
"Udah yuk balik aja, dingin banget loh disini!" Seru Mbak Ayu seraya menarik tanganku.
"Aneh. Kemana pocong itu pergi ya."
"Mungkin lu salah paham, dia cuma mau pergi menembus tembok doang. Tapi lu pikir dia pergi kesini."
Mungkin Mbak Ayu benar, kalau pocong Dinar pergi entah kemana. Kami memutuskan kembali ke kost, untuk istirahat. Tapi begitu kami kembali ke kostan, nampak beberapa orang sedang mengambil barang-barang di rumah utama. Kami tercengang melihat nya, dan bergegas mendatangi orang-orang itu.
"Loh Pak, kalian siapa? Kenapa tengah malam angkut barang di rumah orang tanpa permisi. Apa kalian maling ya?" Ucap Mbak Ayu dengan suara lantang.
Terdengar suara langkah kaki dari belakang kami. Ternyata ia adalah orang-orang yang diminta Tante Ajeng untuk mengambil barang-barang di rumah utama.
"Kalian bisa tanya pada Tante Ajeng, ia ada di dalam sana." Kata seorang lelaki berkaos hitam itu.
Tak jauh dari sana, nampak penampakan pocong Dinar berdiri mengawasi orang-orang yang mengangkut barang ke dalam mobil pickup. Tak ku hiraukan sosok itu, dan mengikuti Mbak Ayu masuk ke dalam rumah utama. Nampak Tante Ajeng sedang mengemas barang-barang di dalam kamarnya.
"Tante sebenarnya ada apa ini? Kenapa Tante mengemasi semua barang-barang?"
"Semua karena ulah Om Dewa, Tante terpaksa meninggalkan rumah ini." Tante Ajeng tak melanjutkan kata-katanya, ia duduk di kursi dengan berlinang air mata.
Aku dan Mbak Ayu kebingungan mendengar penjelasan Tante Ajeng. Karena ia masih tak melanjutkan ucapannya.
"Tante Ajeng baru tahu, jika Om Dewa telah lancang menggadaikan sertifikat rumah ini pada mendiang Ibumu. Dan pengacaranya menghubungi Tante, meminta Tante meninggalkan rumah ini. Karena sesuai perjanjian, jika Om Dewa tak dapat melunasi hutangnya, rumah ini akan menjadi milik mendiang Ibumu. Tapi sekarang Ibumu telah tiada, dan pengacara yang licik itu mengklaim jika rumah ini telah diwariskan untuk anak tiri mendiang Ibumu. Kita harus meninggalkan rumah ini Dahayu."
"Tapi aku ini anak kandung Ibu Tante! Mereka gak bisa seenaknya mengusir kita. Dahayu akan usut ini sampai tuntas, Tante gak perlu meninggalkan rumah ini dulu." Pungkas Mbak Ayu dengan raut wajah kesal.
Meski aku yakin, jika di usut secara hukum Mbak Ayu lebih berhak mendapatkan apapun peninggalan mendiang Ibu nya. Jadi aku tak terlalu hawatir, dan meninggalkan mereka berdua untuk mengobrol. Fokus ku justru pada sosok pocong Dinar. Kenapa ia melihat ke arah orang-orang yang mengangkut barang-barang. Karena ingin tahu, aku pergi keluar dan berkomunikasi dengan pocong itu lagi. Aku berdiri tepat di samping nya, dan bertanya langsung padanya.
"Kenapa kau menghilang begitu saja, dan tiba-tiba ada disini mengawasi orang-orang itu?"
"Beberapa dari mereka adalah anggota berjubah hitam itu. Aku akan membalaskan dendam pada mereka!" Kata pocong itu membulatkan kedua matanya yang memerah.
"Kata Tante Ajeng, kita bisa tetap tinggal disini kalau kita mau. Karena ada kemungkinan, gue yang akan mendapatkan hak waris peninggalan mendiang Ibu. Tapi aneh nya, Tante Ajeng bersikeras meninggalkan rumah ini. Kok kayak ada yang janggal ya Ran. Kayak ada yang disembunyikan Tante Ajeng, dan gue gak tahu apa. Besok gue bakal cari tahu mengenai rumah ini, apa benar Om Dewa udah gadaiin sertifikat nya ke Ibu gue."
Di tengah-tengah obrolan itu, pocong Dinar melesat pergi mendekati seorang lelaki berkaos hitam. Sorot mata pocong itu begitu menakutkan ketika menatap lelaki itu. Sebenarnya tujuannya menunjukkan masa lalu nya padaku untuk apa, jika ia tetap ingin membalaskan dendam.
"Mbak. Gua jadi bingung nih, bukannya Om Dewa adalah ketua kelompok penganut ilmu hitam yang di gedung terbengkalai itu. Apa menurut lu Tante Ajeng gak tahu? Gimana kalau kita coba tanya. Kalau Om Dewa yang jadi pemimpin disana, harusnya dia punya banyak uang kan Mbak. Masak gak bisa ngelunasin hutang?"
"Lu bener juga sih Ran. Yuk kita samperin Tante Ajeng sebelum dia pergi."
Mbak Ayu langsung menarik tanganku begitu saja. Padahal ia mengenakan kebaya, seharusnya ia kesusahan berjalan. Tapi ia terlihat lancar berjalan dengan menarik ku.
"Ada apa lagi Dahayu?" Ucap Tante Ajeng di depan pintu. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat kami masuk kembali ke rumah utama.
Tanpa basa-basi Mbak Ayu mengatakan semua mengenai Om Dewa. Kami memang tak begitu jelas melihatnya sewaktu peristiwa penyiksaan Pak Darman. Tapi kami yakin, jika seseorang di balik jubah itu adalah Om Dewa.
"Setahu Dahayu, Om Dewa menjadi pemimpin kelompok penganut ilmu hitam. Apa Tante tahu itu? Sejak peristiwa kematian Agus, Tante Ajeng juga meninggalkan rumah ini. Apa sekarang Tante Ajeng sudah bekerja sama dengan Om Dewa?"
"Kau bicara apa Dahayu? Bukankah kau tahu kalau Om Dewa menginginkan posisi mu sebagai penerus ilmu Leak. Untuk apa ia mempraktikkan ilmu hitam itu. Dan Tante juga udah lama gak ketemu sama Om mu itu. Tante meninggalkan rumah malam-malam begini untuk menghindari omongan para tetangga. Itu saja Yu!"
Penjelasan Tante Ajeng masih tidak bisa kami percaya begitu saja. Tapi kami juga tak bisa memaksanya.
"Tante. Maaf kalau kami terkesan tak percaya dengan penjelasan nya. Tapi kami juga punya alasan tersendiri, kenapa kami sampai bicara seperti ini. Setelah pindah dari sini, Tante mau tinggal dimana?"
"Kau tahu kan Dahayu, kalau Tante memiliki beberapa rumah. Dan hanya tersisa satu rumah di Bandung. Jadi Tante akan tinggal disana. Mengenai Om Dewa, Tante benar-benar tak tahu apa-apa. Kalau kau berhas mendapatkan rumah ini, tolong dijaga sebaik mungkin ya Yu. Rumah ini sangat berharga buat Tante." Pungkasnya dengan wajah sendu.
Tak banyak yang kami bicarakan, setelah itu Tante Ajeng pergi bersama orang-orang yang mengangkut barang-barang nya. Aku melihat pocong itu melesat pergi mengikuti mereka.
"Mbak, ada yang belum gue ceritain ke lu. Dan ini mendadak banget. Lu tahu pocong tadi kan, yang kafan nya bernoda darah? Dia mau balas dendam sama orang-orang yang telah menyebabkan nya meninggal. Orang yang makai kaos hitam tadi salah satu pelakunya. Kasihan dia disiksa sampai akhir hidupnya. Dan kemungkinan dia itu korban buat persembahan yang dipakai buat kelancaran pembangunan perumahan. Dan pelakunya lelaki yang dicintai tuh pocong. Kayaknya dia dapat imbalan uang banyak, karena udah ngasih persembahan."
Mbak Ayu diam sejenak, ia merasa tak tenang setelah mendengar ceritaku. Jadi apa hubungan Tante Ajeng dengan lelaki berkaos hitam tadi. Karena ia adalah salah satu anggota kelompok sesat itu, dan Tante Ajeng datang bersamanya. Jangan-jangan kedatangan nya ke rumah ini untuk menghilangkan jejak. Dan ia memang bagian dari kelompok yang sama. Kami jadi menerka-nerka, kemungkinan yang paling masuk akal hanya itu saja. Lantas apa benar, cerita Tante Ajeng mengenai rumah yang sertifikat nya digadaikan Om Dewa. Pertanyaan ini hanya akan terjawab besok, ketika Mbak Ayu menemui pengacara mendiang Ibunya.