Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 212 INFORMASI TERBARU.


Beny mendekati Silvia, dan ia berusaha berkomunikasi dengannya. Tapi sampai saat ini usahanya sia-sia saja, karena Silvia sama sekali tak dapat mendengar suaranya. Entah kenapa jadi begini, Silvia malah keheranan melihat ku berkomunikasi dengan Beny tanpa ia sadari.


"Lu ngomong ma siapa sih Ran?"


"Lu gak ada denger suara-suara gitu Sil?"


"Suara apa an sih Ran?"


Wah gawat ternyata Silvia memang tak mendengar suara apapun. Aku berjalan mendekati Beny, dan ku minta ia untuk lebih fokus dan berpasrah pada Yang Maha Kuasa. Dengan begitu niatnya mungkin bisa terlaksana. Tapi Beny sudah putus asa, ia menghilang setelah menembus tembok. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang, tak tau harus bagaimana lagi untuk membujuknya.


"Ran jujur deh sama gue, sebenarnya Beny kenapa? Dan dia kenapa Ran?"


"Gue belum tau apa-apa Sil, barusan gue minta Beny buat bicara sama lu. Tapi kayaknya lu gak bisa dengar suara dia. Makanya Beny jadi putus asa, dan pergi gak tau kemana. Jadi gue masih harus cari tau, sebenarnya Beny masih hidup atau gak. Karena dari penjelasan nya tadi, Beny juga gak tau dirinya masih ada di dunia ini atau gak. Gue masih minta Petter buat selidiki dimana tubuh Beny sekarang."


"Kalau gitu kita cari juga yuk Ran, tanya juga ke Pak Imron kali aja dia punya informasi buat kita."


"Lu bener juga ya Sil, kalau kita cerita ke Pak Imron kali aja dia tau sesuatu. Ya udah kita pergi ke Stasiun aja yuk, tapi lu tunggu gue di lobby dulu. Biar gue cari jiwa si Beny, kasihan dia kalau sendirian gak ada kita disini."


Aku mencoba berkomunikasi melalui batin dengan Beny. Tapi ia tak merespon ku sama sekali, sampai akhirnya aku menemukannya sedang merenung di pinggiran kolam renang. Aku membujuknya untuk ikut denganku kembali ke Stasiun untuk menemui Pak Imron. Hampir saja ia menyerah dengan keadaan, dan tak mau mencari tau apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tapi aku terus meyakinkannya, jika semua akan baik-baik saja.


"Kita gak boleh putus harapan Ben, mungkin aja tubuh lu saat ini ada di suatu tempat. Dan lu masih mempunyai kesempatan hidup. Kalau gue sama Silvia aja gak putus asa, harusnya lu juga lebih semangat lagi Ben!"


"Tapi lu bilang, kalau Silvia gak bisa dengar suara gue berarti gue udah meninggal kan Ran?"


"Gak gitu juga konsepnya Ben, mungkin aja tadi lu kurang konsentrasi buat komunikasi sama Silvia. Makanya dia gak bisa denger suara lu, udah yuk ikut kita aja!"


Setelah membujuknya berkali-kali, akhirnya Beny mengikuti saranku. Kami sama-sama pergi ke Stasiun menggunakan mobil kantor. Dan sesampainya disana, nampak Pak Imron sedang berkomunikasi dengan Petter.


"Saya sudah mendengar semua dari Petter. Kemarilah dek, mungkin saya bisa mengetahui sedikit. Apakah saat ini kau hanya jiwa tanpa raga atau memang sudah benar-benar menjadi makhluk seperti Petter." Pungkas Pak Imron seraya melambaikan tangannya pada Beny.


Silvia membalikkan tubuhnya, tangannya meraba-raba mencari keberadaan Beny. Ia berlinang air mata seraya mengucapkan permintaan maaf. Karena menurut Silvia, Beny menjadi seperti itu karena nya. Aku merangkul Silvia, memintanya untuk tak terlalu merasa bersalah. Karena apapun yang terjadi sekarang adalah takdir yang harus kami hadapi sama-sama.


Entah apa yang Pak Imron lakukan bersama Beny. Mereka pergi ke suatu ruangan, dan aku hanya menunggu bersama Silvia diluar ruangan.


"Kenapa gak bilang dari tadi kalau kau masih bisa merasakan aura manusia dari nya?" Tanya ku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Aku baru bisa merasakan sewaktu kalian datang kesini Rania. Apakah tadi kau melakukan sesuatu padanya? Atau kah mungkin tubuhnya sekarang sudah baik-baik saja?" Pungkas Petter seraya melesat menembus pintu.


Cekleek.


Terdengar derit suara pintu, Pak Imron keluar dari ruangan nya disusul dengan Beny dan juga Petter. Pak Imron mengatakan hal yang sama seperti Petter, jika Beny memang masih hidup. Dan kami hanya perlu menemukan tubuhnya saja. Supaya jiwa Beny dapat segera masuk ke dalam raga nya.


"Tapi kemana kami harus mencarinya Pak?"


"Tunggu dulu dek, jika jiwa Beny ditemukan tak jauh dari rel kereta. Pasti raganya juga pasti tak jauh dari sana, kemungkinan warga sekitar yang menemukannya. Coba saya tanyakan ke petugas lapangan, yang biasanya kontrol menyisiri rel kereta. Mungkin saja mereka tau sesuatu mengenai penemuan seorang lelaki yang tak sadarkan diri di sekitar rel kereta." Ucap Pak Imron seraya melangkahkan kaki nya pergi.


Kami mengikuti Pak Imron menemui beberapa orang petugas yang sedang membersihkan gudang. Pak Imron menanyakan apakah mereka melihat ataupun mendengar sesuatu mengenai penemuan seseorang yang tergeletak di rel kereta. Semuanya hanya menggelengkan kepala, dan mengatakan jika mereka tak mengetahui apapun. Sampai akhirnya ada seorang petugas yang baru saja datang, dan ia mendengar pembicaraan semua orang. Pak Sapri namanya, ia mengatakan jika tadi pagi menemukan seorang pemuda yang tak sadarkan diri di dekat rel kereta. Tapi menurutnya pemuda itu bukanlah korban dari tabrakan kereta. Karena tak ditemukan luka di sekujur tubuhnya.


"Kenapa kalian semua menanyakan itu? Apakah kalian mengenal pemuda itu?" Tanya Pak Sapri dengan wajah panik.


"Iya Pak Sapri, mereka berdua kehilangan salah satu rekan kerjanya. Seorang pemuda yang tak sengaja terbawa kereta hantu yang tiap malam beroperasi melewati Stasiun ini. Bagaimana kondisi pemuda itu Pak?" Jawab Pak Imron dengan pertanyaan.


"Wah saya kurang tau itu Pak, soalnya saya kan lagi tugas pembenahan besi-besi rel. Jadi saya gak bisa bawa pemuda tersebut ke rumah sakit. Jadinya saya minta tolong ke warga sekitar sana, coba saja kalian cari info ke sekitar perkampungan di Jalan Sawahan. Mungkin ada yang bisa memberikan informasi mengenai pemuda itu." Pungkas Pak Sapri dengan mengusap peluh di keningnya.


Alhamdulillah, setidaknya kami bisa mendapatkan sedikit petunjuk mengenai Beny. Walaupun semua masih belum jelas, setidaknya kami sudah tau harus mencari informasi kemana.


"Ya sudah dek kalian pergi saja kesana. Maaf saya gak bisa bantu lagi, karena saya masih dalam jam kerja."


"Gak apa-apa kok Pak, dari kemarin Pak Imron sudah banyak membantu kami. Terima kasih ya Pak, kami pamit dulu. Bantu doa saja supaya Beny baik-baik saja." Ucapku seraya berpamitan dan menjabat tangan semua petugas yang ada disana.


Kini aku bersama Silvia berjalan menuju parkiran mobil. Sementara Petter dan Beny pergi terlebih dulu ke perkampungan yang ditunjukkan Pak Sapri tadi. Nampak raut wajah Silvia masih murung, ia masih mencemaskan kondisi Beny. Ku genggam tangan Silvia menggandeng nya masuk ke dalam mobil. Ku awali perjalanan kami dengan bacaan basmallah. Semoga semua baik-baik saja, supaya aku ataupun Silvia tak menyesali apa yang telah terjadi. Aku masih mengemudikan mobil menuju jalan sawahan, tapi kondisi lalu lintas di Bogor sedang macet-macetnya


mengingat hari ini adalah awal liburan sekolah.