Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 51 ANCAMAN CALON ARANG


"Rania lu percaya sama gue kan? setelah ini kita bebaskan jiwa Mbah Karto dari lilitan ular berkepala naga itu. Setelah itu lu bisa kembali bersama Mbah Karto terlebih dulu. Gue masih harus melepaskan ibu dari siksaan para pengikut Leak itu. Kalau lu tetap berada disini bersama gue, raga Mbah Karto di alam manusia akan semakin melemah. Dan jiwanya akan terjebak disini selamanya."


"Tapi Mbak, gue gak mau balik tanpa lu." ku tatap wajah Mbak Ayu lebih dalam lagi, ada kesedihan yang begitu besar di kedua matanya.


"Lu harus pergi Rania. Gue akan minta perempuan itu melepaskan jiwa Mbah Karto sekarang juga. Setelah ini gue sendiri yang akan negosiasi dengan mereka semua, gue gak mungkin biarin jiwa ibu gue terkurung di alam gelap ini selamanya. Tolong mengertilah, seumur hidup gue, gue gak pernah berbakti ke ibu. Mungkin ini satu-satunya jalan supaya gue dapat membalas jasa ibu, gue mau ibu beristirahat dengan tenang di alam keabadian."


Mbak Ayu terus membujuk dan meyakinkan ku, jika ia akan baik-baik saja tanpa aku. Meskipun begitu yang aku takutkan adalah Mbak Ayu terjebak dengan rayuan para pengikut Leak. Karena aku tahu, mereka tak mungkin memberikan semua keinginan Mbak Ayu dengan begitu saja. Pasti ada harga yang harus dibayarkan, dan aku takut jika mereka berhasil merayu Mbak Ayu dan membuatnya menjadi pemangku ritual.


"Dahayu apa kau akan memberikan segalanya untuk kami? hanya dengan satu persetujuan mu saja, kau bisa mendapatkan segalanya. Jika hanya membebaskan jiwa lelaki tua itu saja sangat mudah. Tapi untuk melepaskan jiwa Ibumu itu yang mustahil hihihi. Calon Arang sengaja menghukum jiwa ibumu, sebagai penebusan dosanya karena telah menghianati perjanjian. Tapi jika kau mau, kau bisa memperbaiki segalanya. Dan jiwa Ibumu bisa terampuni. Katakan saja apa keputusan mu Dahayu? sebelum Calon Arang datang dan melenyapkan semua jiwa-jiwa manusia itu." ucap perempuan berjubah hitam dengan menunjuk ke arahku dan juga Mbah Karto.


"Lepaskan mereka berdua terlebih dulu, dan kita bisa bicarakan semuanya setelah kau melepaskan keduanya. Aku masih akan tetap disini untuk bernegosiasi denganmu supaya kita bisa membahas ampunan untuk ibuku."


Perempuan berjubah hitam melesat ke tembok disekap nya Mbah Karto. Ia mengibaskan jubah hitamnya ke tembok, lalu ular berkepala naga itu keluar dengan membawa jiwa Mbah Karto didalam lilitan nya. Dengan perintah perempuan itu, ular itu menghempaskan jiwa Mbah Karto ke udara.


Whuuus.


Kami berdua melesat menangkap jiwa Mbah Karto yang lemah. Beliau hanya memejamkan kedua matanya karena kehabisan energi selama di alam itu. Nampak Mbak Ayu meneteskan air mata, ia tak tega melihat kondisi Mbah Karto yang sedemikian rupa.


"Cepatlah pergi Rania. Gue akan cepat kembali setelah urusan gue disini selesai."


"Tapi Mbak, kalai mereka menjebak lu gimana? gue gak mau lu tersesat menjalani praktek ilmu hitam seperti mereka."


"Gue gak apa-apa Rania. Apapun yang terjadi nantinya, semua itu demi kebaikan semua orang. Yang jelas gue akan segera kembali nyusul lu."


"Tapi Mbak."


Mbak Ayu menepuk pundak ku lalu menyunggingkan senyumnya. Ia memintaku segera pergi sebelum Calon Arang datang dan melihatku di alam Mangrahi itu.


"Tolong Ran, pergilah. Jangan buat gue merasa lebih bersalah lagi. Kalau Calon Arang itu sampai datang, kalian semua gak akan bisa dengan mudah meninggalkan alam ini. Kecuali gue sendiri yang akan tetap baik-baik saja, itupun harus ada harga yang gue bayar."


Penjelasan Mbak Ayu semakin membuatku dilema, aku hanya bisa menangis membayangkan hal-hal yang tak semestinya terjadi. Mbak Ayu mengantar ku sampai ke lubang besar yang menyilaukan mata, tempat dimana kami datang dan harus berpisah. Ia mendorongku dan Mbah Karto masuk ke dalam lubang itu. Perlahan aku tak dapat melihat wajah Mbak Ayu lagi dan aku tak bisa merasakan apa-apa lagi.


Whuuus whuuus.


Aku terlempar kembali ke alam manusia. Aku tersadar dengan posisi tergeletak. Lalu ku cari keberadaan Mbak Ayu. Ia masih tetap di posisi yang sama, duduk dengan menyilangkan kedua kaki nya.


"Mbak Ayu Mbak!" seru ku dengan menggoncangkan tubuhnya.


Degh.


Jantungku berdetak tak karuan, deru nafasku begitu kencang. Ternyata tak hanya firasatku saja, tapi Pak Jarwo juda sudah mengetahui segalanya.


"Lalu kenapa Pak Jarwo membiarkan Mbak Ayu pergi ke alam itu Pak? berarti Pak Jarwo sengaja ingin menyerahkan Mbak Ayu ke kelompok pemuja Leak itu? harusnya Pak Jarwo menghentikan niat Mbak Ayu, bukan malah memintanya pergi bersamaku huhuhu."


"Maafkan aku Nduk, aku pun tak berdaya mengatakan nya. Semalam setelah aku pulang dari rumahmu, Dahayu mengejarku dan mengatakan segalanya. Ia ingin pergi seorang diri ke alam Mangrahi untuk membawa pulang jiwa Mbah Karto. Selain itu ia ingin membebaskan jiwa mendiang ibunya yang terkurung di alam itu. Karena itulah ia berpamitan padamu untuk kembali ke Jakarta. Tapi kau malah bertekad ingin kembali bersamanya. Setelah mendengar penjelasan ku tadi mengenai kondisi Mbah Karto yang sesungguhnya, kau malah ingin pergi sendiri ke alam itu. Karena itulah aku mengatakan jika Dahayu akan pergi bersamamu. Ia hanya memberikan kode dengan anggukan kepala, kalau ia bersedia pergi bersamamu. Dahayu gak mau kamu celaka di alam itu, terpaksa aku menyetujuinya. Dan sebelumnya aku pun sudah mengingatkan nya, kalau ia mungkin akan diminta menjadi sang pemangku ritual sebagai harga yang harus ia bayar. Tapi dengan tegas Dahayu menyetujuinya, ia tak mau semua orang yang tak bersalah terseret ke dalam masalah keluarganya."


Belum sempat Pak Jarwo melanjutkan ucapannya, terdengar suara Mbah Darmi menjerit. Pak Jarwo memintaku mendatangi Mbah Darmi, sementara ia harus tetap berada disini menjaga portal alam gaib.


Aku bergegas keluar menuju ke kamar Mbah Karto. Nampak Wati sedang menangis dengan memeluk Mbah Darmi.


"Ada apa dengan Mbah Karto?" tanyaku panik.


"Mbah Karto udah sempat menggerakan tubuhnya, tapi ia kesulitan bernafas dan kejang-kejang. Makanya Mbah Darmi menjerit ketakutan."


Ku tatap wajah pucat Mbah Karto, tubuhnya terasa dingin dengan hentakan dari kejang-kejang nya. Aku menundukan kepala tak terasa bulir-bulir air mata menetes deras.


Ku minta mereka untuk membacakan ayat-ayat suci Allah. Ku katakan pada Mbah Darmi untuk siap menghadapi apapun keadaannya nanti. Karena kita tak ada yang tahu hidup dan matinya seseorang.


...Semoga semua akan baik-baik saja ya Allah, Amin 😇🙏...


...Bersambung....


Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.


Pernikahan Rahasia Anak SMA 2


Author: LichaLika


Zara Adelia, gadis cantik dan juga seorang Nona muda yang masih duduk di kelas 12 SMA, terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan seorang pria yang lebih dewasa darinya. Ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria dari kalangan sederhana, kedua orang tua Zara sangat yakin jika pria tersebut bisa membuat Zara bahagia. Pria tersebut tak lain adalah guru olahraga sekaligus guru BP nya di sekolah. Sedari dulu Zara sangat tidak menyukai guru olahraga nya itu.


Akankah Zara bisa hidup bahagia bersama pria yang bukan pilihannya? Nyatanya sehari-hari Zara harus berhadapan dengan suami sekaligus guru olahraga nya di sekolah. Mungkinkah cinta mulai bersemi di antara mereka?