desa ini. Awalnya aku risih setiap kali kesini dilihatin dia terus. Tapi lama-lama terbiasa juga."


"Dulu pertama kali datang ke Desa, aku takut banget La ngelihat demit berkonde itu. Habisnya dia suka iseng menampakkan wujudnya."


"Hahaha mungkin dulu pengen kenalan aja kali. Eh iya, di depan sana ada pasar tiban. Kita mampir beli bunga tujuh rupa dulu, buat kasih tanda kalau kita mau mengunjungi Curug itu. Istilahnya kita minta ijin, kulonuwun gitu loh Ran!" Pungkas Lala seraya mengendarai sepeda motor nya.


Aku jadi teringat ucapan Senopati, jika hari ini Romo nya sedang berulang tahun. Kemudian aku bertanya pada Lala, apa dia sudah siap bertemu dengan Elang. Kini Lala malah gelagapan menjawab pertanyaan ku. Ia mengalihkan pembicaraan, dan mengatakan jika sekarang sudah hampir jam sembilan.


"Pasti Mbak Ayu udah mau berangkat naik mobil travel nih." Celetuknya seraya menghentikan laju motor di tepi jalan.


"Mau ngapain La?"


"Itu hape mu bunyi, masak gak kedengeran sih!" Seru Lala dengan menggelengkan kepala.


Ku lihat panggilan video dari Mama, segera ku sentuh tombol terima. Nampak semua orang sedang menemani Mbak Ayu menunggu mobil travel datang. Aku dan Lala melambaikan tangan, dan mengucapkan salam perpisahan.


"Apa an sih kayak gak akan ketemu lagi aja. Kalian berdua hati-hati ya, tuh mobilnya udah dateng." Celetuk Mbak Ayu seraya menyunggingkan senyum.


Setelah berbincang dengan semua orang, aku mengakhiri panggilan video itu. Perjalanan kami masih lumayan jauh, belum lagi harus berjalan kaki sampai ke puncak Curug. Setelah itu Lala memacu motornya kembali. Menurutnya sebelum tengah hari kami sudah harus sampai di lokasi, supaya kami bisa memasang tenda disana.


"Seriusan kita harus nginep La? Emang gak bisa langsung pulang aja?"


"Bisa sih Ran. Emangnya kau gak capek? Kita kan harus berdoa dalam beribadah di puncak Curug itu. Kau pikir Jin muslim itu akan langsung datang setelah kita selesai beribadah? Lucu juga kau kadang-kadang!"


Benar juga kata Wati. Tujuanku datang kesana tak hanya untuk mendaki ke puncak nya saja. Tapi aku akan meminta pada Yang Maha Kuasa, supaya kekuatan ku yang hilang bisa kembali lagi. Dengan perantara dari Jin muslim itu InsyaAllah aku bisa memiliki kembali apa yang telah hilang dari diriku.