
Triing.
Ada pesan masuk di ponselku, rupanya Mbak Ayu mengirimkan pesan melalui wassap. Ia menanyakan, apakah bagian tubuh Ibunya yang hilang sudah ditemukan Polisi. Karena tadi ia bersama Om Dewa tidak langsung pergi ke Kantor Polisi, melainkan mereka pergi ke suatu tempat untuk melakukan ritual. Karena menurut Om Dewa, hanya dengan melakukan ritual kepala Ibunya bisa ditemukan secepatnya. Aku segera membalas dan mengatakan belum tahu apa-apa, karena saat ini aku dan Agus sedang meliput berita. Ternyata Mbak Ayu langsung membalas pesanku.
"Gue chat lu, karena kemungkinan hari ini kepala Ibu gue bakal ditemuin. Tolong tanyain temen lu si Adit, mungkin aja dia tahu sesuatu. Karena setelah ini gue mau ke Kantor Polisi buat nyocokin DNA." balas Mbak Ayu di wassap.
Aku berpikir keras, bagaimana mungkin Mbak Ayu seyakin itu. Jika hari ini kepala Ibunya dapat ditemukan. Tapi tiba-tiba Malik melesat ke arahku, dan ia mengatakan jika akar dari masalah ku akan segera selesai.
"Sekarang aku dapat mengatakan dengan jelas, jika mayat yang ada di gorong-gorong sana ada hubungannya dengan orang-orang di sekitarmu." kata Malik yang sedang berdiri mengambang di samping ku.
"Kau itu darimana saja hah? kadang gak ada waktu dibutuhin, tapi sekarang nongol begitu aja. Kenapa kau bisa yakin sekali mengatakan itu?" tanyaku berbicara di dalam hati, karena tak mungkin terang-terangan aku berbicara dengan makhluk tak kasat mata di depan banyak orang. Yang ada aku bisa disangka gak waras.
"Memang terkadang aku kembali ke alamku, tapi aku tak pernah lama meninggalkan mu. Dan setelah aku kembali, tak ada bahaya yang mengintaimu. Jadi aku tak menampakkan wujudku, supaya kita tak terlalu sering bertatap muka." jelas Malik dengan menundukan kepalanya.
Seketika aku membalikan badan dan menghadapkan wajahku tepat di depannya. "Memang kenapa kalau kita sering bertatap muka seperti ini?" ucapku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Eh ngomong apa an sih lu Ran? bukannya wajar kita sering bertatap muka. Kan kita rekan kerja, apalagi sering tugas lapangan bareng!" sahut Agus, yang merasa aku berbicara padanya.
Duh, aku jadi salah tingkah di depan Agus. Padahal aku keceplosan bicara langsung di depan Agus, karena disanalah Malik berada. Dengan kesal aku menatap Malik, karena ia diam saja tak menjawab pertanyaan ku.
"So sorry Gus. Tadi gue lagi ngebatin seseorang yang lagi chatan sama gue, karena gue kesel jadinya gue ngomong sendiri. Eh jadi salah paham sama lu deh hehehe." jelasku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
Berbekal petunjuk dari Malik, aku mengajak Agus pergi ke TKP. Karena aku harus segera bertanya pada Mas Adit, setelah Mbak Ayu memberikan petunjuk, Malik juga memberikan keterangan yang mengarah ke misteri hilangnya kepala Bu Wayan Sukmawati. Aku tak bisa melewat garis kuning polisi, karena seorang petugas menghentikan kami.
"Maaf yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Silahkan menunggu disini saja."
"Tapi Pak, saya harus bertemu dengan Petugas Adit. Ini penting sekali, jika bisa tolong panggilkan yang bersangkutan." pintaku dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.
"Baiklah, dengan siapa saya berbicara? biar saya sampaikan pada beliau."
"Saya Rania Pak. Katakan saja ada hal penting yang harus saya bicarakan mengenai Bu Wayan."
Agus menepuk pundakku berkali-kali, ia menanyakan hal apa yang berhubungan dengan Bu Wayan. Aku hanya mengatakan jika nanti ia akan mendengar ketika Mas Adit datang. Sementara Malik berdiri mengambang tak jauh dariku, ia hanya memperhatikan sekitar. Nampak dari kejauhan petugas tadi datang, ia mengatakan jika saat ini Mas Adit masih sibuk bersama team forensik. Dan tak dapat menemuiku.
"Kata Petugas Adit, ia akan menghubungi anda setelah tugasnya selesai."
Aku sangat kecewa setelah mendengar ucapan petugas itu. Hanya Mas Adit saja yang dapat menjawab rasa penasaran ku. Tapi ia benar-benar tak bisa menemuiku karena penyelidikan sedang berlangsung. Nampaknya kasus kali ini benar-benar rumit.
Aku berjalan dengan langkah gontai, tak rela pergi begitu saja sebelum mendapat kejelasan dari Mas Adit. Samar-samar terdengar suara seseorang yang memanggilku, dan ketika ku balikan badan, nampak Mas Adit sedang berlari dengan melambaikan tangannya. Memberi kode padaku untuk menghampiri nya. Aku hanya mengerucutkan bibir, karena masih agak kesal padanya.
"Heh disuruh nyamperin aku malah diem aja disini, lagian tuh bibir kenapa manyun gitu sih?" ucap Mas Adit dengan mencubit pipiku.
"Lagian Mas Adit nolak buat ketemu sama aku. Padahal kan ada sesuatu yang penting mau aku tanyakan."
"Nah ini yang mau aku jelasin ke kamu Ran. Tahu gak apa yang aku temukan di TKP?"
"Ya mayatlah Mas, pake tanya segala lagi." sahutku ketus.
"Bukan itu Ran, setelah mengirimkan foto mayat itu ke Komandan. Ternyata perempuan tersebut pernah ada di lokasi TKP penemuan mayat di gedung tua. Berdasarkan cctv yang ada di sekitar lokasi, perempuan itu terlihat keluar dari pintu belakang gedung tua dengan membawa bungkusan yang sama, seperti yang ada di dekat mayatnya. Dan ada yang lebih mengejutkan lagi, kamu tau gak apa?"
"Ya tahulah, bungkusan itu ada kepala manusia yang udah jadi tengkorak kan?"
"Loh kok kamu tahu sih? aku kan belum kasih tahu ke kamu Ran."
"Narasumber dan saksi pertama yang nemuin mayat itu udah cerita ke aku tadi. Jadi menurut Mas Adit, itu kepala Bu Wayan Sukmawati gak sih?"
Belum sempat Mas Adit menjawab, Agus mengemudikan motornya ke arahku. Dia berteriak kesal, karena terlalu lama menungguku di parkiran. Aku hanya menepuk kening, karena melupakan Agus yang sudah menunggu ku untuk kembali ke kantor.
"Bentar deh Gus, nanggung nih kita lagi ngobrol penting."
"Eh iya, tadi kan lu bilang mau bahas tentang Bu Wayan. Gue juga mau denger dong!" seru Agus di atas motornya.
Kemudian Mas Adit melanjutkan ceritanya. Menurutnya ciri-ciri perempuan yang tertangkap cctv sama persis dengan mayat di gorong-gorong itu. Dari pakaian yang dikenakan nya sampai bungkusan yang ia bawa. Lalu aku menjentikkan jari, merasa mendapatkan pencerahan dari penelusuran kali ini.
"Sepertinya misteri penemuan mayat di gedung tua akan segera terungkap deh. Oh iya Mas, Mbak Ayu ingin mencocokkan DNA dengan mayat Bu Wayan. Karena ada kemungkinan Bu Wayan adalah Ibunya yang hilang itu."
"Wah bisa kebetulan sekali ya Ran?" ucap Mas Adit dengan senyum lega.
"Kalau boleh saya ingin melihat wajah mayat di TKP ini bisa gak Mas? kebetulan saya mengenal perempuan yang suka memakai pakaian berwarna merah. Perempuan itu juga beberapa kali sudah menemui Rania, karena kemungkinan saya dapat mengenalinya." jelas Agus dengan wajah serius.
Aku dan Agus saling menatap, kami benar-benar penasaran ingin memastikan jika perempuan korban tabrak lari itu adalah orang yang kami kenal. Kemudian Mas Adit mengeluarkan ponselnya dan menunjukan beberapa foto pada kami. Anehnya wajah mayat tersebut sudah membengkak, dan sangat sulit untuk kami kenali jika hanya melihat gaun merahnya saja.
...Bersambung....