Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 138 JALAN BUNTU!


Aku pergi ke rumah utama menemui Om Dewa. Ia sedang duduk di dalam ruang baca dengan tatapan kosong. Ku berikan sebungkus nasi dan air mineral padanya. Nampak wajahnya sangat letih, meski ia sudah membersihkan diri.


"Kalau Rania boleh tahu, sejak kapan Om Dewa mengetahui perubahan sikap Tante Ajeng? Bukankah dulu dia tak pernah melakukan ritual ilmu hitam? Kenapa dia bisa jadi pemimpin anggota sekte sesat itu?"


"Setelah meninggalkan rumah ini, Ajeng tak pernah lagi melakukan sembahyang. Dia pergi ke seorang dukun, yang dulunya juga seorang pemuja Leak. Tapi sekarang lelaki itu memiliki kesaktian dan membuka praktek pengobatan alternatif. Disana, Ajeng dipertemukan dengan seorang Nenek-nekek yang menjadi perantara dengan sosok gaib. Nek Dijah, seseorang yang dituakan karena memiliki kemampuan membangkitkan seseorang dari kematian. Ia dirasuki oleh sosok gaib yang dapat mengabulkan segala permintaan anggota sekte yang memujanya, dan memberikan persembahan tumbal. Semakin banyak dan sulit yang diminta, maka akan semakin besar juga persembahan nya. Dari tumbal binatang hingga manusia harus dipersembahkan. Karena usia Nek Dijah sudah semakin tua, dia harus memilih seseorang untuk melanjutkan posisinya sebagai pemimpin sekte sesat. Dengan menyerahkan kepemimpinan nya pada Ajeng, Nek Dijah akan mendapatkan keuntungan. Hidup abadi dalam bentuk yang berbeda. Apakah kau pernah melihat atau mengetahui jenglot?" Tanya Om Dewa menatap ku.


Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Aku merasa tak asing dengan nama jenglot, tapi aku juga tak tahu apa itu jenglot. Jadi aku menggelengkan kepala karena tak paham dengan maksud Om Dewa.


"Jenglot adalah boneka mainan para dukun indonesia yang memiliki ukuran bervariatif, belum ada pembuktian secara ilmiah bahwa jenglot adalah jasad makhluk hidup. Tapi di dunia ilmu hitam, mereka semua percaya, jika yang ingin hidup abadi akan kekal menjadi bentuk jenglot. Mereka hidup, meski dalam keadaan boneka menyeramkan. Terkadang jiwa mereka bisa hidup kembali dan merasuki raga orang lain. Hanya itu yang bisa Om jelaskan. Lebih baik, kau berhati-hati dengan Ajeng. Sejak memiliki kesaktian, sikap nya berubah 180 derajat."


"Jadi Tante Ajeng sudah tak menyembah Calon Arang lagi? Jika keduanya berhadapan, apakah salah satunya bisa dikalahkan?"


"Entahlah. Om juga tidak tahu, yang jelas keduanya memiliki kesaktian yang berbeda."


"Tadi Om Dewa mengatakan kalau Tante Ajeng menemui seorang lelaki yang dulunya adalah pemuja Leak. Dan sekarang dia membuka praktek pengobatan alternatif. Apakah orang itu adalah Pak Tubagus? Waktu itu Rania dan Mbak Ayu sempat pergi menemui lelaki itu, atas perintah Tante Ajeng. Tapi nyatanya, tak bisa menyelamatkan Mbak Ayu dari incaran Calon Arang. Karena sekarang Mbak Ayu tetap menjadi penerus Ibunya."


"Jadi kalian sudah menemui Tubagus?" Ucap Om Dewa terkejut dengan membulatkan kedua matanya.


Dari ekspresi nya, aku dapat merasakan kecemasan. Ia berjalan mondar-mandir dengan memijat pangkal hidungnya. Karena penasaran, aku bertanya kenapa ia jadi gelisah setelah mengetahui jika aku dan Mbak Ayu sudah menemui Pak Tubagus.


"Selain, ia tak mempraktikkan ilmu Leak. Tubagus juga ingin mendapatkan kesaktian yang tersimpan dari liontin yang Dahayu kenakan. Apakah liontin itu masih ada? Jangan sampai liontin itu jatuh ke tangan Tubagus ataupun Ajeng. Mereka akan semakin berbahaya, karena kesaktian nya bertambah. Mereka ingin mengalahkan para penganut ilmu Leak. Karena ingin mendapatkan pengakuan sebagai yang tersakti."


Terdengar suara langkah kaki yang berjalan di atas anak tangga. Kami langsung menghentikan obrolan. Tak lama nampak wajah Mbak Ayu menyembul dari lantai bawah. Ia menunjukan liontin yang masih menggantung di lehernya.


"Pantas saja Dahayu merasa lain di rumah Pak Tubagus. Seakan ada kekuatan lain yang mengancam. Dan Dahayu pikir itu adalah ulah Calon Arang. Jika Om tahu dari awal, kenapa tak mengatakan langsung pada kami?"


"Dahayu. Apa kau sudah percaya dengan perkataan Om?"


Om Dewa menceritakan kesulitan nya dulu, sewaktu pertama kali merintis usahanya. Ia terpaksa menjaminkan sertifikat rumah ini. Dan ketika ia ingin menebusnya, Tante Ajeng kembali menambahkan hutang. Yang membuat sertifikat nya tak bisa ditebus, dan menyebabkan hutang bertumpuk.


"Semoga apa yang Om katakan itu benar. Lebih baik sekarang Om Dewa bersembunyi di tempat yang aman."


"Loh Mbak, lu mikir hal yang sama juga?"


Mbak Ayu menganggukkan kepala, ia tersenyum melalui sudut bibirnya. Dan mengatakan jika Mas Adit memintanya membawa Om Dewa ke kantor polisi.


"Om Dewa gak usah takut. Kami sengaja ingin menyelamatkan Om Dewa dari Tante Ajeng dan para pengikutnya. Karena itulah, kami akan membawa Om Dewa ke tempat yang lebih aman." Pungkas ku seraya menghubungi Mas Adit melalui pesan singkat.


Kami meninggalkan Om Dewa sebentar, supaya ia bisa menghabiskan makanan yang ku bawa tadi. Sementara aku dan Mbak Ayu kembali ke kamar kost untuk istirahat sebentar. Lumayan hanya untuk meregangkan otot-otot di tubuh. Kami berjalan melewati kamar Heni, ia sedang mendengarkan musik dengan volume yang agak besar. Tak biasanya ia mendengarkan musik berisik seperti ini.


"Kayaknya sih karena dia ketakutan Mbak. Heni denger suara-suara dari rumah utama. Dia mikir ada setan disana, karena ada suara guyuran air. Gak mungkin kan, gue jelasin kalau ada orang di dalam sana!"


"Oh pantas saja dia takut dan mendengarkan lagu dengan volume keras."


Kami merebahkan tubuh sejenak di atas ranjang. Lalu bergantian menggunakan kamar mandi. Akhir-akhir ini, aku dan Mbak Ayu lebih sering tidur satu kamar. Karena terlalu banyak hal yang terjadi, dan kami hanya ingin saling menjaga. Tak lama terdengar suara mesin mobil dari dalam kamar kami. Aku dan Mbak Ayu langsung bangkit berdiri dan berlari keluar. Nampak mobil APV baru saja pergi dari depan pagar rumah ini.


"Ran. Lu mikir ada yang aneh gak sih? Sejak kapan mobil itu berhenti di depan rumah ini. Jangan-jangan terjadi sesuatu lagi!" Seru Mbak Ayu menoleh ke arah ku.


Tanpa aba-aba, aku dan Mbak Ayu langsung berlari ke rumah utama. Dan mencari keberadaan Om Dewa. Tapi tak ada siapapun di rumah utama ini. Nafas kami tersengal-sengal, karena berlarian ke berbagai sudut rumah. Tapi kami tak dapat menemukan keberadaan Om Dewa.


Praaang.


Terdengar suara benda yang terjatuh. Kami langsung mencari darimana sumber suara itu berasal. Terlihat nampan yang masih bergoyang di atas lantai. Sepertinya nampan itu terjatuh dari atas meja, dan terlihat jendela dapur yang terbuka lebar. Insting kami mengatakan, jika ada seseorang yang baru saja melarikan diri melewati jendela itu. Dan ia tak sengaja menjatuhkan nampan yang ada di atas meja. Begitu kami melompati jendela dan melihat ke arah luar, nampak sepi tak ada siapapun disana. Sampai akhirnya, kami menemukan sekelebatan bayangan.