
Sepulang kerja, kami semua pergi ke sebuah restaurant all you can eat. Semua rekan kerjaku, beramai-ramai menyantap makanan sepuas hati mereka. Sebagian ada yang menikmati hidangan dengan membahas masalah pekerjaan. Dan sebagian lainnya, sedang bergosip mengenai Ibu tiri Pak Bos. Mereka membicatay nya, dengan gamblang. Bahkan menyebutnya sebagai pengabdi setan, karena ia bersekutu dengan setan. Untuk mendapatkan segala keinginan nya.
"Eh kalian jangan asal ngomong, kalau sampai ada yang ngadu ke Pak Bos gimana!" Seru Mbak Rika menegur mereka.
"Jangan salah Mbak! Pak Bos kan juga gak suka sama Ibu tirinya itu. Bahkan gue denger desas-desus yang beredar di Kantor, kalau dia itu curiga sama Bu Kartika. Gue denger dia minta orang buat nyelidikin Ibu tirinya itu, karena menurutnya kematian Mamanya gak wajar. Sepertinya ada sangkut pautnya dengan sang Ibu tiri. Kalau gue jadi Pak Bos pasti juga curiga, masak mantan perawat Papanya bisa jadi Ibu sambungnya. Dan sebelum pernikahan, Mamanya tiba-tiba sakit keras dan ditemukan tewas memuntahkan darah banyak. Ada yang bilang, Nyonya besar itu jiwanya di ambil sama pengikutnya Bu Kartika."
"Uhuk uhuk uhuk!" Sontak saja aku terbatuk mendengar ucapan salah satu rekan kerjaku itu.
Kini semua orang jadi membahas kematian Nyonya besar yang tak masuk akal. Bahkan Mbak Rika ikut larut dalam obrolan itu.
"Kalian ngomong kayak gitu denger dari siapa sih? Trus Pak Bos nyuruh siapa buat nyelidikin itu?" Tanyaku memandang ke semua orang, hawatir jika mereka tahu kalau akulah orang yang mendapatkan perintah untuk melakukan penelusuran itu.
"Ya kami gak tahulah Ran, goaip itu tuh awalnya dari para OB yang lagi bersih-bersih di ruangan Pak Bos. Tapi dia juga gak tahu orang yang disuruh nyelidikin itu siapa. Tapi sih dugaan si Bos gak salah kalau menurut kami, ya gak gaes?" Tanya salah satu rekanku, dan disambut anggukan kepala semua orang.
Mbak Rika memandang ku dengan menaikan dagunya, sepertinya ia tahu jika akulah orang yang semua orang maksud. Dan aku hanya menganggukan kepala, lalu Mbak Rika menghembuskan nafas panjang.
"Udah-udah gak usah gosipin Bos sendiri. Kita nikmati aja makanannya, biar besok lebih semangat kerjanya." Ucap Mbak Rika seraya melahap makanannya.
Acara makan-makan itu berlangsung dengan penuh keakraban. Satu divisi kami memang sering mengadakan makan bersama semacam ini. Untuk meningkatkan etos kerja, dan keakraban di antara kami semua. Kami semua berpisah di depan restaurant, karena arah pulang kami berbeda-beda. Mbak Rika memilih menumpang pulang dengan staff lain, sementara aku masih harus menunggu ojol menjemput.
Entah mungkin kebetulan atau tidak, yang menerima orderan ku adalah Bapak-bapak yang tadi pagi di ikuti oleh sosok Endang. Kali ini kedua matanya nampak sayu, ia terlihat kelelahan.
"Maaf ya Kak, saya lama, soalnya tadi saya kayak di ikuti sama yang begituan!"
"Bapak gak apa-apa kan? Apa saya cancel aja orderannya?"
"Ja jangan Kak, maaf kalau saya nakutin. Ini Kak helmnya!"
"Jujur aja deh, Bapak diikuti siapa? Saya gak takut kok Pak, justru saya kasihan sama Bapak. Kalau seperti itu terus, yang ada Bapak gak akan bisa bekerja. Bapak bisa cerita ke saya, karena kebetulan saya memang bjsa lihat mereka. Makanya tadi pagi kan saya tanya, Bapak kenal gak sama seseorang yang bernama Endang?"
Kedua mata Bapak ojol itu membulat, menatapku dengan raut wajah ketakutan. Keringat mengucur deras, mengalir hingga lehernya. Dan ia hanya menelan ludahnya kasar, lalu menoleh ke berbagai arah.
"Saya gak tahu Pak, makanya saya tanya ke Bapak!"
"Lain kali saja saya ceritakan Kak, ini sudah terlalu malam. Anak dan istri saya pasti udah nunggu di rumah. Emang Kakak bisa lihat makhluk gaib ya? Apakah Endang memang sudah tiada Kak?" Tanyanya di atas sepeda motor nya.
"Jadi bener, Bapak kenak Endang? Lain kali saja saya jelaskan, katanya Bapak udah ditunggu keluarga. Yuk jalan aja dulu Pak, baca doa jangan lupa, demi keselamatan bersama."
Akhirnya Pak ojol mengendarai motornya, nampak wajahnya lesu tak bersemangat. Seperti ada beban di pikiran nya, tak lama aku melihat sekelebatan bayangan hitam melesat. Ku picingkan kedua mata, menatap sosok itu dengan waspada. Ternyata ia adalah Endang, ia melesat di atas kami dengan sorot mata tajam, tapi terkadang sorot matanya berubah sendu. Seakan ada kesedihan yang mendalam.
"Sebenarnya ada apa sih? Sepertinya aku harus menginterogasi Endang, aku tak mau kalau dia sampai mencelakai orang. Karena sepertinya, dia menyimpan amarah pada Bapak ojol ini." Batinku didalam hati penuh curiga.
Sesampainya di depan rumah kuno, aku membayar ongkos lalu menyerahkan helm pada Bapak ojol. Ku katakan padanya, supaya besok sepulang kerja menjemput ku di kantor. Karena ada yang ingin aku tanyakan padanya, Pak ojol memberikan nomor ponselnya padaku. Dan memintaku menghubungi nya kembali besok. Saat Pak ojol itu ingin mengendarai motornya pergi, sosok Endang pun berusaha mengikutinya. Dengan cepat aku menghentikan nya, dan ku ancam dia supaya tak mengikuti Bapak itu lagi. Sosok Endang membulatkan kedua matanya padaku, bola mata yang semula berwarna hitam pekat berubah menjadi memerah.
"Udah deh gak usah nakutin kayak gitu, lebih baik kau ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kenapa kau terus mengikutinya, apa dia lelaki yang telah menghamili mu, lalu mencampakkan mu karena telah dijodohkan dengan orang lain?"
Hening. Tak ada jawaban darinya, sosok Endang hanya menganggukan kepala dengan wajah sendu.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Kenapa kau terus mengikutinya, tapi jangan sampai kau mencelakai nya. Karena kelak kau akan selamanya terbelenggu dengan dosa, lalu selamanya terkurung di dalam neraka. Apa kau mau jiwamu selamanya berada di alam buruk itu?"
Kini sosok Endang menangis lirih dengan berdiri mengambang di hadapanku. Suara tangisannya membuat bulu kuduk ku berdiri. Meski aku terbiasa dengan makhluk sepertinya, tetap saja aku ini manusia biasa, dan tubuhku menerima reaksi ketakutan.
"Udah deh, gak usah nakutin kayak gitu. Lebih baik kau ceritakan segalanya padaku, supaya aku bisa membantumu menyelesaikan masalah. Dan kau bisa tenang kembali ke alam keabadian, tanpa rasa penasaran lagi!"
Aku berjalan masuk ke dalam, diikuti sosok Endang yang melesat menembus tembok rumah kuno. Aku mengunci pintu pagar, dan ku lihat sosok Merah berdiri mengambang di seberang jalan. Ternyata selama ini ia mengawasiku, aku jadi makin curiga kalau Merah adalah makhluk peliharaan Bu Kartika. Tiba-tiba dalam satu kedipan mata, sosok Merah sudah menghilang entah kemana. Terserah dia mau apa, selama aku memiliki iman yang kuat. Dia tak akan mampu mencelakai ku lagi, aku tak akan membiarkan nya mencelakai ku meski dalam mimpi untuk kedua kalinya.
Sesampainya di kamar, aku menoleh ke berbagai arah memanggil sosok Endang. Tapi ia tak terlihat dimanapun, dan secara mendadak, ada sekelebatan bayangan yang melesat ke arahku. Membuatku terkejut sampai lidahku terasa membeku, meski sedang membuka mulut, aku tak bisa berkata apapun, seakan ada sosok lain yang mengambil alih ragaku.
.