Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 174 PENGAKUAN?


Aku mengambil keputusan supaya Mbak Lia menyelesaikan masalah nya dengan sosok hantu lelaki yang sering mengikuti nya itu. Mungkin saja setelah itu jiwanya akan tenang, dan ia bisa kembali ke dalam raganya.


"Apa aku benar-benar belum tiada?" Tanya Mbak Lia dengan sesegukan.


"Entahlah Mbak, nanti kita sama-sama cari tahu kebenarannya. Tapi kau perlu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."


Mbak Lia setuju dan mengikuti petunjuk ku. Karena setelah ini mobil travel akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Aku dan si Ibu memutuskan untuk masuk ke dalam mobil disusul dengan jiwa Mbak Lia.


Nampak raut wajahnya semakin sendu, aku paham dia sedang dilema. Karena ia tak tahu masih hidup atau sudah tiada. Perjalanan kami masih agak jauh, dan aku pun tak dapat memejamkan mata lagi. Aku menghubungi Mama dan menanyakan kondisi Mbak Ayu. Menurut Mama, kondisi Mbak Ayu belum ada kemajuan, bahkan Om Dewa juga harus melakukan operasi. Karena beberapa tulang rusuk nya ada yang patah.


"Kau tenang saja ya Nak, kalau ada apa-apa Mama akan memberitahu mu. Kau hati-hati di jalan ya, makan yang teratur dan jaga kesehatan mu!" Ucap Mama di seberang telepon sana.


Aku mengakhiri panggilan telepon itu dengan perasaan campur aduk. Entah apa yang terjadi pada Mbak Ayu. Jika saat ini ia dalam keadaan kritis, mungkinkah jiwanya juga berkelana seperti apa yang terjadi pada Mbak Lia. Karena jika ia semakin lama meninggalkan raganya, itu tak akan baik bagi raga yang ditinggalkan oleh jiwanya. Tanpa sadar aku terlelap, dan terbangun karena suara seseorang.


"Ehm ada apa Bu?"


"Dek saya udah mau turun di belokan depan. Saya pamit duluan ya, tolong dibantu si Mbak Lia itu. Maaf saya gak bisa bantu lagi." Ucap si Ibu dengan menyunggingkan senyum lalu menganggukkan kepala pada jiwa Mbak Lia.


"Oh iya Bu InsyaAllah saya akan membantu nya. Sampai bertemu di kesempatan selanjutnya ya Bu." Kataku seraya berjabatan tangan dengannya.


Setelah Ibu itu turun dari mobil, aku juga bersiap untuk turun di tempat selanjutnya. Mobil travel ini mengantar penumpang door to door. Jadi para penumpang lebih mudah sampai ke tempat tujuan. Karena aku tak bisa berkomunikasi dengan sosok Mbak Lia secara langsung. Aku berbicara dengan nya melalui batin, dan memintanya turun bersama ku setelah ini.


Akhirnya aku sampai di depan rumah kuno, nampak demit-demit yang tinggal di sekitaran sana bersliweran. Rumah ini nampak sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik saja. Aku melihat jam di pergelangan tangan, nampak waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Ini sudah malam, harusnya Heni ada di dal kamarnya. Tak berselang lama, nampak Ce Edoh keluar dari rumah utama. Memang semenjak kami pergi, Mbak Ayu meminta Ce Edoh untuk tinggal di Rumah utama. Ia menyapaku dan membantu ku membawa barang-barang ke dalam.


"Gimana kabar Ce Edoh? Apa ada yang aneh-aneh selama saya dan Mbak Ayu pergi?"


"Alhamdulillah gak ada Mbak. Si Mbak Heni juga sering di rumah sama temen-temen nya. Kayaknya pada belajar kelompok gitu. Barusan pada keluar beli makan."


"Apa ada Leni juga Ce?"


"Wah Ce Edoh gak merhatiin tuh Mbak. Coba saja nanti dilihat, soalnya kan saya gak mantau siapa saja temennya Mbak Heni."


Setelah membantu ku menata barang Ce Edoh kembali ke rumah utama. Aku duduk di depan teras kamar, menyandarkan kepala ke tembok. Nampak sosok Mbak Lia berlari cepat ke arah ku, ia ketakutan melihat sosok-sosok demit yang ada di sekitar rumah ini.


"Ran, aku takut disini, semua hantu itu kayak gak suka sama kehadiran disini!" Ujar Mbak Lia seraya berlari ke samping ku.


"Gak apa-apa kok Mbak, hal semacam itu sudah wajar terjadi. Kayak di lingkungan kerja manusia saja, kalau ada pekerja baru kan juga begitu. Jadi gak usah dipikirkan, kau hanya perlu selalu bersama ku. Besok agak siangan kita pergi ke Kedai kopi, kau selesaikan urusan mu dengan demit lelaki itu. Mungkin saja setelah itu jiwa mu akan mendapatkan ketenangan, dan kau akan masuk kembali ke dalam ragamu!"


Kali ini aku tak memaksa nya untuk bercerita yang sebenarnya. Tapi ia mengungkapkan apa yang telah terjadi malam itu.


Fendi adalah teman kerjanya, mereka sempat dekat. Tapi Fendi tak pernah mengungkapkan apapun pada Mbak Lia. Malam itu, mantan kekasih Mbak Lia datang ke Kedai dan memaksa untuk menumpang. Padahal malam itu Mbak Lia mendapatkan perintah dari atasannya untuk membawa mobil Kedai itu ke bengkel langganan. Akhirnya si mantan Mbak Lia ini yang mengemudi mobil itu. Fendi yang mencemaskan Mbak Lia pergi dengan mantan nya, akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka. Karena Fendi pernah mendengar cerita, jika mantan Mbak Lia ini ringan tangan dan suka memaksakan keinginan nya. Karena mungkin mencemaskan keadaan Mbak Lia, Fendi akhirnya mengikuti mereka menggunakan sepeda motor nya. Dan di dalam mobil itu terjadi perdebatan antara Mbak Lia dengan mantan nya. Ternyata ia tak hanya sekedar menumpang, ia kembali memaksakan keinginan nya untuk berhubungan lagi dengan Mbak Lia. Akhirnya Mbak Lia kesal dan meminta mantannya untuk menepikan mobil. Tapi tiba-tiba mobil itu tak terkendali, dan menabrak Fendi yang ada di sebelah mobil. Tak lama mobil itu berhenti, dan mereka keluar dari dalam. Keduanya nampak terkejut melihat seseorang telah tertabrak mobil yang mereka tumpangi. Sepertinya motor Fendi terpental lumayan jauh, kalau dilihat dari gesekan yang nampak di aspal jalan. Mereka berdua panik dan melihat ke berbagai arah. Jalanan disana cenderung sepi dan tak nampak cctv di sekitarnya. Akhirnya mantan Mbak Lia mendesaknya untuk tutup mulut dan tak menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami.


"Mantan ku mengancam ku, jika aku menceritakan kejadian itu pada orang lain. Ia juga akan menyeret ku ke dalam penjara. Karena aku yang menyebabkan ia membanting stir mobil itu, hingga akhirnya Fendi tertabrak dan meninggal dunia huhuhu." Jelas Mbak Lia berlinang air mata.


Astaga. Pantas saja Mbak Lia merasa bersalah, meski bukan ia yang menabrak teman kerja nya.


"Jadi selama ini Mbak Lia tutup mulut dan tak mengatakan kejadian yang sebenarnya? Apa pihak bengkel gak curiga, kalau mobil itu lecet atau peyok setelah menabrak sesuatu?"


"Sebelumnya mobil itu memang sudah dalam keadaan rusak body nya. Karyawan baru menabrakkan mobil itu dan body mobilnya memang sudah lecet parah, karena itulah Bos memintaku membawanya ke bengkel. Dan pihak bengkel udah tahu kondisinya, makanya gak ada yang curiga."


"Astaghfirullah Mbak. Kenapa Mbak Lia gak mengaku saja, kasihan kan arwah si Fendi itu. Mbak tahu gak arwah nya Fendi selalu ngikutin Mbak Lia kemana-mana."


"Huhuhu aku tahu, Fendi pasti sangat marah padaku. Dia pasti juga ingin melihatku tiada sepertinya!"


"Gak! Kau salah Mbak. Aku melihat tatapan matanya ketika melihatmu. Ia nampak sedih, dan tak menunjukkan amarah atau dendam sama sekali. Karena itulah aku sarankan supaya kau bertemu dengan arwah Fendi dan meminta maaf padanya. Dan setelah kau bisa kembali ke dalam ragamu, akui saja apa yang sebenarnya telah terjadi. Mbak Lia gak usah takut, meski Mbak Lia ada di dal mobil itu dan menyebabkan pertengkaran. Tetap saja mantanmu yang mengemudi dan menabrak Fendi hingga tewas. Aku memiliki teman seorang polisi, aku pasti akan membantu mu Mbak."


Terlihat jiwa Mbak Lia dipenuhi rasa bersalah, ia belum memberikan keputusan nya. Nampaknya ia masih sangat terguncang, dan menangis sesegukan. Ketika aku ingin berbicara dengan sosok Mbak Lia, tiba-tiba Heni datang bersama teman-teman nya. Aku melihat satu persatu orang yang bersama Heni. Tapi aku tak menemukan keberadaan Leni, mungkin saja ia tak datang atau memang sudah pergi.


"Mbak Raniaaaa! Apa kabar?" Sapa Heni menghambur memeluk ku.


"Baik Hen, kau ada acara apa nih rame-rame?"


"Lagi belajar kelompok Mbak. Btw Mbak Ayu kemana? Kok kamarnya masih gelap dari luar?"


"Mbak Ayu masih di kampung nya, btw lu ajak Leni juga kesini?"


"Aah Leni ya. Semenjak terakhir dia kesini, aku dan teman-teman gak pernah lihat dia lagi Mbak. Di hubungi juga gak bisa, emangnya Mban Rania ada perlu apa sama Leni?"


"Hmm gak ada apa-apa kok Hen. Cuman nanya aja hehehe."


Tiba-tiba Heni mengusap belakang tengkuknya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, ia mengaku mendengar suara tangisan perempuan. Memang sih sosok Mbak Lia masih terisak tak jauh dari Heni berdiri. Tapi masak iya sih, Heni bisa mendengar suara tangis nya.