
Aku bersama Pak Jarwo kini berhadapan langsung dengan Pak Warto dan Wening. Sementara Mbok Genuk masih berusaha melumpuhkan si merah. Entah apa yang terjadi selanjutnya, karena aku tak bisa fokus melihat ke arah lain. Di hadapan ku sudah berdiri Wening yang sedang membaca rapalan mantra. Di usianya yang masih muda ini, Wening sudah fasih dengan rapalan mantra dan ilmu hitam. Aku pun tak mau gentar melawannya, meski dia adalah cucu Mbok Genuk. Terlihat ia menyeringai angkuh seraya mengeluarkan energi dari telapak tangannya, dan mengarahkan nya kepadaku. Aku membaca ayat-ayat suci seraya memegangi liontin yang menggantung di leher. Tubuhku terasa sangat ringan hingga mampu melesat seperti dengan mudahnya. Aku tak perlu meninggalkan ragaku untuk bisa menggunakan kekuatan ini. Ku tangkis energi yang Wening arahkan padaku. Energi dengan aura hitam mengeluarkan asap terbang tiada henti ingin melukai diriku. Aku tak bisa hanya terus menangkis serangannya, tapi bagaimana mungkin aku mampu melukai Wening di hadapan neneknya sendiri. Aku tak mampu melukai batin Mbok Genuk, karena nantinya ia pasti akan sangat terluka. Di tengah-tengah kebimbangan ku, ternyata Wening memanfaatkan kelalaian ku dan menyerang ku dari belakang.
Bruuugh.
Tubuhku terpental ke tanah, sampai ulu hati ku terasa sakit. Ku pegangi sebelah dada dengan menahan sakit yang tak tertahankan. Tak berselang lama, Mbok Genuk pun akhirnya melesat ke arahku. Ia berbisik di telinga ku untuk tak ragu menyerang Wening meskipun ada ia di dekatku. Nampak merah dan Wening ada di depan kami, keduanya tersenyum merasa sudah menang.
"Kau tak perlu menjaga perasaan ku Nduk. Aku tau kau mampu menghadapi Wening, dan bisa dengan mudah mengalahkannya. Jangan hiraukan diriku, meskipun aku memohon padamu untuk menyelamatkan nyawanya. Serang lah Wening tanpa ragu, aku akan membinasakan merah semampuku Nduk." Ucap Mbok Genuk dengan suara yang bergetar.
Aku hanya menganggukkan kepala menanggapi ucapan Mbok Genuk. Kemudian ku pejamkan kedua mata seraya membaca ayat-ayat suci dengan memegangi tasbih di tanganku. Perlahan energi hangat mengalir ke seluruh tubuhku. Aku mendapatkan energi lain dari tasbih pemberian Eyang, perlahan rasa sakit di ulu hati ku mereda bahkan menghilang sama sekali. Ku kecup punggung tangan Mbok Genuk untuk mendapatkan keikhlasan dan restu darinya. Mbok Genuk menyunggingkan senyum seraya meminta ku untuk segera bangkit berdiri. Sementara ia langsung mengeluarkan tali panjang yang tersembunyi di gelungan konde nya. Tali panjang yang begitu ia hentakan ke tanah berubah menjadi seekor ular dengan sisik berapi. Yang langsung ia pecutkan ke arah si merah.
Bluuugh.
"Jika kau mau, kau bisa membinasakan gadis sesat itu! Tapi aku tau, kau tak mau melukai batin Genuk, buatlah gadis itu kehilangan semua kekuatan nya. Pergunakan lah sisa energi dari liontin pemberian ku, buatlah gadis itu lengah dan kalungkan liontin itu padanya. Liontin pemberian ku akan menyerap semua energi dan kekuatan jahat di dalam tubuhnya. Tapi setelah itu semua kekuatan jahatnya akan tersimpan di dalam liontin itu. Jadi kau harus pandai mengendalikan diri supaya tak terpengaruh kekuatan jahat yang tersimpan di dalam liontin itu. Ikutilah petunjuk ku, supaya kau lebih mudah menaklukkan kekuatan jahat dalam diri cucu Genuk." Bisik Pangeran Jin Muslim yang tak ku tau berada dimana.
"Kenapa kau diam saja hah? Sudah lelah hanya karena menghadapi para demit rendahan itu? Aku belum benar-benar mengeluarkan semua kekuatan ku, dan kau sudah lelah?" Pekik Wening menyeringai seraya berkacak pinggang.
"Tak perlu menyombongkan diri jika memang kau sehebat itu. Apa kau lupa istilah tong kosong bunyinya nyaring. Seperti itulah dirimu Wening, kau hanya bisa berkoar-koar tanpa menunjukkan kehebatan mu. Bagiku semua yang kau tunjukkan malam ini hanyalah pemanasan buat ku. Lihatlah Pakde mu sedang bersusah payah melawan Pak Jarwo. Sementara nenekmu sudah berhasil melumpuhkan si merah. Sekarang dia akan benar-benar musnah di tangan nenekmu sendiri!" Kataku mengecoh Wening.
Nampak Wening terpengaruh dengan ucapanku. Ia kebingungan melihat ke arah Pakde nya, dan juga si merah. Kebetulan sekali Pak Jarwo telah menemukan titik lemah Pak Warto, dan ia sedang tumbang di tanah setelah Pak Jarwo mendorong tubuhnya dengan tenaga dalam. Wening pun dilanda kecemasan melihat Pakde nya berguling di tanah. Aku sedang menunggu disaat ia sedang lengah untuk mengalungkan liontin yang sudah ada di genggaman tangan ku. Semoga ini adalah pertarungan pertama dan terakhir yang terjadi di antara kami.