
"Kalau menurut lu mendiang Ibu gue punya ilmu hitam semacam itu. Bukankah harusnya beliau bisa menyatukan tubuhnya kembali? tapi kenapa ia berakhir mengenaskan seperti itu Ran? lu jangan asal bicara!" Mbak Ayu berlinang air mata tak percaya mendengar ucapanku.
"Masalahnya tubuhnya terpisah jauh dari kepalanya. Sebenarnya jika tubuh dan kepalanya tak terpisah terlalu lama, Bu Wayan masih dapat menyatukan tubuhnya kembali. Tapi aku menduga beliau sudah putus asa, karena itulah ia meninggalkan wasiat ini. Kalaupun ia ingin hidup kembali, itu mustahil Mbak, raganya sudah membusuk dan seluruh organ tubuhnya pasti sudah rusak. Lu lihat kan tengkoraknya, itu udah gak mungkin lagi Mbak beliau kembali lagi."
Mbak Ayu menangis tersedu-sedu, kami semua hanya bisa menenangkannya. Bude Walimah hanya bisa memberi wejangan pada Mbak Ayu, supaya ia tak berlarut dalam kesedihan dan juga dendam.
"Bude tahu Yu, kau sangat sedih dan marah saat ini. Karena seseorang telah mendesak ibumu untuk mengakhiri hidupnya. Tapi kau harus bisa ikhlas dan berlapang dada. Karma akan kembali ke orang yang menabur kejahatan. Meski semasa hidupnya mendiang ibumu mempraktekan ilmu hitam, setidaknya ia sangat menyayangimu. Bahkan ia rela menjauhkan mu dari kehidupannya, supaya kau tak terjebak di keadaan yang sama dengannya. Bude tak bisa menyarankan mu apa-apa lagi, semua keputusan berada di tanganmu sendiri. Karena jika sekarang kau memilih untuk meneruskan ilmu yang selama ini ibumu miliki, kau hanya akan membuat pengorbanan nya sia-sia saja. Terlebih lagi jika kelak kau mempunyai keturunan, maka anakmu itu juga akan menjadi penerus mu. Begitu terus selamanya, garis keturunan mu selamanya akan berada di dalam lingkaran setan." ucap Bude Walimah dengan memeluk Mbak Ayu.
Mbak Ayu hanya terus meneteskan air mata, tak mengucapkan sepatah katapun. Suara ketukan pintu mengagetkan kami, rupanya Tante Ajeng datang mencari Mbak Ayu.
"Dahayu, beberapa kerabat jauh ada yang ingin berpamitan ke kamu. Tapi yang lainnya akan tetap tinggal disini selama beberapa hari, kamu ingat pesan Tante tadi kan Yu?" tanya Tante Ajeng dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Kita bicarakan nanti saja Tante, saat ini Dahayu sedang tak bisa memikirkan apapun."
Keduanya melangkah pergi, kami hanya bisa saling memandang. Wati membuka obrolan, jika aku tak boleh ikut pergi bersama mereka ke Desa.
"Kamu udah beberapa hari gak masuk kerja. Apa kamu gak takut dipecat sama atasanmu? lebih baik kamu tetap disini Ran, berangkat bekerja seperti biasanya. Kan bisa sekalian ngawasin Mbak Ayu kalau terjadi apa-apa." kata Wati menaikan alis mata.
"Masalahnya gak sesepele itu Wati. Aku sangat berhutang budi pada Mbah Karto, beliau sudah banyak menolong ku, aku ingin melihat kondisinya. Jujur saat ini aku lebih mencemaskan beliau dibanding Mbak Ayu, karena saat ini Mbak Ayu sudah mengenakan liontin peninggalan ibunya. Setidaknya ia akan aman untuk beberapa saat ini. Sementara Mbah Karto..." Tak dapat ku lanjutkan kata-kata, karena hatiku terasa pilu membayangkan kondisinya saat ini.
Dengan tegas ku katakan pada Wati dan juga Bude Walimah, jika aku ingin kembali ke Desa bersama mereka.
"Gak masalah jika aku harus kehilangan pekerjaan karena terlalu lama mengambil cuti. Yang terpenting buat Rania adalah melihat kindisi Mbah Karto, dan memastikan beliau baik-baik saja."
"Baiklah Nduk, kalau itu sudah menjadi keputusan mu. Lebih baik kau berpamitan dulu pada Rika, bagaimanapun dia yang berjasa membawamu bekerja di kantornya. Nanti malam baru kita berpamitan pada keluarga ini. Tapi kalian jangan terlalu lama di Desa, kasihan Ayu nantinya, ia pasti akan sangat merasa kesepian. Karena sekarang Bude semakin yakin, jika ada sesuatu yang Dewa maupun Ajeng sembunyikan. Bisa saja keduanya memiliki niat masing-masing, yang jelas hanya Ayu saja yang tak mengerti apapun di rumah ini."
"Tapi sekarang posisi Mbak Ayu gak terlalu lemah loh bu. Mbak Ayu punya pilihan untuk menerima ataupun menolak menjadi penerus ibunya. Wati cuma takut Mbak Ayu salah langkah, karena dendam sama orang yang telah mendesak ibunya untuk mengakhiri hidupnya. Karena kalau seandainya itu terjadi pada Wati, pasti Wati juga akan bimbang bu. Dilema untuk memutuskan, harus ikhlas atau membalas perbuatan orang-orang jahat itu. Kasihan Mbak Ayu, dari kecil terpisah dari ibunya. Sekalinya ketemu udah beda alam." Wati menghembuskan nafas panjang dengan menggelengkan kepala.
"Memang kamu ada benarnya sih, tapi membalas dendam gak akan menyelesaikan masalah. Yang ada Mbak Ayu akan terjebak di lingkaran setan itu, sama seperti mendiang ibunya dulu. Padahal Bu Wayan udah wanti-wanti supaya keturunannya gak mengikuti jejaknya."
"Berarti kau harus menyampaikan pesan ibunya pada Dahayu Nduk."
Ceklek.
"Mbak Ayu kenapa Mbak? bukankah kerabatmu hanya berpamitan padamu? apa lu ingat mendiang ibu lagi?"
"Rania... Gue gak sengaja dengar obrolan anggota kelompok ibu di kamar tamu. Mereka ngomongin keluarga gue yang terlibat dengan kematian ibu. Mereka berbicara jika orang-orang yang selama ini gue anggap keluarga, ternyata sengaja ingin mencelakai ibu. Tapi siapa keluarga yang mereka maksud? gue pernah tinggal bersama beberapa keluarga ibu, selain keluarga Om Dewa. Mereka sama-sama melakukan ritual seperti keluarga ini, siapa yang harus gue curigai Rania?"
"Mbak Ayu sabar dulu ya, sementara kita tunda penelusuran ini. Karena gue belum bisa bantu lu sekarang. Besok pagi kami semua harus kembali ke Desa, ada keluarga kami yang sakit. Gak apa-apa kan Mbak Ayu disini gak ada gue? tapi lu jangan berbuat macam-macam ya Mbak, keselamatan lu benar-benar tetancam sebenarnya. Tapi selama lu pakai liontin ini, InsyaAllah lu gak akan kenapa-napa. Itu pesan yang Bu Wayan katakan, semoga aja semua baik-baik aja. Dan kalau bisa, menurut gue Mbak Ayu gak usah melakukan ritual khusus sama kelompok itu. Jujur aja gue takut kalau Mbak Ayu benar-benar dijadikan sang penerus. Karena kalau itu sampai terjadi, Mbak Ayu selamanya akan terjebak dengan ilmu sesat itu. Banyak korban yang akan berjatuhan, karena diri lu gak akan bisa mengendalikan diri Mbak. Pasti lu akan dituntut melakukan sesuatu diluar kemauan lu. Tapi lu akan tetap melakukan nya, meski bukan atas kemauan lu. Secara gak sadar ada yang mengendalikan jiwa dan raga lu Mbak. Lu bisa ngelakuin apa aja yang lu mau, tentu aja akan ada imbalan berharga yang lu dapat. Tapi harapan gue sih, lu gak akan terjebak dengan ritual itu. Cuma itu yang bisa gue jelasin Mbak, beson pagi sekali kami harus berangkat. Jadi pamitnya sekarang sekalian ya." kataku seraya memeluk Mbak Ayu.
Malam ini perasaan ku sedikit lega, karena aku sudah menyampaikan semua pada Mbak Ayu. Semoga ia mau mendengarkan ucapanku, karena selama beberapa hari ke depan aku tak akan berada di dekatnya. Aku melakukan shalat tahajud, untuk mendoakan keselamatan Mbah Karto yang tak ku ketahui bagaimana kondisinya sekarang. Semoga semua orang-orang baik ini dalam lindungan Yang Maha Kuasa, Amin.
...Dan akhirnya Rania memutuskan kembali ke Desa. Semoga setelah kepulangan Rania ke kota, Mbak Ayu masih tetap baik-baik saja ya 😇...
...Bersambung. ...
Hai othor masih punya rekomendasi cerita yang bagus buat kaliah loh.
Judul : Pesona Sang Diva.
Author : Nezha Ageha
Blurd
Season 1
Bab 1- 127
Menceritakan awal mula dan perjalanan Kasih dalam menemukan tentang keluarga kandung dan balas dendam.
Season 2
Bab 128 - tamat.
Perjalanan cinta Kasih juga beberapa tokoh lainnya. Apakah mungkin masih bisa mempercayai dan menemukan cinta? Siapa lagi sebenarnya musuh yang masih mengganggu ketentraman keluarga ini?Rahasia apa lagi yang di tinggalkan kedua orang tuannya?