
Yang kami tunggu akhirnya tiba, nampak Agus berjalan dengan membawa satu kardus yang penuh debu. Agus meletakkan kardus itu di lantai dan membukanya, ia mengambil satu persatu benda yang ada di dalamnya. Lalu ia menyerahkan beberapa bungkusan yang di ambilnya dari kardus pada Tante Ajeng.
Tante Ajeng menundukkan kepalanya, bulir-bulir bening menetes dari kedua matanya. Ia membuka bungkusan usang, dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Nampak sebuah baju bayi, dan beraneka barang-barang bayi yang masih sangat kecil. Ada kaus kaki dan sepatu mungil, Tante Ajeng memeluk barang-barang itu dengan berderai air mata pilu. Lalu ia mengeluarkan album foto dan membukanya di atas meja. Terlihat potret-potret kebahagiaan pasangan muda yang baru saja dikaruniai seorang keturunan. Tante Ajeng mengusap foto bayi yang ada di dalam album itu. Kini kegundahan hati Tante Ajeng sudah tak terbendung, ia meraih album foto itu dan mengecupnya dengan air mata yang deras.
"Sudah Tante, tolong tenangkan diri. Kalau seperti ini yang ada Om Dewa bisa terbangun, dan usaha kita akan sia-sia." ucap Agus dengan mengusap punggung Tante Ajeng.
Aku dan Wati hanya bisa diam tak berkata apapun. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, aku mengenali foto pasangan muda di album itu. Dan bayi yang mereka gendong, nampak tak asing di mataku.
Setelah memenangkan dirinya, Tante Ajeng mengusap air matanya. Ia meletakkan kembali album foto itu di atas meja, lalu ia memberi perintah pada Agus untuk masuk ke dalam. Perintah dengan gestur tubuh itu dipahami oleh Agus, lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah. Nampaknya Agus diperintahkan untuk menjaga situasi, hawatir jika Om Dewa keluar dari kamarnya.
Sekarang Wati makin penasaran dengan gelagat aneh keduanya, ia menyenggol kaki ku memberi kode kecurigaan nya. Aku yang memahami maksud Wati hanya bisa memberi lode dengan kedipan mata, untungnya Wati memahami ku, dan ia diam menunggu penjelasan dari Tante Ajeng.
"Pasti kalian ingin tahu kenapa Tante menjadi rapuh begini. Kalian lihat foto di album ini, ini adalah potret bahagia di awal pernikahan Tante dan Om Dewa. Tiga bulan setelah pernikahan kami diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan. Setelah sembilan bulan lebih lima hari Tante mengandung, akhirnya buah hati yang kami tunggu telah lahir. Tak berselang lama, Ibu dari Om Dewa meninggal. Dan dari situlah awal mula petaka terjadi." kata Tante Ajeng dengan menghembuskan nafas panjang.
Tante Ajeng melanjutkan ceritanya dengan raut wajah memilukan. Sesekali ia terisak dengan memeluk baju bayi yang ada di tangannya.
"Sebenarnya keluarga Om Dewa memiliki ilmu yang harus diturunkan secara turun temurun. Dan setelah Ibunya meninggal, harus ada keturunannya yang mewarisi ilmu itu. Harusnya Om Dewa yang ditunjuk sebagai penerus, tapi ia tak sanggup mengemban tanggung jawab sebesar itu. Jadilah Kakak perempuan nya yang mewarisi ilmu itu, banyak serangkaian ritual persembahan yang dilakukan. Hingga akhirnya Kakak perempuan Om Dewa menjadi penerus ilmu dan pemangku ritual. Tapi yang kami sembah tak merelakan Om Dewa begitu saja, ia meminta penebus jiwa. Karena saat itu anak dari Kakak perempuan Om Dewa diharuskan menjadi penerus selanjutnya, ia tak bisa dikorbankan sebagai penebus jiwa. Hingga akhirnya bayi kami yang terpilih sebagai persembahan. Tante harus merelakan bayi yang baru saja mengisi hari-hari Tante dengan kebahagiaan, untuk dijadikan persembahan sebagai penebus jiwa Om Dewa. Tante tak punya pilihan lain, dengan terpaksa Tante merelakan keturunan kami untuk diserahkan sebagai persembahan. Waktu itu Om Dewa memaksa Tante, hanya dengan satu keturunan kami, bisa menyelematkan keturunan kami yang lainnya. Karena jika kami tidak memberikan bayi itu, Om Dewa ataupun keluarga nya bisa dalam masalah besar, karena murka makhluk yang disembah nya. Sejak saat itu Tante dan juga keluarga melakukan ritual yang sama, dengan harapan menjaga keluarga Tante dari hal-hal yang tak diinginkan." jelas Tante Ajeng dengan berderai air mata, ia sesegukan dengan mengecupi foto bayinya.
Aku dan Wati ikut hanyut dalam duka Tante Ajeng. Sangat wajar sebagai seorang Ibu, ia merasakan penderitaan yang sebegitu besarnya.
"Apa yang Tante Ajeng maksud adalah menyembah sosok Leak?" celetuk Wati mengejutkanku, ia tak ragu untuk bertanya pada Tante Ajeng. Padahal aku saja belum berani mengatakan apapun, karena tak tega melihat dukanya.
Ya, mungkin Wati penasaran dan tak dapat menahan rasa ingin tahu nya. Sedangkan aku yang pernah melihat kejadian seperti itu hanya bisa menundukkan kepala, karena tak kuat hati melihat kejadian keji itu.
"Eh. Jangan-jangan kejadian di masa lalu itu adalah masa lalu Tante Ajeng dan Om Dewa. Ja jadi mereka yang selama ini aku cari? dan Kakak perempuan mereka adalah Bu Wayan Sukmawati? lalu anak Bu Wayan yang di asuh adiknya adalah Mbak Ayu? astaga kenapa aku tak memahami semuanya dari awal?" batinku di dalam hati dengan menghembuskan nafas panjang.
"Mereka yang menyembah sosok itu memiliki keinginan yang beraneka ragam. Kami berkelompok melakukan ritual persembahyangan sebelum melakukan persembahan untuk sosok itu. Sosok itu bisa menjadi baik ataupun jahat, tergantung dari pemujanya." ucap Tante Ajeng dengan memandangku penuh tanya.
"Rania. Tante tahu kau menyembunyikan sesuatu, bicaralah apa yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini. Dan menurut Agus, kau mengetahui sesuatu yang sangat penting. Bisakah kau katakan semuanya pada Tante?"
Perasaan ku campur aduk, kenapa aku merasa was-was harus menceritakan segalanya pada Tante Ajeng. Meski kini aku tahu yang sebenarnya, tapi aku harus memastikan jika apa yang ada di dalam pikiran ku memang benar adanya. Lalu aku menceritakan segalanya pada Tante Ajeng, tentang penemuan mayat tanpa kepala di gedung tua itu. Ku jelaskan pula jika aku menemukan kotak tua, yang berisi surat wasiat untuk Ketut Dewangga. Dan ada barang-barang yang ia wariskan untuk keturunannya, seorang anak yang di asuh oleh adiknya.
"Apa ada sesuatu di dalamnya? liontin atau kalung atau benda lainnya?" tanya Tante Ajeng dengan membulatkan kedua matanya.
"Darimana Tante Ajeng bisa menebak itu? aku jadi makin yakin, jika penglihatan yang selama ini ditujukan padaku, memang berhubungan dengan keluarga ini." batinku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Aku tak langsung mengatakan benda apa yang ada di dalam kotak itu. Sengaja aku mengatakan jika benda yang ada di dalamnya belum sempat ku lihat, karena kotak itu berada di tangan pihak kepolisian.
"Loh kata Agus kau yang menemukan nya Rania?" kata Tante Ajeng dengan raut wajah cemas.
"Iya itu memang benar, tapi Polisi mengambil kotak itu sebagai barang bukti. Dan ada satu hal yang masih mengganjal di pikiran ku, apakah benar Om Dewa adalah Ketut Dewangga, adik dari Bu Wayan Sukmawati? kalau itu benar, berarti Mbak Ayu adalah anak dari Bu Wayan?" ucapku dengan jantung yang berdegup kencang.
Nampak Tante Ajeng hanya menganggukan kepala dengan wajah putus asa. Entah apa yang sedang mengganggu pikiran nya saat ini, ia memintaku untuk dipertemukan dengan Polisi yang menyimpan kotak tua itu. Aku jadi semakin bingung harus berkata apa pada Tante Ajeng. Karena sejujurnya ada firasat lain, aku belum sepenuhnya percaya dengan cerita Tante Ajeng.
...Apakah Tante Ajeng memiliki niat lain dari penjelasan nya malam ini? atau ia memang ingin membantu mengungkap rahasia tersembunyi? menurut kalian bagaimana teman-teman? yuk sharing di kolom komentar. ...
...Bersambung....