
"Apapun yang akan terjadi memang seharusnya terjadi. Takdir Allah tak akan ada yang bisa merubah. Meski kalian mengetahuinya, jika Allah sudah berkehendak yang terjadi maka terjadilah. Sekeras apapun kalian berusaha, jika sudah suratan takdir kita sebagai manusia hanya bisa berpasrah diri." Ucap Eyang buyut dengan menghembuskan nafas panjang.
"Tapi Eyang, apakah Eyang gak bisa ikut kami pulang ke Desa? Selama ini Eyang jauh dari keluarga, pasti sangat berat sendirian di alam bebas seperti ini." Aku menggenggam tangan Eyang dengan berlinang air mata.
"Sudah Nduk. Inilah yang aku cemaskan, kau akan bersedih setelah bertemu dengan ku. Takdir ku memang harus hidup di alam terbuka ini. Meski aku telah meninggalkan urusan duniawi, nyatanya aku tak bisa berpaling dari keturunan ku sendiri. Cincin merah dilema dan tasbih pemberian ku sama-sama berguna untuk mu di masa depan. Kau bisa menghadapi para pengikut sekte sesat itu. Meski nyawa mu akan terus terancam selama kau dekat dengan gadis yang memiliki ilmu Leak itu. InsyaAllah kau bisa menjadi penenang untuk nya, meski aku melarang mu dekat dengannya, kau pasti akan selalu berada di dekatnya sesuai ucapan Jarwo. Hanya kau yang bisa meredakan amarahnya. Tapi tak bisa dipungkiri juga, dia akan selalu membawa energi negatif untuk mu."
Terlihat Lala penasaran dengan penjelasan Eyang buyut, dan bertanya energi negatif seperti apa yang beliau maksud. Eyang menyunggingkan senyum seraya menjelaskan, jika aku masih saja berdekatan dengan Mbak Ayu, aku akan selalu bertemu dengan berbagai macam masalah. Entah itu kejadian buruk, kematian seseorang yang tak ku kenal, dan arwah-arwah penasaran yang akan selalu mengikuti ku. Karena aura ku semakin kuat dan bersinar terang ketika aku terus berhubungan dekat dengan Mbak Ayu. Kini Lala menatap ku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ran, aku tahu kau sudah sering berurusan dengan hal-hal gaib. Tapi diikuti oleh arwah-arwah penasaran itu gak nyaman Ran. Mereka akan terus bawa energi negatif, dan demit lainnya akan datangin kau juga! Apa kau yakin akan terus bersama Mbak Ayu?" Tanya Lala gusar.
"InsyaAllah aku sudah terbiasa La, bahkan lumayan menyenangkan dan menambah pengalaman juga kok. Itu adalah salah satu motivasi sekarang, karena aku ingin mengalahkan Tante Ajeng dan kelompok sekte nya. Bahkan aku berniat melawan si kuntilanak merah itu."
"Kau memanglah cucuku, tak salah kau memiliki bakat terpendam. Aku bangga dengan tekad dan keberanian mu Nduk. InsyaAllah Eyang akan selalu ada ketika kau benar-benar dalam masalah besar. Tapi selama kau bisa mengatasinya sendiri, Eyang hanya akan memantau dari jauh."
Setelah obrolan itu kami sama-sama melakukan shalat subuh. Aku benar-benar bisa melihat dan menyaksikan Eyang menjadi imam untuk shalat. Artinya beliau memang masih hidup, dan itu suatu keajaiban bagiku memiliki Eyang buyut seperti beliau. Karena aku baru kali ini melihat seseorang yang masih hidup dengan wajah muda, meskipun ia sudah berumur ratusan tahun. Selepas shalat subuh, Eyang ingin mengantarkan kami kembali ke Desa. Sontak saja aku sangat semangat, dan menanyakan apakah Eyang akan membawa kami naik kereta kencana seperti sosok putri yang pernah kami lihat. Nampak Eyang terkekeh geli, ia mengusap rambutku dan mengatakan, jika kami bisa kembali ke Desa lebih cepat daripada naik kereta kencana.
"Hanya dalam sekedipan mata saja, Eyang akan membawa kalian kembali ke Desa."
"Tapi Yang, motor kami bagaimana?" Tanya ku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Plaaak!
Lala menepuk pundak ku, ia berkacak pinggang dengan wajah kesal. Menurutnya, jika Eyang buyut mengatakan akan mengantarkan kami, tak hanya kami saja yang akan sampai di Desa, tapi juga motor yang kami bawa.
"Wah Eyang hebat banget ya, bisa mindahin jiwa dan raga sekaligus. Kalau dulu almarhum Mbah Karto ataupun Pak Jarwo hanya bisa memindahkan jiwa saja. Amalan apa saja yang Eyang lakukan untuk bisa melakukan hal-hal ajaib seperti itu Yang?" Tanya ku bersemangat.
Hening. Tak ada jawaban dari Eyang buyut. Beliau hanya menggeleng kepala, dan memintaku untuk tak melakukan apa yang beliau lakukan untuk bisa mendapatkan semua kesaktian yang dimilikinya. Nampak wajah Lala berubah muram, ia mengalihkan pembicaraan seakan ia tahu apa yang Eyang lakukan untuk memiliki semua ilmu yang ia punya.
"Terima kasih banyak Yang, kami mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan. InsyaAllah kami akan mengamalkan kebaikan dan kesaktian yang kami punya untuk hal-hal yang baik." Ucap Lala seraya menyeka bulir-bulir bening yang menetes dari kelopak matanya.
"Itu semua adalah pemberian dari Yang Maha Kuasa Nduk. Eyang melakukan tapa di Gunung Gede, ketika masih muda dulu. Dan semenjak saat itu, wujud Eyang tak bertambah tua ataupun menjadi lebih muda. Dan siapa yang bilang Eyang akan hidup abadi? Kau tahu kan Nduk, tak ada yang abadi di dunia ini. Suatu saat nanti Eyang juga akan menemui ajal, dan kembali ke hadapan Allah SWT. Sudahlah mari kita kembali ke Desa, sebelum mentari tiba." Ucap Eyang seraya menggandeng tanganku.
Kami semua berdiri membentuk lingkaran dengan saling bergandengan tangan. Tiba-tiba pandangan mata ku menjadi gelap, hanya udara dingin yang ku rasa. Kami menembus ruang hampa, dan melewati dimensi lain untuk bisa sampai ke Desa.
Whuuuus whuuuus.
Terpaan angin menyadarkan ku jika aku sedang melayang di atas udara. Di sekeliling kami hanya nampak putaran angin, dan kami berada di dalam gulungan angin itu. Perlahan tubuh kami turun dari udara, dan menginjakan kaki di tanah. Tak lama angin kencang itupun menghilang begitu saja.
"Kita sudah sampai Nduk. Kalian bisa kembali ke rumah sekarang juga." Ucap Eyang buyut dengan senyum teduhnya.
Aku melihat ke sekeliling, nampaknya kami berada di tengah kebun. Dan motor yang kami kendarai sudah ada disana. Tiba-tiba kami mendengar suara langkah kaki, dan terdengar suara yang tak asing di telinga ku.
"Assalamualaikum Ki Ageng Gede!" Ucapnya.
Aku dan Lala tercengang melihat Pak Jarwo sudah ada di kebun itu. Entah darimana ia tahu kalau kami akan kembali dengan cara seperti ini.
"Waalaikumsalam Nak! Terima kasih sudah menjaga dan membimbing cucu ku. Mulai sekarang ia sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Kau hanya perlu mengawasinya saja, karena aku tak bisa selalu mengawasinya sepanjang waktu. Kau tahu banyak hal yang harus ku jaga selama aku masih ada di dunia ini."
"InsyaAllah Ki, saya akan menjaga amanah dari Ki Ageng." Ucap Pak Jarwo seraya menganggukkan kepala.
Tak lama setelah itu Eyang buyut berpamitan pada kami semua. Entah kenapa aku jadi sedih harus berpisah kembali dengan beliau. Aku mengecup punggung tangan nya, dan meminta beliau untuk menjaga dirinya. Eyang memintaku untuk tak mengatakan pertemuan kami, karena itu hanya akan merusak tatanan yang sudah ada.
"Kau boleh bercerita jika mereka yang menanyakan apa saja yang kau temui di Curug Banyu Dowo. Tapi jika mereka tak bertanya sebisa mungkin tak perlu kau ceritakan pertemuan ini Nduk. Apa kau mengerti penjelasan Eyang?"
"InsyaAllah Yang, tapi Rania gak mungkin bohong ke Mama Papa, apalagi kalau mereka bertanya. Jadi sesuai dengan permintaan Eyang, Rania hanya akan bicara ketika mereka bertanya saja.
Hal yang sama juga harus dilakukan Lala, karena Pak Jarwo juga tak akan mungkin mengatakan apa-apa mengenai sosok Eyang buyut ku. Karena bagi semua orang, Eyang buyut telah lama menghilang dan tak diketahui keberadaan nya. Meskipun mendiang Simbah Parti mengetahui jika Eyang buyut masih ada dan hidup di suatu tempat. Tapi beliau juga tak pernah menceritakan apapun mengenai jati diri Eyang buyut. Jadi pemahaman ku, misteri mengenai Eyang buyut harus tetap terpendam selama tak ada seseorang yang menanyakan nya.