Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 214 ADA APA DENGANNYA?


Aku berlari mengikuti Dokter tadi, tapi perawat tak membiarkan ku masuk ke dalam. Silvia yang baru saja datang, terlihat ikut panik. Karena ia mengengar jika Beny tadi kejang-kejang. Kami menunggu dengan gelisah, takut terjadi apa-apa padanya. Tapi setelah Dokter keluar dari ruangan, ia menjelaskan jika kondisi pasien sudah stabil.


"Mungkin ini keajaiban dari Tuhan, padahal sebelumnya kondisi pasien kritis. Tapi tadi sempat terjadi reaksi karena pengaruh obat, dan tubuh pasien kejang-kejang. Dan alhamdulillah semua justru jadi stabil, mungkin setelah ini kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap." Jelas Dokter itu dengan menyunggingkan senyumnya.


Alhamdulillah, syukurlah sesuatu yang tak diinginkan tak terjadi. Ternyata kondisi Beny justru membaik. Dan kami sudah bisa menemuinya di ruang rawat inap. Nampak ia masih terbaring lemah di atas ranjang, Beny masih mengenakan berbagai peralatan medis di tubuhnya.


"Hmm Ben, lu udah gak apa-apa kan? Tadi gue udah hubungi keluarga lu, mungkin besok pagi mereka baru bisa datang dari luar kota. Apa ada yang gak enak di badan lu?"


"Gue gak apa-apa Ran, makasih ya kalian udah jagain gue."


"Ben sebenarnya tadi lu kenapa? Katanya lu kena gagal jantung, apa karena lu terlalu lama berada diluar tubuh lu?" Tanya Silvia cemas.


"Gue gak tau kenapa Sil, emangnya lu cemasin gue ya?" Jawab Beny yang masih terbaring lemah.


Aku menyela obrolan mereka, dan meminta Beny untuk lebih banyak istirahat. Tapi entah kenapa perasaan ku agak lain, karena tiba-tiba Beny tersadar setelah jiwanya bertemu dengan bayangan putih yang ku lihat tadi.


"Dih lu kenapa ngelamun sih Ran? Beny kan udah gak apa-apa, lebih baik lu gak usah cemasin dia lagi. Dan lu harus buruan balik ke Jakarta. Bukannya lu dapat tugas khusus dari Pak Bos?"


Aku menepuk kening, karena teringat dengan tugas dari Pak Bos untuk mencari keberadaan jiwa Bu Purnama. Segera ku raih ponsel di dalam tas, dan mengirimkan pesan singkat ke Pak Bos. Tak lama beliau menjawab pesan ku, ia menjelaskan belum ada perkembangan apapun dari Bu Purnama. Ia masih tak sadarkan diri di rumah sakit. Aku menghembuskan nafas panjang, merasa tak enak jika tiba-tiba harus meninggalkan Beny disini. Padahal ia baru saja sadar, dan aku belum tau pasti bagaimana keadaannya.


"Kenapa Ran? Pak Bos minta lu balik ke Jakarta ya?" Tanya Silvia dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Sebenarnya sebelum kesini gue udah ada tugas fari Pak Bos. Gue harus cari tau sesuatu yang ganjal mengenai Ibu tiri nya. Tapi kita malah kejebak masalah disini."


"Ya udah kalian berdua balik aja, besok gue tunggu keluarga gue datang kesini." Pungkas Beny dengan wajah yang masih pucat.


"Gak Ben! Lu gak boleh sendiri disini, gak tau kenapa gue punya feeling lain tentang lu. Lebih baik Silvia tetap disini jagain lu, biar gue balik sendiri aja. Lu gak apa-apa kan Sil kalau nunggu Beny sendirian?"


Silvia menganggukan kepala seraya menyunggingkan senyumnya, ia bersedia menjaga Beny seorang diri. Karena setelah ini aku harus kembali ke Jakarta, untuk menyelesaikan tugas dari Pak Bos. Karena pencarian jiwa Bu Purnama juga serius, karena ini berurusan dengan nyawa seseorang. Tapi sebelum aku berpamitan pada mereka, Beny mengatakan sesuatu yang mengejutkan ku. Ia bertanya soal kepergian seseorang ke alam keabadian.


"Apa kalau orang yang menerima takdir kematian lalu ikhlas kembali ke alamnya, apa jiwanya tak bisa bertemu lagi dengan seseorang yang ia sayang?" Tanya Beny mengaitkan kedua alis matanya.


"Dih ngapain lu nanya kayak gitu? Tumben lu keppo dengan dunia gaib? Emangnya kenapa lu tanya begitu?"


"Iya nih Ben, ngapain lu nanya itu. Jangan mentang-mentang lu habis jadi arwah gentayangan terus lu keterusan dengan dunia gaib!" Sahut Silvia dengan menggelengkan kepala.


Beny malan diam seakan memikirkan sesuatu, aku jadi makin penasaran dan memaksanya untuk menjelaskan apa maksud pertanyaan tadi.


"Se sebenarnya..." Ucap Beny tak dapat melanjutkan kata-katanya. Karena seorang perawat datang, dan meminta pengunjung untuk menunggu diluar terlebih dulu, karena Dokter visit akan datang.


Akhirnya aku dan Silvia terpaksa harus menunggu diluar. Tapi aku tak bisa lebih lama lagi berada disana, aku juga mencemaskan kondisi Bu Purnama. Aku berpamitan pada Silvia, dan memintanya untuk memberikan kabar mengenai Beny. Karena saat ini situasi sangat genting, aku tak mau jika nyawa Bu Purnama dalam bahaya karena Bu Kartika ingin berbuat jahat padanya.


"Sil kayaknya gue gak bisa nunggu lama disini, lu gak apa-apa kan gue tinggal?"


"Ya udah gak apa-apa kok Ran, sampaiin ke Mbak Rika kalau gue masih harus ada disini buat nungguin Beny ya."


"Sip pasti gue sampaiin, kalau ada apa-apa sama Beny cepetan kabarin gue ya. Soalnya gue ngerasa ada yang disembunyiin sama dia."


"Emang lu mikir apa an Ran?"


Aku hanya diam mendengar pertanyaan Silvia, karena aku juga tak tau harus menjawab apa. Aku hanya merasa ada hal lain yang Beny sembunyikan dari ku.


"Gue juga gak tau Sil, sekarang pikiran gue bercabang. Makanya lebih baik gue balik dulu, buat nyari informasi mengenai Bu Purnama. Kalau udah ada titik terang, pasti gue balik kesini lagi kok."


"Iya Ran, hati-hati ya. Kalau udah sampai kabarin gue juga, oke?"


Aku mengacungkan ibu jari seraya berjalan pergi. Nampak Petter melesat mengikuti ku, ia bertanya apakah aku akan menemui si merah. Dan ku jawab melalui batin, meledaknya. Apakah ia masih takut dengan merah, karena ia memang terkadang begitu.


"Nee. Aku sudah tak takut lagi padanya Rania! Aku akan berdiri paling depan jika dia datang mengganggu mu lagi!" Serunya seraya berkacak pinggang.


Cih dasar demit labil, apa iya dia akan seberani itu ketika berhadapan langsung dengan merah.


"Baiklah ayo kita pulang, nanti dengan kekuatan ku kau harus pergi mencari keberadaan jiwa seseorang yang ku kenal. Kau ingat perempuan yang di rumah sakit waktu itu kan? Kau harus mencarinya di dimensi gaib."


"Hmm apakah perempuan jelek itu masih terluka Rania? Waktu itu kau pernah melukai tangannya sampai terputus. Apa tangannya bisa tumbuh lagi?" Pertanyaan polosnya membuatku terkekeh. Mungkin yang ada di pikiran nya tangan si merah bisa tumbuh seperti pohon.


"Mungkin bisa lah, dia kan bukan makhluk gaib biasa. Memangnya kenapa kau tanya seperti itu? Apa selama jadi hantu kau tak pernah melihat hal semacam itu?"


"Tentu saja pernah, tapi hanya hantu yang berilmu tinggi saja yang bisa melakukan segalanya. Aku harap perempuan jelek itu tak sesakti hantu-hantu yang pernah ku lihat sebelumnya." Ucap Petter dengan raut wajah cemas.


Entah apa yang ada di pikiran hantu kecil ini, karena aku sama sekali tak menganggap jika merah adalah lawan yang berat. Karena sekarang aku sudah memiliki kemampuan untuk melawannya. Jadi aku lebih percaya diri untuk berhadapan langsung dengan kuntilanak merah peliharaan Bu Kartika itu.