
Suara teriakan seorang perempuan membangunkan tidurku, samar-samar ku lihat jam di dinding masih jam tiga pagi. Entah siapa yang menjerit histeris seperti itu, aku pun terpaksa bangkit berdiri melangkah ke depan jendela. Nampak Umi sedang berdiri dengan tubuh gemetaran di depan pintu kamarnya. Aku bergegas keluar menghampirinya, jari telunjuk nya menunjuk ke halaman rumah utama. Terlihat Mbak Ayu sedang menari-nari dengan sorot mata tajam. Entah aku harus bagaimana, karena saat ini hanya ada aku dan Umi saja. Ku minta Umi untuk membacakan ayat-ayat suci, sementara aku mencoba berkomunikasi dengan Mbak Ayu. Karena sepertinya ada sosok lain yang menguasai raganya.
"Mbak apa yang lu lakuin disini? sadar Mbak, jangan biarin sosok lain ngambil alih raga lu."
Hening tak ada jawaban dari Mbak Ayu, ia tetap menari dengan tatapan mata yang menakutkan. Ku lihat Umi masih membacakan doa dengan suara gemetar. Tiba-tiba Mbak Ayu berbicara dan mengancamku, untuk tak ikut campur lagi dengan urusannya.
"Apa kau masih ingin kehilangan orang terdekat mu lagi? kenapa kau selalu mempengaruhi pikirannya, biarlah dia menjadi pengikut setiaku. Dia ditakdirkan untuk menjadi penerus ibunya, dan sudah seharusnya ia memberikan tumbal nyawa untukku. Jika kau terus mempengaruhinya, aku sendiri yang akan mengambil jiwa-jiwa orang terdekat mu!" pekiknya melotot dihadapanku.
"Kenapa kau terus saja mengganggu kami hah? jangan ganggu Mbak Ayu lagi, pergilah kau dari tubuhnya!"
"Ada yang tak kau tahu anak muda, setelah Dahayu setuju menjadi penerus ibunya, ia sudah menjadi satu jiwa denganku. Kapanpun aku mau, aku bisa menggunakan tubuhnya untuk mengambil jiwa manusia mana saja yang aku mau. Dan kali ini kau tak akan bisa menghentikan ku mengambil tumbal persembahan untukku, karena aku sendiri yang datang untuk mengambilnya!"
Whuus whuuus whuuus...
Tiba-tiba angin kencang datang, membuat debu-debu beterbangan. Pandangan ku tak begitu jelas, ketika aku melihat ke berbagai arah tak ku temukan lagi sosok Mbak Ayu ataupun Umi. Aku memejamkan kedua mata seraya memanjakan doa pada Yang Maha Kuasa, dan perlahan angin kencang itu mereda. Ku panggil nama Umi berulang kali, tapi tak ada jawaban darinya.
"Jangan-jangan sosok yang merasuki Mbak Ayu tadi bawa Umi pergi." batinku di dalam hati resah.
Aku berlari ke kamar Umi, tapi tak ada siapapun disana. Tak menyerah begitu saja, aku pergi ke kamar Mbak Ayu dan hasilnya pun sama. Kini hanya ada dua kemungkinan, ruang keluarga yang selalu tertutup itu atau rumah utama yang belum ku lihat. Sosok hantu kecil penunggu lorong gelap memberiku petunjuk, jika aku harus masuk ke ruang keluarga. Tempat dimana biasanya keluarga itu melakukan sembahyang.
Cekleek.
Aneh, pintu itu tak terkunci seperti biasanya. Aku berjalan masuk ke dalam, dan ku lihat sosok Mbak Ayu sedang tergeletak di lantai mengenakan baju adatnya.
"Mbak bangun Mbak! lu kenapa Mbak?"
Perlahan Mbak Ayu membuka kedua matanya, ia bertanya padaku, kenapa aku ada disana.
"Gue yang harusnya tanya sama lu Mbak, apa yang lu lakuin disini?"
"Gu gue... Gue sembahyang Ran."
"Lu gak usah bohongin gue Mbak! Lu ngasih persembahan apa ke Calon Arang, sampai dia datang dan sekarang Umi menghilang setelah lu nari-nari diluar sana."
"Maksud lu apa Ran? gue beneran sembahyang disini, dan gak tahu kenapa tiba-tiba kepala gue berat banget tadi. Malahan gue gak ngerasa nari-nari diluar, dari tadi kan gue disini Ran. Gue juga gak lihat Umi sedari kita pulang tadi." ucap Mbak Ayu dengan wajah serius.
Aku menjelaskan segalanya pada Mbak Ayu, kalau kemungkinan tadi Calon Arang menjelma menjadi dirinya.
"Tapi sumpah Ran, gue gak numbalin si Umi. Malahan pas gue disuruh milih, gue nyebut nama Janni."
"Hah! apa yang lu bilang Mbak? jadi lu beneran buat perjanjian sama Calon Arang buat dapetin jawaban yang lu mau? gila lu Mbak, gue gak nyangka lu bisa ngelakuin ini." kataku dengan mata berkaca-kaca.
"So sory Ran, gue gak nyadar ngelakuin semua ini. Tadinya gue cuma pergi ke lantai atas rumah utama, dan gue nemuin penutup kepala warna hitam yang dipakai orang itu. Karena gue gak mau menduga-duga siapa di antara Tante Ajeng ataupun Om Dewa yang jadi biang keladinya, gue pun melakukan sembahyang dan di dalam mimpi gue tadi. Gue ngelihat Om Dewa dibalik penutup kepala itu, dia Ran pelaku utama yang kita cari!" kata Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.
"Cukup Mbak, gue gak bisa bantuin lu kalau cara lu seperti ini. Sekarang nyawa seseorang yang gak bersalah sedang dalam bahaya, gue gak tahu Umi dimana huhuhu."
Mbak Ayu menundukan kepalanya, ia terlihat kebingungan melihatku terguncang.
"Gue beneran gak sengaja Ran, apa yang harus gue lakuin supaya Umi balik lagi."
Aku mengusap air mata dan teringat pada Tante Ajeng, mungkinkah Tante Ajeng dapat memberikan solusi. Aku menghubungi Tante Ajeng dan mengatakan tentang hilangnya Umi, ia pun terkejut dan mengatakan padaku jika hanya ada satu cara yang bisa dilakukan, yaitu menukar persembahan sebelum tengah malam nanti.
"Emang persembahan yang sudah diminta bisa ditukar kembali Tante?"
"Entahlah Ran, Tante juga kurang tahu. Pergilah bersama Dahayu menemui seseorang yang paham dengan ritual di alam mangrahi. Dulu Tante pernah pergi kesana untuk menyelamatkan bayi Tante yang dipersembahkan untuk Calon Arang. Tapi sayangnya Tante terlambat melakukan penukaran." jelasnya dengan terisak.
Tante Ajeng mengakhiri panggilan telepon, ia mengirimkan pesan singkat menjelaskan dimana alamat orang yang dimaksud nya. Aku mengatakan pada Mbak Ayu, jika kami harus pergi ke alamat yang diberikan Tante Ajeng. Tapi Mbak Ayu terlihat ragu, ia tak yakin dengan perkataan Tante Ajeng. Tapi aku meyakinkannya untuk mencoba, karena segala kemungkinan bisa saja terjadi.
"Bukankah harus ada pertukaran, lalu apa yang harus ditukarkan Rania?"
"Entahlah Mbak, besok pagi kita pergi ke alamat yang dikasih Tante Ajeng aja. Tapi gue harus minta ijin libur dari Mbak Rika dulu."
"Sorry ya Ran, lagi-lagi lu harus repot karena kesalahan gue."
"Lu gak salah kok Mbak, karena Calon Arang emang sengaja bisikin lu mau ngelakuin semua itu. Tapi gue juga takut sih, kalau pertukaran yang diminta harus dengan nyawa seseorang."
Setelah itu ku putuskan untuk langsung menunaikan shalat subuh, aku berdoa meminta pada Allah supaya memberikan petunjuk padaku. Karena aku benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa, aku terjebak di masalah orang lain. Dan aku tak bisa hanya berpangku tangan, harapanku supaya dapat menyelamatkan nyawa Umi dari incaran Calon Arang. Karena sampai detik ini aku tak tahu keberadaan nya dimana.
...Bersambung. ...
...Yuk berikan semangat ke othor, jangan lupa tinggalkan Gift atau Vote nya. Supaya othor lebih semangat update nya 💕...