Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 125 KAFAN BERNODA DARAH.


Perempuan itu adalah mantan Ari, ia tak terima melihat Ari dekat dengan perempuan lain. Dinar yang tak terima akhirnya membalas perbuatan perempuan itu. Dan terjadi aksi jambak-jambakan di antara keduanya. Tapi Ari lebih memilih membela Dinar, lalu meninggalkan mantan pacarnya dengan rambut yang acak-acakan. Dinar sempat ingin melupakan niatnya untuk mengenal Ari lebih dekat. Tapi karena lelaki itu dengan gigih meyakinkan Dinar, jika ia benar-benar tertarik padanya. Ia tak ada hubungan apapun dengan perempuan yang baru saja bertengkar dengannya. Akhirnya hati Dinar luluh, dan melanjutkan hubungan nya dengan Ari.


Satu bulan berlalu dengan cepat. Tidak ada hari yang mereka lalui tanpa berkomunikasi. Meski jarang bertemu karena jarak, mereka selalu intens berhubungan melalui ponsel. Obrolan keduanya yang terdengar mesra, membuat teman-teman Dinar menjuluki keduanya sebagai Romeo dan Juliet. Hubungan Dinar sempat diketahui orang tuanya. Karena teman-teman nya memberi informasi pada orang tua nya, jika Dinar sedang dekat dengan seorang lelaki. Karena cemas dan tak ingin terjadi hal-hal yang tak di inginkan pada anaknya. Kedua orang tua Dinar meminta nya kembali ke Desa. Karena sebenarnya kondisi ekonomi keluarga Dinar cukup mapan. Tapi Dinar tak menuruti ucapan orang tuanya, dan memilih tetap tinggal di kota, supaya ia bisa lebih dekat dengan lelaki yang dicintainya.


Malam itu, Ari bertemu dengan Dinar di tempat kerja nya. Ari yang bekerja di sebuah pabrik bahan bangunan. Mendapatkan tugas untuk mengantarkan bahan material ke sebuah komplek perumahan di pinggiran kota Jakarta. Akhirnya Ari mengajak Dinar ke komplek itu. Dinar ditinggalkan di dalam truk seorang diri, sementara Ari pergi menemui seorang lelaki. Melihat dari penampilan nya, sepertinya ia mandor proyek di perumahan itu. Mereka terlihat berbicara sangat serius, sempat terjadi perdebatan. Tapi akhirnya Ari hanya diam dengan menghembuskan nafas panjang. Tak lama ia mendatangi Dinar, dan mengajaknya bertemu dengan Neneknya. Dinar sempat bingung, kenapa Ari tiba-tiba ingin mengajaknya bertemu sang Nenek. Tapi akhirnya ia mengikuti ajakan Ari.


"Tunggu disini dulu, Nenek sedang ada tamu di dalam." Ucap Ari meminta Dinar duduk di teras rumah.


Ari berjalan masuk dalam rumah. Karena penasaran, Dinar bangkit berdiri, menyelinap masuk ke dalam ruang tamu. Tapi ia tak melihat tami yang dimaksud Ari. Dinar berusaha mengintip ke sebuah ruangan yang tertutup tirai tipis transparan. Dari sana Dinar terkejut melihat pemandangan yang tidak biasa. Ruangan itu dipenuhi orang berjubah hitam yang berdiri membelakangi pintu ruangan itu. Nampak cahaya yang berasal dari lilin-lilin yang dipasang di sekeliling nya. Dinar mulai curiga dengan apa yang orang-orang itu lakukan di dalam sana. Kedua mata Dinar memandang ke segala arah, mencari keberanian Ari. Tak lama setelahnya, Dinar melihat sosok Ari berjalan ke depan melewati sisi tengah para orang berjubah hitam itu. Tapi kemudian tubuh Ari mulai tak terlihat, karena terhalang sekelompok orang-orang yang berkumpul disana. Dinar refleks mencari posisi yang lebih tepat untuk mengintip. Tiba-tiba wajah seorang Nenek menyeramkan muncul di balik tirai memergoki keberadaan Dinar. Seketika Dinar jatuh pingsan saat itu juga.


Aku pun sempat terkejut melihat wajah Nenek itu. Dan tubuhku tak kuat menahan jiwa pocong itu lebih lama lagi. Setelah itu tubuhku oyong dan tumbang ke lantai. Menyadari ada yang tak beres denganku, Mbak Ayu masuk ke dalam kamar Vita bersama kedua orang tuanya. Tapi mereka malah menemukan ku tergeletak di lantai.


"Rania. Lu kenapa Ran?" Tanya Mbak Ayu membantu ku duduk.


Aku tak langsung menjawab pertanyaan Mbak Ayu. Tubuhku rasanya lemas, kehilangan seluruh tenaga. Ibu Vita memberikan segelas air padaku, dan aku langsung meneguknya dengan nafas terengah-engah.


"InsyaAllah Vita udah gak apa-apa, Pak, Bu. Kalian bisa membawanya ke Dokter untuk memeriksa kondisi fisiknya. Sosok gaib yang mengganggu nya udah keluar dari tubuhnya. Tapi masih ada yang janggal, karena saya belum tahu alasan sosok itu memasuki tubuh Vita. Bapak sama Ibu shalat kan?" Tanya ku pada mereka.


"Sebenarnya akhir-akhir ini kami jarang ibadah. Saya sering bepergian ke rumah sakit mengurus ibu. Sementara suami saya bekerja sebagai kontraktor di perumahan ini. Karena itulah kami mendapatkan kompensasi untuk memliki rumah ini. Meski kami baru tahu, jika Vita jadi seperti ini karena diganggu sosok astral yang ada di perumahan ini." Ucap Ibu itu tertunduk dengan berlinang air mata.


Sebenarnya aku juga belum tahu pasti kenapa pocong itu memilih merasuki raga Vita. Karena dari apa yang pocong itu tunjukkan padaku masih belum jelas. Ragaku yang kelelahan tak mampu menahan sosok itu berada lebih lama lagi di dalam tubuhku. Dan saat ini pocong itu masih berdiri mengambang di depan pintu kamar Vita. Mbak Ayu bangkit berdiri ingin mengusir sosoknya. Tapi aku menghentikan Mbak Ayu, dan memintanya membiarkan pocong itu tetap disana.


"Lu gak salah Ran? Kalau dia masuk ke dalam tubuh Vita lagi gimana?"


Setelah itu, kami berpamitan pada orang tua Vita. Aku berbicara empat mata dengan Ayah Vita, untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di hati ku.


"Maaf Pak, kalau pertanyaan saya terdengar lancang. Bapak kan kontraktor di perumahan ini, pasti Bapak tahu banyak hal selama pembangunan infrastruktur di perumahan ini. Saya mendengar desas-desus mengenai tumbal yang diberikan untuk menjaga kelancaran selama proses pembangunan berlangsung. Apakah yang saya dengar itu benar Pak? Karena ini menyangkut Vita juga. Sosok yang memasuki tubuh anak Bapak, sepertinya ada hubungannya dengan desas-desus yang saya dengar itu. Kalau Bapak mau cerita yang sebenarnya, mungkin saya bisa membuat demit itu menjauh dari Vita." Kataku berusaha mengorek informasi darinya.


"Sebenarnya..."


"Yah. Ayah. Vita udah bisa membuka matanya!" Seru sang Istri menghentikan lelaki itu berkata-kata.


Akhirnya kami semua kembali masuk ke dalam kamar Vita. Melihat gadis itu berbaris dengan raut wajah kebingungan.


"Bu Ayu ngapain disini?"


"Ibu jenguk kamu Vit, udah satu minggu lebih kamu sakit. Cepet sembuh ya, supaya bisa berangkat ke sekolah lagi." Jelas Mbak Ayu mengusap lembuh rambut Vita.


Setelah mengobrol sebentar dengan Vita. Kami memutuskan untuk pulang. Aku kembali berbicara pada Ayahnya, untuk menceritakan apa yang ia ketahui mengenai pertanyaan ku tadi.


"Begini saja Mbak, kita bisa membicarakan ini di tempat lain. Sekalian saya mau mempertemukan Mbak dengan orang yang lebih tahu mengenai pembangunan perumahan ini. Karena saya juga bingung ngomong nya, takut salah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Ayah Vita dengan memijat pangkal hidungnya.


Mbak Ayu menatapku dengan heran, ia penasaran dengan apa yang Ayah Vita bicarakan. Tapi ia sungkan bertanya di hadapan Ayah Vita. Hanya sikut Mbak Ayu yang menyenggol lenganku beberapa kali. Ia begitu penasaran hingga tak sabar menunggu ku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya kami kembali ke kostan dengan ojol. Aku bersama Mas ojol yang sedari tadi menunggu ku. Sementara Mbak Ayu masih menunggu kedatangan ojol yang berada di depan komplek. Semoga aja Mas ojol yang itu tak penakut seperti Driver yang bersamaku ini. Supaya kami dapat segera sampai di kostan dan beristirahat. Ekor mataku menangkap sekelebatan sosok pocong itu. Ternyata ia mengikuti ku, karena penglihatan yang ia berikan tadi belum jelas akhirnya.