Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 292 LELAH JIWA DAN RAGA.


Setelah menjelaskan segalanya pada Pak bos, ia pun meminta ku untuk menyelesaikan masalah yang terjadi disana. Supaya tak ada gangguan sekecil apapun di tempat usaha barunya itu. Mungkin untuk langkah awal, aku harus memberitahu salah satu anak si Nenek, jika saat ini Ibunya sudah meninggal. Dan lebih penelusuran mereka dimulai dari Panti jompo tempat mereka menitipkan sang ibu, karena disana pasti ada CCTV yang akan menunjukkan kemana perginya sang ibu. Dan dari sanalah mereka akan tau jika ibunya masuk ke dalam mobil box yang mengantarkan kebutuhan di Panti, hanya ada satu saksi yaitu si supir mobil box itu sendiri. Meski ia tak membunuh si Nenek, tapi ia dengan sadar dan sengaja membuang jasad perempuan tua itu. Dan ia harus menanggung konsekuensinya, yang akan berdampak dengan kehidupannya sendiri. Begitu aku menjelaskan pada perempuan pemilik butik, ia nampak terkejut dan sempat tak percaya dengan penjelasan ku. Karena memang ia tak mengenalku, dan secara tiba-tiba aku memberitahu kabar yang agak mengguncang batinnya.


"Sebenarnya kau ini siapa? Darimana kau tau mengenai ibu ku?" Tanya si pemilik butik itu mengaitkan kedua alis mata.


"Saya salah satu pegawai pemilik Mall ini Bu kebetulan saya memang memiliki kemampuan untuk melihat mereka yang tak kasat mata. Ada keanehan di Mall ini yang membuat Bos saya merasa rugi, beliau memerintahkan saya mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Dan ketika saya menelusuri beberapa tempat di Mall ini, saya justru melihat sesosok Nenek tua yang sering berdiri mengambang di depan pintu masuk. Sosok itu memberikan penglihatan pada saya, dari awal kedatangannya di Mall ini bersama ke empat anak perempuannya. Yang mengharuskannya tinggal di Panti jompo yang tak pernah ia mau. Nenek tersebut terpaksa pergi karena tak mau merepotkan anak-anaknya yang ternyata memiliki kesibukan masing-masing. Tapi baru sehari Nenek ada di Panti, ia sudah merindukan anak dan cucunya. Nenek diam-diam kabur dengan menumpang di dalam mobil box yang kebetulan akan meninggalkan Panti. Kalau ibu tak percaya silahkan cek CCTV di Panti tersebut, ibu akan menemukan kebenarannya. Saya hanya ingin membantu mengungkapkan kebenaran, karena ada yang harus segera diketahui. Saya hanya bisa membantu sebatas ini, semoga semua dilancarkan ya bu." Ucapku seraya menoleh ke sosok Nenek yang sedang memandang wajah sang anak dengan maga berkaca-kaca.


Nampak wajah ibu pemilik butik tertunduk sendu, ia memegangi sebelah dadanya. Satu tangannya meraba ke samping meja lalu meraih alat bantu pernafasan. Setelah ia merasa lebih baik, ia berjalan mendekati ku.


"Terima kasih Dek, saya percaya dengan ucapanmu. Karena ibu saya memang menghilang di hari pertama nya disana, setelah ini saya akan langsung berangkat ke Panti jompo itu untuk melihat sendiri CCTV yang ada disana. Saya sangat hawatir dengan keadaan Ibu saya, dan sebentar saya juga merasa bersalah karena setuju membawa Ibu kesana." Ucapnya berlinang air mata.


"Sama-sama Bu, semoga Nenek bisa cepat ditemukan apapun keadaannya. Yang ikhlas ya Bu, saya hanya bisa bantu doa supaya semuanya berjalan lancar."


Aku sengaja tak memberitahu dengan jelas jika jiwa Nenek yang ku lihat memang sudah bukan manusia. Karena aku tak mampu mengungkapkan nya, aku hanya mampu menjelaskan sebatas ini. Meski sebenarnya kalau si Ibu paham, dia akan mengerti jika hidup sang Ibu memang telah berakhir. Biarlah anak-anaknya yang akan menemukan fakta mengenai sang Ibu yang ternyata sudah tiada selama beberapa hari itu. Tak lama pemilik butik itu pergi, nampak jiwa sang Nenek menyunggingkan senyumnya padaku. Ia berterima kasih karena aku telah memberi petunjuk pada sang anak. Lalu ia melesat pergi bersama anaknya.


"Terima kasih ya Rania, lagi-lagi kau membantu menyelesaikan masalah. Bahkan kau masih terlihat lelah karena baru datang dari kampung. Beristirahatlah selama tiga hari ke depan, saya akan meminta Rika memberikan cuti untukmu. Dan ini ada voucher menginap di salah satu hotel bintang lima milik rekan bisnis saya. Kau bisa bersantai disana untuk merilekskan tubuh. Udara segar sangat menenangkan apalagi besok juga tanggal merah, kau bisa mengajak temanmu kesana." Ucap Pak bos seraya menyerahkan voucher menginap di Hotel mewah yang viral di antara para artis dan pejabat.


"Terima kasih Pak, saya sering mendapat kompensasi dari Bapak. Tapi kalau boleh saya meminta, saya tidak membutuhkan voucher ini. Tiga bulan lagi saya ingin mengajukan cuti, karena ada urusan mendesak di Desa yang berhubungan dengan hal gaib. Jadi saya harus tetap pergi kesana, tapi kalau menurut Bapak permintaan saya terlalu berlebihan saya minta maaf. Mungkin lebih baik saya resign saja, saya sudah terlalu sering meminta cuti."


Pak bos menghembuskan nafas panjang, ia memijat pangkal hidungnya. Barulah ia berkata, jika ia lebih keberatan kalau aku mengajukan resign.


"Saya yang terlalu sering menyusahkanmu Rania. Padahal pekerjaan mu sebagai jurnalis, tapi saya memberikan pekerjaan diluar itu. Tak masalah jika tiga bulan lagi kau kembali cuti, asal kau tetap bekerja di perusahaan saya. Besok pergilah untuk istirahat di Hotel, karena pasti kau sangat lelah dengan semua tugas yang saya berikan selama ini."


Aah senangnya memiliki atasan yang pengertian seperti beliau. Aku hanya dapat berterima kasih, dan berjanji akan selalu melakukan pekerjaan dengan baik. Setelahnya aku kembali ke rumah kuno, ku lihat Mbak Ayu belum pulang dari Sekolah. Rencananya aku akan mengajak Mbak Ayu menginap di Hotel mewah itu, tapi sepertinya aku harus berangkat sendiri untuk check in. Karet Mbak Ayu baru bisa pergi sore haru setelah memberikan pelajaran tambahan untuk para siswa nya. Aku harap tak ada masalah lain selama aku menginap di Hotel nantinya.