Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 63 KEJANGGALAN?


Tante Ajeng berderai air mata pilu, ia menangis histeris hingga semua orang di rumah itu keluar dan melihat Tante Ajeng menangis meraung-raung memanggil-manggil nama Agus berulang kali. Mbak Ayu berlari cepat membantuku menopang tubuh Tante Ajeng yang sudah oyong. Pak Polisi meminta Tante Ajeng untuk segera datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


Setelah dua orang petugas tadi pergi, kami semua membawa Tante Ajeng ke rumah utama. Mbak Ayu mengompres kening Tante Ajeng, sementara Umi dan Janni membuatkan minuman hangat di dapur.


"Sebenarnya ada apa Ran? kenapa ada polisi yang datang ke rumah ini? apa yang mereka katakan pada Tante Ajeng, sampai-sampai ia jatuh pingsan begini?"


Aku menghembuskan nafas panjang dan menceritakan semua yang polisi katakan tadi. Sontak saja Mbak Ayu sangat terkejut, ia membulatkan kedua matanya tak percaya.


"Gak! gak mungkin Agus melenyapkan dirinya sendiri. Pasti ini ada yang salah, dia pasti sengaja dilenyapkan oleh seseorang. Pasti orang yang mengenakan penutup kepala itu yang membunuhnya!" seru Mbak Ayu mengepalkan kedua tangannya.


"Tenang Mbak! kita gak boleh asal mengambil persepsi! biar polisi yang akan mengusut semuanya. Lagipula korbannya belum ditemukan, bisa jadi korban itu bukan Agus."


"Gimana lu bisa yakin Ran? sementara polisi datang dengan membawa KTP Agus. Dan sampai saat ini pun dia gak kelihatan sama sekali. Sekarang gue tanya deh, emang lu ada ketemu Agus di kantor? gak kan?"


"Sebenarnya gue gak yakin ketemu Agus atau enggak. Karena tadi gue sempat lihat seseorang mirip Agus pas di lift, tapi waktu dia turun dan gue kejer. Dia udah gak kelihatan lagi, jadi ya gue gak yakin itu beneran Agus atau bukan."


Akupun menceritakan kecurigaan ku mengenai sosok Agus yang terlihat berbeda. Karena yang melihatnya hanya aku dan juga Satpam yang mempunyai penglihatan sama seperti ku.


"Kalau emang Agus beneran udah gak ada. Berarti Om Dewa patut dicurigai, karena sampai saat ini ia menghilang."


"Nah ini Mbak, ada satu lagi yang baru aja gue tahu dari Mas ojol yang nganterin gue tadi pagi."


Segera ku ceritakan mengenai Agus yang pergi bersama beberapa lelaki yang ada di rumah ini. Karena hanya ada Tante Ajeng seorang perempuan yang ada di rumah.


"Mereka pergi bersama naik mobil entah kemana. Tapi sebelumnya Agus sempat berbicara dengan Tante Ajeng sebelum pergi bersama Om Dewa dan para pengikut Leak itu. Entah kenapa Tante Ajeng gak bilang itu ke kita."


"Apa ada yang disembunyikan Tante Ajeng ya Ran?" tanya Mbak Ayu menaikan dagunya.


Tak lama Umi dan Janni datang membawa teh hangat. Mereka mengaku sempat melihat Agus sebelum ia menghilang.


"Kami lihat dia datang malam naik ojol, baru ngobrol bentar sama Tante Ajeng. Dia pergi sama Om Dewa dan tamu yang menginap di rumah ini. Kelihatan nya sih ngobrol serius gitu, ya gak Janni?"


Janni gelagapan ketika ditanya Umi, ia seperti orang kebingungan tak tahu harus menjawab apa. Lalu ia hanya menganggukan kepala tanpa berkata apa-apa.


Tante Ajeng mulai membuka kedua matanya perlahan. Ia kembali menangis dengan menyebut nama Agus. Kini Janni ikut berlinang air mata, bahkan ia sampai menangis sesegukan seakan benar-benar kehilangan Agus. Padahal selamat ini aku tak pernah melihat kedekatan antara mereka berdua. Tapi melihat dari reaksi Janni saat ini, aku merasa ia memiliki hubungan dekat dengan Agus.


"Kenapa Tante harus membiarkanmu pergi bersama mereka Gus huhuhu." pekik Tante Ajeng terlihat begitu kehilangan.


"Jadi Tante emang tahu kalau Agus pergi bersama Om Dewa dan para tamu itu? kenapa Tante gak cerita ke kami sebelumnya? apa yang sedang Tante sembunyikan?" kata Mbak Ayu dengan sorot mata tajam.


"Gue gak maksud ikut campur Mbak, tapi lihatlah kondisi Tante Ajeng yang sedang sangat terguncang. Kita gak ada yang tahu bagaimana kondisi Agus saat ini. Jika ia memang benar tenggelam di sungai itu, bagaimana kondisinya sekarang. Apa kita harus memperdebatkan apa yang Tante Ajeng sembunyikan disaat genting seperti ini? kalau keadaan udah jelas, pasti Tante Ajeng akan cerita semuanya." ucap Janni dengan menggenggam tangan Tante Ajeng.


Aneh, kenapa keduanya mendadak terlihat akrab di depan kami. Padahal sebelumnya kami tak pernah melihat kedekatan antara Tante Ajeng ataupun Janni. Bahkan sekarang Janni terlihat begitu terpukul mendengar kabar mengenai Agus. Entah ada misteri apa dibalik semua ini. Umi pun nampak heran melihat Janni yang begitu akrab dengan pemilik kost nya. Sementara Mbak Ayu hanya diam tak mengatakan apa-apa. Aku tahu saat ini ia juga memikirkan hal yang sama sepertiku dan juga Umi.


"Baiklah, Tante Ajeng istirahat dulu saja. Besok kita bicarakan lagi. Karena besok Tante harus pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan."


Mbak Ayu langsung melangkahkan kakinya pergi. Tak ada apapun yang ia katakan padaku, meskipun aku merasa curiga dengan keakraban Janni dan juga Tante Ajeng yang begitu mendadak. Atau memang sebelumnya mereka sudah seakrab itu, dan tak menunjukan nya di hadapan kami semua? pertanyaan yang benar-benar ganjal menurut ku.


"Janni kita balik ke kamar yuk, gue jadi takut mau balik sendirian."


"Bentar ya Um, lu tunggu gue di luar bentar."


Aku masih tetap bertahan di kamar Tante Ajeng, dan melihat Janni memeluk Tante Ajeng dan berbicara setengah berbisik. Hingga aku tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Rania, gue balik kamar dulu ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan ke kita."


Umi dan Janni pun pergi meninggalkan ku bersama Tante Ajeng. Aku duduk disamping Tante Ajeng, dan bertanya mengenai kedekatan nya dengan Janni.


"Apa Tante udah lama kenal sama Janni? Rania baru tahu kalau dia sedekat itu sama Tante."


"Janni teman Agus saat masih SMA dulu. Mereka sempat dekat, tapi Tante gak tahu kalau mereka memiliki hubungan khusus. Melihat reaksi Janni tadi, sepertinya dia sangat sedih sama seperti Tante huhuhu."


Penjelasan Tante Ajeng tak membuatku heran, karena melihat amarah Janni ke Mbak Ayu tadi. Sepertinya ia benar-benar perduli dengan Tante Ajeng. Tapi kenapa selama ini seakan mereka menutupi semuanya, itu yang harus aku cari tahu. Dan malam ini aku menemani Tante Ajeng di rumah utama, ia sama sekali tak memejamkan matanya. Seakan ada ketakutan dalam dirinya. Tante Ajeng hanya duduk diam dengan melipat kedua kakinya. Sesekali ia menoleh ke berbagai arah dengan raut wajah ketakutan.


"Tante Ajeng kenapa? apa yang Tante cemaskan dari tadi? Tante tidur aja ya, Rania akan tetap disini menjaga Tante."


"Tan Tante takut Rania! jika korban tenggelam di sungai itu memang Agus, pasti saat ini nyawa Tante juga dalam bahaya. Pasti dalang dibalik semua ini memanglah Om Dewa bersama para pengikut Leak itu!" seru Tante Ajeng dengan tubuh gemetaran.


Aku berusaha menenangkan nya, tapi Tante Ajeng terlalu ketakutan hingga ia kembali tak sadarkan diri. Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini, aku semakin kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Di tengah-tengah kebingungan ku, aku teringat sosok penjagaku.


"Malik, dimana dia? akhir-akhir ini Malik jarang menemuiku. Kemana dia sebenarnya, disaat seperti ini dia malah menghilang." batinku didalam hati dengan mengerutkan kening.


...Hayolooh ada yang tahu, ada misteri apa dibalik ini semua? main tebak²an yuk, menurut kalian Agus kenapa dan ada misteri apa dengan Janni yang tiba² menunjukan kedekatan nya dengan Tante Ajeng? ...


...Bersambung. ...