Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 237 PERTEMPURAN DI ALAM LAIN.


Ku tatap sosok Endang dengan serius, ia justru melotot padaku. Sepertinya ia agak kesal karena aku tak bisa membantunya kembali ke alam keabadian. Tapi setidaknya kisah masa lalunya sudah terkuak, dan bisa sedikit membuat jiwanya tenang. Nyatanya setelah semua kisahnya terungkap, ia sudah tak pernah mendatangi ku lagi. Dan ini adalah pertemuan pertama kami setelah sekian lama tak bertemu. Ku harap Endang mengatakan yang sebenarnya, jika ia melihat Petter di gedung sebelah. Aku langsung melesat menembus tembok demi tembok, untuk sampai di gedung yang ditunjukkan Endang. Disana terdapat energi yang sangat besar, dan panas sekali. Nampak pantulan-pantulan cahaya berpendar di atap bangunan. Ku ikuti pantulan cahaya itu sampai ke lantai paling atas. Dan aku sangat terkejut begitu melihat Mbak Ayu sedang melawan dua sosok tinggi besar, yang terus menyerangnya tanpa jeda.


"Ran... Bantu gue!" Seru Mbak Ayu yang masih terus berusaha melawan kedua sosok menyeramkan itu.


Aku segera melesat mengeluarkan kekuatan yang ada di dalam diriku. Ku tengadahkan tangan ke atas seraya berdoa memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa, supaya aku dapat mengalahkan makhluk yang masih berusaha mencelakai Mbak Ayu. Dan dari dalam telapak tangan ku muncul cahaya berwarna putih terang, ku hempaskan cahaya itu sampai menembus tubuh hampa salah satu makhluk menyeramkan itu. Tak lama setelah itu, tubuhnya terhempas sampai membentur tembok. Makhluk itu memuntahkan seteguk darah berwarna hitam dari mulutnya. Tapi ia masih berusaha bangkit dan membalas apa yang ku lakukan padanya.


"Ran hati-hati, dia bisa membelah diri jadi banyak. Fokus Ran!" Jerit Mbak Ayu seraya melawan satu makhluk yang terus menghujani nya dengan bola-bola api. Dan terpaksa Mbak Ayu menghindari nya, karena jika jiwa nya sampai terluka di alam lain. Maka raganya yang ada di alam manusia juga akan mengalami hal yang sama.


Aku hanya menganggukkan kepala menanggapi peringatan itu. Dan benar saja, makhluk yang ku lawan tadi mulai menunjukkan perlawanannya. Ia membuat dirinya menjadi lima bagian, dengan wujud yang serupa. Perlahan ia melesat mendekat, raut wajahnya yang menyeramkan menyeringai penuh kemenangan. Ia melemparkan panah-panah dengan api berkorbar di ujung-ujungnya. Astaga, apa yang harus ku lakukan. Menghindari panah api sebanyak ini, apa aku mampu menghadapinya. Apalagi ini pertama kalinya aku melawab sosok makhluk sepertinya. Tiba-tiba aku mendengar bisikan halus di telinga, jika aku harus fokus pada salah satu makhluk saja yang ada tepat di sisi paling kiri. Karena makhluk jahat sepertinya, cenderung melakukan segalanya dari hal yang tak baik. Misalnya sisi sebelah kiri, yang di anggap penuh dengan energi negatif.


"Kau hanya perlu menghindari panas yang dilemparkan dari makhluk yang ada di sisi paling kiri mu saja Nduk. Fokuslah dan kau akan melihat kebenaran itu." Pungkas suara yang tak ku tau berasal darimana.


Aku mendengarkan saran dari suara tersebut, dan menghadap ke sisi paling kiri. Ku tatap makhluk itu dengan serius, karena begitu ia melemparkan panah-panah berapi itu. Aku langsung melesat meliuk-liuk mengindari panah yang di arahkan kepada ku. Sementara panah-panah yang di arahkan dari belakang hanya menembus tubuh hampa ku. Aku tersenyum penuh kemenangan, lalu mengambil tasbih yang secara ajaib ada di saku celana ku. Ku bacakan ayat-ayat suci dengan menggenggam tasbih di tangan, setelah itu ku lemparkan tasbih itu ke arah makhluk menyeramkan itu. Tasbih tersebut mengeluarkan api keemasan yang langsung membakar tubuh hampa sosoknya, tak lama kemudian sosok itu hangus menjadi butiran debu dan mengeluarkan aroma gosong.


"Alhamdulillah satu makhluk sudah tewas." Gumam ku pada diri sendiri seraya menghembuskan nafas lega.


Terlihat Mbak Ayu masih terus berusaha melawan sosok yang ada di depannya. Aku melesat ke arahnya untuk membantu. Tapi ia melarang ku menolongnya, karena Mbak Ayu berteriak meminta ku untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Selamatkan dia Raniaaaa!"


Entah dia siapa, yang Mbak Ayu maksud. Karena yang ada di pikiran ku hanyalah Petter. Seketika aku melesat dengan cepat menembus tembok yang pintunya berteralis besi itu. Nampak sesosok hantu perempuan tengah tergeletak tak sadarkan diri. Dari penampilan nya aku merasa familiar, dan begitu aku melesat mendekat. Ku lihat wajah Aunty Ivanna yang sedang tak sadarkan diri.


"Aunty... Bangunlah! Ini Rania..." Kataku dengan menggoncangkan tubuh hampa nya.


Perlahan ia membuka kedua matanya, ia menatapku dengan berlinang air mata. Dengan lemah ia menjelaskan jika melihat Petter di tawan oleh kedua makhluk tinggi besar. Lantas aku bertanya lagi, dimana keberadaan Petter saat ini. Tapi Aunty Ivanna hanya menggelengkan kepala.


Mbak Ayu melesat mendatangi kami, nampaknya ia baru saja mengalahkan satu makhluk yang dilawan nya tadi.


"Petter mana Mbak?"


"Gue gak tau Ran. Justru gue datang kesini, karena melihat hantu perempuan ini di keroyok dua makhluk sialan tadi! Kasihan dia sampai lemah begini."


"Dia ini Mamanya Petter Mbak. Kayaknya dia datang kesini karena melihat Petter ditawan dua makhluk tadi. Harusnya Petter masih ada di bangunan ini, ayo kita berpencar mencarinya."


Ku minta Aunty Ivanna untuk kembali ke kost an ku saja. Karena kondisinya tak memungkinkan untuk melanjutkan pencarian. Tapi ia bersikeras ingin ikut mencari anaknya, dan aku tak bisa melarangnya. Mbak Ayu pergi sendirian, sementara aku melakukan pencarian bersama Aunty Ivanna. Kami masuk ke satu persatu ruangan, sampai akhirnya ekor mata ku menangkap bayangan manusia di dalam gedung tua ini. Sontak saja aku mencari keberadaan manusia itu, tapi ia tak dapat ku temukan dimanapun. Padahal aku tak salah mengenali energi dari manusia, apalagi bayangannya yang menginjak tanah. Tak ku hiraukan lagi masalah itu dan terus mencari ke salah satu gudang bawah tanah. Terdengar jeritan tangis Aunty Ivanna, membuatku tergesa-gesa melesat ke lantai paling bawah. Ku lihat ia sedang menangis tersedu-sedu, dan berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu tubuh hampa Petter.


"Ada apa Ran?" Tanya Mbak Ayu yang baru saja melesat menembus tembok.


"Itu Petter Mbak! Tapi ada sesuatu yang mengikat tubuh hampanya. Dan ketika Aunty Ivanna ingin melepaskan ikatan itu, tubuh nya selalu terpental. Sebenarnya ikatan apa itu Mbak, gue mau sentuh jadi agak ragu. Entah siapa yang melakukan semua ini pada Petter, aku bersumpah akan membalasnya." Kataku dengan mengepalkan tangan.


Entah kenapa muncul raut wajah Wening ketika aku dalam kondisi marah. Ataukah memang dia yang melakukan semua ini. Tapi aku tak memiliki bukti apapun untuk menuduhnya. Tunggu saja sampai aku dapat melepaskan Petter, dan ia sadar lalu mengatakan segalanya. Pasti semuanya akan segera terungkap. Tiba-tiba Mbak Ayu memutuskan untuk melepaskan ikatan yang melilit tubuh hampa Petter, sampai telapak tangannya melepuh hingga mengeluarkan asap.


"Aawwww!" Teriak Mbak Ayu seraya melepaskan ikatan yang melilit tubuh hampa Petter.


Nampak Petter masih tak sadarkan diri, entah apa yang terjadi padanya. Karena ini pertama kalinya buatku melihat sahabat tak kasat mataku tak berdaya. Padahal biasanya ia selalu berhasil melarikan diri, ketika ada makhluk lain yang berusaha mencelakai nya. Tapi kenapa sekarang ia bisa tertangkap begini ya, batin ku bertanya-tanya.


"Ran itu bukan sembarang ikatan deh. Kayaknya itu berasal dari alam gaib, mungkin aja dua makhluk tadi pemiliknya. Jadi hanya mereka yang bisa melepaskan nya. Bagaimana kalau kita satukan kekuatan aja, siapa tau kita bisa melepas ikatan gaib yang melilit tubuh hampa Petter." Pungkas Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata.


Aku menganggukkan kepala, setuju dengan ide Mbak Ayu. Tapi Aunty Ivanna melesat dengan sisa tenaganya menghampiri kami. Ia mengatakan ingin memberikan sisa energinya, untuk membantu melepaskan ikatan yang melilit tubuh hampa anaknya. Meski sebenarnya aku tak yakin jika ia mampu melakukan nya. Melihat sisa kekuatannya yang sudah menipis karena perlawanannya dengan kedua makhluk tadi. Aku harap setelah usaha kami bersama, Petter dapat terlepas dari ikatan yang membelenggu nya. Dan setelah ia sadar, ia pasti bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.