
"Kau lama sekali datangnya?"
"Iya Wat, jalanan agak tersendat karena ada perbaikan jalan di beberapa tempat. Makanya agak malam sampainya." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa Ran? Ada masalah lain ya? Kok wajahmu lesu begini?"
"Udah kita masuk dulu, nanti aja ceritanya aku capek!"
Aku dan Wati sama-sama membawa barang-barang ku, tanpa diduga Pramono pun ikut membantu. Meski dia masih terlihat kekanak-kanakan, setidaknya ia sedikit dewasa dan mau membantu orang lain. Ku lihat Bude sudah tidur di kamarnya, karena menurut Wati Ibunya terlalu lelah beberapa hari ini. Karena mereka sibuk membantu warga yang sedang sakit.
"Terus Pak Jarwo gimana?"
"Mbah Parti meminta Pak Jarwo dan istrinya untuk menempati rumahnya. Sejak Mbah Karto meninggal kan Mbah Parti gak tinggal disana lagi. Jadinya ya Lala kadang nginep di rumahnya juga, kadang-kadang juga nginep disini nemenin ibu. Besok aja kalau mau jenguk Pak Jarwo, udah malam kau tidur dulu aja. Besok kita cerita lagi." Jelas Wati seraya merapikan baju ku ke dalam lemari.
Aku hanya diam dengan menundukkan kepala. Ku sangga dagu dan memikirkan semua masalah ini. Kemudian Wati menyusul ku duduk, ia menggenggam tanganku dan memaksa ku untuk bercerita. Nampaknya ia sangat paham dengan sikapku yang gelisah sejak kedatangan ku tadi.
"Eh bentar ya, hape ku bunyi malam-malam gini. Entah siapa yang telepon." Kata Wati seraya menjawab panggilan telepon.
Tak lama ia memberikan ponselnya padaku, katanya Mbak Ayu cemas karena tak bisa menghubungi ku.
"Lu kemana aja sih, di hubungi berkali-kali gak bisa terus. Hape lu mati tuh, coba diperiksa! Udah pulang Desa dadakan, gak ada ngomong dulu sebelumnya. Tau gitu kan gue bisa temenin lu Ran!" Ujar Mbak Ayu diseberang telepon sana.
"Sorry Mbak ini emang dadakan banget kok. Gue juga gak ada rencana perginya, ada masalah mendesak yang bikin gue harus pulang."
Karena terus memaksa, akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi. Semua penglihatan batin dan apa saja yang terjadi pada Pak Jarwo. Bahkan pertemuan ku dengan Wening juga ku ceritakan dengan detail pada Mbak Ayu. Kali ini Mbak Ayu benar-benar geram setelah mendengar ceritaku. Bahkan ia semakin mencemaskan ku, dan mengatakan akan menyusul kesini.
"Gue masih bisa handel sendiri kok Mbak. Besok gue kabarin lagi ya, gue mau tidur nih ngantuk banget." Kataku lalu mengakhiri panggilan telepon.
Nampak Wati sedang berkacak pinggang dengan menyipitkan kedua mata. Ia menatapku sinis dan kesal, karena aku tak menceritakan apapun padanya, tapi justru aku berbagi cerita dengan Mbak Ayu.
"Mbak Ayu emang udah tau dari awal, tapi aku juga belum menceritakan detailnya. Ya udah sini duduk, aku ceritakan sedikit dulu deh biar gak penasaran. Tapi cerita lengkapnya besok aja ya, biar Pak Jarwo aja yang ceritakan."
"Kau sudah tau kan, kalau Bu Kartika ditahan sekarang? Semua itu karena seorang pegawai magang di kantor ku. Dia menggunakan makhluk gaib untuk menjebaknya, dia juga memiliki seorang Pakde yang mewarisi kesaktian dari almarhum Bapaknya. Pegawai magang itu sepertinya menaruh dendam padaku, dan semua warga Desa Rawa Belatung. Dan kau benar Wat, sepertinya sakitnya warga Desa ini bukanlah sakit biasa. Semuanya ada hubungannya dengan anak magang itu dan Pakde nya."
"Lantas apa hubungannya dengan warga Desa kita Ran?" Tanya Wati dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Ada Wati... Kau ingat siapa cucu Mbah Wongso?" Jawabku menundukkan kepala.
"Mbah Wongso? Maksudnya Mbah Wongso saudaranya almarhum Mbah Karto?"
Aku hanya menganggukkan kepala tak mengatakan apa-apa. Nampak reaksi Wati sangat terkejut, ia membuka lebar mulutnya dengan membulatkan kedua mata.
"Kau pasti tak menyangka kan? Apalagi aku Wat, bahkan aku sama sekali tak pernah mengenal semua keluarga almarhum Mbah Wongso. Saat itu aku baru saja pindah kesini, dan ternyata semua warga ingin mengusir Mbah Wongso dan semua keluarga nya. Tapi mereka sudah kabur lebih dulu, dan sekarang mereka ingin menuntut balas pada semua orang yang ada di Desa ini."
"Dulu Mbah Wongso punya tiga cucu, yang dua itu anak kembar, tapi salah satunya meninggal sewaktu masih kecil. Aku lupa siapa namanya, yang jelas dia perempuan seumuran kita Ran."
"Namanya Wening dan kembaran nya yang meninggal itu Bening. Semalam terjadi pertempuran di alam gaib antara Pak Jarwo dan anak lelaki almarhum Mbah Wongso. Mereka ingin balas dendam Wat, karena itulah aku hawatir."
Bruugh.
Nampak Bude Walimah baru saja terbangun dari tidurnya, ia mendengar semua percakapan ku dengan Wati. Ia jatuh tersungkur, karena terkejut mendengar ucapanku tadi. Aku dan Wati langsung berlari membantu Bude berdiri. Ia terisak mencemaskan hal buruk yang akan terjadi.
"InsyaAllah semua akan bisa kami atasi Bude. Sudah ada Pak Jarwo dan Rania disini, kami akan menyelesaikan semua sebelum masalah ini terdengar semua orang yang tinggal di Desa."
"Tapi kau sendiri juga terancam Nduk! Bagaimana mungkin kau bisa berada di satu lingkungan kerja dengan cucu dari seorang penganut ilmu hitam itu Nduk!" Ucap Bude Walimah terisak.
"Sudahlah Bude, Rania baik-baik saja. Awalnya Rania juga tak tau Wening itu siapa. Sampai akhirnya Rania sering mendapatkan penglihatan batin. Lebih baik sekarang Bude istirahat dulu ya, besok Bude harus bantu-bantu warga yang sakit kan? Rania juga harus membantu Pak Jarwo menyelesaikan semua masalah yang ada disini, sebelum Rania kembali ke Jakarta."
Ku minta Wati dan Bude untuk istirahat, dan aku sengaja tak menceritakan jika Wening tadi sempat datang ke Desa ini bahkan satu mobil travel denganku. Aku tak mau membuat mereka semakin hawatir dan cemas. Biar saja aku dan Pak Jarwo yang menanggung semuanya. Apalagi sekarang sudah tak ada sesepuh di Desa ini, tak ada yang bisa dimintai tolong ataupun pendapat. Aku harus bisa menjalankan amanah Simbah Parti dan juga Mbah Karto, untuk membantu semua orang terutama warga Desa Rawa Belatung.