
Pagi itu Tante Ajeng masih terbaring di ranjangnya. Sementara aku harus berangkat ke kantor untuk melaporkan hasil penelusuran ku pada Mbak Rika. Karena bos besar pasti sudah menantikan laporan dariku. Ku lihat Mbak Ayu sudah rapi dengan seragam coklatnya. Aku mengatakan padanya, jika Tante Ajeng sepertinya kurang sehat. Dan aku tak dapat menjaganya, karena harus berangkat ke kantor.
"Biar gue aja Mbak yang jaga Tante Ajeng, kebetulan gue off hari ini. Kalau Tante Ajeng udah agak baikan biar gue juga yang anterin ke kantor polisi." celetuk Janni seraya berjalan ke arah kami.
"Seriusan lu mau jagain Tante Ajeng?"
"Iya Mbak gue serius!"
Aku hanya mengacungkan jari jempol, menyetujui usulan Janni dan bergegas masuk kamar untuk bersiap ke kantor.
Sesampainya di kantor, suasana agak berbeda terasa. Semua orang terlihat dengan pekerjaan nya, padahal biasanya mereka bekerja dengan suasana riang. Ku lihat dari dalam lift sebuah mobil mewah terparkir di depan Lobby, sepertinya ada tamu penting yang datang ke kantor ini.
Tiing.
Pintu lift terbuka di lantai lima, semua rekan kerjaku terlihat bekerja dengan serius tak ada obrolan ataupun gurauan dari mereka.
"Rania lu udah ditunggu bos besar di ruangan meeting." kata rekan kerjaku yang duduk di samping mejaku.
Wah pantas saja semua pegawai bekerja dengan serius tak seperti biasanya. Karena bos besar jarang ada di kantor, jadi suasana bekerja selalu terasa lebih santai. Berbeda dengan hari ini, semua terlihat agak canggung. Mungkin karena ini pertama kalinya aku melihat suasana kerja di kantor sewaktu ada bos besar.
"Eh buruan malah ngelamun lagi lu!" serunya dengan menepuk pundakku.
Segera aku meletakkan tas ransel di meja, lalu berjalan setengah berlari menuju ke ruang meeting. Di dalam sana sudah ada Mbak Rika, dan seorang lelaki berjas hitam dengan dasi panjang berwarna merah. Nampak Mbak Rika melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan ku berdua dengan lelaki yang baru ku tahu adalah bos besar di kantor ini. Ia mempersilahkan ku duduk di hadapannya, dan mengatakan langsung tujuannya menemuiku secara langsung.
"Seperti yang sudah anda tahu, masalah ini terlalu sensitif jika di dengar oleh banyak orang. Saya harap anda tidak menceritakan ini ke pegawai lainnya, karena akan merusak citra papa saya di hadapan para pegawai."
"Saya tidak mengatakan apapun pada pegawai kantor pak. Dan saya cukup mengerti bagaimana sensitif nya berita ini jika diketahui oleh masyarakat umum, selain citra keluarga bapak hancur, bisnis ini juga tak akan berjalan mulus lagi. Jadi saya sengaja tutup mulut dari orang-orang luar."
"Baguslah, apa yang sudah anda ketahui dari perempuan yang bernama Cahaya Bulan? dimana anaknya saat ini?"
Dengan detail ku ceritakan segalanya yang ku ketahui. Jika perempuan yang dihamili oleh Papanya bukanlah Cahaya Bulan melainkan kembarannya yang bernama Cahaya Purnama. Meskipun benar waktu itu yang berusaha membunuh papanya adalah Cahaya Bulan. Nampak wajah bos besar itu kebingungan, ia tak menyangka jika ternyata perempuan yang dihamili papanya adalah orang lain. Dan setelah ku katakan jika Cahaya Bulan sudah tiada, ia tak kalah terkejutnya.
"Lalu dimana perempuan yang mengandung anak dari papa saya? apa dia juga tiada seperti kembaran nya?"
"Cahaya Purnama masih hidup Pak, tapi ia kehilangan akal sehatnya. Jadi saya belum bisa mendapatkan informasi apapun darinya."
"Dasar Mbak Rika comel, bisa-bisanya dia cerita begini ke bos besar. Pantas saja aku yang dipilih untuk mencari informasi ini." batinku didalam hati dengan menghembuskan nafas panjang.
"Saya akan mencari tahu lagi pak, karena melakukan penelusuran seperti ini tidak mudah. Saya butuh informasi tepat dari sumber yang dapat dipercaya, sementara informasi dari makhluk tak kasat mata, tak sepenuhnya dapat dipercaya kebenaran nya."
Bos besar itu bangkit berdiri melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia berkata padaku sebelum meninggalkan ruangan itu, jika apapun hasilnya ia harus tahu kebenaran mengenai anak yang dikandung Cahaya Purnama. Dan setelah jelas kebenaran nya, aku harus mempertemukan Cahaya Purnama dengan papanya. Meski tak akan mudah untukku, aku harus tetap melakukan nya. Selain inj adalah tanggung jawab yang diberikan padaku, aku juga ingin mencari tahu dimana keberadaan bayi yang dikandung Cahaya Purnama. Belum lagi kematian Cahaya Bulan dan ibunya yang masih menjadi misteri. Karena aku memiliki firasat janggal dengan keluarga Pak Markum.
Plaak.
Mbak Rika menepuk lenganku, dan aku pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Mbak kali ini lu benar-benar keterlaluan deh, ngapain lu sebar-sebarin ke orang kalau gue bisa ngelihat yang begituan!" seruku seraya menarik tangan Mbak Rika.
"Ya gimana dong Ran, gue kan ngomong faktanya. Lagipula gue gak tahu mau minta tolong ke siapa kalau bukan lu. Bos besar minta gue nyuruh orang yang bisa dipercaya aja, dan gak ada orang lain yang bisa gue percaya selain lu Ran!"
"Emangnya lu belum ketemu Cahaya Bulan?"
"Udah tapi yang gue temuin bukan manusia lagi, dia udah jadi demit gentayangan sekarang."
"Nah terus gimana caranya lu bakal mempertemukan dia sama papanya bos besar?"
"Ada deh, keppo aja sih lu Mbak! udah ya bye gue tugas dulu, mau melakukan penelusuran lebih lanjut!" ucapku seraya berjalan meninggalkan Mbak Rika.
Tak puas mendengar jawaban ku, Mbak Rika terus mengikuti langkahku sampai ke meja kerja. Dan disana aku melihat sosok menyeramkan yang tak asing dimataku. Cahaya Bulan ternyata kembali ke kantor ini, entah ia memang mengikutiku atau ia sengaja datang ke kantor ini. Aku menghadang langkah Mbak Rika, dan membisikan padanya, jika hantu Cahaya Bulan ada di dekat meja kerjaku. Seketika Mbak Rika menghentikan langkahnya dengan mengusap belakang lehernya.
"Lu jangan nakut-nakutin gue ya Ran!"
"Seriusan Mbak, dia ada disini. Gue komunikasi sama dia dulu ya, sorry gue belum bisa bantu pekerjaan yang lainnya." kataku seraya mengambil tas ransel di meja, lalu berjalan ke arah tangga darurat.
Aku terus melangkah menuruni anak tangga hingga sampai di lantai empat. Cahaya Bulan melesat ke bawah menyusulku dan ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi belum sempat ia mengatakan sepatah katapun, hantu kecil Aurora datang padaku merengek ingin segera bertemu dengan mamanya. Tangisannya sudah bosan didengarkan oleh para penunggu tempat itu. Tapi berbeda dengan hantu Cahaya Bulan, ia merasa iba melihat Aurora menangis dengan menyebut mama berulang kali. Cahaya Bulan melesat mendekati Aurora lalu membelai rambutnya, seakan ada kasih sayang dalam dirinya. Cahaya Bulan menenangkan Aurora, dan meminta nya untuk berhenti menangis. Bahkan Cahaya Bulan mengatakan, jika Aurora boleh menganggapnya sebagai mamanya. Aku tak dapat berkata apa-apa, karena baru kali ini aku melihat hantu yang memiliki sifat keibuan. Seperti yang ditunjukan oleh arwah Cahaya Bulan. Perlahan rengekan Aurora mereda, ia mengembangkan senyumnya seraya membelai wajah Cahaya Bulan yang tertutup rambut panjangnya.
...Jangan bosen kasih dukungan ke othor ya, bisa tinggalkan Like dan Komentar nya. Ataupun Gift atau Vote nya ya, sayang kalian semua teman² 🤗💕...
...Bersambung. ...