Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 117 PEMBALASAN.


Setelah istirahat selama beberapa jam, aku bangun dan melihat keluar kamar. Heni dan Leni sedang menjemur pakaian di depan. Sementara Mbak Ayu duduk di teras kamarnya, dan fokus pada layar laptop nya.


"Udah enakan belum badannya? Kalau masih gak enak, gak usah ketemu Pak Darman dulu lah Ran." Kata Mbak Ayu melihatku dari atas ke bawah.


"Gue udah enakan kok Mbak. Emang gue cuma kurang tidur aja sih. Ntar aja ya perginya, habis shalat magrib. Bentar lagi udah mau magrib juga soalnya."


Tak lama Leni mendatangi kami, ia berpamitan untuk tinggal di rumah Tante nya. Jadi besok adalah hari terakhir nya tinggal disini.


"Loh Heni juga pindah?" Tanya Mbak Ayu mengaitkan kedua alis matanya.


"Gak kok Mbak, Leni aja yang pindah. Gue masih tetep disini, soalnya gak ada keluarga yang bisa ditumpangi hehehe."


"Syukurlah. Jadi tempat ini masih ada yang nempatin selain gue sama Rania. Tapi sering-sering main kesini ya Len, biar Heni gak kesepian kalau kita gak ada."


Obrolan terus berlanjut, sampai suara adzan magrib terdengar. Kami mengakhiri obrolan, lalu masuk ke kamar masing-masing. Aku bergegas mandi dan shalat, tak lupa memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa. Tasbih yang ada di genggaman tanganku selalu terasa bergetar, ketika aku menggunakan nya untuk ibadah. Seakan ada energi lain yang masuk ke dalamnya. Aku jadi teringat nasehat orang bersorban putih itu. Mungkin lain kali, aku akan mampir ke Masjid itu lagi. Tak lama Mbak Ayu datang ke kamar, dan mengajakku ke depan. Karena ia sudah memesan taksi online.


"Loh lu tahu darimana Mbak, alamat Pak Darman?"


"Siapa bilang kita mau ke rumah Pak Darman? Temenin gue ke rumah murid gue dulu, dia lagi sakit. Udah hampir satu minggu gak berangkat sekolah. Kita jenguk dia dulu, baru ntar ke tempat Pak Darman. Oke?"


Aku setuju saja dengan rencana Mbak Ayu, kami pergi ke sebuah perumahan yang masih baru. Hanya beberapa blok rumah saja yang sudah terisi. Sisanya masih kosong, karena tak ada penerangan sama sekali. Bahkan di beberapa sudut, masih dilakukan pembangunan. Dan hanya terlihat hamparan tanah kosong saja.


"Gue baru kali ini lihat perumahan sepi kayak gini!" Seru Mbak Ayu memandang ke jendela luar.


Tiba-tiba Driver taksi online itu menjelaskan, jika perumahan ini masih baru. Karena sebelumnya pernah terjadi sengketa tanah. Dan pembangunan sempat dihentikan selama beberapa tahun. Dan baru setahun ini mulai dilanjutkan pembangunan nya.


"Kalau beberapa blok yang udah di tempati itu, memang sudah jadi sebelum ada kasus sengketa tanah. Tapi denger-denger perumahan ini tuh angker Mbak." Ucap Driver itu seraya mengusap belakang tengkuknya.


"Bapak tahu darimana emangnya?" Tanyaku penasaran.


"Kok Bapak bisa tahu banyak gitu darimana?" Sahut Mbak Ayu dengan wajah serius.


"Adik ipar saya bekerja disini juga Mbak, tapi udah mau keluar. Karena takut banyak kejadian aneh disini. Meski gak ada korban jiwa, tapi ada aja kejadian janggal pas lagi kerja."


Belum selesai rasa penasaran ku, taksi online itu berhenti tepat di depan rumah bercat biru muda. Setelah membayar ongkosnya, kami bergegas turun dan menekan bel di depan pintu rumah. Seorang perempuan paruh baya mengenakan daster batik berwarna coklat membukakan pintu. Ia mempersilahkan kami masuk ke dalam.


"Perkenalkan saya Ayu, guru Vita di sekolah. Sudah hampir satu minggu Vita ijin gak masuk sekolah, makanya saya berniat menjenguknya. Maaf kalau saya datangnya malam, soalnya banyak urusan yang harus diselesaikan dulu." Ucap Mbak Ayu dengan menyunggingkan senyum ramah.


Perempuan paruh baya itu adalah Ibu nya Vita. Ia mengatakan, jika anak perempuan nya itu tak dapat bangun dari tidur. Ia hanya memejamkan matanya dan terbaring di atas ranjang. Ia sudah membawa Vita ke Dokter, tapi menurut Dokter, anaknya hanya kelelahan saja. Dan tak ada gejala-gejala penyakit berat, Dokter menyarankan supaya Vita istirahat lebih lama, tapi ia sendiri curiga dengan sikap anaknya.


"Setiap harinya, Vita tak pernah berbicara apa-apa. Ia berbaring dengan melipat tangannya di atas perut. Kalau saya dan papa nya bantu Vita bangun dari tempat tidur. Ia seperti kesulitan untuk duduk. Seakan tubuhnya kaku. Saya jadi hawatir dan gak tahu harus bagaimana!"


"Hmm. Apa saya bisa melihat Vita sebentar Bu?" Pinta Mbak Ayu.


Karena aku merasa tak memiliki kepentingan, ku putuskan untuk menunggu di ruang tamu saja. Sejak kedatangan ku di rumah ini, aku merasakan energi lain di dalamnya. Tapi jika ku perhatikan dengan seksama, tak ada tanda-tanda kehadiran makhluk tak kasat mata disana. Lantas darimana aura negatif ini datang ya, batinku penuh tanya.


Tak lama Mbak Ayu datang bersama Ibu pemilik rumah. Nampak raut wajah Mbak Ayu berbeda dari sebelumnya. Tapi ia tak mengatakan apa-apa padaku.


"Saya pamit pulang dulu aja Bu, masih ada urusan lain. Besok saya akan datang kesini lagi, soalnya taksi online nya udah mau datang. Tolong kabari saya, kalau ada apa-apa sama Vita ya Bu." Ucap Mbak Ayu seraya menjabat tangan si Ibu.


Aku pun ikut berpamitan dan segera keluar, dan berjalan masuk ke dalam mobil. Terlihat raut wajah tegang Mbak Ayu, ia hanya diam dengan menggenggam tangan nya erat.


"Ada apa sih Mbak? Apa lu lihat yang aneh-aneh di dalam rumahnya? Soalnya gue ngerasa ada yang lain di rumah itu. Tapi gue gak bisa melihat apa-apa, kalau di luar rumah sih banyak yang seliweran. Coba lu ceritain ke gue, apa yang sebenarnya terjadi sama Vita?"


"Hmm. Gak ada apa-apa kok, udah lu fokus aja sama urusan Pak Darman. Selesaikan kasusnya, dan jangan bantu siapapun dulu. Lu harus banyak istirahat, supaya stamina lu terjaga!" Ucap Mbak Ayu dengan memalingkan wajahnya.


Kenapa aku merasa, jika Mbak Ayu menyembunyikan sesuatu dariku. Ia berkata supaya tak membantu siapapun dulu. Jangan-jangan memang ada yang terjadi dengan Vita. Makanya Mbak Ayu tak mau menceritakan padaku, karena ia tak ingin aku terlibat lagi dengan masalah yang akan membuatku semakin lelah. Meskipun begitu, aku tak dapat berpangku tangan begitu saja, aku harus membujuk Mbak Ayu supaya jujur padaku. Pokoknya setelah menyelesaikan masalah Pak Darman dengan kedua makhluk astral itu, aku akan meminta Mbak Ayu bercerita yang sejujurnya mengenai anak murid di sekolah nya.