Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 162 PENJELASAN?


"Salam Ibunda." Ucap Senopati menyunggingkan senyumnya.


"Iya anakku, bagaimana jawaban dari romo mu?"


"Seno sudah menyampaikan permintaan tolong Ibunda. Tapi menurut beliau permintaan Ibunda terlalu berat. Dan romo ingin mengetahui secara langsung, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah Ibunda bersedia menemui romo?"


Nampak Lala hanya menundukkan kepalanya, nampak tangannya gemetaran. Dan Senopati pun meraih tangan Ibunda nya lalu menggenggam nya erat.


"Jika Ibunda merasa berat hati untuk bertemu dengan romo, lebih baik Ibunda urungkan saja niat itu. Seno yang akan menemani Ibunda untuk berbicara dengan romo, jadi semua alan berjalan dengan lancar sesuai harapan Ibu."


Aku dan Mbak Ayu hanya diam melihat pertemuan keduanya. Ibu dan anak itu terlihat saling menyayangi, meski alam mereka berbeda. Jika dilihat oleh mata orang lain, Senopati lebih cocok menjadi pasangan nya. Padahal yang sebenarnya keduanya adalah Ibu dan anak.


Seperti Lala sudah mengambil keputusan, ia mengatakan siap untuk bertemu dengan mantan suami gaibnya. Dan ia memberikan syarat, supaya Senopati tetap mendampingi nya ketika ia bertemu dengan Elang.


"Kalian temenin aku juga ya, supaya aku tak gugup dan fokus pada tujuan kita." Pungkas Lala menatap ku dan juga Mbak Ayu.


Setelah itu Lala mengenalkan Mbak Ayu dengan Senopati. Nampak Mbak Ayu kagum melihat sikap Senopati yang sopan santun dan penuh kasih sayang pada Ibunda nya. Mbak Ayu memuji sikap Senopati, karena menurutnya bangsa gaib tak biasanya bersikap sehalua itu.


"Mungkin karena dia setengah manusia kali ya!" Seru Mbak Ayu dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Sebenarnya sebelum aku meninggalkan alam gaib, Senopati sering mempelajari banyak hal dariku. Kebiasaan dan pola pikir manusia pada umumnya, karena dulu aku sempat mengira bisa membawanya untuk hidup di alam manusia. Tapi ternyata takdirnya sebagai penerus romo nya harus terus berlanjut, karena ia seorang lelaki."


"Wah keren lu Sen, btw lu udah punya pendamping di alam gaib sana?" Tanya Mbak Ayu seraya menepuk pundak Senopati.


Nampak Senopati mengaitkan kedua alis matanya, menatap heran dengan sikap Mbak Ayu yang terasa asing baginya. Aku pun menahan tawa, melihat reaksi keduanya yang sama-sama keheranan.


"Apakabar mu Seno? Jika kau berkenan, bisakah kau menolong ku? Aku ingin mengetahui kabar penjaga ku di alam gaib. Aku membutuhkan Malik di samping ku, tapi ia tak pernah menemui ku lagi!" Kata ku dengan menundukkan kepala.


Senopati menyunggingkan senyumnya, ia meminta ku untuk tak terlalu bergantung pada Malik.


"Kondisinya sedang tidak baik-baik saja, lebih baik kau melupakan nya. Malik sudah melanggar aturan alam gaib, dan raja di alamnya sedang menghukum nya. Ia tak akan bisa meninggalkan alamnya, sampai masa hukuman nya berakhir!" Jelas Senopati dengan suara tegas.


Kami semua terdiam mendengar penjelasan nya. Aku bahkan tak percaya, jika Malik yang sangat baik hati itu sampai melakukan kesalahan di alam nya.


"Memang apa yang Malik lakukan sampai dia mendapatkan hukuman seberat itu?"


"Dia melanggar aturan perjanjian wilayah di alam gaib. Karena kau membawa perempuan itu ke Desa ini, Malik harus melanggar aturan yang sudah dibuat oleh para penguasa." Kata Senopati menunjuk ke arah Mbak Ayu.


"Hah! Kenapa gue? Gue gak tahu apa-apa Ran, sumpah demi apapun!" Sahut Mbak Ayu dengan wajah kebingungan.


Kemudian Senopati melanjutkan ceritanya, jika ia mendengar kabar Malik setelah ia berkunjung ke kerajaan tempat dimana Malik tinggal. Sang raja mengatakan jika Malik telah melukai sosok berpengaruh yang ada di wilayah lain.


"Sosok itu adalah bagian dari kelompok perempuan itu. Mereka datang ke Desa ini untuk membawanya pergi. Tapi saat itu, Mbah Karto dan juga Malik sedang dalam misi mempertahankan keamanan Desa dari para pengikut Leak. Sampai akhirnya Malik mencelakai beberapa sosok yang berpengaruh, dan ia juga terluka setelah melakukan perlawanan itu. Saat kondisinya membaik, raja nya memberikan hukuman pada Malik. Ia harus mendekam di dalam tahanan, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya. Seandainya kau tak pernah membawa perempuan itu ke Desa ini, baik Mbah Karto ataupun Malik mungkin akan baik-baik saja!" Jelas Malik menatap sinis pada Mbak Ayu.


"Jadi lu nuduh gue sebagai biang masalah hah?" Pekik Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.


Sepertinya situasi sudah mulai tak kondusif, aku hawatir jika Mbak Ayu tersinggung dengan ucapan Senopati dan terjadi pertikaian di antara mereka berdua. Aku dan Lala bertukar posisi, Lala bertugas untuk mendapatkan informasi dari anaknya. Sementara aku mengajak Mbak Ayu pergi meninggalkan keduanya.


"Lu ngapain bawa gue pergi dari sana Ran? Gue kira anak gaib Lala sebaik Ibu nya, gak tahu nya mulutnya tajam kayak setan!"


"Sabar Mbak! Gue kan udah bilang, lu harus kontrol emosi. Senopati gak ada maksud buat nuduh lu kok. Dia cuma nyeritain apa yang telah terjadi, dan apa yang gak kita tahu selama ini. Bukankah wajar kalau dia nyebut lu adalah bagian dari kelompok Leak? Jadi untuk apa lu tersinggung Mbak. Percaya sama gue, Senopati gak bermaksud nuduh lu!"


Mbak Ayu tak langsung mengatakan sesuatu, ia hanya diam dengan menghembuskan nafas panjang. Sepertinya ia sedang berusaha mengendalikan emosinya. Aku memberikan nya waktu untuk menenangkan diri, supaya ia bisa berpikiran jernih. Tak lama Lala mendatangi kami, ia meminta maaf pada Mbak Ayu karena sikap blak-blakan anaknya.


"Mbak atas nama anakku, aku meminta maaf jika ia telah menyinggung mu. Senopati hanya tak tahu bagaimana caranya bicara secara halus. Ia mengikuti pola pikir romo nya, karena itulah ia mengatakan semua tanpa memperdulikan perasaan mu." Ucap Lala dengan wajah sendu.


Hening. Tak ada jawaban dari Mbak Ayu, sampai akhirnya Senopati melesat ke arah kami. Ia mendekati Mbak Ayu lalu mengutarakan penyesalan nya.


"Maaf jika perkataan ku telah menyinggung mu. Ibunda sudah menjelaskan padaku, jika aku tak seharusnya mengatakan semuanya di hadapan mu!" Ucap Senopati tertunduk.


"Baiklah, gue paham dengan penjelasan lu. Gak usah minta maaf, karena apa yang lu omongin emang ada bener nya." Kata Mbak Ayu seraya mendongakan wajahnya ke atas.


Aku dan Lala mendekati keduanya, untuk mencairkan suasana. Kemudian aku meminta Mbak Ayu untuk masuk lebih dulu ke rumah. Karena aku harus melanjutkan pembicaraan ku dengan Senopati.


"Ran aku ke dalam sama Mbak Ayu ya. Nak Ibu pergi dulu. Besok Ibu harus melakukan perjalanan ke Curug banyu dowo. Tolong awasi semua penghuni gaib disana, supaya Ibu dan Rania dapat melakukan perjalanan dengan aman." Pinta Lala sebelum akhirnya pergi meninggalkan ku dan Senopati.


Aku kembali melanjutkan pembicaraan mengenai Malik. Aku meminta tolong pada Senopati untuk menyampaikan salam ku pada Malik.


"Tolong katakan pada Malik, untuk tak menghawatirkan ku lagi. Jelaskan padanya, jika aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Aku tak ingin ia mencemaskan ku, karena ingin menjaga keselamatan ku, ia sampai melupakan keselamatan nya sendiri."


"Baiklah, kau tenang saja. Malik adalah sosok yang kuat, ia pasti akan baik-baik saja. Setelah ini mungkin kau tak akan bisa bertemu lagi dengannya. Lanjutkan saja kehidupan mu dan lupakan semua kenangan di masa lalu."


"Hah masa lalu? Memangnya apa yang kau tahu mengenai masa lalu ku?"


Senopati diam tak melanjutkan kata-katanya. Entah kenapa aku merasa ada yang disembunyikan oleh Senopati. Sepertinya ia mengetahui sesuatu mengenai kehidupan masa lampau ku. Apa sebaiknya aku memaksanya untuk berbicara ya. Tapi tiba-tiba sekelebatan bayangan mengejutkan kami. Seketika Senopati membulatkan kedua matanya waspada.