Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 221 MENELUSURI INFORMASI.


Aku dan Mbak Ayu sudah sampai di Bogor. Kami meminta ijin pada keluarga Pak Awan untuk bisa masuk ke dalam rumah. Tapi hari itu Polisi sedang melakukan olah TKP. Sehingga kami tak dapat masuk ke dalam rumah. Tak habis akal, aku berkomunikasi dengan kedua arwah korban pembunuhan itu. Keduanya melesat mendatangi ku ke sebuah kebun kosong yang tak jauh dari rumahnya. Kini Mbak Ayu ikut berkomunikasi dengan kedua arwah itu. Kami sama-sama menanyakan, perjanjian gaib apa yang suaminya lakukan untuk mendapatkan kekayaan. Dan arwah Ibu itu mengatakan, jika ia harus menumbalkan satu nyawa tiap tahunnya. Dan kali ini ia berhasil menumbalkan dua nyawa. Meski sekarang lelaki itu mendekam di dalam penjara, hartanya tetap masih ada dan dikelola anak kandungnya.


"Aku hanya istri kedua, berita yang beredar semuanya bohong. Alasannya membunuh kami hanya untuk tumbal pesugihan nya. Dia juga mendalami ilmu kekebalan tubuh. Di hari penangkapan nya, dua orang temanmu datang bersamaan dengan sosok sesembahan suamiku itu. Ia ingin membawa jiwa kami ke alam kegelapan. Tapi sekarang jiwa anakku sudah tertangkap oleh makhluk jahat itu. Ia dijadikan budak sama seperti jiwa teman lelaki mu. Ia tertipu dengan janji sosok jahat itu, dan mengira jika nyawa teman perempuan nya akan baik-baik saja. Padahal semua itu hanya dusta, makhluk itu memendam perasaan untuk gadis itu. Bukankah ia sempat tersesat di dimensi gaib, semua nya adalah ulah sosok itu. Ia mengira dengan menyesatkan jiwa gadis itu, ia akan datang menjadi pahlawan. Justru kau bersama teman lelaki mu itu yang datang menyelamatkan nya. Makhluk itu murka dan membuat jiwa lelaki itu terpisah dari raganya, nyawanya hampir tak terselamatkan karena malaikat maut akan mencabut nyawanya. Tapi jiwa yang sudah digadaikan pada makhluk dari alam kegelapan, tak akan bisa pergi ke alam keabadian. Karena itulah jiwa nya bisa kembali ke dalam raga sebelum jiwa nya di ambil oleh sosok gaib yang melakukan perjanjian dengan nya." Jelas arwah itu tertunduk dengan wajah pucat.


"Maaf kami tak bisa membantu mu mengambil jiwa anakmu kembali. Urusan di dunia gaib yang tak ada hubungannya dengan alam manusia, benar-benar diluar batas kemampuan kami. Tapi kami ingin meminta bantuan mu untuk mengawasi sosok itu. Kami hawatir jika dia benar-benar melakukan sesuatu untuk mendapatkan cinta teman kami itu. Kau tau kan keduanya berbeda alam, aku tak mau temanku itu terlibat dengan masalah percintaan rumit itu." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Tapi apa yang akan kau lakukan di alam fana ini? Jiwa mu juga tak akan bisa kembali ke alam keabadian. Kau meninggal secara tak wajar, apalagi dengan tujuan untuk ditumbalkan." Tanya Mbak Ayu menatapnya dalam.


Arwah Ibu itu hanya tertunduk dengan wajah sendu, ia menggelengkan kepala tak tau harus berbuat apa. Kemudian Mbak Ayu menyarankan nya untuk ikut bersama kami. Arwah Ibu itu diberikan tugas untuk menjaga rumah kuno yang ditempati Ce Edoh.


"Siapa nama Ibu? Kalau Ibu mau ikut kami, mungkin kami yang akan melindungi mu dari sosok jahat itu. Tapi kau juga harus membantu kami mengawasinya dari jauh. Daripada kau tetap bertahan di rumah mu, kau akan lebih sering di datangi sosok yang ingin mengambil jiwa mu." Pungkas Mbak Ayu nampak terharu ketika menatap wakah sendu arwahnya.


"Namaku Minah, aku mau saja membantu kalian mengawasi makhluk jahat itu. Tapi maaf aku tak bisa meninggalkan rumah ku. Bagaimana jika sewaktu-waktu anakku kembali? Dia pasti akan kesulitan mencariku."


Aku dapat memahami perasaan Bu Minah, meski ia tau jika jiwa anaknya tak mungkin bisa lepas dari genggaman makhluk jahat sesembahan suaminya. Ia tetap ingin bertahan di rumahnya dengan harapan anaknya sewaktu-waktu akan kembali.


"Udah Mbak gak apa-apa, yang penting Bu Minah mau membantu."


"Baiklah kalau begitu. Dan satu lagi, apakah ada sebuah rahasia yang disembunyikan Pak Awan? Biasanya orang-orang yang melakukan perjanjian gaib mempunyai pantangan. Jika kita bisa membuat suamimu itu melanggar pantangan. Mungkin saja sosok itu akan berhenti mengganggu." Imbuh Mbak Ayu menjabarkan yang ia tau.


Arwah Bu Minah hanya menggelengkan kepala, ia mengaku tak tau menau apa perjanjian gaib yang suaminya lakukan. Jadi ia tak bisa memberikan informasi apapun. Sepintas ide terpikirkan oleh ku, bagaimana jika kami membuat Pak Awan menghianati sosok gaib itu. Dengan begitu makhluk sesembahan nya itu akan murka dan mencelakai nya sendiri.


"Kasus pesugihan nya bakal selesai dengan sendirinya. Mungkin saja jiwa-jiwa tak berdosa itu bisa kembali ke alam keabadian begitu tak ada perjanjian di antara Pak Awan dengan makhluk itu."


"Lu bener juga ya Ran. Kenapa gak kita coba aja cara itu!" Sahut Mbak Ayu dengan menjentikkan jarinya.


Mbak Ayu masih belum menjelaskan rencana apa yang akan ia lakukan. Karena setelah itu kami memutuskan kembali ke Jakarta. Tapi seseorang di depan sana menghadang langkah kami.


"Kerja lah Ran. Kasus pembunuhan disini dilimpahkan ke pusat. Mau gak mau aku datang langsung buat ngambil berkas dan tersangkanya juga." Jawab Mas Adit menghembuskan nafas panjang.


Tiba-tiba Mbak Ayu berlompat girang, menurutnya jalan kami semakin dipermudah berkat Mas Adit.


"Thanks ya Dit. Lu udah bawa kabar baik buat kita!" Seru Mbak Ayu nampak lega.


"Hah kabar baik apa an sih Mbak?" Kata Mas Adit dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Aku hanya tersenyum tak mengatakan apa-apa. Entah apa yang harus ku katakan pada Mas Adit, karena sejak awal ia tak tau menau masalah ini. Jadi lebih baik aku tak perlu menceritakan semuanya sekarang.


"Jadi tersangka akan diboyong ke Kantor Polisi pusat yang ada di Jakarta?" Aku sengaja mengalihkan dengan membahas hal lain.


Lalu Mas Adit mengatakan karena korban dari tersangka A tak hanya di Bogor saja. Tapi beberapa ada yang di Jakarta dan Bekasi. Dan untuk memudahkan kasusnya, tersangka akan dipindahkan ke Polrestabes Jakarta.


"Entah apa motif tersangka melakukan pembunuhan berantai itu. Yang awalnya motif mengarah karena perebutan warisan, jadi kacau karena ada tambahan korban berdasarkan fakta di lapangan."


Aku mengaitkan kedua alis mata, mengambil kesimpulan jika semua korban itu kemungkinan orang-orang yang telah ditumbalkan oleh Pak Awan. Mbak Ayu menyikut lenganku. Ia menaikan dagunya bertanya dengan gestur tubuh. Tak lama ia berbisik di telingaku.


"Kalau kita bisa buat Pak Awan dimangsa sesembahan nya sendiri, bisa gak sih hidup Silvia akan tetap baik-baik aja?" Bisik Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis mata.


Aku hanya mengangkat bahu, tak tau apa yang akan terjadi setelahnya. Setidaknya kami harus berusaha, entah bagaimana hasil akhirnya. Jika Silvia dapat terbebas dari hasrat makhluk itu mungkin itu sebuah bonus. Tapi jika ia tetap menjadi incaran, kami harus meminta Silvia untuk waspada. Karena sosok itu bisa menyamar menjadi apa saja yang ia mau. Dan jika sampai mereka melakukan hubungan terlarang itu. Hidup Silvia akan benar-benar menjadi berantakan. Karena kedua makhluk yang berbeda alam tak akan bisa bersatu meski mereka memiliki keturunan sekalipun.