Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 204 HILANG KEMANA?


Pagi ini aku bangun terlambat karena semalaman berusaha membujuk Heni. Nampak panggilan tak terjawab dari Pak Bos, dan ada satu pesan darinya yang mengatakan jika aku diminta menemuinya di sebuah restaurant. Karena ada yang harus kami bicarakan mengenai Bu Kartika.


Whuuuusd.


Petter melesat mendatangi ku, ia meregangkan tubuh hampa nya. Dan meminta dibelikan baju baru sesuai janji ku.


"Baiklah tapi nanti ya, kalau urusan ku udah selesai. Kau mau di rumah aja atau ikut pergi bersamaku?"


Petter memegangi dagunya dengan mengaitkan kedua alis mata, ia sedang mempertimbangkan keputusan. Dan akhirnya ia langsung meyusulku keluar kamar, karena ia tak mau sendirian di rumah tanpa ku.


Jam sepuluh pagi aku sudah sampai di Restaurant Pelangi, dan Pak Bos sudah duduk di bangku meja nomor delapan. Ia menceritakan kondisi Bu Purnama yang tidak baik-baik saja. Karena kondisi jantung nya yang benar-benar parah, dan Pak Bos mengungkapkan ide untuk menguak misteri yang sebenarnya.


"Saya pernah mendengar jika orang dalam keadaan koma itu arwahnya meninggalkan tubuhnya. Apakah kau bisa berkomunikasi dengan arwah Bu Purnama?"


"Maksudnya gimana Pak?"


"Kau panggil saja arwahnya dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Jika memang Kartika yang telah mencelakai nya, kita harus mencari bukti untuk menjebloskan nya ke penjara. Bukankah malam itu hantu peliharaan nya Kartika sedang bersamamu di alam gaib. Itu artinya yang mencelakai Bu Purnama bukanlah sosok gaib, dan itu bisa jadi Kartika sendiri yang melakukannya. Jika memang dia adalah pelakunya, kita bisa mencari bukti otentik keterlibatannya. Entah itu sidik jari atau bukti lain yang ia tinggalkan di sekitar lokasi."


Benar juga pendapat Pak Bos, ada kemungkinan Bu Kartika melakukan semua sendiri. Dan artinya kami bisa mencari bukti keterlibatan nya.


"Nanti akan saya coba dulu Pak, kalau begitu saya kembali ke kantor sekarang."


Aku meninggalkan restaurant dan naik taksi online ke kantor. Petter bertanya apa yang akan aku lakukan, tentu saja aku masih bingung tak tau harus melakukan apa. Karena aku sendiri tak tau apa yang terjadi pada Bu Purnama. Sehingga aku tak bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Lalu Petter memberikan ide, supaya aku menggunakan kekuatan ku dan mengirimnya untuk mencari dimana keberadaan arwah Bu Purnama.


"Bukankah menurutmu aneh Ran, karena orang yang tidak sadarkan diri seperti itu biasanya tak akan jauh-jauh dari raga nya. Tapi kita tak melihat jiwa nya di sekitar raganya kan. Apakah mungkin jiwa nya tertahan di suatu tempat. Atau memang ada orang yang sengaja menangkap nya?" Tanya Petter keheranan.


Wah sepertinya benar juga pendapat Petter kali ini. Apakah mungkin Bu Kartika melakukan sesuatu untuk menahan jiwa Bu Purnama, supaya jiwanya tak bisa kembali ke dalam raganya.


"Kak kita sudah sampai tujuan." Ucap supir taksi online mengejutkan ku.


"Oh iya Pak maaf saya tadi melamun." Kataku seraya membayar ongkos.


Aku berjalan masuk ke Lobby, nampak Beny sedang mondar-mandir di depan pintu masuk. Ia sepertinya ada masalah, karena tangannya terus sibuk dengan ponselnya.


"Ben lu ngapain diluar sini? Siapa yang lu tunggu sih?"


"Gue lagi ngehubungin Silvia nih Ran, dua jam lagi kita ada liputan. Tapi dari pagi dia gak bisa dihubungi. Ponselnya mati, makanya gue bingung soalnya semua berita acara dia yang bawa."


"Mungkin dia sakit kali, coba aja hubungi tempat kost nya."


Aku meninggalkan Beny di Loby, karena aku harus menyelesaikan artikel untuk sebuah acara televisi. Kali ini Petter tak bermain-main, ia sedang sibuk membuat gambar di selembar kertas. Untung saja hanya aku yang dapat melihatnya, kalau tidak semua orang akan panik melihat nya.


"Liputan apa Mbak?"


"Itu loh Ran pembunuhan berantai, yang korbannya masih keluarga si tersangka sendiri. Kemarin Beny sama Silvia udah kesana, tapi sekarang Silvia malah gak ada kabar. Padahal semalam dia yang memutuskan buat pulang belakangan karena ada wawancara sama pihak keluarga korban. Tapi sampai sekarang Silvia masih belum setor hasil liputan kemarin. Padahal kita harusnya release hari ini, bisa-bisa kita ketinggalan dari media lain!"


Tiba-tiba Beny datang dan memberitahu jika Silvia belum kembali ke kostan sejak kemarin. Padahal menurut Beny, semalam Silvia sudah berada di stasiun Bogor untuk menuju ke Jakarta.


"Nih lihat aja chat nya masih ada loh." Beny menunjukkan pesan terakhir Silvia yang memperlihatkan foto jika ia sedang menunggu kereta di peron.


"Duh Ben kok perasaan gue jadi gak enak gini ya!" Seru Mbak Rika dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Emang apa yang lu pikirin sih Mbak?"


"Takutnya dia kena begal atau diculik orang. Secara lu gak lihat tuh Silvia kirim foto jam berapa? Udah hampir tengah malam loh, kalau ada yang jahatin dia gimana?"


"Eh iya juga ya Mbak! Tengah malam emangnya masih ada kereta jurusan Bogor Jakarta ya?"


Hmm aku terdiam mendengar pertanyaan Beny. Kereta terakhir dari Bogor ke Jakarta bukannya jam 22.45. Sedangkan foto yang dikirim Silvia sudah jam 23.20. Kok aku jadi ngerasa janggal yah.


"Mbak dulu gue pernah naik kereta terakhir dari Bogor ke Jakarta sekitar jam 22.45, tapi ini Silvia masih di peron loh jam sebelas malam lebih. Apa dia gak ketinggalan kereta tuh?" Kata ku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Dih Ran, lu bener juga ya. Kok gue jadi hawatir nih, takutnya ada apa-apa sama Silvia." Ucap Mbak Rika dengan peluh yang membasahi kening nya.


"Jadi artinya Silvia gak jadi naik kereta dong? Terus dia balik ke Jakarta naik apa ya. Karena setelah semalam dia gak ada ngasih kabar lagi loh." Celetuk Beny menghembuskan nafas panjang.


Mbak Rika memerintahkan aku dan Beny untuk pergi ke Bogor naik mobil kantor saja. Supaya setelah liputan selesai, kami dapat langsung mencari tahu dimana keberadaan Silvia.


"Kalian coba ke Stasiun Bogor dulu, minta ke petugas buat lihat rekaman cctv. Jelasin aja kalau salah satu staf kita hilang kontak setelah mengirimkan foto berada di peron Stasiun. Pasti kan ada tuh rekaman cctv nya, kali aja kalian dapat petunjuk setelah lihat rekaman nya. Gue takutnya Silvia ketemu orang jahat, secara kan itu udah tengah malam banget loh."


"Mungkin setelah Silvia tau gak ada kereta lagi, dia pergi naik transportasi yang lain, dan kita bisa menyelidiki dia pergi dari stasiun naik apa dan kemana. Bener kan gitu maksud lu Mbak?" Tanya Beny dengan menjentikkan jari nya.


"Iya bener begitu. Ya udah sono kalian buruan berangkat biar cepetan kelar liputan nya dan bisa cari informasi ke Stasiun!" Titah Mbak Rika seraya berkacak pinggang.


"Lah terus artiket yang gue kerjain gimana Mbak? Gue baru aja mau mulai loh!"


"Udah tinggalin aja, biar orang lain yang selesaiin artikel nya. Siapa tau kalau lu yang pergi meliput ada berita menarik yang lu dapatin. Secara kan ini kasus pembunuhan, pasti akan ada hal-hal mistis yang terjadi selama proses investigasi. Mungkin lu bisa ketemu arwah korban, yang bisa menjelaskan bagaimana dia tewas dibunuh."


Astaga lagi-lagi aku harus berurusan dengan hal-hal gaib seperti itu. Padahal kan seharusnya bukan tugas ku meliput berita itu. Karena Silvia yang tak tahu entah dimana, aku terpaksa mengambil alih pekerjaan nya.