Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 184 FLASHBACK 3.


Pagi ini aku terbangun dari tidur karena suara alarm hape. Sebelum waktu shalat subuh habis, aku segera melaksanakan ibadah ku. Mbak Rika yang terlelap tak kunjung bangun, jadi aku shalat sendirian saja. Selesai shalat aku membuat teh hangat dan duduk di teras depan kamar. Tiba-tiba sosok Narsih datang di depan pohon besar, ia kembali melotot padaku. Astaga lagi-lagi selalu melotot tiap kali memaksakan keinginan nya.


"Baiklah Narsih ku berikan waktu satu jam sebelum aku bersiap berangkat ke kantor. Jadi jangan mengikuti ku ketika aku pergi bekerja, oke?"


Sosok Narsih hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum melalui sudut bibirnya. Kemudian ia melesat ke samping ku dan menyentuh pundakku, lalu gambaran-gambaran masa lalu itu muncul kembali di kepala ku.


Flashback.


Hari berlalu dengan cepat, Risma tumbuh menjadi gadis manis dengan tubuh tinggi dan tak kurus kering seperti dulu. Ia sekarang menjelma menjadi gadis penari jaipong yang mulai dikenal orang. Ia menjadi sosok periang dan manja, apalagi ketika bersama Narsih ataupun Bardi. Meski ada sedikit rasa cemas dan hawatir, karena Risam terlihat terlalu percaya diri dan mengatakan siap menggantikan Narsih sebagai penari utama di kelompok tari Bardi. Tapi Narsih masih berpikiran positif, ia menganggap Risma hanya gadis polos. Bahkan terkadang Bardi juga terlalu memanjakan Risma. Dan terlihat mereka bercanda seperti sepasang ayah dan anak kecil, keduanya saling menggelitik dan berpelukan. Meski timbul rasa cemburu, tapi Narsih berusaha menepis nya dengan pikiran posting. Mungkin perlahan cinta telah tumbuh di dalam hati Narsih untuk Bardi, sehingga ia mulai kesal melihat Bardi bersikap demikian pada Risma. Akhirnyaa Narsih menegur Bardi, dan meminta nya untuk menjaga jarak dengan Risma.


"Tolong Mas jangan terlalu memanjakan Risma, dia tak akan dewasa jika diperlakukan seperti itu terus." Ucap Narsih dengan mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah Narsih, aku akan mengikuti perintah mu. Aku memanjakan nya karena sudah menganggapnya seperti adik ku sendiri."


Entah Bardi benar-benar menghormati permintaan Narsih, atau ia hanya sungkan pada Narsih karena beberapa bulan ini Bardi terus meminjam uang dari Narsih untuk membayar beberapa anggota tari yang kekurangan upah. Dan sejak saat itu Bardi benar-benar berubah tak memanjakan Risma lagi, dan membuat gadis itu sempat terkejut dengan perubahan sikap Bardi. Risma terus bertanya-tanya apakah ia membuat kesalahan, sehingga Bardi ataupun Narsih sedikit berubah sikap padanya. Tapi akhirnya Risma mulai terbiasa, dan bersikap seperti biasanya.


Risma terlihat telaten menjaga Simbah di rumah ketika Narsih mendapatkan job tari ke berbagai daerah. Karena belakangan ini Simbahnya sering sakit dan membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Narsih merasa bersyukur karena ada kehadiran Risma di dalam kehidupannya, sehingga ia tak perlu cemas meninggalkan Simbahnya di rumah. Pada suatu hari, Narsih dan Risma harus datang ke sebuah desa. Karena kelompok tari yang dipimpin Bardi mendapat undangan. Tapi Narsih cemas meninggalkan Simbahnya sendirian, karena beliau sudah kesulitan untuk bangun dari tempat tidurnya. Akhirnya Narsih berusaha membatalkan keberangkatan nya. Tapi Bardi mengingatkan ancaman dari para Meneer dan para Centengnya.


"Kalau kau tak berangkat kesana, bisa-bisa terjadi masalah dengan kelompok tari kita Sih. Meneer itu bisa mengamuk dan melakukan apa saja, jika permintaan khusus nya tak kau penuhi." Pungkas Bardi dengan wajah cemas.


"Baiklah Mas, aku akan meminta Risma tinggal di rumah saja untuk menjaga Simbah."


Risma yang diam-diam mendengar pembicaraan itu langsung menolak ucapan Narsih. Ia mengusulkan untuk menitipkan Simbah ke tetangga sebelah saja. Tentu Narsih tak terima, dan marah pada Risma.


"Aku tak mau menyusahkan orang lain, dan aku lebih percaya padamu Risma. Kali ini saja dengarkan aku, lain kali kau bisa menari di kesempatan berikutnya.


"Aku bukannya ingin melarang mu Ris, tapi kau harus paham dengan situasi ini. Aku juga tidak ingin pergi dan bisa saja kau yang menggantikan ku, tapi bagaimana kalau para Meneer itu sampai marah karena kau menggantikan ku. Aku janji setelah Simbah sembuh, kau bisa ikut menari lagi bersama ku."


Terlihat raut wajah Risma yang kecewa, tapi ia hanya menundukkan kepala tak berkata apa-apa. Narsih akhirnya bersiap pergi dan berpamitan pada Simbahnya, lalu ia menitipkan uang pada Risma, untuk dipergunakan selama Narsih pergi. Narsih memeluk Risma, dan mengucapkan jika ia sangat menyayangi Risma dan bersyukur karena ia ada dalam kehidupan nya. Tak ada jawaban dari Risma, ia hanya tersenyum melalui sudut bibirnya. Seperti ada yang sedang ia pikirkan.


Tapi beberapa hari kemudian, setelah Narsih selesai menari bersama kelompok Bardi. Ia terkejut melihat keramaian di depan rumahnya. Sontak saja Narsih panik dan bergegas lari ke dalam rumahnya. Nampak tubuh Simbahnya terbujur kaku diselimuti kain jarit. Terlihat Risma menangis di samping jenazah Simbahnya. Narsih hanya diam membeku melihat sosok yang paling ia sayangi sudah tiada. Tiba-tiba Risma berlari memeluk Narsih, dan menyadarkan Narsih jika saat itu Simbahnya telah benar-benar tiada. Uang banyak yang Narsih dapatkan dari hasilnya bekerja terasa percuma. Karena ia telah kehilangan satu-satunya keluarganya.


Hidup Narsih jadi hancur setelah kepergian Simbah untuk selamanya. Setelah itu, Narsih hanya bisa pasrah mengantarkan jenazah Simbah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Di pemakaman, nampak Risma sedang berbicara empat mata dengan Bardi. Entah apa yang keduanya bicarakan, Narsih memilih mengacuhkan nya. Dan fokus pada dirinya sendiri, ia terlalu sedih untuk berbicara dengan orang-orang dan memilih langsung kembali ke rumah dan mengurung diri di kamar.


Narsih melihat kotak penyimpanan uang nya, ia kembali menangis tersedu-sedu. Karena niatnya uang yang ada di kotak itu, akan ia gunakan untuk membelikan sepetak tanah untuk Simbahnya. Tapi niat nya pupus karena Simbah sudah tiada. Air mata Narsih menetes di atas tumpukan uang yang ada di dalam kotak itu. Nampak sosok yang sedang mengawasi Narsih dari balik tabir kamarnya. Karena merasa ada yang mengawasinya, akhirnya Narsih menutup kotak uang itu dan menaruhnya di kolong tempat tidur. Kemudian Narsih keluar kamar dan melihat Risma sedang menggulung tikar-tikar yang ada di ruang tamu.


"Kau darimana saja Risma? Kenapa baru pulang sore hari?"


"Aku dari rumah Pak Haji Mbak, kan nanti malam ada pengajian di rumah. Jadi aku bertanya apa saja yang diperlukan. Tadi aku juga lihat Mas Bardi di belakang rumah, emang Mbak Narsih belum ketemu Mas Bardi ya? Dia bantuin nata kayu bakar di belakang."


"Di belakang rumah ngapain dia sore-sore nata kayu bakar?"


"Gak tau lah Mbak, tadi Mbak Narsih di dalam kamar seharian ya?" Sahut Risma dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Kau bukannya bilang dari tadi Ris, ya sudah aku ke belakang dulu ya nemuin Mas Bardi." Kata Narsih seraya melangkahkan kaki nya.


Narsih berjalan ke belakang rumah, hujan rintik-rintik membuat tanah agak becek. Namun Narsih tetap berusaha mencari Bardi, dan berteriak-teriak memanggilnya. Tapi tiba-tiba seseorang menarik tangannya, lalu menghempaskan tubuhnya ke tanah. Kemudian Narsih kembali diseret ke tanah yang becek. Terdengar suara Narsih meronta meminta pertolongan, tapi seseorang yang tak begitu jelas terlihat itu membungkam mulut Narsih, lalu menindih tubuhnya dari atas. Sehingga Narsih kesulitan bergerak, ia hanya berusaha menarik penutup wajah yang dikenakan orang tersebut. Tapi salah satu tangan orang itu berhasil memegangi tangan Narsih dengan erat. Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang mendekat, tapi Narsih tak dapat melihat dengan jelas siapa yang datang ke tempat itu. Dan orang yang menindih tubuh Narsih mengepalkan tangan nya, dan memukul kepala Narsih dengan keras. Hingg membuatnya kepalanya berat, dan Narsih pun tak sadarkan diri.


Aku hampir terkejut melihat Narsih tergeletak dengan darah yang membasahi kepala nya. Apakah itu adalah akhir hidupnya, tapi siapa orang yang memukulnya. Dan langkah kaki siapa yang mendekat ke arahnya. Sosok Narsih malah berlinang air mata, ia memegangi dada nya yang terasa sesak. Sosoknya melepaskan tangannya dari pundak ku, nampak ia berlinang air mata darah. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang, karena belum tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi sepertinya sosok Narsih kembali mengingat luka masa lalu nya, dan ia merasa hancur untuk kedua kalinya. Apakah sosok Risma yang telah menyakiti nya, atau itu adalah Bardi yang sebelumnya memang berada di belakang rumahnya.