
Mbak Ayu memundurkan langkah, ia sudah membuka kedua matanya. Nampak kelopak mata yang sembap, sudah dapat ku pastikan jika ia memang melihat sesuatu yang menyedihkan.
"Lu lihat sesuatu Mbak? Apa yang sebenarnya terjadi? Kok lu diem aja sih Mbak, ya udah biar gue lihat sendiri aja!"
Mbak Ayu menarik tanganku, ia menggelengkan kepala melarang ku melihat melalui batin. Semakin ia melarang, justru aku semakin penasaran. Aku langsung menggunakan mata batin ku kembali. Dan sesuatu yang buruk memang benar-benar terjadi tepat di kamar yang sedang kami gunakan hari ini.
Tiga hari setelah ia meminta bantuan pada pegawai hotel. Ia diberitahu jika suaminya kembali datang ke hotel tersebut. Dan pegawai hotel itu sudah meletakkan beberapa kamera tersembunyi, sesuai dengan perintah si perempuan itu. Ia buru-buru datang ke hotel dengan berderai air mata.
"Cepat katakan pada saya, dimana ia menginap saat ini?" Ucapnya memaksa sang pegawai seraya memberikan satu amplop cokelat berisi satu gepok uang berwarna merah.
"Ta tapi Bu, saya bisa dipecat kalau ketahuan memberikan informasi ini!" Pegawai itu bingung, tapi juga tak tega.
Akhirnya ia terpaksa memberitahu nomor kamar itu. Kamar dengan nomor tiga ratus dua puluh dua, sesuai dengan kamar yang sedang kami singgahi. Perempuan itu mengetuk pintu kamar beberapa kali, tapi ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin karena mengira yang mengetuk pintu adalah pihak hotel, sang suami pun membuka pintu. Ia masih mengenakan handuk yang menutupi bagian tubuh bawahnya. Sementara si perempuan sudah bersiap merekam menggunakan ponselnya. Sang suami terlihat sangat terkejut melihat kedatangan istrinya, ia tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Dan melihat dengan mata kepalanya jika sang suami bersama seorang perempuan dalam keadaan tanpa pakaian di dalam kamar tersebut. Karena tak mau terjadi keributan, sang suami akhirnya membekap mulut istrinya. Terjadi keributan di dalam kamar tersebut, dengan kasar sang suami menjambak dan membanting tubuh istrinya. Ponsel yang ada di genggaman tangan istrinya pun dibanting, karena tak ingin ada bukti yang menyudutkan nya.
"Kau jahat Pah, kenapa kau tega melakukan semua ini padaku! Percuma kau hancurkan ponsel itu, aku memiliki bukti lain yang dapat ku gunakan untuk menghancurkan hidupmu!" Bentak perempuan paruh baya itu, dengan keadaan kening yang sudah berdarah.
"Tutup mulutmu! Lancang sekali kau datang kesini hah? Akan ku hancurkan semua bukti itu, sehingga kau tak memiliki apapun untuk menyudutkan ku!" Serunya seraya menarik rambut istrinya ke dalam kamar mandi.
Bruugh!
Perempuan itu dilempar di depan wastafel, lalu sang suami menghidupkan keran yang ada di baththub. Setelah air di dalam baththub penuh, sang suami langsung menarik kepala istrinya dan dengan amarah besar menenggelamkan kepala istrinya ke dalam baththub. Nampak sang istri berusaha berontak, tapi karena tenang suaminya terlalu besar akhirnya ia pun terkulai lemas. Dan menjemput ajal disana. Si pelakor terkejut melihat istri sah selingkuhan nya sudah tak bergerak. Mereka panik dan ketakutan, begitu mengetahui jika perempuan yang paruh baya itu telah tiada. Akhirnya mereka bersama berusaha menyembunyikan mayat perempuan itu. Semua bukti yang dimaksud sang istri dicari, dan ia menemukan kamera tersembunyi di depan tempat tidur. Lelaki itu mengambil kamera dan memasukkan ke dalam saku celana. Mereka memasukkan mayat perempuan itu ke dalam koper besar, dan membawanya pergi dari hotel. Sementara pegawai hotel yang sudah dibayar tadi kebingungan, karena perempuan paruh baya tadi tak kunjung menemuinya kembali. Tapi setelah ia melihat suami dari perempuan itu pergi meninggalkan hotel, sang pegawai pun dapat bernafas lega. Karena ia mengira tak terjadi keributan di dalam kamar itu.
"Ran... Sadar Ran!" Seru Mbak Ayu menyadarkan ku kembali ke kenyataan.
Nafasku berderu kencang, air mata tanpa sadar mengalir begitu saja. Sebegitu kejamnya seseorang mengakhiri hidup orang lain tanpa rasa bersalah. Segera ku seka air mata, lalu mencari kamera tersembunyi yang mungkin masih ada di dalam kamar. Tapi usahaku sia-sia, aku tak dapat menemukan apapun.
"Sabar Ran. Kita gak boleh gegabah begini! Pantas saja jiwa tanpa raga nya masih gentayangan di kamar ini, ternyata dia menghembuskan nafas terakhir disini juga. Malang sekali nasibnya, mau gak mau kita tetap harus membantunya mengungkap kasus ini. Supaya jiwanya dapat pergi ke alam keabadian."
"Tapi gimana caranya Mbak? Gue juga bingung harus gimana. Padahal kita kesini niatnya mau staycation, tapi kenyataan nya kita harus menyelesaikan masalah yang tak terduga!" Ucapku seraya memijat pangkal hidung.
Entah apa yang harus kami lakukan untuk mengungkapkan kematian perempuan paruh baya itu. Pasti anak dan orang tua nya belum tau jika saat ini ia sudah tewas ditangan suaminya sendiri.