
Kami masuk ke dalam kedai kopi, lalu berpencar mencari keberadaan Heni. Baru saja aku akan membalikkan tubuhku, seseorang dari belakang menarik lengan ku.
"Loh Mbak Rania balik kesini lagi?"
"Heni? Lu darimana aja sih, gue cari di depan lu gak ada!"
"Iya Mbak, gue pindah ke dalam ruangan. Gue mau ngechas laptop sekalian, soalnya diluar dingin banget tauk!"
Dari samping ku, Mbak Ayu datang bersama seorang perempuan dengan penampilan tomboy. Sepertinya dia adalah teman yang Mbak Ayu maksud tadi.
"Kenalin Ran, dia temen gue Agus!" Cetus Mbak Ayu dengan menahan tawa.
"Kampret lu Yu, nama gue Gusfiana! Enak aja main ganti jadi Agus! Eh btw lu bisa panggil gue Fina aja." Ucapnya seraya menjabat tangan ku.
"Nah lu penampilan nya kayak lakik banget sih Gus. Makanya anak-anak yang lain lebih suka manggil lu Agus."
"Masih mending lu panggil gue Gus doang, daripada Agus co*k!"
Kami kembali ke meja, dan sedikit bergurau menanggapi perdebatan Mbak Ayu dengan Fina. Bahkan Heni ikut melemparkan candaan pada Fina, kalau beberapa kali mereka dikira sepasang kekasih. Karena ada beberapa pengamen yang menyanyikan lagu romantis di samping meja mereka.
"Gue kan risih Mbak. Ntar dikira gue lesbong lagi gara-gara duduk berdua sama Mbak Fina!" Celetuk Heni seraya mengeruput kopi nya.
"Kampret lu pada. Gue disini malah jadi bahan bullying! Dah nih gue udah temenin si dedek gemes Heni, sampai dinyanyikan lagu romantis juga. Meski gue tomboy, gue masih normal anj*ir!" Protes Fina dengan menghembuskan nafas panjang.
"Udah Mbak Fin, gak usah di ambil hati candaan Mbak Ayu sama Heni. Btw dari tadi kalian di dalam sini gak ngapa-ngapain kah?" Tanya ku penasaran.
"Iya gak ngapa-ngapain Ran, si Heni sibuk webinar aja. Pas udah selesai baru pindah ke dalam sini. Btw tadi lu juga disini ya?" Jawab Mbak Fina dengan menaikan dagunya.
Mbak Ayu menjelaskan jika kami bertiga memang nongkrong disini. Tapi ada sedikit urusan, dan Mbak Ayu pun menyusul ku.
"Mbak pulang yuk, besok gue harus ngampus nih." Kata Heni seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Iya nih Mbak, kedainya udah mau tutup juga tuh." Sahut ku melihat beberapa pelayanan mulai membersihkan area kedai.
"Bentar ya gue ke depan sama Fina dulu!" Jelas Mbak Ayu seraya menarik tangan Mbak Fina.
Mbak Ayu dan Mbak Fina pun berbicara empat mata, sepertinya Mbak Ayu ingin menanyakan mengenai Heni. Aku pun mengalihkan pembicaraan, supaya Heni tak mencurigai Mbak Ayu.
"Heni, lu udah lama kenal sama Mbak Fina?"
"Jadi Mbak Fina kenal juga sama orang tua lu dong?"
"Ya kenal lah Mbak, emangnya kenapa Mbak Rania nanyain Mbak Fina terus? Jangan-jangan..."
"Hussd. Ngawur lu Hen! Gue cuma kepo aja kok. Ya udah yuk ke depan, bentar lagi taksi online nya datang nih. Gue udah pesen dari tadi, susah banget nyantol nya. Jangan sampai Driver nya kelamaan nunggu, ntar orderan kita di cancel lagi." Sahutku seraya bangkit berdiri lalu berjalan keluar kedai.
Padahal aku bertanya-tanya mengenai Mbak Fina karena ingin mendapatkan informasi mengenai Heni. Semoga saja Heni gak mengetahui maksud ku, karena jika Mbak Fina mengenal dekat keluarga Heni. Aku dapat mendapatkan informasi mengenai jati dirinya yang sebenarnya. Aku sampai di depan kedai, Mbak Ayu membisikkan sesuatu mengenai penjelasan Mbak Fina.
"Ya udah Fin, lu jalan aja duluan. Besok gue kontak lu lagi, biar kita bisa nongkrong bareng." Ucap Mbak Ayu seraya merangkul Mbak Fina.
Aku dan Heni juga berjabat tangan dengan Mbak Fina, setelah itu dia pergi mengendarai sepeda motor trail. Ternyata tak hanya penampilan nya saja yang seperti lelaki. Bahkan gayanya mengendarai motor juga lakik banget.
"Tuh kan kayak lakik Mbak. Jangan kaget ya, Mbak Fina masih doyan cowok ganteng kok!" Celetuk Heni menahan senyum.
"Wah kalian lumayan deket juga ya Hen, lain kali kita nongkrong bareng lagi sama si Agus. Btw itu taksi online kita bukan sih?" Mbak Ayu menunjuk ke sebuah mobil warna merah yang berhenti di depan kedai.
Aku langsung mencocokkan plat mobilnya, dan mengajak keduanya untuk masuk ke dalam mobil. Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 2 malam, dan kami masih ada diluar rumah. Tak jauh dari kedai kopi tadi, aku melihat sesosok hantu lelaki yang ku lihat di kedai tadi. Hantu dengan kepala yang setengah berlubang. Ia sedang duduk di tepi jalan dengan menundukkan kepalanya. Nampak garis putih membentuk gambar tubuh seseorang yang tergeletak di aspal jalan nya. Karena kebetulan traffic light berwarna merah, mobil yang kami tumpangi berhenti di dekat sana. Pak Driver pun melihat ke arah yang sama denganku. Lalu ia mengatakan, jika beberapa hari lalu terhadi kecelakaan lalu lintas disana. Dan ada seorang korban yang meninggal dunia.
"Kasihan sih Mbak, korbannya masih muda. Tapi katanya yang nabrak melarikan diri, dan belum tertangkap." Kata Pak Driver kembali mengemudikan mobilnya.
"Ih si Bapak malam-malam begini malah bahas yang begituan. Kalau arwah nya ada di dekat sini gimana, kan serem tauk!" Protes Heni seraya mengusap belakang tengkuknya.
Aku melihat raut wajah demit itu tak memiliki dendam sama sekali. Hanya raut wajah kesedihan yang terpancar darinya. Ia hanya gentayangan tanpa memiliki tujuan. Entah apa yang sebenarnya membuatnya tinggal di alam fana ini, setelah urusannya di dunia selesai.
"Udah gak usah ngebatin, ntar demit itu datengin lu malah repot loh!" Celetuk Mbak Ayu menepuk pundakku.
Aku hanya menyunggingkan senyum, dan berusaha mengacuhkan demit itu. Dan karena perjalanan di tengah malam cenderung sepi. Akhirnya kami sampai di kost lebih cepat.
"Mbak gue boleh tidur sama lu gak?" Tanya Heni menatapku dengan melas.
"Lah gue tidurnya bareng Mbak Ayu Hen! Emangnya kenapa lu tumben mau tidur bareng?" Jawabku dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Gue takut Mbak. Gara-gara lihat gambar korban kecelakaan tadi!" Jelasnya seraya bergidik.
Aku dan Mbak Ayu saling menatap. Bagaimana kami akan membahas mengenai Heni, jika dia ingin tidur bersama ku. Tapi aku juga tak dapat menolaknya, akhirnya aku terpaksa memintanya tidur bersamaku dan Mbak Ayu. Malam ini kami memutuskan untuk tidur di kamar Mbak Ayu, karena hanya kamarnya saja yang paling besar di antara kami bertiga. Sepertinya kami harus menunda pembicaraan mengenai penggrebekan sekse sesat malam tadi. Takutnya Heni sengaja tidur bersama kami, hanya untuk mendapatkan informasi mengenai penggrebekan yang kami lakukan malam ini.