Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 118 MENYERAH.


Kami tiba di kontrakan kecil milik Pak Darman. Disana ada adik iparnya, ia sedang menemani Pak Darman. Yang sudah mulai membaik, ia sudah tak berteriak-teriak seperti sebelumnya. Aku duduk tepat di hadapannya, nampak Pak Darman lebih banyak diam dengan tatapan kosong.


"Mbak, saya mau keluar sebentar cari rokok. Saya tinggal dulu ya." Ucap lelaki itu seraya berjalan keluar.


Akhirnya, aku dapat berbicara tanpa basa-basi setelah adik ipar Pak Darman pergi meninggalkan rumah ini.


"Pak, sebenarnya apa yang Pak Darman lakukan bersama para penganut ilmu hitam itu?" Tanyaku mengaitkan kedua alis mata.


Hening. Tak ada jawaban dari Pak Darman. Mbak Ayu kembali meyakinkan nya untuk berkata jujur, supaya kami dapat membantunya. Kini Pak Darman tertunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Saya pikir dengan membangkitkan arwah Narti, ia akan tenang setelah membalaskan dendamnya. Rupanya saya salah besar, Narti justru menjadi budak para penganut ilmu hitam itu. Bahkan demi menyelamatkan hidup saya, Narti harus bisa mengalahkan Endang. Supaya Endang bisa dijadikan peliharaan para kelompok itu. Lebih baik saya tiada, daripada Narti terus terjebak dengan ritual itu. Saya sadar, kalau saya salah. Tapi semua sudah terlambat, tak ada yang bisa saya lakukan." Ucap Pak Darman dengan suara bergetar.


"InsyaAllah saya akan membantu, mungkin kita bisa mengantar jiwa Bu Narti ke alamnya. Meski ia tak dapat pergi ke alam keabadian, setidaknya ia tak terjebak dengan manusia-manusia berhati setan itu!"


Akhirnya, Pak Darman buka suara. Ia menjelaskan, jika satu-satunya cara untuk membebaskan jiwa Bu Narti adalah dengan mengakhiri perjanjian nya dengan kelompok itu. Dan mereka hanya akan berkumpul setiap malam bulan purnama, dan malam ini adalah waktu yang tepat. Karena bulan tepat memancarkan sinarnya.


"Tinggalkan saya bersama, kelompok itu. Kalian harus pergi ke makam Narti, dan kembalikan kafan beserta tanah kuburan ini." Jelas Pak Darman seraya menyerahkan bungkusan plastik berwarna hitam.


Aku dan Mbak Ayu bersama-sama membuka bungkusan itu, nampak sesobek kain kafan lusuh berserta tanah merah di dalamnya.


"Maksudnya, kami harus menggali kuburan itu Pak? Yang bener aja dong Pak, mana kami bisa melakukan nya!" Seru Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang.


"Tidak perlu sampai menggali lubang kuburan, kalian hanya perlu memasukannya kembali ke dalam kuburan Narti. Yang penting, semuanya sudah kembali ke tempat asalnya. Itu sebagai simbol, jika saya telah melepaskan jiwa Narti dari perjanjian dengan sekte sesat itu. Selebihnya, biar menjadi urusan saya. Yang terpenting jiwa Narti bisa beristirahat dengan tenang. Sementara Endang, hanya bisa berkeliaran di dua alam saja. Tolong bantu saya untuk terakhir kalinya, setelah ini baik Narti ataupun Endang tak akan mengacau lagi." Ucap Pak Darman seraya menyatukan kedua tangannya.


Aku jadi sungkan melihat orang yang lebih tua memohon seperti itu padaku. Akhirnya, aku pun setuju untuk membantunya. Saat itu juga, Pak Darman memutuskan pergi ke gedung terbengkalai yang tadi siang ku dtaangi. Sedangkan aku bersama Mbak Ayu, pergi ke area pemakaman umum yang tak jauh dari kontrakan Pak Darman. Kami pergi kesana, dengan meminjam motor milik adik ipar Pak Darman. Sesampainya di area pemakaman itu, kami memarkir motor agak tersembunyi dari jalan utama. Hawatir kalau ada penjaga makam, yang mengira kami akan berbuat yang tidak-tidak disana.


"Dih kita kayak mau maling kain kafan aja ya Ran!" Kata Mbak Ayu berjalan mengendap dengan mengangkat kaki nya pelan-pelan.


Aku menyalakan senter yang ada di ponsel. Ku soroti jalanan setapak yang ada di depan kami. Nampak berbagai makhluk tak kasat mata berterbangan tak tentu arah. Mereka saling menembus satu sama lain, membuatku terbelalak melihat pemandangan itu. Kami mencari blok bunga kenanga, karena disanalah makam Bu Narti berada. Sesosok hantu lelaki berpenampilan acak-acakan melesat menembus tubuhku. Kemudia ia berbalik arah memandang ku dengan serius. Karena aku risih di pandang nya seperti itu, akhirnya aku membentak demit itu. Dan membuatnya melompat agak tinggi. Dasar demit kemayu, dibentak gitu aja kaget. Pasti dia pikir, aku tak bisa melihatnya. Dasar demit kurang kerjaan. Ia kembali mengikuti ku, mungkin karena penasaran.


"Daripada kau mengikuti ki gitu, tunjukan padaku. Dimana makam Sundel bolong yang ada disini?"


"Jadi kau bisa melihatku?"


"Udah deh, gak usah banyak tanya. Kasih tahu dimana kuburannya, kalau gak gue kurung lu dalam botol!" Sahut Mbak Ayu mengejutkan demit lelaki kemayu itu.


Mbak Ayu menyikut lenganku, ia berbisik padaku. Jika demit itu mirip tokoh kartun yang ada di televisi.


"Tahu Bang Saleh gak, yang di upin ipin itu loh?"


Aku menahan tawa, mendengar ucapan Mbak Ayu. Ternyata di usianya yang cukup matang, ia masih suka melihat kartun anak-anak. Meskipun terkadang, aku juga melihatnya.


"Udah ah Mbak, jangan out of the topics! Kita akan kelamaan, kalau baca nisan satu persatu. Ada baiknya kita tanya ke demit ini. Karena hanya dia satu-satunya yang welcome dengan kedatangan kita!"


Mbak Ayu, memaksa demit itu untuk menunjukan makam sundel bolong yang tinggal di blok kenanga. Beruntung nya demit itu mau memberitahu kami, tapi ada syarat yang ia minta.


"Aku akan memberitahu kalian dimana letaknya, tapi beri aku bandana yang kau kenakan itu!" Ucapnya menunjuk ke bandana coklat yang berada di atas kepala ku.


Seketika Mbak Ayu tertawa terbahak-bahak. Ia geli melihat tingkah demit kemayu itu.


"Udah Ran, kasih aja. Biar cepet kelar tugas kita."


Aku mengerucutkan bibir karena kesal dengan tingkah demit itu. Padahal ini adalah bandana pemberian Mas Adit. Terpaksa ku serahkan padanya, dan demit itu nampak sumringah.


"Letakan di atas makam ku, tuh ada di sebalahmu persis. Cepat, setelah ini akan ku antarkan kau ke makam Tante Sun!" Ucapnya seraya melesat ke samping papan nisan nya.


Tertulis nama Solehamid di papan nisan itu. Ternyata benar kata Mbak Ayu, tak hanya kelakuan nya saja yang mirip Bang Saleh. Tapi namanya juga hampir sama, membuatku geli menahan tawa.


"Namanya Solehamid tapi kelakuannya kayak Solehatun!" Seru Mbak Ayu membuatku benar-benar tertawa kali ini.


"Eh, kalau mau meledek ku. Gak akan kasih tahu nih!"


Cih. Dasar demit baper, gitu aja ngambek. Ku letakan bandana itu tepat di dekat papan nisan. Dan demit kemayu itu langsung kegirangan, mendapat apa yang ia inginkan.


"Udah kan, yuk cepetan antar kami ke makam Tante Sun mu itu!" Pungkas ku seraya menghembuskan nafas panjang.


Solehamid langsung melesat ke ujung blok kenanga. Dan kami masih tertinggal di belakangnya. Tak lama ia berhenti tepat di depan papan nisan yang nampak tak terurus. Banyak tanamam liar di sekitar pemakaman nya. Tulisan di papan itu tertutup debu tebal, sehingga kami tak bisa membacanya. Kami berniat membersihkan papan nisan itu, dan mencabuti tanaman liar yang menutupi gundukan tanahnya. Tiba-tiba terdengar suara daun bergesakan, ada suara langkah kaki yang tak terlihat darimana asalnya. Aku dan Mbak Ayu sedikit panik, kami bangkit berdiri dan bersembunyi di balik pohon besar.